
Malam ini Valerie dan Valero menjadi pusat perhatian dari ratusan pasang pasang mata yang hadir di pesta para kaum borjuis. Bagaimana tidak? Penampilan sepasang insan itu terlihat sangat serasi.
Valero mengenakan setelan jas berwarna peach salem yang membuat badan tegapnya menjadi lebih fresh. Sedangkan Valerie, gadis itu mengenakan one-shouldered dress yang panjangnya sampai mata kaki. Namun, memiliki belahan sampai atas lutut yang memperlihatkan kaki jenjangnya. Gaun itu juga menonjolkan bahu indah Valerie, warna gaunnya senada dengan warna jas milik Valero. Rambut panjangnya ia gelung dengan beberapa helai yang menjuntai di leher jenjangnya. Sempurna, satu kata yang pantas untuk menggambarkan penampilan Valerie dan Valero malam ini.
Setiap langkah mereka, mengundang perhatian semua orang yang ada di sana, termasuk oleh Bagus Setya Aji dan Elang Rayan Garindra. Kedua inti Arakata angkatan tujuh itu juga ada di acara ini, karena mereka juga seorang pembisnis yang sukses.
"Gimana? Ada sensasi nyeri kan di hati lo?" tanya Bagus, "udah gue peringatin. Perempuan istimewa seperti Eri, pasti akan banyak yang menginginkan. Saat masih jadi milik elo aja, banyak yang nyari kesempatan buat nikung. Apalagi sekarang udah elo tinggalin, jangan berharap untuk bisa dapetin hatinya lagi. Rasa sakitnya sudah terlalu dalam, dia bisa maafin elo aja itu sudah sebuah keberuntungan."
"Gue paham, gue paham banget," sahut Elang sambil tersenyum getir.
Elang melangkahkan kakinya menuju toilet, ia butuh menenangkan hatinya. Akhir-akhir ini ada yang selalu mengganggu hatinya, hingga membuatnya tertekan. Dan sekarang, ia harus menyaksikan orang yang sangat dicintainya bersama pria lain, bahkan mereka terlihat seperti sepasang kekasih.
"Ero, gue ke toilet dulu, ya. Kebelet pipis," ucap Valerie sambil meringis.
"Kebanyakan minum sih lo tadi," sahut Valero, "ya udah sana, telepon gue kalau kesasar."
"Lo kira gue anak bocah, ke toilrt aja pake kesasar," dumel Valerie yang membuat Valero terkekeh.
Setelah membersihkan diri, Valerie keluar dari toilet. Gadis itu melangkah sambil mengelap tasnya yang terkena air, hingga tidak melihat ke depan. Tubuhnya terbentur sesuatu yang keras, membuatnya terhuyung dan hampir terjatuh jika sebuah tangan tidak menangkap tubuhnya.
"Maaf ... aku gak--" Ucapan Valerie terhenti saat matanya menatap netra tajam seorang pria yang selama ini menempati hatinya, Elang Rayan Garindra. "Elang."
"Ceroboh," ucap Elang, tangan pria itu masih memeluk pinggang Valerie. Ia menatap rindu pada gadis yang ada di hadapannya itu.
"Elang, elo kok ada di sini?" tanya Valerie, tangannya berpegangan pada dada bidang Elang.
"Gue mewakili papah," sahut Elang.
Valerie menganggukkan kepalanya, pandangan mereka terkunci beberapa saat. Setelahnya, Valerie melepaskan diri dari pelukan Elang terlebih dahulu. Suasana canggung langsung melingkupi mereka.
"Engh, gue duluan, kalau kelamaan entar Ero nyariin," ucap Valerie. Valerie melangkahkan kakinya, hendak meninggalkan Elang. Namun, pria itu memegang pergelangan tangannya, membuat Valerie kembali menghentikan langkah.
"Bareng gue, entar elo kesasar," ucap Elang sambil menggandeng tangan Valerie, membuat Valerie berdecak sebal.
"Gak elo, gak Ero ... memperlakukan gue kayak bocah yang ke toilet aja bisa kesasar," protes Valerie yang membuat Elang terbahak. "Ngakak aja terus, terusin aja ...," Valerie mencubit perut Elang. "Ish, paling sebel gue kalo nyubit perut elo! Perut kek tembok, keras banget!"
__ADS_1
Elang semakin terbahak karena penuturan lugu Valerie. Elang mengantar Valerie sampai tepat di dekat Valero. Setelahnya ia menyusul Bagus yang sedang berbincang dengan rekan-rekan bisnis mereka.
"Kok bisa elo bareng Elang?" tanya Valero begitu Valerie sudah berada di dekatnya.
"Tadi ketemu di toilet, gak sengaja gue nubruk badannya," jawab Valerie.
"Cielah, elo berdua udah kayak adegan di sinetron," goda Valero sambil menyenggol lengan Valerie, membuat gadis itu tersipu. "Wuah, Eri bisa malu-malu kadal." Valero terbahak sambil menunjuk wajah Valerie.
"Elo kadalnya," sahut Valerie tak mau kalah.
Sepanjang acara Valerie terlihat bosan, seringkali ia menguap. Sedari kecil, ia memang tidak menyukai hal yang berbau pesta. Apalagi jika pestanya berisi kaum sosialita dan borjuis seperti ini. Pesta yang menjadi ajang pamer jabatan, itu menurut Valerie.
"Mau pulang duluan?" tawar Elang pada Valerie. Elang menghampiri Valerie, ia tidak tega melihat Valerie yang terlihat sangat lelah. Entah apa yang dilakukan gadis itu seharian ini hingga terlihat selelah itu, itu yang ada di pikiran Elang.
