
Jika masih ada yang berkata tak bisa berbagi karena tak memiliki harta, aku hanya bisa tertawa. Berbagi tak melulu tentang uang dan harta, berbagi rasa dan dan tenaga ... itu lebih berharga.
***
"Sayang," rengek Elang pada Valerie. Pria itu menyandarkan kepalanya pada bahu Valerie.
"Apaan sih, Lang. Ini aku jadi gak bisa gerak, barang-barang yang harus dibungkus masih banyak, noh," tunjuk Valerie pada tumpukkan alat tulis dan mainan yang ada di sana.
Pagi ini, mereka ada di markas Arakata. Valerie dan anggota lainnya sedang membungkus alat tulis dan mainan untuk anak yatim yang nanti sore akan mereka sambangi. Namun, yang dilakukan Elang sedari tadi hanya merecoki kekasihnya. Hal itu membuat Valerie mulai hilang kesabaran.
"Bungkus aja sekalian tuh si burung, Er," celetuk Valero, "nempe-nempel mulu dari tadi."
"Cie, Bang Ero mulai panas. Bakalan seru, nih," ucap Gema mulai mengompori. "Kalau mereka berantem, menurut kalian siapa yang bakal duluan babak belur?"
"Gue jagoin Bang Elang," sahut Hasan menangggapi perkataan Gema.
"Gue jagoin Bang Ero aja." Abdul ikut menimpali. "Gue udah bosen lihat Bang Elang sama Kak Eri, regenerasi dong. Bang Ero sama Kak Eri, gitu."
"Gue dukung diri gue sendiri, lah," sahut Restu sambil mengedipkan sebelah matanya. "Kak Eri, mending jadi istri gue aja. Awet muda entar kalau punya suami brondong."
"Berani deketin Eri, gue kucek muka lo!" ancam Elang, pria itu melemparkan bantal kursi pada Restu. Bukannya merasa takut, Restu malah terbahak karenanya.
Selama ini ia mendengar jika ketua Arakata angkatan tujuh itu sangat posesif terhadap panglima perangnya. Sekarang ia menyaksikan sendiri bagaimana sayangnya Elang pada Valerie. Terlihat jelas jika mantan pilot itu sangat melindungi calon istrinya. Hal itu membuatnya merasa senang untuk menggoda keduanya.
"Si maniak game mana? Kok gak nongol?" tanya Valerie. Gadis itu berpindah tempat, ia duduk di sebelah Firsa. Elang hendak menghampirinya kembali, tapi Valerie mengepalkan tangannya. Membuat Elang langsung menurut dan duduk di tempatnya, sambil cemberut tentunya.
"Lagi ngajar anak jalanan di posko pintar, Bang," sahut Restu, "setiap sore dia ngajar anak jalanan sama temen-temen gamersnya."
"Asel ngajar anak-anak jalanan?" tanya Roxy, membeo perkataan Restu.
__ADS_1
"Iya, Bang. Dia ngumpulin temen-temen sesama gamers buat ngajar anak jalanan di perkampungan dekat rumah. Alhamdulillah, warga sekitar ngedukung dan ikut ngebantu Asel."
"Wah, hebat juga tuh panglima perang baru," puji Braga, "lo kenapa senyam-senyum gitu? Lo udah tahu kegiatannya Asel itu?" Braga menyenggol Valerie dengan sikunya.
"Gue gak mungkin sembarangan milih pengganti gue," sahut Valerie, "gue udah tahu kegiatan Asel sama temen-temen gamersnya itu. Selain mengajar anak-anak jalanan, mereka juga sering bantu warga sekitar, bahkan mereka menyediakan akomodasi buat warga jika ada yang sakit dan butuh perawatan di rumah sakit. Gue pernah datang langsung ke perkampungan itu, gue nanya apa mereka kenal sama pemuda yang bernama Maysel Vairy Akbar. Dari mulai anak-anak sampai orang tua, mereka hapal sama Asel, gak habis kata mereka buat memuji betapa berjasanya Asel dan teman-temannya untuk mereka.,"
"Adek gue, tuh," ucap Restu bangga.
