
"Lang," panggil Valerie, ketika mereka hanya berdua.
"Hm," jawab Elang dengan deheman, tanpa melihat ke arah Valerie.
Valerie menghembuskan nafas kasar, melihat respon Elang. "Gue ada salah apa sih sama elo, Lang?"
"Gak ada," jawabnya masih mengarahkan pandangannya lurus ke depan.
Cukup sudah kesabaran Valerie menghadapi sikap Elang akhir-akhir ini. Cukup sudah ia menahan rasa kecewa atas perkataan Elang yang menyinggung perasaannya. Cukup sudah ia menerka-nerka apa kesalahannya, sehingga membuat Elang bersikapacuh padanya.
Cukup sudah ....
Bukan amukan dan sumpah serapah yang keluar dari bibir manis gadis itu, melainkan isakan.
Tubuh Elang menegang seketika. Dialihkan pandangannya pada gadis manis di sebelahnya. Jantungnya terasa diremas, melihat tetes bening keluar dari netra indah gadis itu.
Lagi-lagi dia harus melihat gadis yang sangat dijaganya itu menangis. Dan lagi-lagi dia lah penyebabnya.
Tangannya telulur hendak menghapus air mata itu. Namun, gadis itu lebih dulu beranjak dari sana.
"Tamu undangannya udah habis kan, Vir?" tanya Valerie pada Virsa yang sedang membereskan stand amal bersama panitia yang lainnya, dan dijawab anggukkan oleh gadis itu. "Gue ke backstage dulu ya, Vir. Bentar lagi Melodi Arakata tampil."
"Iya, Er. Elo sama Elang bisa ke backstage dulu. Biar gue sama panitia lain aja yang beresin stand ini. Kalau udah kelar, entar gue nyusul ke sana nonton penampilan kalian. Gue kan juga melodia."
"Sipp." Valerie mengacungkan jempolnya.
Valerie bergegas menuju backstage, dengan Elang mengikutinya dari belakang. Sekarang pasti teman-temannya sudah menunggu kehadirannya.
Benar saja, baru sampai di sana, teman-temannya sudah berkumpul. Mereka kompak mengenakan pakaian berwarna putih.
Namun, ada kehadiran seseorang di sana yang membuat dahi Valerie berkerut heran.
"Lia? Kok ada Lia di sini?"
Gaung, Gandi, dan Bagus hanya mengangkat bahu pertanda tidak tahu.
"Elang yang nyuruh gue jadi vocallis Melodi Arakata."
"Hah," ucap serempak dari Valerie, Gaung, Gandi, dan Bagus.
"Elo ngehalu ya!" bentak Gaung, "Vocallis Melodi Arakata itu Eri, bukan elo!"
"Lang, apa benar yang dibilang Lia, kalau elo nyuruh dia jadi vocallis?"
Elang hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Bagus.
"Melodi Arakata gak mungkin punya dua vocallis Lang," protes Gandi tidak terima.
"Kalau gitu, Valerie yang harus keluar dari Melodi Arakata," sahut Amelia tanpa beban. "Elang bilang Valerie gak becus jadi vocallis, salah nada mulu."
"Elo beneran ngomong gitu ke dia, Lang?" tanya Gaung yang mulai tersulut emosi.
"Waktu latihan terakhir, Eri emang sering salah, kan?"
"Bukan Eri yang salah, Lang. Tapi, pikiran elo yang salah. Jadi, apa pun yang dilakuin Eri pasti salah buat elo!" bentak Gaung, "jangan pernah campur aduk'in urusan pribadi sama urusan Arakata, Lang. Ini buat kepentingan acara amal, dan elo berlaku seenaknya."
__ADS_1
"Udah, kalian gak usah adu mulut. Mungkin emang bener kata Elang, Amelia lebih pantas jadi vocallis Melodi Arakata dari pada gue. Gue keluar dari Melodi Arakata."
"Gak bisa kayak gitu, Er," protes Bagus, "kalau elo keluar dari Melodi Arakata, gue juga keluar."
"Gue juga keluar," sambung Gandi, "Melodi Arakata gak akan sama kalau vocallisnya bukan elo, Er."
"Gue juga keluar." Gaung juga ikut menimpali.
"Kalian gak boleh keluardari Melodi Arakata. Ini demi berlangsungnya acara amal ini, juga demi Melodia. Bisa kalian bayangin berapa banyak orang yang bakal kecewa kalau Melodi Arakata batal tampil? Gue harap kalian gak bersikap egois. Lagian, walau gue bukan lagi bagian dari Melodi Arakata. Gue tetap panglima perang Arakata, dan gak bakal ada yang bisa gantiin posisi gue di Arakata lagi, kan?" sebutir bening kembali menetes dari mata
indahnya.
