Arakata

Arakata
Beda Keyakinan Satu Tujuan


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul empat sore. Terlihat seorang pemuda sedang duduk di atas motornya, pemuda itu berada di pelataran parkir sebuah Masjid yang tidak terlalu jauh dari SMA Garindra.


Pemuda itu adalah Gema Armando, ketua Arakata angkatan delapan. Pemuda selengek'an dan gesrek, tapi disegani.


"Sendirian aja, Nak?" sapa seorang pria paruh baya.


"Iya, Pak. Teman-teman saya sedang shalat di dalam," jawab Gema dengan sopan.


"Kamu gak ikut shalat?"


"Enggak, Pak," jawab Gema sambil tersenyum. "Saya non muslim, jadi saya nunggu teman-teman di sini."


"Wah, hebat," takjub sang pria paruh baya itu. "Walau berbeda keyakinan, kalian saling menghargai."


"Iya, Pak. Walau kami berbeda keyakinan, tidak lantas mengganggu persahabatan kami. Malah kami bisa saling mengingatkan untuk melaksanakan ibadah masing-masing."


"Betul itu," sahut Hasan, yang baru selesai melaksanakan ibadahnya. "Cara ibadah kami memang berbeda, tapi dengan tujuan yang sama ... yaitu menjadi manusia yang berguna bagi sesama."


"Tidak harus berkeyakinan sama untuk berbagi dengan sesama." Rama ikut menimpali.


"Jalan kami memang berbeda, tapi kelak akan menuju tempat yang sama ... yaitu surganya yang Esa," ucap Asel.


"Bapak kagum, jaman sekarang masih ada anak muda yang tidak berpikiran sempit. Yang menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling menyakiti."


Kelima pemuda itu tersenyum, tidak munafik ... ego mereka sebagai anak muda pernah mencuat ingin memberontak. Namun, setelah mengenal Arakata, pandangan mereka tentang kehidupan berubah. Arakata mengajarkan mereka bahwa kehidupan tidak hanya tentang keinginan dan ego mereka. Arakata memperkenalkan bahwa ada kehidupan lain yang harus mereka jaga, ada jiwa lain yang harus mereka lindungi.


Walau mereka sering bergumul dengan kekerasan, tidak lantas membuat watak mereka menjadi keras. Mereka bukan menyerang, mereka hanya bertahan untuk melindungi orang-orang di sekitar. Prinsip mereka satu, pantang menyerang jika ketenangan mereka tidak diusik.


"Ah, itu ...," ucap pria paruh baya itu sembari menunjuk lambang sayap biru yang ada di jaket milik Gema dan keempat punggawa Arakata itu. "Kalian anggota Arakata?"


"Iya," jawab Gema sambil menganggukkan kepala. "Bapak tahu Arakata?"


"Jelas tahu," jawab pria paruh baya itu dengan yakin. "Anak bapak juga tergabung dalam sebuah geng. Tapi geng mereka itu suka bikin rusuh. Suatu saat geng anak bapak itu mencari masalah dengan Arakata, Arakata jauh lebih kuat dari mereka. Anak bapak sampai masuk rumah sakit."


Gema dan yang lain mengerutkan dahinya, mulai paham dengan apa yang diceritakan pria paruh baya di hadapan mereka itu.


"Namun, perwakilan dari mereka menjenguk anak bapak," lanjut pria paruh baya itu, "bahkan mereka menanggung semua biaya perawatan anak bapak sampai dia benar-benar sembuh. Salah satu dari mereka ada seorang gadis, gadis tersebut mengatakan sesuatu pada anak bapak, hal itu yang telah mengubah pribadi anak bapak menjadi lebih baik. Dia jadi lebih bisa menghargai sekitarnya, dia jadi lebih patuh terhadap bapak dan istri bapak."


"Maaf, kalau boleh tahu siapa nama bapak dan anak bapak itu?" tanya Gema kemudian.


"Nama saya Sofian, nama anak bapak Rahmad."


Mendengar nama Rahmad, kelima pemuda itu mengangguk paham.


"Oh, si ketua singa itu," gumam Asel.

__ADS_1


"Apa gadis yang menjenguk anak bapak itu juga anggota Arakata? Kalau gak salah namanya Vale, Vale siapa ya, bapak lupa."


"Valerie," sahut kelima pemuda itu secara bersamaan.


