
Seorang pria paruh baya memandang rumah besar nan mewah peninggalan keluarga Teguh, yang sekarang telah menjadi markas Arakata. Pria itu membuka jendela mobilnya, seringaian muncul dari bibirnya.
"Rumah ini adalah saksi bisu kematianmu. Dan karena itu, aku dan ayah harus mendekam di penjara untuk waktu yang lama. Sekarang ayahku telah tiada, tapi dendamku masih ada. Karena ulah teman-temanmu, kehidupanku menjadi susah. Seharusnya saat itu mereka tidak ikut campur. Orang-orang munafik yang sok peduli dengan sesama. Akan kuhabisi mereka, sampai ke akar-akarnya. Arakata, tunggu kehancuranmu."
Mobil pria itu perlahan meninggalkan markas Arakata. Gema yang sedari tadi nangkring di atas pohon mangga, merasa curiga.
"Gue mencium bau-bau ancaman nih," ucapnya sambil memasukkan mangga yang dipetiknya ke dalam
tas ranselnya. "Lapor ke panglima dulu, ah." Pria itu melompat turun dengan lincahnya dari atas pohon, persis seperti tupai.
Gema bergegas menuju motornya, hendak menuju toko kue milik Valerie. Pergerakannya terhenti, ketika ponselnya berdering.
"Hola, Gema ketua Arakata angkatan delapan yang tampan nan rupawan in here."
Terdengar kekehan dari seberang sana, karena sapaan dari Gema yang tidak biasa, setidak biasa orangnya.
"Kamu di mana, Gema?" tanya seseorang yang meneleponnya.
Gema melihat nama orang yang menelepon di layar ponselnya, yang ternyata teman baru di kelasnya, Valero.
"Markas Arakata, tapi ini mau meluncur ke toko kuenya Kak Eri."
"Ya sudah, saya menyusul ke sana."
"Emang kamu tahu tempat toko kuenya Kak Eri?"
Valero hanya tersenyum, tanpa menjawab pertanyaan Gema. Pemuda itu mematikan sambungan teleponnya, membuat Gema berdecak sebal.
"Teman kampret. Belum jawab pertanyaan gue, udah dimatiin dulu teleponnya. Bukan salah gue ah kalau dia sampai kesasar," gumam Gema sambil menstater motornya.
***
"Selamat sore menjelang malam yang petang, Irene ... teman sekelasku ...," salam Gema pada Irene, membuat gadis itu menutup telinga karena berisiknya suara Gema.
"Jangan teriak-teriak, suara elo menggema di telinga gue!" omel Irene yang sebal dengan kelakuan tidak jelas temannya itu.
"Nah." Gema menjentikkan jarinya di depan wajah Irene. "Sesuai nama gue, kan!" Gema mengedip-ngedipkan matanya.
"Gue colok ya mata, Lo!" ucap Irene sambil memukul Gema dengan nampan yang dipegangnya.
"Jadi cewek jangan galak-galak, gak laku baru tahu rasa, Lo," ucap Gema sambil mengusap lengannya yang terkena amukan dari Irene.
"Eh, elo ngaca. Elo juga gak laku, sampai sekarang aja masih jomblo."
"Bentar lagi gue juga bakalan punya cewek, gue udah punya calon. Zulfa Angelica, ketua kelas lo," jawab Gema pongah.
__ADS_1
"Emang Zulfa mau sama elo?" tanya Irene sambil tersenyum miring, membuat Gema langsung terdiam. "Kicep kan lo! Pede abis kalau Zulfa mau sama elo. Banyak cowok di sekolah yang berjejer ngantri buat jadi cowoknya Zulfa."
"Elo mah sadis, Ren. Mematahkan harapanku sepatah-patahnya," ucap Gema sambil memanyunkan bibirnya sok imut, membuat Irene bergidik ngeri.
Ide jahil Irene muncul, gadis itu membidik wajah manyun Gema dengan kamera ponselnya.
"Kenapa elo foto gue? Mau elo jampi-jampi, kan?" tanya Gema.
"Mau gue kirim ke Zulfa, biar dia mikir-mikir kalau mau terima cinta elo," jawab Zulfa santai sambil mengirimkan foto Gema pada teman sebangkunya di kelas itu.
"Benar-benar teman kampret, Lo!" maki Gema, Irene hanya terkekeh mendengarnya. "Panglima perang gue mana?"
"Emang mau ngapain? Mau elo ajak berkelahi, kan?"
"Tinggal jawab aja, banyak tanya. Bawel, ini bukan urusan cewek."
"Berarti elo ngatain kalau Kak Eri bukan cewek kan? Gue aduin lo, mampus!"
"Mulut lo emang minta dicabein, ya ...," ujar Gema sudah mulai geram. "Gue cari sendiri kalau gitu, tanya sama elo bikin darah tinggi, kolesterol, sama peredaran darah gak lancar."
"Ngambek'an," cibir Irene, "Kak Eri di dapur sama Ero."
"Ero?"
