Arakata

Arakata
Maaf


__ADS_3

Elang termenung sendirian di kamar rawat inapnya. Tidak henti-hentinya pria itu menyesal atas apa yang baru saja terjadi.


Baru beberapa hari mereka jadian, Elang sudah menyakiti hati Valerie. Padahal dia sudah berjanji untuk selalu menjaga Valerie, tapi apa yang ia lakukan? Malah rasa sakit yang ia torehkan pada gadis tercintanya itu.


Tiba-tiba ada bau bunga mawar yang samar-samar tercium. Padahal di ruangan itu tidak ada bunga sama sekali.


"Elo nepatin janji ke Eri, dengan gentayangin orang yang bikin dia sakit hati," lirih Elang sambil tersenyum getir. "Elo yang udah gak ada di dunia ini aja masih menepati janji, sedangkan gue? Gue jadi malu sama elo, dulu aja gue sesumbar kalau cinta gue ke Eri melebihin rasa cinta elo ke dia. Tapi sekarang? Gue malah bikin Eri kecewa dengan meragukan perasaannya. Gue gak berani janji lagi, gue bakal langsung buktiin kalau gue bener-bener


cinta sama dia. Gue bakal jagain Eri, percaya sama gue, Raja ...."


Setelah mengatakan itu, angin berhembus kencang dari jendela ruangan Elang yang terbuka. Dan setelah itu bau wangi dari kembang mawar hilang seketika, hilang bersama sang angin.


"Assalamu'alaikum," salam Valerie sambil masuk ke ruangan Elang. Gadis itu tersenyum hangat, seakan tidak pernah terjadi apa-apa.


"Wa'alaikumsalam," jawab Elang, dengan senyum sumringah.


"Udah malam kok jendela kamar dibuka, Lang? Mana AC-nya juga hidup," gerutu Valerie macam emak-emak sambil menutup jendela kamar itu.


"Tadi ada tamu," gumam Elang yang tidak terdengar oleh Valerie. Pria itu terkekeh, teringat kejadian wangi bunga mawar barusan. "Kamu bawa apa itu?" Elang menunjuk bungkusan yang dibawa kekasihnya.


"Aku buatin kamu sate padang, tapi gak terlalu pedas, kondisi mu belum pulih," jawab Valerie sambil membuka isi rantangnya, dan memindahkan ke piring.


"Yang cidera kan tanganku sayang, jadi makan pedas gak apa-apa," rengek Elang.


"Kamu mau bantah omonganku?" tanya Valerie, dengan lirikan matanya yang tajam. Membuat Elang terdiam seketika. Mana berani dia membantah Valerie, dasar bucin tingkat kelurahan.


"Kapan masaknya?"


"Habis pulang dari jenguk kamu tadi, aku langsung masak." Valerie duduk di kursi sebelah ranjang Elang, sambil membawa piring yang berisi sate padang dan lontong.


"Bukankah tadi kamu marah?" tanya Elang takut-takut.


"Aku gak marah, Lang," jawab Valerie sambil menyuapkan sate dan lontong ke mulut Elang. "Aku cuma sedikit kecewa." Valerie menghembuskan nafasnya agak kasar, menahan kekecewaan.


"Maaf," lirih Elang sambil menunduk.


"Kamu ngomong sama daging sate?" tanya Valerie yang melihat Elang menunduk, tidak berani menatap matanya. "Emang sih dagingnya montok-montok, sengaja aku potong besar-besar. Tapi, masak aku kalah menarik sama seonggok daging?"


Elang tersenyum mendengar penuturan Valerie, pria itu menjadi lega. Ternyata gadisnya benar-benar tidak marah. Seharusnya kekasihnya itu berhak marah dengan apa yang telah dilakukan Elang. Namun, Valerie tetaplah Valerie. Seorang gadis yang selalu berpikir positif dan apa adanya.


"Aku takut kamu akan ninggalin aku setelah kejadian tadi," Elang mengusap pipi Valerie, membuat gadis itu menutup matanya sejenak. Valerie merasa nyaman jika pipinya diusap oleh sang kekasih.


"Lang, aku menyimpan perasaan untuk mu lebih dari sepuluh tahun. Sekarang aku sudah bersama denganmu, gak mungkin aku melepaskanmu semudah itu. Kamu tahu kalau cintaku ke kamu itu tulus?" Elang mengangguk mantap. "Jadi, aku mohon jangan ragukan aku lagi. Aku memang mempercayaimu. Tapi, melihatmu mesra dengan perempuan lain ... di sini ada yang sakit, Lang. Sampai rasanya sesak." Valerie menunjuk dadanya, air matanya menetes. Membuat Elang langsung mengusap jejak air mata itu.


"Iya, Sayang. Sekali lagi maaf," mohon Elang.


Valerie mengangguk, setelah itu ia menatap dalam mata Elang sambil berujar.. "Aku sungguh-sungguh mencintaimu, jangan pernah menganggapku hanya main-main. Karena cintaku bukanlah untuk main-main."