"Kak Valerie itu panglima perang kami, Pak ...," sahut Asel, "strategi penyerangan dan pertahanan Arakata, Kak Eri lah otaknya."


"Wah, hebat," puji Sofian, "sudah cantik, kuat, tutur katanya santun ...."


"Kak Eri emang santun, Pak," celetuk Abdul, "tapi kalau udah ada yang cari masalah, bisa berubah jadi sadako dia."


"Mulut lo, gue aduin Kak Eri, ya ...," ucap Gema sambil menepuk bibir Abdul.


"Ah elu kayak anak TK, mainnya aduan," gerutu Abdul sambil mengusap bibirnya yang agak ngilu.


"Sebenarnya bapak mau minta tolong ke Arakata," ucap Sofian kemudian, seperti ada keresahan dalam nada suaranya.


***


"Kalau elo berlima berisik terus, gue getok satu-satu nih, ya," omel Valerie yang mulai jengah dengan tingkah kelima juniornya itu.


"Ada yang penting yang mau kami sampaiin, Kak," ucap Gema membela diri.


"Kalau ada yang mau disampaiin itu omong satu-persatu, jangan royokan gitu. Mana Eri paham," omel Bagus, "kalau Elang tahu calon bininya kalian kerubungi gitu, bisa ngamuk dia."


"Biarin, Bang." Hasan ikut menimpali. "Bang Elangnya juga lagi terbang di awang-awang."


Malam ini, mereka sedang berkumpul di kediaman Garindra, karena markas Arakata sedang dalam perbaikan. Gema menghubungi Valerie dan anggota yang lain, karena ada hal penting yang akan mereka sampaikan.


"Rama, elo ceritain apa yang mau kalian sampaikan," ucap Valerie. Gema, Hasan, Asel, Abdul hendak membuka suara. Namun, langsung mendapat tatapan tajam dari Valerie. "Yang gue minta bicara itu Rama, ya. Kenapa kalian juga mangap-mangap gitu! Mau gue bikin susah napas biar mangap-mangap terus!"


"Yang kayak gini, yang Pak Sofian bilang gadis bertutur kata santun," gerutu Hasan, yang membuat Gema yang duduk di sebelahnya menjadi terkekeh. "Kalau Pak Sofian lihat ini, bisa langsung kena serangan jantung."


"Kenapa bibir lo komat-kamit gitu?" tanya Valerie sambil memberi tatapan tajam setajam jarum suntik pada Hasan.


"Lagi hafalin pelajaran buat test besok Senin, Kak ...," jawab Hasan sekenanya.


"Udah, Kak. Jangan direspon tuh upilnya Gaban. Kalau gini terus, gak kelar-kelar kita," ucap Rama dengan raut wajah datar.


Hasan hendak protes lagi, tapi mulutnya sudah dibekap oleh Gema.


"Elo mendingan diem, daripada dicekek Kak Eri," ucap Gema memperingatkan.


"Tadi kami berjumpa dengan Pak Sofian, ayah dari Rahmad. Kak Eri masih ingat kan sama Rahmad, ketua geng The Drugs?"


Valerie mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan dari Rama.

__ADS_1


"Setelah dapat petuah dari Kak Eri waktu itu di rumah sakit, Rahmad menjadi pribadi yang lebih baik. Tentu saja hal itu membuat orang tua dan orang-orang di sekelilingnya menjadi senang," lanjut Rama, "Rahmad berniat menjadikan The Drugs sebagai sekutu Arakata. Namun, Restu yang tidak lain adalah wakil dari Rahmad di The Drugs tidak terima. Restu melakukan pemberontakan, dia menghasut sebagian anggota The Drugs untuk melawan Rahmad. Bahkan, Restu berani menyakiti Pak Sofian untuk mengancam Rahmad. Pak Sofian ingin kita membantu Rahmad."


"Restu Adetama Akbar," ucap Asel yang membuat seluruh perhatian tertuju padanya.


"Elo kenal dia?" tanya Valerie.


"Kenal," jawab Asel sambil mengangguk. "Gue kenal dia dari gue orok, Kak. Bagaimana gue gak kenal dia, orang dia abang gue."


"Abang lo?" tanya Gema yang juga mewakili semua pertanyaan anggota Arakata lainnya.


Asel kembali mengangguk, pemuda itu menghembuskan napas ... seperti ada beban yang menggelantunginya.


