
Kedekatan kita selama ini, mungkin membuatku merasa tergantung akan hadirmu. Hingga saat engkau mulai menjauh, aku merasa terlupakan.
***
Tiga puluh menit pelajaran pertama telah berlangsung di kelas 12 Ipa 1. Bu Endang sedang menerangkan materi pelajaran ketika terdengar bunyi ketukan pintu.
"Masuk," sahut Bu Endang mempersilahkan sang pengetuk pintu.
Pintu terbuka, sosok Elang masuk ke ruangan kelas. Membuat seisi kelas memperhatikannya. Tumben sang ketua Arakata sampai terlambat masuk kelas.
"Maaf, saya masuk terlambat, Bu," ujar Elang, "saya mengantarkan Amelia ke UKS. Maghnya kambuh, jadi tidak bisa mengikuti pelajaran ibu."
"Oh, iya Lang. Kamu langsung duduk di tempat kamu, kita mulai lagi pelajarannya."
Elang mengangguk, langsung berjalan kearah kursinya.
"Kemana aja lo?" tanya Gandi begitu Elang duduk di sebelahnya.
"Nganterin Lia ke UKS."
"Nganterin apa gantiin dokter Yoga lo, sampai setengah jam begini." Bagus yang duduk di belakang mereka ikut menimpali.
"Tadi dokter Yoga belum datang, jadi gue nemenin Lia dulu, kasian kalo ditinggal sendirian di UKS."
"Tanda-tanda falling in love ini," ujar Gandi sambil mengedip-ngedipkan matanya.
"Gue colok mata lo!" Elang mengarahkan kedua jarinya di depan mata Gandi. "Ngomong gak penting lagi, gue karetin mulut lo," ujar Elang datar namun sarat akan ancaman.
"Ckk," decak Gandi sambil memanyunkan bibirnya.
***
Baru satu menit bel istirahat berbunyi, kantin sudah penuh dengan ratusan siswa-siswi yang tidak sabar untuk mengisi perutnya.
"Persiapan buat acara amal besok gimana Gus? Acaranya seminggu lagi lho," tanya Valerie sambil menyendokkan nasi goreng babat ke mulutnya.
"Sembilan puluh persen sudah selesai Er. Undangan juga sudah gue bagi ke anak-anak Arakata lewat sekolah dan kampus mereka masing-masing. Undangan buat alumni Arakata satu sampai enam juga udah gue bagi. Tinggal gladi bersih aja buat para pengisi acara.."
"Elo emang humas andalan, Gus." Gandi mengacungkan jempolnya pada Bagus. Walau terkesan selengek'an, tapi Bagus selalu menyelesaikan tanggung jawabnya secara serius dan rapi.
"Gue denger-denger entar yang jadi peri bunganya si Nisya, anak 11 bahasa 1. Tuh adik kelas kan bening bingit, bisa cuci mata entar."
__ADS_1
"Masalah cewek aja nomor satu lo Gus!" Gandi menoyor kepala Bagus.
Soal peri bunga itu adalah usulan Gerry. Peri bunga bertugas membagikan setangkai bunga mawar, untuk setiap orang yang akan menyumbang di acara amal ini.
Dalih Gerry memberi usulan itu adalah agar setiap orang yang menyumbang akan merasa senang jika mendapat setangkai bunga mawar dari peri bunga yang tentunya adalah gadis cantik, sebagai ucapan terimakasih atas sumbangan mereka.
Tapi semuanya juga tahu kalau itu hanya akal bulus Gerry, agar cowok itu bisa cuci mata dengan yang bening-bening. Harus di laporin ke kakaknya Gandi ini, biar tahu rasa tuh buaya buntung dikacangin mulu sama Andien.
"Maklum lah gue demen cewek, orang gue cowok," Bagus menepuk bangga dada bidangnya.
"Yakin lo cowok?" ujar Elang sambil tersenyum licik. "Gimana reaksi fans-fans lo itu kalau sampai tahu foto ini ya." Elang memperlihatkan layar ponselnya.
Di layar ponsel Elang terpampang foto Bagus yang saat itu sedang menumpang mandi di rumah Elang. Bagus mengenakan bandana mandi dengan bentuk boneka berwarna pink. Entah pemuda itu dapat benda begituan dari mana.
"Huahahaha, anjir ... apaan tuh." Gandi terbahak sambil menggebrak-gebrak meja kantin.
