
"Tumben pakai motor sendiri berangkat sekolahnya, Dek?" tanya Rey yang melihat adiknya berangkat sekolah mengendarai motornya sendiri.
"Iya, Bang . Tadi Elang chat Eri, dia berangkat duluan, makanya gak bisa bareng Eri."
Tadi pagi setelah shalat subuh, Valerie mendapat chat dari Elang. Pria itu bilang kalau dia tidak bisa berangkat bersama Valerie, karena harus menjemput Amelia. Lagi-lagi Amelia.
"Ya udah, hati-hati di jalan, Dek." ujar Rey sambil melambaikan tangan pada sang adik yang telah pergi mengendarai motornya.
"Udah mepet ini jamnya, lewat jalan pintas aja lah," gerutu Valerie. Gadis itu mengendarai motornya melewati gang yang sepi.
Baru setengah jalan, gadis itu dihadang beberapa motor dan sebuah mobil.
"Apaan nih!" Valerie turun dari motor dan membuka helmnya. "Pada ngapain om ngehadang jalan saya! Tolong minggirin bentar kendaraannya, Om. Saya buru-buru mau berangkat sekolah." Pinta Valerie.
Orang-orang itu tidak menghiraukan permintaan Valerie. Mereka turun dari motor dan menyerang Valerie secara bersamaan. Valerie melawan mereka dengan tangan kosong. Sang panglima perang tidak merasa kuwalahan menghadapi enam lelaki kekar yang membawa senjata tajam itu.
Namun, dari belakang ada seseorang yang membekap Valerie dengan kain yang diberi obat bius. Kepala Valerie terasa berat, badannya pun terasa lemas, dan akhirnya kesadarannya pun terenggut.
***
"Lang" panggil beberapa teman sekelas Valerie pada jam istirahat.
"Hem," jawab Elang singkat.
"Eri kok gak masuk sekolah. Kenapa, Lang?" tanya Lukman mewakili teman-temannya yang lain. Karena Valerie tidak pernah absen sekolah tanpa keterangan seperti ini.
"Gak masuk sekolah?" tanya Elang balik.
"Iya," jawab Lukman mantap, "makanya kami ke sini mau nanya sama elo."
"Gue tadi gak berangkat bareng Eri. Tapi gak mungkin kalau dia gak masuk sekolah. Tadi waktu gue berangkat, gue lihat dia lagi manasin motornya, dia udah pakai seragam sekolah, kok." Perasaan Elang menjadi tidak enak. Semalam ibunya Amelia meneleponnya. Beliau meminta tolong agar Elang mau menjemput anaknya dan berangkat bersama ke sekolah. Elang tidak sampai hati untuk menolaknya.
"Emang lo tadi berangkat sama siapa, Lang?" tanya Gandi yang duduk di sebelahnya.
"Lia," jawabnya lirih.
"Kampret lo, Lang. Sejak kapan lo mentingin seorang cewek dari pada sahabat lo, yang lo jaga dari orok," seru Bagus, yang heran dengan jalan pikiran Elang. Ia yakin kalau Lia bukan perempuan yang baik buat Elang. Karena feelingnya tidak pernah salah.
Tak lama berselang, hp Elang berdering. Nama papah terpampang di layar ponselnya.
"Assalamu'alaikum, Pah. Kenapa?"
"....."
__ADS_1
"Astaghfirullah ... Iya, Pah. Elang langsung kabarin anak-anak lainnya. Assalamu'alaikum."
"Kenapa, Lang?" tanya Gaung yang juga mewakili semua pasang mata yang ada di sana.
"Barusan bokap gue telepon. Katanya Eri diculik rekan bisnis OIm Laks. Om Laks sama bokap gue udah ngabarin teman-temannya yang lain. Kita juga harus ngabarin anggota dan sekutu Arakata, biar mereka juga bantuin nyari Eri. Lebih banyak yang nolong, akan lebih baik!" perintah Elang yang langsung dilaksanakan teman-temannya. Mereka tidak mau kalau sampai panglima perangnya terluka.
"Ga, elo hubungin Tyan. Gue ke ruang guru dulu, minta ijin buat kita semua."
Gaung mengangguk dan langsung melaksanakannya. Keringat menetes di pelipisnya, dia takut Valerie terluka. Ia tahu kalau Valerie adalah gadis yang kuat. Namun, bagaimanapun Valerie berada seorang diri di sana.
SMA Gemilang
"Kumpulin anak-anak sekarang!" teriak Tyan pada anak buahnya, sekarang mereka berada di kantin sekolah.
"Kenapa, Yan?" tanya Andi bingung melihat ketuanya yang panik.
"Eri diculik, kita bantu Arakata nyelametin Eri!" tegas Tyan.
Robert yang mendengar hal itu, langsung meletakkan gelas yang baru saja diminum isinya. Emosinya langsung tersulut, rasa khawatirnya kentara mendengar gadis yang akhir-akhir ini dekat dengannya itu berada dalam bahaya.
"Gue ijin dulu ke kepala sekolah, elo koordinasiin anak-anak dulu, Bert." Robert mengangguk dan langsung melaksanakan perintah ketuanya. Dia tidak mau berlama-lama, takut jika terjadi sesuatu dengan sahabat barunya itu.
