Arakata

Arakata
Brondong, Godain Kita Dong!


__ADS_3

Sedekah bukan hanya milik orang yang bergelimang harta. Sedekah adalah milik semua orang, selama ada keikhlas'an di sana.


***


Hari telah berlalu, Valerie dan yang lain sudah kembali dari acara piknik massal mereka.


Mereka juga sudah kembali pada aktifitas masing-masing. Tenang, tidak ada di antara mereka yang dipecat dari kerjaan masing-masing karena ijin waktu liburan seminggu yang lalu.


"Kak Eri, aku pamit pulang dulu ya," pamit salah satu pegawai di toko kuenya.


"Iya, Irene," jawab Valerie sambil mengemasi barang-barangnya. "Kamu sudah dijemput?"


"Sudah, Kak. Bapak sudah nunggu di luar," jawab Irene.


Valerie mengambil amplop dari dalam tas ranselnya.


"Kamu anggap Kak Eri seperti kakak kamu sendiri, kan?" tanya Valerie sambil tersenyum hangat.


"Iya, Kak," jawab gadis itu sambil mengangguk mantap.


"Ini buat beli buku dan bayar uang sekolah kamu," ujar Valerie sambil memberikan amplop pada Irene.


Irene hendak menolak. Namun, Valerie terlebih dulu memotong omongannya.


"Kalau kamu anggap kak Eri ini kakak kamu, jangan nolak, Ren. Ini wujud kasih seorang kakak terhadap adiknya."


"Tapi, Irene sudah ada uang dari gaji Irene buat bayar sekolah, Kak."


"Uang gajian kamu, ditabung aja. Buat biaya kuliah kamu nanti.


"Kakak juga sudah bayar pengobatan ibu. Irene jadi nyusahin Kak Eri terus," lirih gadis itu sambil menunduk.


"Hey." Eri memegang dagu Irene dan menengadahkan wajah gadis itu agar menatapnya. "Kamu itu sudah kak Eri anggap sebagai adik. Jadi, orang tua kamu, juga orang tua kak Eri. Biarkan kak Eri berbakti pada mereka. Oke!" Valerie mengedipkan sebelah matanya, membuat Irene tersenyum. Betapa beruntungnya ia bisa bertemu dengan sosok sebaik Valerie.


Irene adalah anak tunggal dari seorang buruh pabrik dan ibu rumah tangga biasa. Gaji sang ayah telah habis untuk pengobatan ibunya. Jadi, untuk membiayai sekolah dan untuk makan sehari-hari, gadis itu harus bekerja setelah pulang sekolah.


Teman sekelasnya yang tidak lain adalah adik dari Gaung, yaitu Gema. Memperkenalkannya pada Valerie, awalnya Irene merasa ragu dan takut. Takut jika bos di tempat kerjanya galak dan otoriter.


Namun, setelah bertemu Valerie, pandangannya langsung berubah. Bosnya itu sangat ramah dan baik. Bahkan, ia dianggap seperti seorang adik oleh bosnya itu.


"Terimakasih, Kak," jawab Irene sambil tersenyum tulus.


"Sama-sama, Ren," jawab Valerie, "kak Eri yakin, suatu saat kamu pasti bisa sukses. Kamu inget sama Bang Lukman?"


"Ingat," jawab Irene, "temannya Kak Eri yang pernah ke sini sama cowok ganteng, kan?"


Valerie tersenyum mendengar penuturan Irene. Lukman memang pernah mampir di toko Valerie bersama adiknya, Raka. Yang Irene sebut sebagai cowok ganteng.


"Dulu waktu SMA, Bang Lukman itu pekerja keras, sama seperti kamu," ujar Valerie sambil memandang gadis manis di hadapannya. "Dia seorang yatim piatu yang harus menghidupi dua orang adik. Juga harus menanggung biaya sekolahnya sendiri beserta adik-adiknya. Dengan kerja kerasnya siang dan malam, sekarang ia sudah menjadi pria sukses yang memiliki beberapa resort di Kota Bali. Bahkan, Raka bisa lulus dari S2 nya di Inggris juga karena kerja keras Lukman." Irene mengangguk-angguk, mendengar cerita Valerie.