"He'em," jawab Irene sambil mengangguk. "Dia datang sepuluh menit lebih dulu dari elo, dia bantu-bantu Kak Eri di dapur."
"Bukan urusan gue," jawab Irene asal sambil berlalu menghampiri pelanggan yang baru saja datang.
"Cewek nyebelin kayak dia, cocoknya sama cowok yang jengkelin macam Bang Roxy," gumam Gema sambil berjalan ke arah dapur, gak ngaca kalau dirinya sendiri juga ngeselin.
"Eh, Afgan," panggil Gema pada Valero sambil menepuk punggung teman sekelasnya itu. "Perasaan, tadi gue yang bilang ke elo kalau gue mau ke tokonya Kak Eri, malah elo yang duluan sampai sini. Terbang lo?"
"Kebetulan saya tadi sedang ada urusan di daerah sini," jawab Valero sambil membenarkan kacamatanya yang melorot.
"Ngomong sama elo berasa ngomong sama guru bahasa Indonesia, baku banget ...," protes Gema sambil mencomot satu buah kue yang baru saja dibuat Valerie. "Wuah, kue apaan nih! Pedas banget." Gema langsung mengambil minuman berwarna hijau yang berada di dekatnya. "Huekkk, pahit!" Gema berlari ke wastafel di dekat sana untuk memuntahkan minumannya.
"Salah elo sendiri asal comot aja, gak tanya-tanya," ucap Valerie sambil tertawa geli. "Itu kue cabai dan juice pare, buat keperluan konten acaranya Andi."
Andi adalah seorang kreatif disebuah stasiun televisi swasta yang terkenal. Ia meminta tolong pada Valerie agar dibuatkan kue cabai dan jus pare untuk keperluan properti acara talk show-nya.
"Huahahahahaha ...," Valero terbahak keras, sedari tadi ia berusaha menahan tawanya. Sekarang, ia tidak bisa menahan tawanya lagi, begitu melihat wajah Gema yang merah padam tidak jelas.
Gema langsung menengadahkan mulut di bawah tombol dispenser, tanpa gelas. Meminum air sebanyak-banyaknya, menghilangkan rasa tidak jelas pada indra perasanya.
"Nih cokelat, biar pahitnya hilang," ujar Valerie sambil menyodorkan sekotak cokelat buatannya pada Gema. Ia merasa geli juga iba melihat nasib adik sahabatnya itu.
__ADS_1
Gema menerima cokelat yang diberikan Valerie, dan langsung memakannya. Ia merasakan getar di saku celananya. Ponselnya berdering, tertera nama Hasan, teman sekaligus wakilnya di Arakata.
Wajah Gema menegang seketika, begitu menerima sambungan telepon dari Hasan.
"Kenapa, Ma?" tanya Valerie yang heran melihat raut wajah tegang ketua Arakata angkatan delapan itu.
"Markas Arakata dibakar, Kak," jawab Gema.
"Kita kesana sekarang, hubungi anggota lainnya. Jangan lupa hubungi pemadam kebakaran. Bilang ke anak-anak yang ada di sana, jangan panik. Selamatin apa yang bisa diselamatin. Tapi ingat, nyawa yang terpenting. Jika apinya sudah membesar, jangan lakukan hal yang berbahaya, tunggu anggota pemadam kebakaran datang!" perintah Valerie, Gema mengangguk sambil bergegas menuju motornya.
Valero juga berlari menuju motornya, tapi dicegah oleh Valerie.
"Elo bareng gue aja, naik mobil gue."
Valero mengangguk, ia mengekori Valerie masuk ke dalam mobil gadis itu.
"Pakai sabuk pengamannya, gue mau ngebut!" perintah Valerie.
Valero mengangguk sambil memakai sabuk pengamannya.
"Ero," panggil Valerie, dengan pandangan tetap fokus pada jalanan.
"Kenapa, Kak?" jawab Valero sambil menengok ke arah Valerie.
"Elo gak capek?"
"Capek?" tanya Valero, pria itu mengerutkan keningnya. Bingung dengan apa yang dikatakan Valerie.
Valerie menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang agak sepi. Hal itu membuat Valero tambah bingung. Valerie mengambil ponsel di tasnya dan menghubungi seseorang.
"Elang, tolong kamu urus semuanya dulu, Gema dan anak lainnya bakalan bantu. Aku agak terlambat sampai sana, ada yang harus aku urus dulu. Jangan khawatir, aku bisa jaga diriku." Setelah mengatakan itu, Valerie menutup sambungan teleponnya.
Valerie membuka pintu mobilnya dan keluar dari sana, membuat Valero kebingungan.
Gadis itu berjalan dan berhenti di sebelah sisi pintu dimana Valero berada. Dibukanya pintu mobil itu.
"Keluar," ucap Valerie dengan nada tegas.
Valero menurut dan keluar dari mobil.
"Ada apa, Kak?"
"Masih belum capek juga?"
"Maksut Kak, Eri apa?"
__ADS_1
Valerie mendorong tubuh Valero, hingga membentur mobilnya.
"Elo gak capek berpura-pura jadi cowok culun kayak gini ... Ava!"