
Walau tanpa sayap di punggung, aku tetap akan menjadi malaikat pelindungnya.
***
Hari ini adalah hari dimana diadakannya acara amal sekaligus perayaan hari jadi Arakata yang ke tiga puluh dua tahun.
Suasana SMA Garindra sangat ramai dengan hiruk pikuk orang-orang yang melakukan persiapan.
Stand-stand sudah berdiri kokoh dan berjejer. Mulai dari stand makanan, minuman, stand baca, stand club ekstra kulikuler, stand game dll.
Valerie dan keempat sahabatnya berada di lapangan upacara, dimana panggung utama berada. Mereka mengawasi pembangunan panggung itu, agar tidak terjadi hal membahayakan nantinya. Mereka juga tidak segan-segan membantu jika diperlukan.
"Elang!" teriak Virsa, salah satu panitia acara ini, sekaligus gebetannya Gandi. "Gawat Lang! barusan kita dapat kabar kalau Nisya gak berangkat sekolah, dia sakit."
"Terus?" tanya Gandi, "hubungannya Nisya sakit sama Elang apa?"
"Ishhh Gandi." Virsa mencubit lengan Gandi pelan. "Nisya kan jadi peri bunga. Kalau dia gak berangkat, siapa yang mau gantiin dia dalam waktu sesingkat ini. Susah cari cewek yang tinggi, langsing, gak banyak tingkah gitu."
"Kalau cewek tinggi, langsing, gak banyak tingkah, kita punya sih." Bagus mengarahkan pandangannya pada Valerie, yang lain mengikuti arah pandangan Bagus.
"Napa elo semua ngelihatin gue?" tanya Valerie, "jadi merinding ngeri gue, perasaan gue jadi gak enak ini." Valerie mengusap-usap kedua lengannya.
"Ide cerdas, Gus." Virsa menjentikkan jarinya. "Kalau Eri sih, tinggal dipoles make-up dikit udah pasti menawan."
"Make-up apaan nih? Jangan aneh-aneh ya elo pada," ujar Valerie panik.
"Udah, Er. Nurut aja. Ini demi kesuksesan acara kita." Bagus mendorong-dorong punggung Valerie agar mengikuti Virsa.
"Kalau elo aneh-aneh, gue gak segan tebas anu lo, Gus!" teriak Valerie, khawatir dengan apa yang akan dilakukan padanya.
"Tenang, Er. Anu gue udah dipasang pake yang gambar trio roda itu. Jadi pasti kuat tak tertandingi."
"Elo juga ikut gue, Lang."
Elang hanya melongo pasrah tangannya ditarik Virsa. Kok gue jadi ikut-ikutan kena ya. Perasaan dari kemaren, nasib gue apes mulu! umpat Elang dalam hati.
***
Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Para tamu sudah mulai berdatangan.
"Cocok, Lang. Elo pake begituan. Udah sepantasnya burung elang pake sayap."
Elang mengenakan t-shirt lengan panjang dan celana berwarna putih, dilengkapi dengan sayap yang juga berwarna putih.
"Burung pala lo!" omel Elang jengkel pada Bagus.
"Ribet bener nih sayap," lanjut Elang, cowok itu menggoyang-goyangkan sayap besar yang dipakainya. "Emang aneh idenya si Virsa."
"Itu bukan ane,h Lang, tapi cerdas," bela Gandi.
"Dasar bucin," cela Elang, Bagus, dan Gaung bersamaan.
"Dengar kata sayap, gue jadi inget insiden pembalutnya Eri. Yang bersayap tapi bukan malaikat itu kan, Gan?" goda Bagus pada sahabatnya itu.
Gandi hanya menatap Bagus tajam, enggan menjawab pertanyaan tidak penting sahabatnya itu.
__ADS_1
"Gue juga jadi inget, waktu itu ada yang muntah-muntah karena mabuk jamu datang bulan," celetuk Elang yang membuat wajah Bagus langsung pucat.
Gandi tertawa bahagia melihat Bagus mati kutu. "Karma dibayar kontan, gak pakai utang gak pake nyicil. Huahahaha ...."
"Gue aduin emak gue lo pada, biar disuruh pake kostum minion," gerutu Bagus sambil memaju-majukan bibirnya.
