
Valerie memperhatikan interaksi Angel dan keponakan-keponakannya. Bocah-bocah berbeda usia itu bisa saling berbaur. Mereka saling bercanda dan main bersama, sama sekali tidak ada jarak walaupun mereka baru bertemu dengan Angel.
"Andai Lana tahu bahwa Angel adalah anak dari orang yang telah menyebabkan ayahnya meninggal," lirih Gandi.
Setelah acara tahlilan almarhum Bayu, mereka berkumpul di kediaman putra sulung Laksmono itu. Untuk sementara, Valerie dan keluarganya menginap di kediaman Bayu, untuk menemani anak-anak Bayu.
"Lana tahu," sahut Valerie.
Jawaban Valerie tersebut menyita perhatian semua orang yang ada di sana.
"Lana udah tahu, Dek?" tanya Reyhan dengan wajah yang tidak percaya.
Valerie menganggukkan kepalanya. "Waktu gue sama ayah bicara, tanpa sengaja Lana dengar." Valerie menundukkan kepalanya.
"Lana udah tahu siapa itu Angel, tapi masih bersikap baik sama Angel?" tanya Bagus, tidak habis pikir.
"Gue juga tanya hal itu ke Lana, tapi jawabannya bikin gue malu sama diri gue sendiri." Valerie menghembuskan napas, kemudian tersenyum. "Papi pergi dari Lana bukan karena Angel atau ayahnya, tapi karena sudah kehendak dari Allah. Mungkin, ayahnya Angel hanya sebagai perantara, perantara untuk memberikan tempat yang lebih indah buat papi. Itu yang Lana katakan tadi, waktu gue tanya apa dia benci sama Angel ... dia jawab kalau rasa benci gak akan membuat papinya kembali lagi, jadi dia gak mau membenci karena gak ada gunanya."
"Gila, dewasa bener cara berpikir anak Bang Bayu itu," ucap Bagus.
"Lu ngatain keponakan gue gila!" omel Pratama sambil melempar Bagus dengan sebungkus permen yang dipegangnya. Bagus hanya meringis sambil mengangkat dua jarinya, pertanda minta damai.
"Pantes Rocky sama Ricky bar-bar, orang indukannya aja kayak begini," dumel Bagus yang langsung mendapat tatapan tajam dari Pratama.
"Kalau anak sekecil Lana aja bisa ikhlas menerima semua ini. kenapa gue harus susah nerima? Gue ngerasa malu, malu karena ternyata hati gue masih kurang lapang untuk memberi maaf," ucap Valerie, air matanya kembali menetes. Rasanya belum bisa puas sebelum bikin dalang dari kematian Bang Bayu nerima ganjarannya."
"Dalang? Maksut lo ada orang yang nyuruh ayahnya Angel buat ngebunuh Bang Bayu, gitu?" tanya Robert.
"Riki Rahwana, anak kandung dari Ryan Rahwana," jawab Valerie, tubuhnya menegang, ada amarah di dalam tatapan matanya. "Pria itu yang menjadi dalang dari kepergian Bang Bayu."
Mata Valero membola mendengar penuturan Valerie, ia sama sekali tidak mengetahui jika ayah tirinya itu mempunyai anak kandung selain Azizah.
"Ayah punya anak kandung?" tanya Valero.
"Riki Rahwana, usianya sama dengan kita," jawab Valerie, "elo udah paham dari perkataan gue itu, kan? Yang artinya ayah tiri lo itu udah punya hubungan dengan wanita lain, jauh sebelum menikah dengan Tante Atika."
"Brengsek!" umpat Valero dengan suara tertahan.
"Motifnya nyelakain Bang Bayu apa?" tanya Choky, pria itu memeluk kekasihnya yang gemetar setelah mendengar nama Ryan Rahwana, satu nama yang membuatnya trauma.
"Dendam," sahut Gerry, "apalagi motifnya kalau bukan buat balesin dendam bapaknya."
__ADS_1
"Tuh satu keluarga gak jauh-jauh dari lingkaran dendam kayaknya," ucap Roxy, Choky menyenggol sikutnya sambil menunjuk Valero dengan dagunya. "Sorry, Ro. Maksut gue bukan elo sama Azizah."
"Iya, gue paham kok," jawab Valero.
"Gue yakin kalau si Riki itu gak akan berhenti sebelum tujuannya tercapai," celetuk Valerie, "dan kalian semua pasti tahu apa yang menjadi tujuannya." Valerie memandang sekelilingnya.
"Kehancuran Arakata," sahut semua yang ada di sana bersamaan yang dijawab anggukkan kepala oleh Valerie.
"Dia bukan orang sembarangan, dia lebih berbahaya dari bapaknya. Gembong narkoba dan penyelundup senjata ilegal, incaran para aparat kepolisian...," lanjut Valerie, "musuh kita kali ini bukan kaleng-kaleng lagi."
"Ini sudah bukan lagi masalah Arakata angkatan tujuh atau delapan," ucap Laksmono, "tapi ini sudah masalah Arakata semua angkatan. Kita harus bersatu, agar tidak ada korban jiwa lagi."
"Sampai sekarang aparat kepolisian masih belum bisa menangkapnya, karena apa? Karena dia licik dan licin," ucap Valerie, "jadi kita tidak bisa hanya dengan mengandalkan kekuatan fisik, otak juga harus ikut jalan." Valerie mengetuk kepala dengan jarinya. "Dan untuk kali ini, kita tidak bisa mengikutsertakan Arakata angkatan delapan."