Valerie tidak menyangka kalau Elang tega menggantikan posisinya di Melodi Arakata, bahkan tanpa sepengetahuan dirinya.
"Ke-kenapa sekarang gue jadi cengeng begini, sih?" ucap Valerie di tengah isak tangisannya.
"Elo enggak cengeng, Er ... elo cewek kuat." Gaung memeluk tubuh gadis itu, mencoba menenangkannya.
"Iya, Er. Elo cewek paling kuat yang pernah gue kenal. Selain nyokap gue tentunya, elo tahu sendiri kan seberapa kuatnya nyokap gue maksa elo semua buat makai kostum buatannya." Perkataan Bagus membuat Valerie tersenyum. Sahabatnya itu memang paling bisa memperbaiki mood seseorang.
"Ya udah, gue gabung sama anak-anak lainnya di depan panggung utama, ya. Gue bakal gabung sama melodia buat semangatin kalian." Valerie mengepalkan tangannya ke atas, memberi semangat teman-temannya.
"Er, gu-gue ..." panggil Elang begitu Valerie akan beranjak dari tempat itu.
"Gak apa-apa, Lang." Valerie menepuk-nepuk bahu Elang. "Yang penting elo gak ada niatan buat gantiin posisi gue sebagai panglima Arakata juga, kan? Apalagi digantiinnya sama dia." Valerie melirik Amelia tajam.
"Ya gak mungkinlah, Er." Bukan Elang yang menjawab, tapi Gandi. "Bisa nangis sambil guling-guling dia, kalau kukunya sampai patah waktu ngelawan musuh Arakata."
"Betul, tuh." Bagus ikut menimpali. "Kalau dia yang jadi panglima perang Arakata. Bukannya dia nyusun strategi buat ngalahin musuh, malah nyusun strategi nyari cara kotor buat dapetin orang yang dia suka." Bagus melirik Amelia dengan tatapan sengit. Dia sangat membenci segala macam jenis kalicikan.
"Gue perlu bicara sama elo." Elang menarik tangan Amelia menjauh dari tiga temannya yang lain. "Gue gak pernah nyuruh elo buat gantiin Valerie." Elang menatap tajam ke arah Amelia.
"Bukannya kemarin elo ngijinin gue buat jadi vocallis Melodi Arakata?" tanya Amelia dengan santai.
"Gue cuma ngijinin elo jadi bintang tamu, itu pun karena elo yang merengek minta ke gue. Bukan menjadi vocallis utama, karena vocallis utama di Melodi Arakata itu hanya Eri." Elang berusaha menahan amarahnya. Dia pantang memukul perempuan. Namun, wanita di depannya ini sangat menggoda untuk dipukul.
"Ya udahlah Lang, orang Valerie nya juga udah ngundurin diri dari Melodi Arakata." Amelia meletakkan telunjuknya pada dada bidang Elang, yang otomatis langsung disingkirkan Elang. "Kalau perlu gue juga mau kok gantiin posisi Valeriebuat jadi panglima perangnya Arakata."
"Waw ...," Elang tersenyum remeh. "Boleh juga tuh."
Amelia tersenyum puas mendengar jawaban Elang. Namun, perkataan Elang selanjutnya membuat dia kembali memberengut kesal.
"Boleh juga ide lo. Biar elo babak belur di keroyok musuh-musuh Arakata. Kalau anak-anak Arakata tahu posisi panglima perang mereka digantikan, bisa babak belur duluan elo sama mereka. Elo kira jadi panglima perang Arakata itu mudah? Gak semua orang bisa berada di posisi itu, apalagi cewek manja kayak elo," tunjuk Elang pada Amelia. "Nyokap lo emang nyuruh gue ngejagain elo, tapi bukan berarti elo bisa ngelunjak." Setelah mengatakan semua unek-uneknya, Elang menghampiri ketiga sahabatnya. Jika berlama-lama bersama Amelia, Elang ragu bisa menahan emosinya lebih lama lagi.
Semenjak mengantar Amelia pulang, Elang mendapat telepon yang katanya dari ibunya Amelia. Beliau meminta Elang selalu menjaga Amelia karena kondisi gadis itu yanglemah.
Jadi, mau tidak mau Elang melaksanakan permintaan itu. Tapi semakin hari, tingkah Amelia semakin menjadi. Seolah ia ingin menjauhkan Valerie dari kehidupan Elang. Dan tentu saja, Elang tidak bisa kehilangan separuh dari
kehidupannya itu.
***
"Lho, Er. Elo kok ada di sini? Kan bentar lagi Melodi Arakata tampil?" tanya Lukman begitu Valerie sudah berada di kerumunan anak Arakata dari berbagai angkatan itu.
Mereka berbaur menjadi satu. Tidak ada jarak atau kesenjangan diantara mereka. Gester dan geng-geng sekutu Arakata lain juga ikut membaur.
