Arakata

Arakata
Kembali Dekat


__ADS_3

"Masalah sebesar ini, kalian sembunyikan dari gue?" tanya Bagus pada Elang dan Valerie.


"Bukan cuma kami sembunyikan dari elo, tapi dari semua anggota Arakata yang lain," sahut Elang, "hanya beberapa dari kami yang tahu."


"Kenapa sekarang Arakata jadi main rahasia-rahasiaan?"


"Bukan niat kami sengaja merahasiakan." Kini giliran Valerie yang menjelaskan. "Musuh kita kali ini bukan orang sembarangan, yang kita lawan sekarang adalah seorang kriminal ... pembunuh. Kita gak bisa sembarangan melangkah, sekali salah melangkah ... nyawa bisa menjadi taruhannya, Gus. Ponsel gue aja sampai disadap. Semakin banyak yang tahu, semakin besar resiko kita. Lagi pula, kebanyakan dari kita sudah banyak yang sibuk dengan urusan pekerjaan. Jadi, biarkan junior kita yang beraksi."


"Tapi mereka itu masih muda, Er. Apa malah gak lebih beresiko, apa hal ini gak berbahaya bagi mereka?" tanya Bagus lagi.


"Kami juga udah mikir sampai sana, Gus," jawab Elang, "kami gak mungkin melepaskan mereka begitu saja, tetap kami pantau. Kalau yang bergerak Gema dan angkatan delapan lainnya, hal itu akan memperkecil resiko, musuh kita itu gak akan curiga. Beda cerita kalau yang bergerak kita, yang udah senior dan banyak dikenal orang."


"Bener juga," ucap Bagus sembari mengangguk-anggukkan kepalanya. "Emang udah saatnya Gema dan angkatan delapan lainnya kita lepas, tapi tetap kita bantu. Sudah saatnya mental mereka diuji, awas aja kalau sampai ada yang babak belur, bakalan gue perketat latihan fisiknya." Bagus terkekeh mengingat saat ia memberikan latihan fisik pada juniornya itu. Gayanya emang agak gemulai tapi untuk urusan otot dan fisik ... jangan main-main.


"Untuk urusan kekuatan, gue yakin mereka lebih dari tangguh. Yang gue khawatirin." Elang menjeda omongannya, pria itu menghembuskan napas. "Kalian tahu sendiri bagaimana gesreknya otak mereka, cara berpikir mereka selalu di luar dugaan. Kalian ingat kan waktu mereka ngelawan The Drugs?"


Valerie dan Bagus menganggukkan kepalanya.


"Cara berperang mereka itu gak ada garang-garangnya," lanjut Elang, "mulai dari jari Restu yang dibuat ngupil sama Gema, ampe nangis-nangis jijik tuh abangnya Asel. Abdul, dia nyabutin bulu kaki anak buah Restu sampai ngejerit gak karuan. Hasan sama Rama yang malah buka salon dadakan, mereka berdua nguncir rambut anak The Drugs, bentukannya udah kayak anak TK kena OSPEK. Belum lagi Asel yang malah ngajak lawannya main kartu, padahal saat itu lagi adu jotos, udah cemong tuh muka mereka karena coret-coretan pake bedak bayi. Bahkan tadi mereka masuk ruang BP? Elo tahu karena apa, Gus? Karena mereka bertengkar lempar-lemparan tempe mendoan yang dikasih chaos. Di luar nalar kan cara berperang mereka!"


Elang mengusap dada bidangnya sembari menggelengkan kepala. Bagus dan Valerie malah terbahak, memang Arakata angkatan delapan itu out of the box.


"Hahahahaha, gak nyangka gue ... ternyata ada yang lebih somplak dari gue," ucap Bagus, masih sambil terbahak. "Inti Arakata angkatan tujuh yang gesrek cuma gue. Lha ini? Lima-lima nya gesrek semua, gak ada yang bener, hahahaha. Rama yang kelihatannya agak bener, ternyata sama aja, hahaha."


"Walau begitu, kekuatan fisik dan otak mereka gak bisa diremehkan," ucap Valerie sambil tersenyum miring. "Sekumpulan orang cerdas yang bersikap apa adanya, sesuai porsi dan usianya. Jaman sekarang, banyak anak muda yang suka bertindak brutal dan kasar, bahkan terhadap orang tua. Mereka bertindak tidak sesuai usia, hingga tanpa sadar mereka kehilangan masa mudanya. Mereka bertindak sok kuasa hanya untuk sebuah tahta, tanpa mereka pikirkan apa yang sebenarnya mereka inginkan. Gue merasa bangga sama junior-junior gue itu, walau mereka punya kekuatan dan kuasa, mereka tetap bersikap apa adanya dan peduli dengan sesama."