"Enggak, Kak. Kita harus ikut," protes Gema yang mendapat dukungan dari teman-teman seangkatannya.
"Musuh kali ini bukan musuh sembarangan, kita gak bisa ambil resiko dengan melibatkan kalian," jawab Valerie, "kalian masih di bawah umur, kami gak mau terjadi sesuatu dengan kalian, terlalu beresiko. Dan untuk sekutu Arakata yang mau bergabung, dimohon untuk melibatkan anggota seniornya aja."
Perkataan Valerie mendapat anggukkan kepala dari Choky, Braga, dan Tyan.
"Tapi kami gak mau hanya berpangku tangan, Kak," protes Asel.
"Apaan, Kak?" tanya Gema mulai antusias.
"Jagain Lana, Bunga sama yang lain," sahut Valerie yang membuat wajah Gema dan teman-temannya kembali masam.
"Elu kira kita pengasuh bayi, Kak?" protes Gema yang mewakili pemikiran teman-temannya.
"Jangan salah," lanjut Valerie, "itu bukan tugas yang mudah. Kalau sampai Lana sama yang lain lecet sedikit aja, kami kejar kalian!" Valerie menatap tajam pada Gema dan teman-temannya.
"Iyain, deh. Daripada gak dapat tugas sama sekali," kata Gema akhirnya.
"Bagus, kalau nurut gitu kan cakep,"
"Kita cakep dari dulu, Kak," celetuk Hasan dan mendapat anggukkan dari teman-temannya.
"Cakep tapi jomblo buat apa?"
Skak matt! Perkataan Valerie tersebut membuat Hasan dan teman-temannya mati kutu.
***
__ADS_1
Valerie membuka pintu kamar Lana, setelah memberikan kecupan selamat malam pada keponakannya yang lain, sekarang giliran keponakan tertuanya ... yaitu anak sulung dari almarhum Bayu Aji Laksmono.
Tubuh gadis itu membeku seketika, saat ia melihat sang keponakan yang tadi terlihat tegar, kini sedang menangis, meringkuk di atas kasurnya sambil memeluk foto sang ayah.
"Papi, Lana takut ... Lana takut kalau gak bisa jaga mami sama adek-adek," lirih bocah berusia tujuh tahun tersebut. "Lana takut kalau gak bisa jadi anak dan kakak yang baik. Lana, Lana ...," perkataan gadis mungil itu terhenti karena isakannya, isakan yang terdengar pilu di telinga Valerie.
Air mata Valerie kembali menetes, ia tak menyangka jika keponakannya yang masih kecil itu menyimpan beban. Valerie naik ke ranjang Lana, dan meraih tubuh mungil keponakannya itu dalam dekapannya.
"Tante," lirih Lana. Ia menengadahkan wajah mungilnya, menatap Valerie dengan air mata yang terus mengalir. "Ma-maaf." Lana langsung mengusap air matanya.
"Kenapa Lana minta maaf?" tanya Valerie.
"Seharusnya Lana gak boleh nangis, Lana gak boleh lemah. Lana harus bisa gantiin papi buat jaga mami sama adek-adek." Gadis mungil itu terus-terusan mengusap kasar air matanya, membuat mata dan pipi tembamnya memerah. Valerie memegang tangan mungil keponakannya itu, dan mengusapkan tangan mungil itu ke pipinya sendiri.
"Sayang, gak ada yang salah dengan sebuah tangisan. Air mata bukan pertanda kelemahan kamu, air mata ini adalah bukti betapa kuatnya putri Bayu Aji Laksmono." Valerie meletakkan telapak tangan mungil Lana pada telapak tangannya sendiri, ia mengusap telapak tangan keponakannya itu. "Dan tangan ini adalah tangan kuat yang kelak akan menggantikan tugas Bayu Aji Laksmono untuk menjaga orang-orang tercintanya. Kamu gak sendiri, Sayang. Ada kakek, tante, Om Tama, Om Rey, Om Gerry, Om Elang, dan om-om Arakata yang lain. Ada banyak orang yang bakalan bantu Lana, jadi Lana gak boleh sedih lagi. Lana jangan takut."
Gadis mungil itu memeluk Valerie lebih erat.
"Tante, Lana mau kuat seperti Tante Eri, yang bisa ngelindungi orang-orang yang tante sayangi."
Valerie tersenyum mendengar penuturan sang keponakan.
"Sayang, tante yakin suatu saat Lana akan menjadi perempuan tangguh, yang lebih hebat dari tante. Kelak, putri hebatnya Bang Bayu ini pasti bisa mimpin Arakata. Tante percaya ...."
Lana mengangguk dalam pelukan Valerie.
"Tante temenin tidur ya, Sayang," ucap Valerie lagi, yang mendapat anggukkan kepala dari gadis itu sebagai jawaban.
Valerie mengusap rambut panjang Lana, menepuk-nepuk pelan punggung keponakannya itu hingga mereka berdua tertidur.
"Calon bini gue udah cocok jadi ibu," celetuk Elang di depan kamar Lana.
"Elo udah kayak penguntit, ngintipin Eri tidur," ucap Valero yang juga berada di sana.
Elang membalikkan badan, menatap tajam pada pemuda tegap yang ada di hadapannya itu.
"Elo ngatain gue penguntit, terus elo apaan? Kita berdua daritadi sama-sama merhatiin Eri dari luar kamar."
"Gue cuma kebetulan lewat," jawab Valero cuek. Pria itu melangkahkan kakinya meninggalkan Elang.
"Sabar ... sabar," ucap Elang sambil mengusap dada bidangnya.
__ADS_1