"Kalau sampe elo berani ngadu." Gaung menatap tajam anunya Bagus. "Gue bikin itu lo jadi mini."
Otomatis wajah Bagus barubah menjadi pucat. Elang dan Gandi terbahak melihatnya.
"Kalian ngetawain apa? Seru banget."
Seketika riuh tawa itu berhenti, mereka menatap takjub sang sumber suara. Bahkan mulut Bagus sampai menganga.
Mereka tidak menyangka, jika sahabatnya yang cuek dan tomboy itu bisa terlihat begitu cantik dan feminim. Valerie mengenakan gaun yang panjangnya selutut, gaun itu bermotif bunga-bunga. Ia mengenakan wig panjang dan dihiasi bando berbentuk bunga-bunga pula. Gadis itu membawa keranjang yang berisi tangkai-tangkai bunga mawar putih.
"Kalau ini sih bener-bener malaikat tanpa sayap," puji Bagus dengan mulut yang masih menganga.
"He'em, bening banget," ucap Gandi ikut menimpali.
"Berarti selama ini gue butek dong," protes Valerie.
"Hebat kan hasil karya gue," ujar Virsa bangga.
"Iya, Sa," jawab Gandi, "elo pakai ilmu dukun mana?"
"Kampret lo!" omel Valerie, dipukulnya lengan Gandi dengan bunga yang dibawanya. "Sayap lo bagus, Lang." Valerie menoel-noel sayap yang dipakai Elang.
"Bagus sih bagus, tapi ngribetin ini. Tiap jalan musti hati-hati, makan tempat ini sayap," gerutu Elang.
"Udah, elo berdua jangan kebanyakan protes, kayak demonstran aja. Mendingan kalian buruan ke stand amal aja, keburu ada yang datang!" perintah Virsa pada Elang dan Valerie. "Tugas elo bantuin Eri bagi bunganya. Senyum, jangan pasang tampang horror gitu."
"Ckkk, emangnya gue rumah hantu," cibir Elang.
"Emang," jawab mereka serempak, membuat Elang menganga. Dasar, temen-temen kampret!
***
Elang dan Valerie tersenyum geli melihat keempat abang gantengnya Valerie melongo takjub di hadapan adik perempuannya itu.
"Ini beneran elo, Dek?" tanya Pratama dengan muka cengonya.
"Kalau begini, gue jadi yakin bahwa adek bungsu gue emang cewek."
"Jadi selama ini, elo nganggep gue ini cowok, Bang?" Valerie memukul pelan lengan Reyhan, membuat kakak ketiganya itu mengusap-usap lengannya. Walaupun perempuan, tenaga adiknya itu setara dengan laki-laki.
"Gue sih seneng kalau peri bunganya cantik pakai banget begini," ujar Gerry, pria itu melihat
adiknya dari ujung kaki sampai ujung rambut dengan padangan menilai. "Tapi, gimana mau gue modusin, orang elo adik gue sendiri."
"Gue aduin kak Andien elo, Bang. Biar diblacklist dari daftar calon imamnya." Elang menaik-turunkan alisnya, menggoda Gerry.
"Elo mah mainnya ngancem-ngancem Lang!" Sekarang mereka tahu kelemahan Gerry. Cukup ancam cowok itu dengan nama Andien, seketika dia akan menjadi pria penurut. Hahaha ....
"Ayah gak ikut, Bang?"
__ADS_1
"Ayah nanti berangkat bareng Om Garindra dan anggota Arakata angkatan pertama, Dek," jawab Bayu.
"Wah, mau buat sensasi mereka, membuat heboh dengan datang bersamaan, hehehe," kekeh Valerie.
"Waw, calon mantu Papah cantik banget," seru Garindra yang baru datang bersama rombongan Arakata angkatan pertama. "Jadi pengen cepat-cepat daftarin kalian ke KUA." Garindra mencubit pelan pipi Valerie, membuat gadis itu tersenyum manis.
"Enak aja, Ndra. Antri dong, gue udah daftarin Armando duluan buat jadi mantunya Laks," omel Afghi tidak terima.
Garindra menggelengkan kepalanya. "No! Valerie sudah jadi hak patennya Elang. Armando biar sama anaknya Laks yang lain aja."