***
"Terimakasih buat kalian semua yang sudah berkenan ikut dalam penyelamatan putri saya," ujar Laksmono pada semua orang yang ada di sana.
"Santai Om Laks, Eri juga udah banyak bantu Blue eagle selama ini," ujar Braga, ketua gengĀ blue eagle.
"Betul, Om," ucap Choky, ketua geng Rajawali ikut menimpali. "Eri sudah kita anggap saudara sendiri. Jadi, kalau ada yang mengusik Eri, sama aja mengusik kami semua!"
"Betul!" seru semua yang ada di sana.
Laksmono tersenyum, putri kesayangannya tumbuh menjadi gadis yang kuat dan baik. Tidak bisa ia sembunyikan rasa bangganya.
"Udah ketemu Laks alamat yang hubungi elo tadi," ujar Alif yang sedang mengutak-atik laptopnya.
"Gak usah buang waktu lagi," ujar Garindra sambil melepas jas kerjanya. "Saatnya untuk bertamu." Seringaian licik terbit dari bibirnya.
"Hem," jawab Laksmono, "mungkin mereka akan sedikit shock kedatangan tamu segini baanyaknya."
"Mari kita beri kejutan buat orang-orang tolol itu!" Perintah Afghi, sang panglima perang Arakata angkatan pertama itu langsung dituruti semua yang ada di sana.
Deru mesin motor dan mobil saling bersahutan. Pertanda akan terjadi hal yang besar setelah ini. Jangan khawatir kalau mereka akan terjerat masalah hukum, Garindra sudah pasti telah mengurusnya.
__ADS_1
Konvoi mereka seperti pawai acara besar. Hanya melalui pesan singkat, banyak orang yang datang untuk membantu Valerie. Bahkan mereka rela ijin dari sekolah, kampus, dan meninggalkan rapat penting demi menyelamatkan Valerie dengan tangan mereka sendiri. Banyak diantara mereka yang merasa berhutang budi pada
gadis cantik itu. Jadi, tidak akan mereka biarkan luka sekecil apapun ada di tubuh gadis itu.
Selamat datang penderitaan untuk orang-orang lancang yang berani menculik gadis kesayangan Arakata.
***
"Egghh." Valerie menggeliat, gadis itu merasakan perih di pergelangan tangan dan kakinya yang diikat.
"Udah bangun?" tanya pria paruh baya yang berpakaian rapi itu. "Tenyata gak sulit buat nyekap anak Laksmono!" ujar pria itu dengan pongahnya.
"Oh, jadi ini ceritanya Eri lagi di culik?" tanya Valerie dengan entengnya tanpa rasa takut sama sekali. "Om yakin nih mau nyulik Eri, entar nyesel lho," ucap gadis itu dengan senyum yang masih menghiasi wajah ayunya.
"Anak kurang ajar!" bentak pria itu sambil menjambak rambut Valerie.
"Aku emang kurang dihajar om," jawab Valerie dengan seringaiannya. "Karena aku yang biasanya menghajar. Om aja yang pengecut, pakai ngiket tangan dan kaki aku. Jadi gak bisa menghajar om kan ini aku."
Plakkk
Pria paruh baya itu menampar keras pipi Valerie, hingga darah mengalir dari sudut bibirnya.
"Gak ada takut-takutnya ini anak! Sombong seperti ayahnya!" geram pria itu sudah hilang kesabaran.
"Takut?" tanya Valerie sinis, "om yang seharusnya takut, bukan saya. Karena mungkin setelah ini om bakalan babak belur. Tapi tenang om, gak bakalan sampai kehilangan nyawa kok, mereka masih taat hukum."
Brukk!!!
Pria itu mendorong tubuh Valerie, hingga kepala gadis itu terbentur lantai. Darah mengalir dari dahinya yang terluka.
"Asal kamu tahu! Saya membenci ayah dan kakak kamu. Mereka sudah memecat saya! Saya jadi tidak bisa membayar hutang saya yang menumpuk!" Dengan penuh amarah, pria itu menjambak rambut Valerie.
"Oh, jadi om ini yang diceritain ayah dan abang saya semalam. Cahyono, karyawan ayah yang dipecat karena melakukan korupsi dan tindakan pelecehan pada karyawati di kantor." Valerie menatap tajam Cahyono. "Pria pengecut yang beraninyacuma sama perempuan. Cuh ...." Valerie meludahi wajah Cahyono, membuat pria itu tambah murka.
Bughh
Cahyono menendang perut Valerie, darah mengalir dari mulut gadis itu. Sakit ia rasakan di seluruh tubuhnya. Tapi, sama sekali tidak menyurutkan keberanian gadis itu.
"Bos, gawat!" teriak salah satu anak buah Cahyono. "Di luar banyak geng motor yang ngepung kita!"
Valerie tersenyum mendengar itu.
"Kan tadi Eri dudah peringatin, tapi om ngeyel sih. Jadi, tanggung sendiri akibatnya ya, Om. Maaf kalau mereka agak sedikit kasar." Seringaian muncul di bibir manis itu membuat wajah sombong Cahyono menjadi pucat.
__ADS_1