"Kak Eri juga yakin, kalau kamu pasti bisa sukses seperti Lukman."


"Amiin," jawab Irene sambil mengusap wajahnya.


"Yang penting, kamu jangan pernah berhenti bermimpi dan berjuang. Dan satu lagi yang paling penting, kamu jangan lupa untuk bersedekah. Sedekah bukan hanya milik orang yang bergelimang harta, sedekah adalah milik semua orang yang mempunyai rasa ikhlas di hatinya. Allah sangat mencintai hambanya yang suka berbagi dengan sesama," ucap Valerie sambil mengusap puncak kepala Irene.


"Iya, Kak. Irene akan selalu ingat pesan Kak Eri." Gadis itu mengangguk-angguk sambil tersenyum.


"Ayo, kak Eri antar ke depan. Kak Eri juga mau ketemu bapak," ujar Eri sambil mengunci pintu toko.


"Assalamu'alaikum, Pak..." salam Valerie sambil mencium tangan Joko, ayahnya Irene.


"Wa'alaikumsalam, Nak," jawab Joko sambil mengusap puncak kepala Valerie.


"Eri punya jaket tebal buat bapak," ujar Valerie sambil memberikan sebuah jaket tebal berwarna cokelat pada Joko. "Angin malam tidak baik buat kesehatan bapak. Jadi, bapak pakai jaket ini, ya."


"Gak usah, Nak. Bapak sama Irene sudah sering nyusahin Nak Eri. Bapak gak enak kalau sampai nerima jaket ini,"


"Katanya, bapak sudah anggap Eri sebagai anak bapak sendiri. Tapi bapak gak mau menerima pemberian anak bapak ini." Valerie memasang wajah memelasnya.


"Dramanya mulai," gumam Irene sambil terkekeh, melihat wajah Valerie yang dimelas-melasin.


"Iya, iya. Bapak pakai," ucap Joko akhirnya, tidak tega melihat wajah Valerie yang sudah seperti anak ayam ditinggal induknya.


"Ganteng," ucap Valerie sambil mengacungkan dua jempolnya. "Ini tadi kak Eri masak rendang daging. Kamu bawa pulang ya, buat lauk makan malam sama bapak dan ibu." Valerie memberikan tas berisi makanan pada Irene.

__ADS_1


"Terimakasih, Kak," jawab Irene, "percuma kalau Irene nolak, kan? Pasti Kak Eri bakalan maksa."


"Betul," jawab Eri cepat.


"Irene sama bapak pamit dulu, Kak," ucap Irene sambil naik ke boncengan motor bebek ayahnya.


"Iya, hati-hati di jalan ...," jawab Valerie sambil melambaikan tangannya.


Setelah sepeninggalan Irene dan Joko, Valerie langsung mengendarai motor matic nya memecah keheningan malam Kota Jakarta.


Baru sepuluh menit berkendara, ia melihat seorang pemuda yang dikeroyok beberapa kelompok pemuda lainnya.


Valerie memberhentikan motornya di pinggir jalan, dan berlari menghampiri kumpulan orang itu.


"Hanya banci yang beraninya main keroyokan," ujar Valerie, membuat perhatian orang-orang itu tertuju padanya.


"Waw, ada cewek cakep," ucap salah satu diantara mereka. "Kebetulan banget nih, main sama kita yuk."


"Sorry. Gue gak level main sama banci-banci modelan elo semua!" jawab Valerie sambil tersenyum miring.


"Wah, songong nih cewek," celetuk cowok yang lehernya bertatto. "Minta dibungkam bibir lancangnya!"