"Terus kenapa elo gak bantu Asel?" tanya Bagus pada Restu.
"Elo tahu sendiri otak gue gak nyampai kalau ngajar orang lain, Bang. Belajar sendiri aja, gue sering minta tolong Asel," jawab Restu sambil terkekeh. "Kecerdasan Asel menurun dari orang tuanya. Gue selalu mencoba untuk bisa pintar kayak Asel, tapi emang otak gue gak nyampe, Bang." Pemuda itu tersenyum, tapi jelas ada rasa sedih dalam raut wajahnya. Ia menyadari bahwa kecerdasan Asel menurun dari orang tua kandungnya, sedangkan dia? Dia hanya anak sahabat mereka yang dititipkan untuk diasuh, hal itu yang ada di pikiran Restu saat ini.
"Jangan menganggap rendah diri lo sendiri," sahut Valerie, "kalau elo aja gak bisa menghargai diri lo sendiri, bagaimana orang di sekitar lo bisa menghargai elo? Asal elo tahu, pemikiran-pemikiran lo selama ini bisa jadi sugesti buat otak lo sendiri. Kalau elo berpikir elo gak bisa, ya itulah yang terjadi. Beda cerita kalau elo yakin bahwa elo bisa, pemikiran itu otomatis akan terhubung dengan otak lo. Dan otak lo akan memberikan sugesti-sugesti baik yang akhirnya menumbuhkan rasa percaya diri. Lagian Asel sering cerita ke gue, kalau elo jago di bidang fotografi. Gali kemampuan elo itu, gue yakin suatu saat nama lo akan bersanding dengan fotografer-fitigrafer terkenal, termasuk sahabat gue yang satu itu." Valerie menunjuk Gandi dengan dagunya.
"Betul kata Eri, yang penting elo tetap semangat untuk mewujudkan mimpi itu menjadi nyata. Kalau elo ragu sama diri lo sendiri, semua mimpi-mimpi lo itu hanya akan menjadi sebuah angan-angan. Gak ada mimpi yang menjadi nyata dengan cara mudah dan instan. Semua ada prosesnya, dan elo harus menikmati setiap proses itu. Agar kelak jika elo berhasil meraih mimpimu itu, kamu bisa tahu nikmatnya bersyukur dan tidak jumawa. Bulan depan pas liburan sekolah, gue ada pemotretan di luar pulau. Elo bisa ikut gue, bantu-bantu sekalian belajar tentang fotografi secara langsung."
"Raya juga akan ikut, dia yang jadi hairstylist-nya. Starla, lo bisa ikut sekalian, belajar tentang tata rias dan rambut sama Raya. Elo punya mimpi buat jadi hairstylist juga, kan?" tanya Sinta pada Starla. Kautsar Raya Pramana adalah adik ipar Sinta, yang berarti adik kandung dari Kautsar Tyan Pramana. Sinta adalah seorang hairstylist, begitu pun dengan Raya.
"Wah, iya Kak. Makasih," jawab Starla, tidak kalah antusias denga Restu. "Ngomong-ngomong, kok Kak Sinta tahu kalau gue punya cita-cita jadi hairstylist?"
"Valerie yang cerita ke Kakak," jawab Sinta.
Starla memandang pada Valerie, gadis itu memandang Valerie dengan wajah yang jelas terlihat penasaran.
"Abdullah yang cerita, setiap kali ngobrol sama kakak yang dia obrolin kamu mulu," sahut Valerie.
Starla mengalihkan pandangannya pada Abdul yang langsung pura-pura sibuk membungkus alat tulis. Gadis itu tersenyum, selama ini Abdul selalu mengganggunya dan terkesan tidak suka dengannya. Namun, ternyata pemuda itu peduli juga terhadapnya.
