
"Kamu mau tinggal di sini bersama kami?"
"Mau."
Rajawali dan Hans tersenyum memandang wajah besemangat Valerie.
"Tapi, kami yang gak mau kalau kamu berada di sini, Livia," sahut Rajawali sambil mengusap rambut panjang Valerie.
"Kenapa? Kalian pasti marah sama aku, kan?" tanya Valerie sambil menunduk. Gadis itu mendudukkan dirinya di rerumputan dekat danau.
"Marah?" tanya Hans.
Kedua pria itu ikut duduk di sebelah kanan dan kiri Valeri, sehingga gadis itu berada di tengah antara Hans dan Rajawali.
"Iya, kalian marah sama aku," ujar Valerie sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. "Gara-gara aku, persahabatan kalian jadi rusak. An-andai aku tidak pernah hadir dalam kehidupan kalian, ka-kalian pasti masih jadi sahabat yang saling menjaga," ujar Valerie sambil sesenggukkan. "Ini se-semua ... ka-karena aku." Valerie menenggelamkan kepala pada kedua lututnya.
"Ini semua bukan salah kamu, Vi," ujar Rajawali, "jadi, jangan salahkan dirimu sendiri. Andai saja aku tidak berjumpa denganmu, hidupku tidak akan sebahagia ini."
"Benar kata Raja, Vi. Seandainya aku tidak bertemu denganmu, mungkin aku akan menjadi sosok yang lebih kejam," ujar Hans, pria itu meraih kepala Valerie untuk bersandar pada pundaknya. "Kamu bagai pelangi yang memberikan berbagai warna dalam kehidupan kami."
"Terimakasih, karena telah hadir di tengah-tengah kami. Dan terimakasih karena pernah singgah di hati kami. Jangan pernah lupa untuk bahagia," ujar Rajawali.
"Bagaimana jika aku rindu pada kalian?"
"Selalu sebut kami dalam setiap doamu. Doakan kami dalam setiap shalat-mu," jawab Rajawali sambil tersenyum.
"Banyak yang akan menjagamu, Vi," ujar Hans, "jaga dirimu baik-baik. Tingkatkan lagi kewaspadaan dirimu, agar tidak mudah dimanfaatkan oleh orang-orang yang ingin menghancurkanmu."
"Keinginanku adalah hidup berdua bersamamu, Vi. Tapi malah berdua sama itu tuh ...," Rajawali menunjuk Hans dengan dagunya, membuat pria itu berdecak sebal. Valerie tersenyum melihat interaksi kedua sahabat itu.
"Sudah waktunya kamu kembali, Vi. Mereka bisa gila jika kehilanganmu. Jangan lupakan kami. Jangan pernah lupakan jika ada dua orang pria yang sangat menyayangimu dan menginginkan kebahagiaanmu," ujar Hans.
"Selamat tinggal Valerie Livia Laksmono, sampai berjumpa kembali dalam kehidupan yang kekal," ucap Rajawali sambil melambaikan tangannya.
Valerie merasakan ada cahaya menyilaukan yang menariknya. Ia merasakan sesak di dadanya dan kaku di sekujur tubuhnya.
***
"Berhasil, Dok. Dia kembali," ujar salah satu perawat yang sedang membantu dokter menangani Valerie.
"Alhamdulillah, benar-benar gadis yang kuat," ujar sang dokter sambil tersenyum lega.
Valerie merasakan berat di matanya. Ia mencoba mengerjap-ngerjapkan matanya. Gadis itu terkaget begitu membuka matanya sempurna. Bagaimana tidak, jika begitu membuka mata, gadis itu melihat banyak wajah pria yang tengah memandangnya dengan senyum selebar dunia.
"Sudah kubilang, kan ... kalau Eri bakalan sadar," ujar Braga semangat, "malaikat maut mau jemput dia juga mikir-mikir. Bakalan bikin huru-hara dia kalau di akhirat."
__ADS_1
"Udah takut duluan tuh malaikat maut. Begitu lihat Eri, mending dia belok cari pasien lain," ujar Andi ikut menimpali.
"Keder dia, kalah serem sama Eri, huahahaha ...," ujar Bagus sambil tertawa lepas.
Padahal beberapa jam sebelumnya mereka pada nangis jejeritan sambil garuk-garuk tembok, saat tahu jika detak jantung Valerie sempat terhenti.
Namun, senyum mereka kembali terbit setelah dokter memberi tahu bahwa kondisi Valerie telah stabil dan bisa di pindah ke ruang rawat inap.
"Gue kepang ya mulut lo bertiga, berani ngatain adek gue!" ancam Gerry sambil melotot sok galak.
Valerie hanya tersenyum melihat kegesrekan teman dan abang-abangnya.
Tidak lama kemudian, dokter masuk dan memeriksa keadaan Valerie. Dokter bilang bahwa keadaan Valerie sudah membaik. Namun, harus dirawat dulu untuk pemulihan.
"Anak anda seorang gadis yang kuat, Pak," ujar sang dokter pada Laksmono. "Mampu bertahan dalam kondisi yang bahkan kami sebagai team dokter sudah pasrah."
Laksmono tersenyum mendengar perkataan sang dokter. Ia memang selalu bangga dengan sang putri. Valerie adalah anugerah terindah yang Sofie tinggalkan untuknya.
"Kan, yang gue bilang bener kan? Tuh malaikat maut udah keder duluan mau jemput Eri," teriak Bagus heboh sambil tepuk tangan.