Pria itu hendak menyentuh Valerie, dengan sigab Valerie memegang tangan pria itu dan memelintirnya ke belakang.


"Gue gak sudi disentuh sama tangan kotor, Lo!" bentak Valerie sambil menendang perut pria itu dengan kencang.


Teman-teman pria itu mengeroyok Valerie bersamaan. Namun, dengan sigap Valerie melumpuhkan keenam pria itu. Walau ia harus mendapat bogeman di pipi mulusnya.


"Kamu gak apa-apa?" tanya Valerie pada pemuda yang menjadi korban keenam pria tadi.


"Gak apa-apa, Kak," jawab pria itu sambil celingak-celinguk seperti mencari sesuatu.


Valerie melihat ada sebuah kacamata terjatuh di aspal dekat pemuda itu, mungkin benda itu yang ia cari.


"Kamu cari ini?" tanya Valerie sambil memperlihatkan kacamata yang dipegangnya.


"I-iya, Kak ...," jawab pemuda itu, ia langsung memakainya agar pandangannya terlihat jelas.


"Bisa bangun sendiri?" tanya Valerie lagi, pemuda itu hanya mengangguk.


"Oh ini, gak apa-apa, cuma lecet aja," jawab Valerie santai. "Mau aku anterin pulang?"


"Gak usah, Kak," jawab pemuda itu sambil menggeleng. "Saya bawa motor sendiri."


"Oh, ya sudah. Saya duluan ya. Kamu juga buruan pulang, ini sudah malam, banyak bahaya di jalan."


"Iya, Kak. Terimakasih," jawab pemuda itu.


Sepeninggal Valerie dari tempat itu, ada sebuah mobil yang berhenti di hadapan sang pemuda.


Jendela mobil itu terbuka, terlihat seorang pria paruh baya yang mengenakan setelan jas dan mengenakan kacamata hitam.


"Bagaimana?" tanya pria paruh baya itu.


"Berjalan sesuai rencana, Ayah," jawab sang pemuda.


"Bagus," jawab pria itu sambil mengangguk-angguk. "Masuk mobil!"


Pemuda itu mengangguk dan mematuhi perintah dari sang pria, masuk ke dalam mobil hitam itu.


***


"Wuahhhhh, muka lo napa, Er?" tanya Bagus heboh, "udah kayak ubi ungu pipi lo." Bagus menoel-noel pipi Valerie, membuat gadis itu meringis menahan ngilu.


"Sakit, kampret ...," ucap Valerie sambil memukul lengan Bagus.


"Gue tampol ya muk, Lo. Udah tahu memar malah dipegang-pegang," ucap Elang sambil melotot.


"Habis olahraga gak ajak-ajak kan, Lo?" tanya Gandi sambil meneliti wajah Valerie.


"Olahraga dadakan, gak sempat ngajak elo semua," jawab Valerie santai.


Valerie dan kawan-kawan sedang berkumpul di markas Arakata. Malam minggu begini, markas Arakata adalah tempat yang ramai dikunjungi para jomblo-jomblo tampan milik Arakata.


"Wah, brondong-brondong berhamburan, Er," bisik Virsa di dekat telinga Valerie, tapi masih bisa didengar Elang dan kawan-kawan.

__ADS_1


Valerie mengedarkan pandangannya melihat anggota-anggota baru Arakata yang masih muda dan fresh.


"Gema pernah bilang ke gue kalau brondong itu lebih empuk dan gurih, jadi pengen coba," ucap Valerie sambil tersenyum jahil. Diliriknya sang kekasih yang wajahnya sudah mulai merah padam.


"Mana si Gema?" tanya Elang pada semua orang yang ada di sana. Namun, mereka hanya menjawab dengan gelengan kepala. "Kalau sampai ketemu, gue acak-acak mukanya!"


Tidak lama kemudian muncullah sang tersangka. Dengan senyum selebar samudra, Gema berteriak menyapa teman-temannya.