"Elo gak ikut Bang Gandi ke pulau sekalian? Restu ikut karena punya cita-cita jadi fotografer, Starla ikut karena punya cita-cita jadi hairstylist. Lha, elo kan punya cita-cita jadi bolang, nih. Ikut aja," celetuk Gema, yang langsung mendapat hadiah tatapan maut dari Abdul.
__ADS_1
"Gue mau ikut abang gue aja," ucap Gema lagi. "cita-cita gue kan mau jadi dokter." Gema menepuk dadanya bangga.
"Gak usah, entar pasien lo pada almarhum semua, kalau punya dokter modelan petasan kayak elo," sahut Gaung dengan muka datarnya, membuat Gema cemberut.
"Assalamu'alaikum," salam Asel.
"Waalaikumsallam," sahut Valerie dan yang lainnya.
Asel melangkahkan kaki memasuki markas Arakata, diikuti teman-temannya dan beberapa anak yang usianya lebih muda darinya.
"Kak Eri, gue bawa bala bantuan, nih." Asel merentangkan kedua tangannya. "Temen-temen gamers sama murid-murid gue mau ikut bantu."
"Silahkan, makasih ya," sahut Valerie ramah. "Gabung aja, gak usah sungkan. Kebetulan alat-alat tulis sama mainannya belum selesai dibungkus, dari tadi direcokin mulu sama bayi tua yang manja." Valerie menatap tajam pada Elang, pemuda itu hanya meringis sok imut.
Asel dan teman-temannya langsung membaur dengan anggota yang lain. Mereka melakukan tugas mereka dengan diselingi candaan ala anak Arakata. Mereka saling membaur tanpa ada kesenjangan dan perbedaan.
"Maaf, jika saya dan teman-teman saya cuma bisa bantu begini," ucap Resti, salah satu murid Asel. "Kami belum bisa ikut sedekah, jadi kami hanya bisa membantu ini." Gadis berusia sepuluh tahun itu menundukkan kepala, merasa malu. Begitu pula dengan teman-temannya yang lain.
"Angkat kepala kalian, lebih enak mandang wajah kakak yang cantik daripada mandang lantai gitu," ucap Valerie pada Resti dan teman-temannya. mereka menurut. Mereka mengangkat wajah mereka kembali, memandang lurus pada Valerie. "Siapa bilang kalian belum sedekah? Yang kalian lakukan ini juga sedekah namanya, Sayang." Valerie bangkit berdiri, ia melangkahkan kaki mendekati Resti dan duduk di sebelahnya. "Sedekah itu bukan hanya melulu dengan uang atau segala sesuatu yang berhubungan dengan harta. Arti kata sedekah itu luas, kita bisa bersedekah lewat tenaga seperti yang sedang kalian lakukan ini. Kita juga bisa bersedekah lewat ilmu, seperti Asel yang mengajarkan ilmu pengetahuan kepada kalian. Kita juga bisa bersedekah lewat rasa, dengan memberi perhatian dan dukungan moral pada seseorang, itu juga termasuk bersedekah. Semua hal yang kita lakukan secara ikhlas untuk kebaikan sesama, itu yang dinamakan bersedekah. Kalian gak boleh minder, ya. Nanti sore, kalian mau ikut kami ke panti asuhan buat memberikan barang-barang ini, gak?"
"Mau, Kak," jawab Resti dengan semangat, begitu pula dengan teman-temannya yang lain.
"Terimakasih," sahut Valerie sambil tersenyum tulus.
"Woe, napa lo melongo gak jelas gitu?" tanya Rahmad pada Samuel.
"Kelihatannya gue jatuh cinta sama Kak eri, nih," ucap Samuel tanpa sadar. Membuat sang pawang langsung memasang tampang seram.
"Nyari mati, Lo," celetuk Rahmad lagi. Sedangkan Samuel masih menatap Valerie dengan pandangan memuja. Tidak sadar jika Elang juga sedang memandang dirinya, dengan tatapan horor tentunya.
__ADS_1