"Astagfirullah, gue gak nyangka kecurigaan gue selama ini kalau elo maho sama Elang itu beneran." Valerie mengusap ujung matanya yang mengeluarkan air saking gelinya.
Pletakk!!!
"Pikiran elo mesti disapu, Er." Elang memukul pelan kepala Valerie dengan sendok makan yang dipegangnya."Gak nafsu gue liat perut ubinnya Bagus."
Perkataan Gandi langsung membuat Valerie terdiam. Gadis itu terlihat melamun. Membuat Gaung yang dari tadi hanya diam, langsung memperhatikan sikap Valerie yang berubah seketika.
"Mulut lo beneran gue kuncir, Gan." Elang menekan pipi Gandi dan menarik-narik mulutnya.
"Wah, Elang udah gede. Udah ngerti lope-lope an." Bagus bersiul membuat Elang tambah geram.
Seisi kantin tertawa melihat kelakuan inti Arakata yang selalu terlihat lucu dan konyol.
Tanpa mereka sadari ada hati yang terluka disana. Tepatnya ada dua hati yang tersakiti.
***
Valerie mengenakan helmnya dan akan menaikkan badannya di boncengan motor Elang sampai ada suara panggilan yang menghentikan kegiatannya.
"Elang!"
Panggilan itu membuat kelima inti Arakata melihat pada sumber suara. Di sana berdiri dua orang gadis yang juga teman sekelas Elang.
"Lang, bisa tolong anterin Lia pulang gak? Dia gak dijemput supirnya, kasihan masih lemes badannya," ujar Vibri.
__ADS_1
"Gue pulangnya bareng Eri," jawab Elang langsung tanpa basa-basi. "Kenapa gak bareng elo aja? Elo kan juga dijemput supir, jadi Lia bisa sekalian bareng lo."
"Eh, anu ... itu." Vibri memilin ujung jaketnya menandakan bahwa gadis itu gugup. "Gue mampir ke salon dulu jemput mama. Kasihan kalau Lia harus ikut gue muter-muter dulu."
"Elang," lirih Lia sambil memegang tangan Elang. "Gue minta kali ini aja elo anterin gue pulang. Gue lemes, pengen cepet-cepet istirahat."
Elang memandang Valeri, meminta persetujuan gadis itu. Valerie mengangguk sambil tersenyum.
"Elo anterin Lia pulang aja, kasihan dia. Gue bisa pulang bareng Gaung."
"Tapi Er, kita kan mau mampir swalayan dulu buat beliin titipan mama sama belanja bulanan elo."
"Biar gue yang antar Eri belanja. Buruan naik, Er Entar keburu malam." Gaung mulai menghidupkan mesin motornya.
"Titipan mama Jelita entar gue beliin sekalian. Gue pulang dulu." Setelah itu motor Gaung keluar area sekolah, yang disusul motor Gandi dan Bagus.
Bagus sempat melirik ke arah Amelia. Cowok itu merasa ada yang aneh dengan teman barunya itu. Entah apa, yang jelas instingnya tidak pernah salah.
***
"Kita mampir ke swalayan dulu, Lang," seru Lia sambil sedikit berteriak agar suaranya terdengar oleh Elang.
"Ngapain?"
"Beliin pesanan mama elo, kan? Sekalian gue mampir ke rumah elo, kenalan sama mama elo. Siapa tau
besok gue sama mama elo bisa ke salon bareng kan," cerocos Lia, yang membuat Elang merasa jengah.
"Mama gue gak suka ke salon," jawab Elang dengan nada ketus. "Lagian bukannya lo bilang kalo badan lo lemes?"
Pertanyaan Elang yang terdengar lebih mirip pernyataan itu membuat Lia langsung terdiam.
Percuma sudah usahanya untuk berpura-pura sakit, agar diperhatikan Elang. Nyatanya cowok itu masih bersikap dingin.
Berbeda jika dengan Valerie, cowok itu selalu terlihat begitu lembut. Sikap dingin Elang tersebut tidak membuat Lia menyerah, malah merasa lebih tertantang untukmendapatkan hati ketua Arakata itu.
"Elo sekarang boleh nyuekin gue, bentar lagi gue bakalan buat elo bertekuk lutut sama gue, Elang Rayan Garindra," batin Amelia.
__ADS_1