
"Gema?" ucap Valerie sambil memeluk adik lelaki Gaung itu. "Kakak senang kamu sudah sehat."
"Iya, Kak," jawab Gema, pemuda itu memandang mata Valerie yang berkaca-kaca.
"Kamu masih ingat kakak siapa?" tanya Valerie sambil menunjuk wajahnya sendiri.
Gema tersenyum. "Gue gak mungkin lupa sama Kak Eri. Gimana mau lupa, kalau di kamar abang dan markas Arakata banyak foto Kak Eri."
Pletak!
Gema mengusap tengkuknya yang mendapat tampolan dari sang kakak.
"Mulut lo kayak cewek, lemes amat!" geram Gaung.
"Pak dokter malu-malu, cie." Gema menoel-noel lengan Gaung.
"Adek kampret!" umpat Gaung dengan muka memerah.
"Belum bisa move on dari elo dia, Er," cibir Gandi membuat Gaung tambah panas dingin. "Banyak dokter cantik dan suster seksi yang mepet, gak ada satu pun yang bisa geser lo di hatinya." Pernyataan Gandi itu sukses membuatnya mendapat tatapan tajam dari Gaung.
"Ada satu lagi bucin lo yang belum move on." Bagus menunjuk Elang dengan dagunya. "Tapi belaga jadi playboy dia.
Tiap hari posting foto sama pramugari cantik di IG. Berharap bisa narik
perhatian elo. Malah IG lo gak pernah aktif, ngenes dia Er."
"Gue tabrak mulut lo pakai pesawat," ancam Elang. Namun, bukannya takut, Bagus malah tersenyum miring.
"Perlu elo inget kalau mulut gue yang mau elo tabrak ini, telah berjasa mendapatkan banyak tender-tender besar." Bagus menaik-turunkan matanya.
"Dan perlu elo inget juga," ucap Elang tidak mau kalah, "gue punya saham dua puluh persen di perusahaan lo. Mau gue cabut tuh saham!" Giliran Bagus yang mati kutu.
"Elah Lang, udah bangkotan mainnya masih ngancem-ngancem," gerutu Bagus.
Valerie tersenyum melihat tingkah sahabat-sahabatnya. Sudah sepuluh tahun mereka tidak bertemu dan berkomunikasi. Namun, tidak ada yang berubah sama sekali. Mereka tetap Elang, Gaung, Gandi, dan Bagus yang sama seperti sepuluh tahun yang lalu.
"Elo masih belum jadi istri orang, kan?" tanya Bagus pada Valerie. "Bisa gila tuh pak pilot sama pak dokter kalau ternyata kamu sudah punya suami.
"Lo kerja apa di Korea, Er?" tanya Gaung, tidak menghiraukan perkataan sahabatnya. "Jangan bilang elo jadi ketua gengster di sana."
"Enggaklah, ngacau kamu. Aku jadi wartawan berita kriminal."
__ADS_1
"Wah, udah gue duga, elo gak bakal jauh-jauh dari hal yang berbahaya dan menantang." Gaung terkekeh, dibelainya rambut halus Valerie yang sekarang telah memanjang.
"Bahaya udah menjadi bagian yang menyatu dalam hidupku."
"Udah kayak sepasang kekasih aja kita, bicaranya pakai aku kamu," ujar Gaung geli mendengar gaya bicara Valerie yang kaku dan baku.
"Hah? Hehehe, kelamaan di negeri orang membuat aku eh, gue merasa canggung." Valerie menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Elo sih pakai ke Korea segala. Mau cari pacar opa-opa lo," ejek Bagus. "gak usah cari opa Korea, di sini banyak abang-abang yang cinta mati sama elo. Tuh contohnya Bang Gaung sama Bang Elang."
"Jadi CEO gak bikin mulut nyinyir lo berubah, ya," ujar Valerie.
"Mulut calon bininya aja kalah nyinyir sama dia, Er," cemooh Gandi.
"Bagus udah punya calon istri?" tanya Valerie pada Gandi.
"Udah," jawab Gandi sambil menganggukkan kepalanya. "Bentar lagi married tuh curut. Buy one get one free dia."
"Hah?" Valerie menggaruk dahinya bingung.
"Iya," jawab Bagus, "maaf, Er. Bentar lagi gue nikah, jadi lo gak usah berharap lagi sama gue."
"Calon gue seorang single parent, punya anak satu. Usia jagoan gue dua tahun, Er," jawab Bagus malu-malu.
"Wahhh, asyik dong. Dapat istri bonus anak, beruntung banget lo. Masih gak percaya gue, kalau elo bakalan nikah juga bentar lagi." Valerie tersenyum antusias.