Pletak!
Afghi memukul Garindra dengan bunga mawar yang didapatnya dari Valerie.
"Emangnya anak gue homo!!" omel Afghi tak terima, "anak Laks yang lain kan cowok semua, kampret!"
"Yang penting kan elo bisa besanan sama Laks." Garindra menaik-turunkan alisnya, menggoda Afghi.
"Kalian ini rebutan gak jelas, kayak Valerie mau aja sama anak elo berdua." Alif ikut menimpali.Alif tidak ikut rebutan karena anaknya hanya satu dan sudah berumah tangga. "Bapaknya aja lempeng doang, elo pada ribut."
Laksmono hanya terkekeh melihat ulah kedua sahabatnya itu. Sedari Valerie lahir, kedua makhluk itu sudah meminta ijin Laksmono untuk menjadikan Valerie istri dari anak mereka.
Laksmono mengusap kedua pipi Valerie. Betapa cantiknya anak gadisnya itu. Wajah Valerie seperti duplikat almarhumah Sofie, istrinya.
Ingin ia ucapkan betapa miripnya wajah Valerie dengan ibunya. Namun, ia khawatir jika malah akan membuat Valerie sedih, teringat akan ibunya yang meninggal saat gadis itu berusia empat tahun.
Sofie meninggal karena kecelakaan mobil yang ia alami bersama Valerie. Mobil yang dikendarai Sofie hampir menabrak truck yang ugal-ugalan. Sofie membanting stirnya ke kanan untuk menghindari truck tersebut. Namun, mobil itu malah menabrak pagar pembatas, dan tersangkut di pinggiran jurang. Beruntung Valerie bisa diselamatkan, karena Sofie lebih dulu menyerahkan anaknya itu pada warga sekitar yang menolong.
Namun, naas ... setelah Sofie menyelamatkan Valerie, mobil yang dikendarainya terperosok masuk ke jurang. Dan Valerie kecil menyaksikan itu semua, yang mengakibatkan dia phobia dengan ketinggian sampai sekarang.
Tanpa terasa air mata Laksmono mengalir, mengenang mendiang istri tercintanya. Membuat Valerie menjadi bingung.
"Ayah kenapa nangis?" Valerie mengusap air mata yang jatuh dari netra indah ayahnya itu.
"Gak papa, Sayang." Laksmono mengusap pucuk kepala Valerie dengan penuh kasih sayang. "Ayah bangga punya anak gadis yang cantik dan berprestasi seperti kamu."
Valerie tersenyum, mendengar penuturan ayahnya.
"Dan jangan lupa kalau gadis manis ini juga sosok tangguh kesayangan Arakata," ucap Afghi sambil mengusap puncak kepala Valerie.
"Jangan sembarangan nyentuh mantu gue." Garindra menyingkirkan tangan Afghi dari kepala Valerie.
"Mendingan kita nyari tempat duduk, Laks." Alif merangkul pundak Laksmono." Daripada nonton drama duo kampret itu."
"Kita gabung sama yang lainnya dulu ya, Dek," pamit Bayu, diikuti yang lainnya.
Para sahabat Laksmono dan abang-abang Valerie tahu apa alasan yang membuat pendiri Arakata itu menitikkan air mata malam ini.
Mereka tahu betapa miripnya wajah Valerie dengan sang ibu. Laksmono pasti merasa rindu dengan satu-satunya wanita yang dia cintai seumur hidupnya itu.
Dan sebisa mungkin mereka akan berada di dekat Laksmono, jika rindu itu mendatangi sahabatnya itu.
Mereka akan menjadi tembok kokoh jika Laksmono membutuhkan sandaran. Mereka bersedia menggantikan sosok Sofie sebagai tempat berkeluh kesah pria itu. Bahkan mereka rela menjadi badut lawak dan membuat diri mereka konyol, hanya untuk membuat pendiri Arakata itu tertawa bahagia.
Semua mereka lakukan atas nama kebersamaan. Kebersamaan yang telah mereka lewati lebih dari tiga puluh tahun. Kebersamaan yang mereka hadapi bersama, dalam keadaan susah maupun senang.
__ADS_1
Kebersamaan itu yang mereka sebut dengan persahabatan.