Hati Elang menghangat seketika, betapa beruntungnya ia bisa mendapatkan hati setulus Valerie. Diraihnya tubuh Valerie dalam pelukannya. Pria itu mengecup lama dahi kekasihnya.


"Terimakasih, Sayang, terimakasih telah memilihku untuk menjaga hatimu."


Elang mengurai pelukannya, dipegangnya dagu Valerie dan ditengadahkan untuk menatapnya. Elang semakin mendekatkan wajahnya, hingga deru nafas Valerie menerpa wajahnya.


Baru saja bibir mereka akan menyatu, terdengar suara pintu dibuka. Elang ingin menyumpah serapahi siapapun yang mengganggu kegiatannya.


"Upsss, maaf," ucap Garindra sambilĀ  cekikikan, dibelakangnya berdiri seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik. Siapa lagi kalau bukan Jelita, yang ikut tertawa geli karena tingkah usil suaminya.


Elang hanya bisa menggeram, menahan kejengkelannya. Bagaimana mungkin ia bisa menyumpah-serapahi orang tuanya. Bisa jadi jambu monyet dia entar.

__ADS_1


"Sebenarnya papa gak mau ganggu pasangan baru. Tapi, papa sama mama udah kesemutan ngintip di pintu. Jadi ya papa buka aja pintunya, biar bisa nonton live," ucap Garindra memasang wajah sok polosnya. Pria itu tergoda dengan sate padang yang sedang dimakan putranya. "Sate padang, Lang? Papa mau dong.."


Elang hanya diam sambil cemberut, masih jengkel dengan sang papa yang kelakuannya mirip dengan sahabatnya, Bagus.


"Ambil aja, Pah, Eri masak banyak tadi," jawab Valerie.


Tanpa banyak basa-basi lagi, Garindra memakan sate padang buatan Valerie.


"Wah, kamu buat sendiri, Er?" tanya Garindra takjub, Valerie mengangguk sambil tersenyum."Calon menantu idaman kamu, Er. Coba deh, Yang ... enak banget." Garindra menyuapi istri tercintanya itu.


"Bener, Er. Enak banget," puji Jelita. Sekarang gantian Jelita yang menyuapi suaminya, membuat Elang berdecak sebal.


"Setelah ganggu kemesraan anak, sekarang malah asik mesra-mesraan sendiri. Orang tua macam apa ini?" sindir Elang yang malah membuat orang tuanya terbahak.


"Jangan banyak protes, kalau tetap mau papa restuin hubungan kalian," ancam Garindra.


"Gak mungkin kalau papa gak ngerestuin," ucap Elang sambil tersenyum miring. "Emangnya papa rela kalau Eri jadi menantu orang lain?" Elang menaik-turunkan alisnya.


Seketika Garindra merasa kesulitan menelan kunyahan daging satenya. Semenjak Valerie baru lahir, Garindra sudah menginginkan gadis itu menjadi menantunya. Jadi, bagaimana mungkin ia tidak merestui hubungan mereka. Putranya itu memang mengerti kelemahannya.


"Gak bisa jawab, kan," goda Elang, yang langsung mendapatkan pelototan dari Garindra.


"Ini satenya dihabisin papa gak apa-apa, Er?" tanya Jelita sambil menunjuk suaminya yang masih lahap memakan sate.


"Gak apa-apa kok, Ma ...," jawab Valerie yang langsung mendapat pelototan dari Elang.


"Tapi aku masih mau satenya lagi, Sayang," ucap Elang dengan manja.


"Gak usah manja," jawab Valerie sambil mencubit gemas pipi Elang. "Biar dimakan papa aja, besok bisa aku buatin lagi."


"Tapi, aku maunya sekarang, Sayang," rengek Elang masih merayu kekasihnya.


"Kalau gak mau ya udah, besok-besok gak bakal aku masakin lagi." Jawaban dari Valerie membuat wajah Elang memucat, bukan pucat karena luka yang dideritanya akibat kecelakaan. Namun,, karena ketakutannya jika tidak bisa merasakan masakan lezat dari sang kekasih lagi.


"Tuh lihat, Yang," tunjuk Elang pada Garindra. "Papa ngejek aku tuh!"


Garindra langsung kembali pada kesibukannya memakan sate, begitu Valerie melihat ke arahnya.


"Gak usah mengambing hitamkan papa, ya," ancam Valerie membuat Elang tambah cemberut dan Garindra menjadi tambah senang karena dibela calon menantunya.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Valerie ijin untuk pulang ke rumahnya, tapi dicegah Garindra.


"Nginep di sini aja, Er. Papa sudah pesan kasur tambahan. Jangan pulang malam-malam, bahaya." Perkataan Garindra mendapat anggukan dari istri dan anaknya. Benar-benar keluarga yang kompak.


"Kasihan ayah sendirian, Pa, abang-abang yang lain sudah pulang ke rumahnya masing-masing."


"Laks benar-benar beruntung punya putri berbakti seperti kamu," ucap Garindra sambil mengusap puncak kepala Valerie. "Keberuntungan Laks menular ke papa, karena papa bakalan jadi mertua kamu. Benar-benar beruntung si Elang. Bentukan begitu aja bisa dapetin cewek seistimewa kamu."