"Selamat malam sahabat jomblo," teriak Gema sambil melambai-lambaikan tangannya.


"Nah itu bocilnya!" teriak Elang tidak kalah bersemangat. Pria itu melambaikan tangannya, memanggil Gema agar menghampirinya.


"Segitu kangennya elo sama gue, Bang?" tanya Gema sambil tersenyum sumringah, tidak sadar bahwa ia sedang mendekati bahaya dengan sukarela. "Gue baru pulang dari Gereja, jadi agak telat datangnya."


"Gak masalah," jawab Elang sambil menyeringai. "Sini, duduk dekat gue." Elang menepuk kursi di sebelahnya.


Begitu Gema sudah berada di sampinya, Elang memiting pria itu di ketiaknya.


"Huaaaaa! Apaan nih bang?" teriak Gema histeris, sambil berusaha melepaskan diri. Namun gagal, tenaga Elang lebih besar.


"Ini hukuman buat elo karena sudah ngeracunin pikiran cewek gue pakai brondong-brondong elo itu!"


"Ampun, Bang. Sesak nafas gue!" teriak Gema.


"Gema, ada yang nyari elo di luar," ujar salah satu anggotanya.


"Suruh sini!" Bukan Gema yang menyahut, tapi Elang.


Gema bernapas lega karena terbebas sementara dari serangan Elang.


Beberapa saat kemudian muncul seorang pemuda berkacamata yang berbadan tegap dan atletis. Walau ia mengenakan kemeja kebesaran yang dikancing sampai atas, tidak bisa menutupi bahwa pemuda itu memiliki badan yang kekar.


"Woahhhh, fix. Ini berondong dari bibit jagung yang unggul, Er!" seru Virsa bersemangat. "Ya Allah, Dek. Kamu imut banget sih."


Gandi menutup mukanya, malu menghadapi tingkah sang tunangan.


"Kakak bidadari," ucap pemuda itu sambil menunjuk ke arah Valerie.


"Kamu?" ucap Valerie, juga ikut menunjuk sang pemuda yang wajahnya penuh lebam.


"Kakak bidadari? Huahahaha. Anjir, belum tahu aja dia kalau yang disebut bidadari ini, kalau marah bisa jadi kayak iblis. Huahahaha," seru Gandi sambil terbahak.


"Mulut lo gue kupas ya, Ndi ...," ancam Valerie sambil mengacungkan pisau ke arah Gandi.


"Elo kok bisa kenal Kak Eri, Ro?" tanya Gema pada temannya itu.


"Kakak itu yang saya ceritain tadi pagi, Ma," jawab pemuda itu.


"Oh, jadi kakak bidadari cantik yang nolongin elo dari preman-preman itu Kak Eri, toh?"


Pemuda itu mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Semalam kita belum kenalan, kan?" tanya Valerie sambil tersenyum. "Nama gue Valerie Livia Laksmono, panggil aja Eri." Valerie mengulurkan tangannya.


"Saya Valero Arbianto, Kak. Panggil aja Ero," jawab pemuda itu sambil menyambut uluran tangan Valerie.


"Wuah, nama kalian samaan!" seru Virsa heboh, "jodoh mungkin."


Gandi yang mendengar itu langsung menyenggol lengan sang kekasih.


"Beib, jangan ngomong gitu. Kalau Elang sampai murka, aku yang bakalan digebukin." Gandi  menunjuk ke arah Elang yang wajahnya sudah menegang.


"Brondong-brondong, godain kita dong!" teriak Virsa sambil bertepuk tangan, membuat Gandi mengusap dadanya.


"Bukan tunangan gue, gue gak kenal." Gandi menutup muka dengan jaketnya.


"Ada yang aneh sama bocah ini," gumam Bagus dengan suara pelan. "Dilihat dari badannya yang tegap, jelas terlihat kalau dia bukan pria yang lemah. Tapi, kenapa dia berpakaian seperti cowok culun begitu."


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2