"Bang Restu itu abang gue yang hanya terpaut usia satu tahun, tapi dia bersekolah satu tingkat sama gue. Karena sewaktu kecil Bang Restu pernah kecelakaan dan harus istirahat total selama beberapa bulan. Jadi, dia masuk sekolah setingkat sama gue. Dulu, Bang Restu orang yang baik dan penurut, dia pun sangat sayang sama gue. Apapun yang menjadi keinginan papah dan mamah, selalu Bang Restu turutin. Namun, suatu saat SMP kami ikut olimpiade sains yang mewakili sekolah kami masing-masing. Sekolah Bang Restu kalah oleh sekolah gue, sejak saat itu orang-orang di sekitar kami selalu membanding-bandingkan gue dan Bang Restu. Padahal, orang tua kami masih memperlakukan kami sama. Namun, omongan di sekeliling kami membuat Bang Restu berpikir bahwa gue ngerampas semua yang seharusnya menjadi miliknya. Dan sejak saat itu, Bang Restu berobsesi menghancurkan apapun yang menjadi keinginan gue, termasuk Arakata. Maaf, gara-gara gue gabung sama Arakata, Arakata jadi terseret masalah pribadi gue." Asel menundukkan kepalanya.


"Elo lupa kalau kita terikat pertalian saudara?" tanya Valerie, gadis itu mengusap lembut pundak juniornya. "Begitu elo bergabung dengan Arakata, elo sudah menjadi anggota keluarga kami. Dan jika ada salah satu anggota keluarga kami sedang dalam masalah, kami gak akan tinggal diam. Restu itu saudara lo, otomatis dia juga anggota keluarga kami. Kita akan membawa Restu kembali ke jalan yang benar."


Sebuah senyuman terbit di bibir Asel, ia merasa lega. Seakan bebannya selama ini sudah terangkat. Ia lupa, bahwa ia memiliki Arakata, seharusnya ia menceritakan masalahnya ini sejak dulu, agar abangnya segera kembali seperti dahulu.


"Elo udah kayak Pak Ustad aja, Er. Selalu membawa orang ke dalam jalan yang benar," celetuk Bagus yang tentu saja langsung mendapat hadiah tatapan tajam dari Valerie.


"Iya," ucap Roxy ikut menimpali. "Sekali-kali bawa gue ke jalan hati lo, gitu."


"Lang, Roxy cari mati ... dia mau masuk ke hati calon bini lo," ujar Choky sambil meletakkan ponsel di telinganya, berpura-pura menghubungi Elang.


"Elo udah gak pro lagi ma gue, Bos ...," gerutu Roxy, "semenjak elo punya Jiah, elo jadi jahat sama gue." Roxy mengerucutkan bibirnya, sok imut.


"Jiah muke lo!" seru Choky sambil menggeplak punggung Roxy. "Calon bini gue namanya Azizah."


"Azizah kepanjangan, Jiah aja lebih cocok di mulut seksi gue," ujar Roxy masih ngotot. Seketika ia merinding, merasakan aura buruk di sekitarnya. Hahahaha, lebay.


"Asal elo masih inget aja, yang elo panggil Jiah itu adek kesayangan gue," ucap Valero, pria tampan nan gagah itu menggulung lengan kemejanya yang memperlihatkan lengan kekarnya.


"Ayo kita beri pelajaran buat mulut lemesnya Roxy," ajak Choky yang melakukan hal sama seperti Valero.


"Ikut, ah ... gue juga butuh pelemasan badan, nih ...," ucap Bagus.


Ketiga pria itu menghampiri Roxy secara bersamaan. Membuat wajah Roxy langsung pucat pasi.


"Huaaaa! Ampun, jangan apa-apain dedek, dedek masih suci, Bhang!" teriak Roxy dengan nada yang menggelikan.


"Sini, Dek. Om ajarin peregangan otot," ucap Bagus sambil menyeringai. Pria-pria kekar itu sudah berada di dekat Roxy, mereka mengelilingi Roxy yang wajahnya semakin memucat.


"Wuaaa, tolong gue! Eri tolong gue, jangan malah ketawa jahat, Lo!" teriak Roxy histeris.


"Bodo!" jawab Valerie cuek.

__ADS_1


Hal itu mengundang tawa semua orang yang ada di sana, begitupun dengan Asel. Ia merasa beruntung berada di tengah-tengah keluarga Arakata. Keluarga yang hangat dan selalu menghadirkan tawa.


__ADS_2