"Mulut lo beneran minta gue kepang ya," ujar Gerry sambil menyentil mulut Bagus.
"Waduhhh ... ampun, Bang." Bagus mengusap-usap mulutnya. "Kalau sampai mulut gue dower, tanggung jawab lo, Bang. Entarar malam gue gak bisa ngasih jatah bini gue!"
"Entar biar gue aja yang gantiin lo kasih jatah," jawab Gerry cuek.
Gerry membekap mulut adik iparnya.
"Jangan, Dek. Bisa gawat kalau kakak kamu ngembek. Abang bisa disuruh tidur di kebon nanti. Abang gak mau kalau harus ngelonin nyamuk," ujar Gerry sambil bergidik.
Gandi terbahak melihat ekspresi ketakutan abang iparnya. Gandi tahu seberapa sayang dan cintanya sang abang ipar terhadap kakaknya.
"Tapi benar juga sih," ucap Andi sambil memegang dagunya dan mengerutkan dahi seakan berpikir. "Eri sudah dua kali ini koma dan sudah dua kali pula selamat dari maut. Udah kayak kucing aja punya nyawa banyak."
"Lo nyamain cewek gue kayak kucing!" ujar Elang sambil melotot. "Elo lupa kalau Eri punya banyak malaikat yang doain dia? Ini rejeki anak solekhah namanya. Sudah tak terhitung lagi berapa banyak anak yatim dan fakir miskin yang disantuni Eri selama ini. Lo semua juga tahu bagaimana manjurnya doa seorang anak yatim. Apalagi ini yang doain ratusan bahkan ribuan anak yatim."
"Beda cerita kalau yang sakit elo bertiga!" Choky menunjuk Bagus, Andi, dan Braga. "Boro-boro doain, palingan elo bertiga disumpahin."
"Kampret!" umpat Bagus, Andi, dan Braga bersamaan.
"Ngghhh," ringis Valerie, sambil memegang dada kanannya. Gadis itu merasakan nyeri di dadanya ketika bergerak.
Semua yang ada di sana memandang Valerie dengan khawatir.
"Kamu jangan banyak gerak dulu, ya. Butuh waktu buat pemulihan kondisi tubuh kamu," ujar dokter yang merawat Valerie.
__ADS_1
"Kamu jangan gerak dulu, Dek," ucap Bayu, "kalau mau apa-apa bilang abang sama teman-teman kamu aja."
"Betul it, Er," sambung Andi, "kalau elo ngerasa pusing, biar gue pijetin aja."
"Itu mah elonya yang modus," omel Robert, "sparing di ring tinju aja yok."
"Emohhhh," jawab Andi cepat, "gue jomblo, kalau sampai muka gue bonyok, tambah ngenes hidup gue!"
"Kalau elo bonyok, gue tetep mau sama elo kok, Ndi ...," ujar Valerie yang membuat Andi berbunga-bunga. Namun, membuat Elang dan yang lain melotot tak percaya.
"Beneran, Er?" tanya Andi tak percaya.
Valerie mengangguk mantap, membuat Andi berteriak girang.
"Gue beneran tetep mau sama lo ... tetep mau bikin muka elo tambah bonyok," jawab Valerie sambil menjulurkan lidahnya yang terlihat menggemaskan di mata Elang dan yang lain. Namun, terasa menjengkelkan buat Andi.
"Mampossss!" teriak Choky sambil bersorak girang, begitu pula dengan temannya yang lain.
***
"Lang," panggil Valerie.
Sekarang mereka hanya berdua di ruangan itu. Yang lain sudah pulang ke rumah masing-masing atas paksaan Laksmono.
Laksmono sempat terkaget ketika teman-teman Valerie meminta ijin untuk menjaga Valerie malam ini.
Tentu saja dengan tegas Laksmono menolak. Gimana gak nolak? Belasan pria mau menginap di ruang rawat anaknya. Bisa bayangkan bagaimana penuhnya ruangan itu?
Bagaimana bisa putrinya beristirahat jika ada banyak pria di sana. Yang pasti mulutnya pada gak bisa diam semalaman.
"Iya, Sayanng," jawab Elang sambil mengusap pipi mulus Valerie.
"Rajawali meninggal karena Hans."
Elang menegang mendengar penuturan Valerie.
"Maksut kamu?"
"Hans, Hans membocorkan strategi penyergapan team Raja ke musuhnya. Ya, intinya Raja dijebak. Seharusnya saat itu Hans masih bisa menyelamatkan Raja. Namun, Hans memilih membiarkan Raja terbunuh. Semua itu karena aku, ternyata selama ini Hans memiliki perasaan lebih terhadapku. Dia membunuh Raja, karena ingin memilikiku. Padahal mereka berdua adalah sahabat baik."
Elang menghapus air mata yang mengalir di pipi gadis kesayangannya itu.
"Semua ini bagai mimpi bagiku, Lang. Semuanya begitu cepat hilang dariku, tanpa sempat aku mempertahankannya."
"Jangan pernah menyesali kehendak Allah, Sayang. Ini bukan salah kamu atau siapa pun. Ini adalah pilihan Hans, pilihan yang seharusnya bisa ia rubah jika tidak dikuasai keegoisannya."
__ADS_1
Valerie memejamkan matanya, merasakan telapak tangan Elang yang hangat mengusap pipinya.
"Sekarang kamu istirahat, sudah malam," ucap Elang sambil membenarkan letak selimut kekasihnya. "Good night sayang." Elang mengecup sayang dahi Valerie.