"Bentukan?" Elang memicingkan matanya ke arah Garindra.


"Udah-udah," lerai Jelita, "kalau kalian adu mulut terus, kapan Eri pulangnya. Kasihan, udah malam."


Begitu sudah berpamitan dengan Elang dan orangtuanya. Valerie langsung mengendarai sepeda motornya membelah jalanan Jakarta di malam hari.


Valerie memicingkan matanya begitu sampai di jalanan yang sepi. Ada sebuah mobil yang dipepet dua motor. Empat orang turun dari motor dengan membawa senjata tajam. Mereka pasti akan membegal mobil yang dihadangnya. Sang pengendara mobil sudah ditarik paksa untuk keluar mobil oleh salah satu diantara mereka.


Valerie mengendarai motornya mendekati mobil itu.

__ADS_1


"Badan aja gede, beraninya cuman ngeroyok seorang wanita!" Seru Valerie begitu turun dari motornya, tanpa melepas helm. Lumayan, bisa jadi tameng kalau kepalanya kena pukul.


"Gak usah ikut campur lo, pergi!" teriak orang yang tadi menarik sang pengemudi mobil yang adalah seorang wanita seusia ayahnya.


Di dalam mobil terdengar tangisan anak perempuan, membuat sang ibu menjadi khawatir.


"Tante masuk aja ke mobil, tenangin anaknya. Biar di sini saya yang urus." Wanita itu langsung masuk mobil dan mengunci pintunya.


"Brengsek lo!" Teriak mereka, dan langsung menyerang Valerie secara bersamaan.


Valerie melawan mereka tanpa kendala. Namun, saat gadis itu hendak memukul lawannya yang terakhir. Pria itu mengeluarkan pisau, hendak menusuk Valerie. Namun, dengan gesit Valerie menangkap pisau itu, sehinga hanya telapak tangannya yang terkena goresan pisau itu. Valerie menendang pria itu hingga tersungkur dan pingsan.


Warga sekitar yang melihat, langsung membantu mereka untuk mengubungi polisi.


Sang pengemudi mobil langsung keluar dari mobilnya untuk melihat keadaan Valerie. Dari dalam mobil, ia dan anaknya melihat kegesitan Valerie dalam melawan para begal itu.


"Kamu gak apa-apa, Nak?" tanya ibu itu.


"Gak apa-apa, Tante," jawab Valerie sambil membuka helmnya.


Betapa kagetnya ibu itu melihat jika orang yang membantunya adalah seorang wanita cantik.


"Tapi, tangan kamu." ibu itu menunjuk darah yang merembes dari sarung tangan kulitnya.


"Gak apa-apa, Tante. Luka kayak gini sudah sering saya alami," jawab Valerie sambil tersenyum, agar wanita di hadapannya itu tidak khawatir. Mending tante langsung pulang ke rumah saja, biar saya kawal dari belakang."


"Tangan kamu masih bisa buat ngendarain motor?"


"Bisa, Tante," jawab Valerie sambil mengangguk mantap.


***


Begitu sampai di rumah yang bisa terbilang luas dan mewah. Valerie melepaskan helmnya hendak pamit dengan wanita yang ditolongnya.


"Tante, saya pamit pulang dulu ya."


"Kamu masuk dulu, Nak. Biar saya obati tangan kamu."


"Iya, Kak. Ayo mampir dulu." Anak perempuan berusia sepuluh tahun itu menggandeng tangan Valerie yang tidak terluka untuk masuk ke rumahnya.


"Abang," panggil sang tuan rumah pada anak sulungnya.


"Iya, Ma ...," jawab sang anak.


"Tolong kamu temenin dulu anak cewek di depan. Aduh, mama lupa nanya namanya siapa. Mama mau ambil kotak obat dulu, sekalian panggil papa."


"Emang ada apa, Ma? Kok mama panik banget?"


"Tadi di jalan, mobil mama dibegal sama empat laki-laki yang serem. Untung ada seseorang yang nolongin mama. Tadinya Mama kira orang itu cowok, tapi setelah buka helm, MasyaAllah cantik banget, Bang. Tapi kasihan, tangannya kena goresan pisau. Jadi mau mama obati dulu. Udah sana temenin, malah jadi gibah di sini kan," dumel wanita itu sambil masuk ke kamarnya.


"Dek," panggil pria itu pada anak kecil yang sedang asik ngobrol dengan Valerie.


"Abang ...," Gadis itu berlari dan memeluk perut abangnya.


"Adek takut, tadi ada orang jahat." Gadis kecil itu menangis sesenggukan sambil mengadu kepada kakaknya. "Untung ada kakak cantik, ayo adek kenalin." Gadis itu menarik tangan kakaknya untuk bertemu dengan Valerie.


"Kakak cantik ini abang aku," seru gadis itu ceria.


"Eri ...."

__ADS_1


"Robek ...."


Panggil keduanya bersamaan dengan ekspresi yang sama-sama terkejut.


__ADS_2