"Juga?" tanya Bagus, "emang siapa lagi yang bakalan nikah, Er?" Mereka semua melihat Valerie dengan tatapan penasaran.
"Ngg, itu anu, yang mau nikah itu gu--"
Belum selesai Valerie berbicara, ada yang menyela.
"Tamu udah pada datang, buruan ke panggung utama!" teriak seorang pemuda seusia Gema.
***
Acara berlangsung lancar. Gema memang pantas menyandang gelar ketua Arakata. Cowok tengil itu memang terlihat slengek'an. Tapi jika dalam mode serius, adik Gaung itu bisa dengan tegas mengatur anak buahnya.
Valerie meregangkan otot-ototnya. Tadi pagi dia baru sampai di Indonesia. Begitu dapat kabar jika Arakata mengadakan acara amal, Valerie antusias. Jadi, walaupun belum sempat beristirahat, dia tetap datang ke acara Arakata.
Rindunya sudah tidak terbendung lagi. Sepuluh tahun tanpa keberadaan sahabat-sahabat gesreknya, membuat ia kesepian. Benar apa yang diutarakan sang oma, raganya memang berada di Korea. Namun, hatinya tertinggal di Jakarta.
__ADS_1
Ia sengaja mengganti semua akun sosial medianya. Agar ia tidak lagi bergantung pada para sahabatnya. Ia ingin mandiri, dan yang jelas ia ingin mengobati luka hatinya. Dan mungkin sekarang sudah saatnya ia kembali ke tempat di mana seharusnya ia berada.
"Capek, Er?" tanya Elang. Pria itu duduk di samping Valerie, memberikannya sebotol air mineral.
"Cuma sedikit ngantuk, Lang," jawab Valerie sambil menerima minuman yang diberikan Elang. "Begitu sampai rumah, gue langsung ke sini. Belum sempat istirahat."
"Istirahatkan mata kamu sebentar." Elang menarik kepala Valerie pela agar bersandar di pundaknya.
Valerie pun mematuhinya. Matanya mulai terpejam, dengkuran halus mulai terdengar.
"Kebiasaan lo belum berubah, Er. Tiap kena angin langsung molor." Elang tersenyum, ada perasaan lega yang menjalar di dadanya. Akhirnya ia bisa bertemu dengan gadisnya, setelah ia menahan rindu selama sepuluh tahun.
Selama sepuluh tahun ini, Elang tenggelam oleh perasaan bersalahnya. Rasa frustasinya bertambah ketika ia tidak kunjung mendapatkan kabar dari gadis itu. Bertanya pada keluarga Valerie pun percuma. Jawabannya selalu sama. "Maaf, Lang. Kami tidak bisa memberi kamu info apapun tentang Eri. Eri yang memintanya." Jawaban itu yang selalu Elang dapatkan.
Sekarang Valerie ada di sampingnya, ia akan memulai semuanya dari awal. Mulai dari meminta maaf pada gadis itu.
"Udah gue duga, elo berdua pasti mojok di sini," ujar Gandi, di belakangnya berdiri kedua sahabatnya yang lain.
"Kalau sampai lo buat Eri sakit hati lagi, beneran gue kebiri lo!" ancam Bagus yang terlihat tidak main-main.
"Dia kelelahan," gumam Gaung. Pria itu mendudukan bokongnya di samping Valerie. Sehingga Valerie berada di tengah antara Gaung dan Elang.
"Dia belum sempat istirahat. Begitu sampai rumah, Eri langsung ke sini," jawab Elang.
"Ngelihat elo bertiga begini, berasa Valerie punya dua suami, lho," celetuk Bagus membuat Elang dan Gaung menggeleng bersamaan.
"Gue gak mau berbagi," sahut Elang cepat.
"Gue juga ogah berbagi," jawab Gaung tidak mau kalah. "Apalagi berbagi sama elo."
"Eghhh," Valerie menegakkan badannya, gadis itu mengusap kedua matanya. "Kalian ada di sini," lirih Valerie.
"Gue antar lo pulang, Er. Biar elo bisa istirahat dulu," ujar Elang.
"Elo di sini rupanya, Dek," ujar Gerry dengan nafas yang ngos-ngos'an. "Calon laki lo berisik mulu noh. Nyariin elo dari tadi, baru ditinggal bentar udah ribut." Gerry melirik pria tampan yang berada di sebelahnya. Pria itu dari tadi
merecokinya.
Kata-kata calon laki membuat keempat sahabat Valerie melongo bingung. Mereka menatap Valerie, meminta penjelasan.
"Kenalin," Valerie membuka suaranya. "Rajawali Putra Angkasa, calon suami gue. Bulan depan kami akan menikah."
__ADS_1