Arakata

Arakata
Amelia si Muka Tembok


__ADS_3

Akan kuhabisi semua yang mengusik kebahagiaan sahabat-sahabatku.


***


“Nih bakso kok sisa satu?” tanya Bagus pada Pak No, penjual bakso di kantin sekolahnya. Mereka sekarang ada di kantin sekolah, tempat ternyaman selama jam istirahat.


“Kan buat Mbak Valerie,” jawab Pak No.


Bagus dan yang lain langsung terdiam begitu mendengar nama Valerie.


“Eri udah pindah, Pak. Dia udah gak bersekolah di sini lagi,” jawab Gandi dengan wajah sendu.


“Eh ... maaf, Mas. Bapak gak tahu kalau Mbak Valerie udah pindah sekolah. Ya udah, satu mangkoknya bapak bawa lagi aja, ya.”


“Gak usah, Pak. Taruh aja gak apa-apa,” sahut Gaung, “biar kami yang menghabiskan.”


Pak No mengangguk dan berlalu dari sana.


“Gue makan bawang gorengnya, elo semua yang makan baksonya ya,” ucap Gaung sambil mengambil bawang goreng yang ada di mangkok bakso itu.


“Baru beberapa hari ditinggal Eri, kok gue udah kangen setengah mati, ya,” ucap Bagus sambil menyendok satu buah bakso dan dimasukkan ke mangkoknya sendiri. “Mana gak ada kabar sama sekali itu cacing kremi.”


“He’em,” sahut Lukman, menyetujui perkataan Bagus. “Kelas jadi sepi dan gak seru.”


“Eri itu moodboster-nya kita, semangatnya kita, segalanya buat kita,” ucap Gandi ikut menimpali. “Jadi, kalau sekarang dia udah gak ada di tengah-tengah kita lagi. Ya, seperti inilah kita, gak lengkap.”


Mereka semua mengangguk, menyetujui perkataan Gandi.


“Elang,” panggil Amelia dari arah belakang. Gadis itu langsung duduk di sebelah Elang, padahal belum dipersilahkan. “Anter Lia ke toko roti yuk, mama minta dibeliin kue.” Gadis itu bergelayut manja pada lengan kekar Elang, membuat semua yang melihatnya menjadi jengah antara jijik dan pengen mutah.


“Gue gak bisa,” jawab Elang singkat.


“Ayolah, Lang. Ini yang minta mama lho,” rengek Amelia yang masih belum puas dengan jawaban Elang yang menolak permintaannya.


“Mama atau pembokat lo?” tanya Bagus, pemuda itu tersenyum miring ke arah Amelia. Semua mata menatap Bagus dengan rasa penasaran.

__ADS_1


“Apaan sih,” sahut Amelia, gadis itu mulai gelisah, wajahnya terlihat pucat.


“Kenapa jadi salah tingkah lo?” tanya Bagus, pemuda itu terus memandang Amelia dengan tatapan yang menghakimi. “Hay, Non. Jangan lo kira kita ini bodoh, elo bermain-main dengan orang yang salah.” Bagus mengedipkan sebelah matanya pada Amelia.


“Eh, gue kembali ke kelas dulu ya, Lang ... gue masih ada urusan,” ucap Amelia yang terlihat panik. Gadis itu hendak pergi dari sana, tapi tangan Elang lebih dulu menarik pergelangan gadis itu.


“Lo stay di sini dulu,” ucap Elang sambil menatap tajam pada Amelia, yang ditatap hanya menunduk takut. “Jelasin apa yang lo maksut tadi, Gus.”


“Orang tua nih tuan putri udah bercerai sejak dia masih SD. Nyokapnya udah punya keluarga baru di Bali. Jadi, gimana bisa yang nyuruh-nyuruh elo selama ini nyokapnya?” Bagus memiringkan kepalanya, memandang Amelia yang terus menunduk. “Bokapnya pun udah punya keluarga sendiri di Medan, dia hanya tinggal sama pembokat-pembokatnya, Lang. Dan yang ngaku-ngaku sebagai nyokapnya itu ya salah satu dari pembokatnya.”


“Bener apa yang dikatakan Bagus?” tanya Elang pada Amelia, Elang mengangkat wajah Amelia agar menghadapnya.


“Jangan sok tahu lo sama kehidupan gue!” bentak Amelia pada Bagus.


Bukannya takut, Bagus malah terkekeh. Ia memperlihatkan layar ponselnya. Dimana di sana terlihat foto keseharian Amelia, di luar maupun di rumah.


“Gue bukan orang goblok yang diem aja saat sahabat-sahabat gue di-zdolimi. Gue selalu ngikutin elo, dan gue foto semua kegiatan elo sebagai bukti saat diperlukan, seperti sekarang.”


“Ini kan mama lo?” tanya Elang begitu melihat foto seorang wanita paruh baya yang memakai daster dan sedang menyapu halaman rumah Amelia. “Kok?” Elang mengerutkan dahinya, ia menatap tajam pada Amelia.