"Enggak," jawab Valerie, ia menggelengkan kepala. "Gue gak enak sama Ero, dia masih sibuk kayaknya." Valerie menunjuk ke arah Valero yang sedang sibuk berbincang dengan rekan bisnisnya.
"Biar gue yang urus," ucap Elang, pria itu melangkahkan kaki menghampiri Valero. Ia membisikkan sesuatu pada Valero hingga Valero menghampiri Valerie.
"Eri, maaf. Elo pulang duluan aja sama Elang, ya," ucap Valero pada Valerie. "Gue masih ada urusan di sini. Maaf banget." Valero menangkupkan telapak tangannya merasa menyesal.
"Gak apa-apa, Ro. Gue yang minta maaf, gak bisa nemenin elo sampai selesai."
"Heleh, tiap hari aja elo nyamperin rumah gue," sahut Elang. Setelahnya ia menggandeng tangan Valerie keluar dari tempat itu.
"Enak aja, gue nyamperin rumah di seberang rumah lo, bukan rumah lo!" protes Valero, tapi percuma... Elang dan Valerie sudah berjalan menjauh.
"Bagus kemana?"tanya Valerie begitu mereka sudah berada di dalam mobil Elang.
"Dia pulang duluan," sahut Elang, "dia gak tega ninggalin Yulia sama Leo terlalu lama di rumah."
"Kenapa Leo sama Yulia gak diajak aja sekalian tadi?"
"Yulia dan Leo gak suka sama keramaian," sahut Elang, membuat Valerie mengangguk paham. "Kecual kalau ada acara Arakata tentunya, mereka bisa betah berada di kerumunan kalau kumpul sama anggota Arakata."
"Rasa nyaman itu bukan sesuatu hal yang mudah didapatkan," ucap Valerie, "gue juga ngerasain itu. Padahal belum lama acara berlangsung, tapi gue udah ngerasa gak nyaman ... karena ini memang bukan tempat gue, ini bukan lingkungan gue."
__ADS_1
"Kalau bukan ada kaitan sama kerjaan, gue juga gak akan datang," gerutu Elang.
"Ngedumel mulu," ucap Valerie, ia menyentil bibir Elang. "Gue bobok dulu ye, kalau udah sampai tolong bangunin. Gak usah gendong gue ke kamar."
"PD gila, siapa juga yang mau gendong elo! Berat," sahut Elang, membuat Valerie berdecak.
Sudah lima belas menit berlalu semenjak mobil Elang berada di depan gerbang rubang Laksmono. Pria itu memang sengaja tidak membangunkan Valerie, ia sedang menikmati memandang wajah ayu di sampingnya itu. Ia mengusap pipi Valerie yang terasa sangat lembut di tangannya.
"Aku rindu kamu, Sayang." Elang mengecup dahi Valerie, hanya saat mata gadis itu tertutup ia berani mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya. "Setengah mati aku berusaha menahan perasaanku, setengah mati aku berusaha menahan rasa cemburuku, dan setengah mati juga aku menahan rasa sakit saat berusaha melukai hatimu. Aku harus menjauhimu, aku harus melakukannya ... untuk memastikan kamu tetap baik-baik saja."
Satu tetes bening jatuh dari netra tajam Elang.
"Jika boleh aku meminta, aku ingin waktu berhenti sebentar saja. Agar aku bebas bersama denganmu, seperti ini. Tanpa takut jika dia mengetahui, tanpa takut jika dia akan melukaimu. Andai dia tidak menyimpan dendam padaku, mungkin kita sudah hidup bersama saat ini. Kau lah cintaku, aku hanya ingin hidup denganmu ... tak mau yang lain."
"Egh," erang Valerie, mata gadis itu mengerjap. Ia membuka matanya perlahan. "Kita udah sampai? Kenapa elo gak bangunin gue?"
"Gue gak tega, elo kelihatan capek banget," sahut Elang, "emang seharian tadi elo dari mana aja?"
"Em, tadi sore gue ke rumah tahanan buat jenguk Galih. Sebelumnya, gue main ke rumah Teo."
"Teo?" beo Elang.
Valerie menganggukkan kepalanya. "Anak berusia sepuluh tahun yang gue temuin tadi pagi secara gak sengaja. Gue antar dia pulang, ternyata dia tinggal bersama sembilan anak jalanan lainnya. Mereka semua diasuh sama seorang pria baik hati, namanya Cakrawala."
Deg! Elang merasakan jika jantungnya seakan berhenti berdetak. Tubuh pria itu mematung, rasa takut mulai menggerogotinya. Rasa khawatir terbesarnya akhirnya terjadi, terjadi begitu cepat.
"Cakrawala? Gak mungkin ...," Elang menggelengkan kepala, wajahnya memucat seketika. "Bagaimana ciri-cirinya?"
"Em, rambutnya gondrong," sahut Valerie, matanya menerawang, mengingat ciri-ciri pria yang baru saja ditemuinya tadi pagi. "Ah, yang paling gue ingat ... di lehernya ada tatto gitu, entah gambar apaan. Kalau di pergelangan tangannya ada tatto tulisan nama kayaknya, em ... Fela, Feli ... atau apa ya?"
"Felicia," lirih Elang.
"Nah, iya ... Felicia," seru Valerie girang karena Elang bisa menebaknya. "Eh, tapi kok elo bisa tahu? Kan gue belum cerita."
"Jauhi dia!" perintah Elang, ia menatap tajam pada Valerie.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Cukup jauhi dia dan jangan banyak tanya."