__ADS_1
"Gue mau gabung di sini aja sama kalian." jawab Valerie. Gadis itu sudah berganti pakaian dan melepas wig panjangnya.
"Dek, kok elo gak gabung sama Elang dan yang lainnya?" tanya Bayu. Abang-abang Valerie menghampiri adiknya, begitu melihat adik tersayang mereka berada di kerumunan anak Arakata, bukannya bergabung dengan Elang dan yang lainnya yang sebentar lagi akan tampil.
Valerie hanya tersenyum tanpa menjawab. Semua yang ada di sana tahu kalau ada kesedihan di balik senyum gadis tangguh itu.
Beberapa saat kemudian, rasa penasaran mereka terjawab. Di atas panggung sana berdiri empat lelaki inti Arakata angkatan tujuh yang juga merupakan anggota Melodi Arakata.
Namun, di sana juga ada seorang wanita yang belum mereka kenal. Wanita itu berdiri di posisi yang seharusnya milik Valerie.
"Dek, kok bukan elo vocallis nya?" tanya Pratama yang juga mewakili ratusan orang yang memiliki pertanyaan yang sama.
Lagi-lagi Valerie hanya tersenyum sebagai jawaban. Namun, tidak lama kemudian isakan kecil lolos dari mulut mungilnya. Padahal sedari tadi dia sudah berusaha menahannya.
Dan isakan itu sudah menjadi jawaban atas pertanyaan tadi. Bayu langsung menarik Valerie dalam dekapannya. Dia tahu Melodi Arakata sangat berarti untuk adik perempuannya itu. Dan pasti sakit jika harus kehilangannya.
Yang lain hanya menatap Valerie iba. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka juga tidak berani menanyakannya pada Valerie dengan kondisinya yang masih seperti ini.
Melodia tampak kecewa melihat penampilan Melodi Arakata di atas panggung. Menurut mereka penampilan Melodi Arakata tidak menarik tanpa hadirnya Valerie.
"Eri kemana sih? Kok gak ikut tampil?" gumam salah satu melodia.
"Itu kan Amelia, anak baru di kelas 12 IPA 1. Kok bisa jadi vocallis Melodi Arakata, sih?"
"Gue gak suka, suaranya terlalu dipaksain. Bagusan suara kak Eri."
"Iya lah, Melodi Arakata kan udah identik sama suaranya Valerie. Jadi, gak cocok kalau digantiin orang lain. Terdengar aneh di telinga gue."
Begitulah kasak-kusuk dari para penonton. Teriakan kekecewaan terdengar di sana.
"Valerie, Valerie, Valerie ...." Teriakan kompak itu menginginkan Valerie yang berdiri di atas panggung sebagai vocallis, bukannya Amelia.
"Mana kak Erie!! Kita maunya kak Erie yang jadi vocallis,gak mau diganti sama yang lain." Teriakan itu terus terdengar, membuat penampilan Melodi Arakata terpaksa terhenti. Para panitia juga jadi bingung dibuatnya.
"Elo denger sendiri, kan?!" Gaung tersenyum sengit pada Amelia. "Yang mereka inginkan itu Eri, bukan elo."
"Gimana? Elo masih mau bertahan di sini tapi menahan malu. Atau menyerahkan posisi yang sudah seharusnya kepada pemiliknya?" tanya Elang dengan seringaiannya.
"Melodia itu cerdas, mereka tahu mana yang asli dan mana yang KW kuwalitas rendahan." Bagus dengan mulut pedasnya mampu mengusir Amelia dari panggung itu. Gadis itu turun dari panggung dengan muka yang merah padam.
"Eri," panggil Elang menggunakan pengeras suara. "Kita mohon elo mau naik ke panggung, melodia butuh elo."
Valerie menengadahkan wajahnya dari dekapan sang kakak. Semua mata tertuju padanya.
"Buruan naik panggung, Dek. Melodia butuh elo." Bayu mendorong pungung adiknya agar berjalan menuju panggung.
"Iya, Dek. Buruan, entar keburu tuh empat cowok songong di keroyok sama fans elo, Dek." Reyhan ikut menyemangati.
Dengan tersenyum, Valerie berjalan kearah panggung dikawal abang-abangnya. Mereka takut kalau Valerie lecet karena fans-fans Valerie yang gemas pada adik mereka. Lebay memang, haha ....
Begitu gadis itu berdiri di atas panggung. Melodia langsung berteriak senang. Membuat semangat Valerie dan keempat sahabatnya yang lain ikut terbakar.
Tidak akan pernah ada yang bisa menggantikan posisi Valerie Livia Laksmono. Karena gadis itu istimewa, istimewa dengan gayanya sendiri. Kalau ada yang berani mencoba menggantikan posisinya, akan bernasib sama dengan Amelia. Menahan malu yang luar biasa.
__ADS_1