"Gue setuju, Er," ucap Bagus membenarkan ucapan Valerie. "Gak perlu pamer kekuatan hanya untuk menunjukkan bahwa kita mampu. Cukup diam dan bertindak sesuai aturan, sejatinya kekuatan tidak untuk melawan ... tapi untuk membela."

__ADS_1


"Tumben omongan lo bener?" cibir Elang "otak lo lagi pas ya tempatnya?"


"Iya, lagi pas. Kemarin-kemarin otak gue lagi liburan jadi gak ada di tempatnya, puas?" sahut Bagus sambil berdecak, kesal dengan Elang.


"Puas lah, kepuasan gue itu waktu ngelihat elo merana. Kayak elo puas ngebentak-bentak gue waktu ngajarin mimpin perusahaan ini."


"Ck, cowok kok dendaman," decak Bagus.


"Elo juga cowok kok doyan ngomel," sahut Valerie, mendukung Elang.


"Kalian berdua cocok tuh, sama-sama seneng jahatin gue. Balikan lagi aja sono, gak usah sok-sok'an kagak peduli, padahal masih ingin saling memiliki."


Skak matt!


Perkataan Bagus menohok Valerie dan Elang.. Mereka langsung terdiam, dan pada pura-pura sibuk melakukan sesuatu.


Setelah mengatakan petuah yang lumayan tidak berfaedah itu, Bagus langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Elang. Menyisakan Elang dan Valerie yang berada di posisi canggung.


"Jangan diem-diem bae', bersuara ... sebelum diduluin suara jangkrik, krik krik krik," ucap Valerie akhirnya, setelah beberapa saat mereka saling terdiam.


"Daripada dengerin suara jangkrik, mending dengerin suara hati gue yang selalu mengumandangkan nama elo Er," ucap Elang sembari tersenyum.


Bukannya tersipu dan memeluk Elang, Valerie malah memasang tampang seram dan bersiap menerjang Elang.


"Dasar cicak buntung, senengnya ngerayu ... bikin terbang. Setelah itu langsung dibanting sampai ambyar!" seru Valerie sambil memukul Elang dengan map yang tadi dibawa Bagus. "Lama-lama gue lempar juga ponsel lo!"


"Lempar aja, Er. Ponsel remuk bisa beli lagi, yang penting jangan hatiku aja yang kamu bikin remuk," sahut Elang sambil terkekeh, tangannya menutup badannya dari serangan Valerie.

__ADS_1


"Masih aja berani ngegembel!" seru Valerie, gadis itu lebih kencang memukulkan map ke tubuh Elang.


"Eri, jangan kenceng-kenceng mukulnya. Itu map isinya laporan penting," ucap Elang sambil berlari menghindari serangan Valerie. Ia berlari sambil tersenyum, ia merasa senang karena bisa kembali dekat dengan wanita yang dicintainya itu ... walau perlahan tak masalah, yang penting masih ada harapan.


"Bodo!" sahut Valerie sambil mengejar-ngejar Elang. Jadilah mereka berdua kejar-kejaran di ruang kerja Elang.


***


"Ada urusan apa kamu di perusahaan milik keluarga Garindra?" tanya Dito pada Valerie.


Setelah acara kejar-kejaran, Valerie rebahan di sofa ruang kerja Elang. Napasnya ngos-ngos'an, tapi ia cukup senang karena berhasil menangkap Elang dan memukulnya habis-habisan. Beberapa saat kemudian, ponsel milik Valerie berdering, ada telepon dari Dito. Pria itu ingin mengajak Valerie makan siang, Valerie menyetujuinya dan meminta Dito untuk menjemputnya di perusahaan Elang.


"Hati-hati sama dia, langsung hubungi gue kalau dia berbuat yang sekiranya mencurigakan," pesan Elang pada Valerie, dan dijawab Valerie dengan anggukkan kepala.


"Gue ada perlu sama temen," sahut Valerie.


"Kok sekarang kamu pakai elo gue?"


"Gue gak suka ngomong pakai aku kamu, kecuali sama orang yang lebih tua. Kayak kaku gitu lidah gue," sahut Valerie.


"Oh, baiklah," ucap Dito sambil menganggukkan kepalanya. "Elo kenal sama pemilik perusaan itu?" Dito bertanya seolah-olah ia tidak tahu bahwa Valerie memang mengenal Elang.


"Iya, Dia teman kecil gue sekaligus tetangga depan rumah. Emang kenapa?"


"Oh, enggak," jawab Dito sambil tersenyum.


Valerie pun ikut tersenyum, ia paham betul kemana arah pembicaraan Dito. Ia juga paham jika Dito hanya sekedar mengorek sesuatu tentangnya dan Elang.

__ADS_1


"Teruslah bermain, gue bakal ikut permainan lo sampai batas akhir. Dan sampai elo kalah sama permainan elo sendiri," batin Valerie dalam hati.


__ADS_2