“Itu salah satu asisten rumah tangganya, Lang. Elo ditipu mentah-mentah sama tuh sadako,” sahut Bagus.


Bagus terkekeh, pemuda itu memiringkan kepalanya, menatap tajam pada gadis di hadapannya.


“Gue juga ogah cari tahu tentang kehidupan lo. Gue orang sibuk, gak ada waktu buat ngurusin hidup cewek gak jelas kayak lo,” ucap Bagus, “masalahnya, elo udah lancang ngerecokin kehidupan sahabat-sahabat gue. Jadi, mau gak mau gue harus turun tangan.”


Gaung ikut terkekeh melihat wajah Amelia yang semakin pucat.


“Elo salah pilih lawan,” ucap Gaung, “yang elo usik itu Arakata. Satu yang harus elo tahu. Kami bukan hanya sekumpulan orang yang selalu menyelesaikan masalah dengan otot. Kami juga pakai otak dalam bertindak. Kami sahabat dan juga keluarga. Jika ada salah satu diantara kami yang disakiti, ribuan dari kami yang akan turun tangan.”


“Elang, gue,” rengek Amelia yang masih mencoba meluluhkan hati Elang.


“Setelah perkataan sahabat-sahabat gue, elo masih ngerengek ke gue?” tanya Elang.


“Yang muka tembok mah beda,” ucap Lukman nyinyir.

__ADS_1


Bayangkan, seorang Lukman yang biasanya terkenal tenang dan santun sampai bisa mengeluarkan kata-kata pedas seperti itu.


“Antar aja dia ke rumah sakit, Lang,” ucap Gandi, “dia kan kena leukimia tuh, lu antar dia buat periksa. Kalau seandainya diagnosisnya membuktikan dia sehat, suruh tuh dokter buat suntik mati aja nih nenek lampir.”


Amelia menghentakkan kaki, setelahnya ia pergi dari sana dengan muka cemberut dan ngedumel sepanjang jalan.


“Ada ya cewek yang modelan gitu? Gue kira hanya ada di sinetron azab doang,” celetuk Faris sambil menggelengkan kepala.


“Cih, elo anak geng, nontonnya sinetron?” tanya Maul, pemuda itu memandang jijik pada sahabatnya.


“Gimana gak nonton, orang tiap hari, tiap jam emak gue nonton begituan,” adu Faris, “sampai emak gue berharap kalau sikap gue bisa sedingin Mas Aldebaran. Bayangin, gue yang bacotnya gak bisa direm, disuruh ham hem ham hem doang macam Mas Al.”


“Kalau itu elo bisa berguru sama si Gaung,” jawab Bagus sambil merangkul pundak sahabatnya itu.


Gaung menatap tajam pada Bagus, dan disingkirkannya tangan Bagus dari pundaknya.


“Coba kalau emak gue dapatnya anak yang modelan Gaung, pasti langsung sujud syukur sambil ngucapin hamdallah berkali-kali,” ucap Faris.


“Kalau orang tuanya Gaung dapat anak yang modelannya kayak elo, bisa istighfar tiap detik mereka,” sahut Gandi, yang langsung membuat Faris memanyunkan bibirnya. “Akhlak Gema juga bisa rusak kalau punya abang kayak lo.”


“Sebegitu hinanya ya gue di mata kalian?” tanya Maul dengan pandangan yang memelas.


“Ho’oh,” jawab mereka serempak.


“Eek ayam lo semua,” gerutu Faris nelangsa dan bahagia tiada tara untuk sahabat-sahabatnya yang lain.


“Kalau gue eek ayam, elo tempat keluarnya eek,” ucap Maul, “kita selalu nempel gak bisa terpisahkan.”


“Jijik Ul,” ucap Faris sambil meringis jijik.


“Elo sendiri yang mulai,” sahut Maul yang masih tidak berhenti ngakak melihat wajah nelangsa saudara kembarnya lain orang tua itu.


Elang tersenyum memperhatikan ulah sahabat-sahabatnya. Ia beruntung memiliki mereka, yang selalu ada untuknya. Seandainya ada Valerie di sana, lengkap sudah kebahagiannya.


Senyumnya hilang seketika, saat ia mengingat sikap terakhirnya pada Valerie. Seandainya Valerie masih ada di sampingnya, ia akan melakukan apapun agar gadis itu memaafkannya.

__ADS_1


Namun, semua itu kini hanya tinggal angannya. Bahkan hanya sekedar nomor ponsel atau akun sosial medianya pun ia tak punya. Valerie sama sekali tidak menghubungi siapapun, kecuali keluarganya. Keluarganya pun enggan memberitahu keberadaan Valerie, atas permintaan gadis itu tentunya.


Elang mengusap wajahnya frustasi, seandainya saat itu ia bisa mengontrol emosinya, pasti sekarang Valerie masih ada bersamanya. Seandainya ....


__ADS_2