
"Elo kenapa, sih?" tanya Valerie pada seorang pria yang sedari tadi membolak-balik tangannya yang diperban. "Elo kira tangan gue gorengan yang perlu dibolak-balik?"
"Gue heran aja ama elo," sahut pria itu, ia meletakkan tangan Valerie pelan-pelan, berganti menatap tajam mata gadis di hadapannya itu. "Elo itu cewek, tapi sering banget luka-luka begini. Bukan hanya luka, nyawa elo juga sering terancam."
Valerie terkekeh mendengar penuturan mantan pilot itu.
"Elo udah kenal gue berapa lama, Lang? Hal kayak gini aja masih elo tanyain."
"Tapi apa gak bisa elo hindari aja, Er?"
Lagi-lagi gadis itu tersenyum, ia paham betul jika pria yang pernah berstatus sebagai calon suaminya itu merasa khawatir padanya.
"Lang, semalam mereka ngepung mobil Galih yang gue kendarain. Gue mau hubungin kalian buat minta tolong, tapi sialnya ponsel gue mati. Kaca mobil Galih aja sampai hancur gitu, terus apa yang bisa gue lakuin selain melawan?"
"Elo kenal salah satu dari mereka?" tanya Elang lagi.
"Enggak," sahut Valerie sambil menggelengkan kepalanya. "Gue rasa mereka bukan dari anggota geng musuh kita."
"Ada barang-barang lo yang diambil sama mereka?"
Valerie menggelengkan kepalanya lagi. "Gak ada, Lang. Waktu maksa gue keluar dari mobil, mereka juga gak mencoba ambil barang-barang gue. Mungkin mereka sekumpulan orang iseng yang lagi gabut, lha kebetulan gue lewat."
"Mana ada hal kayak gitu, Eri," ucap Elang, pria itu mengusap ujung kepala Valerie.
"Adalah, nyatanya terjadi sama gue. Awh," lirih Valerie. Gadis itu berusaha menyisir rambutnya dengan kedua telapak tangannya yang diperban. Namun, tangannya masih terasa sakit.
"Elo mau ngapain?" tanya Elang.
"Nyisir rambut, Lang. Bentukan gue udah kayak gembel." Valerie menggeleng-gelengkan kepala, mengibas-ibaskan rambut panjangnya yang terurai.
Elang tersenyum melihatnya, ia mengambil alih sisir dan karet rambut dari tangan Valerie. Pria itu dengan hati-hati menyisir rambut Valerie dan mengikatnya menjadi satu.
__ADS_1
Valerie melihat wajahnya dari pantulan cermin, ia tersenyum puas dengan hasil kunciran Elang.
"Wah, elo cocok nih kalau buka salon rambut," goda Valerie sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat Elang berdecak.
"Ck, ogah gue ngurusin rambut-rambut cewek ... ribet," sahut Elang cepat.
"Terus kenapa elo mau ngurusin rambut gue?" tanya Valerie, ia menatap Elang dengan wajah polosnya, membuat Elang menjadi gemas.
"Kenapa masih elo tanyain terus sih hal kayak gitu? Masa hal sepele itu elo gak bisa nebak jawabannya. Gue mau ngelakuin hal ini ke elo karena ...." Elang menjeda perkataannya. Pria itu membalikkan badan Valerie hingga menghadapnya. Elang semakin mendekatkan dirinya pada Valerie, hingga wajah Elang sudah berda tepat di hadapan Valerie. Membuat wajah Valerie memerah, gugup bukan main.
"Lang," lirih Valerie, Gadis itu mencoba memalingkan wajahnya, tapi Elang memegang dagunya dan kembali membuatnya menghadap pria itu.
"Gue mau lakuin hal ini ke elo karena ... karena elo kan bukan cewek!" celetuk Elang sembari menyentil dahi Valerie.
Hal itu membuat Valerie langsung cemberut, jengkel dengan pria di hadapannya itu. Terlebih melihat Elang yang terbahak, membuatnya tambah sebal. Dengan sekuat tenaga, ia mendorong dada Elang, hingga pria itu terjungkal. "Ketawa aja terus, sampai rahang lo lepas!" Valerie melangkah tertatih ke kamar mandi yang ada di kamarnya, dan gadis itu masih tetap ngedumel, ditutupnya pintu kamar mandi dengan keras byang membuat Elang tambah terbahak.
Setelah Valerie masuk ke dalam kamar mandi, Elang langsung menghentikan tawanya. Pria itu memegang dadanya yang berdebar kencang karena tadi ia berada begitu dekat dengan perempuan yang sangat dicintainya itu.
Nah lho, gak tahan apaan nih ... hahahaha.
***
Elang yang baru keluar dari rumah Valerie, berpapasan dengan seorang pria yang sangat ia kenal. Pria yang dulu pernah menjadi sahabatnya saat di bangku kuliah. Sahabat yang pernah dekat dengannya sebelum insiden itu terjadi. Insiden yang yang menjadi titik awal dan alasan kenapa ia harus memutuskan hubungannya dengan gadis yang sangat ia cintai.
Elang menghentikan langkahnya, ia menatap tajam pada pria bertatto yang ada di hadapannya itu.
"Ngapain elo ke sini?" tanya Elang dengan nada tajam. "Apa elo mau mastiin dengan mata kepala lo sendiri kalau tujuan lo belum berhasil!"
Cakrawala hanya tersenyum miring tanpa menjawab pertanyaan Elang. Pria itu hendak melanjutkan langkahnya untuk masuk ke rumah Valerie, tapi Elang mencegahnya. Elang mencengkeram pundak Cakrawala dan menghadang langkah pria itu.
"Jangan pernah elo berani nyentuh Eri lagi! Sekali lagi elo berulah, gue sendiri yang bakal turun tangan!"
__ADS_1
"Gue gak paham sama yang elo omongin," sahut Cakrawala.
"Gak usah belagak bego, elo kan yang udah bikin Eri celaka!" Elang mencengkeram kerah jaket Cakrawala. Bukannya takut, Cakrawala malah terkekeh karenanya.
"Punya bukti apa lo nuduh gue!" Cakrawala menyingkirkan tangan Elang dari badannya, kemudian ia membetulkan letak kerahnya.
"Karena cuma elo yang punya dendam sama gue! Dan cuma elo yang berani ngancam gue dengan mempergunakan keselamatan orang yang gue sayangi!"
"Oh, jadi sekarang elo udah mulai ketakutan sama ancaman gue? Gak nyangka gue seorang Elang Rayan Garindra takut sama Cakrawala Adi Mulya. Seorang pria yang dulu pernah mematahkan hati sahabat gue hingga dia memutuskan mengakhiri hidupnya ... mulai ketakutan karena gadisnya udah ada di tangan gue."
Rahang Elang mengeras mendengar penuturan Cakrawala.
"Baru segini aja elo udah ketakutan setengah mati, gimana nanti kalau gadis kesayangan elo itu bernasib sama dengan Felicia ...."
"Brengsek!" umpat Elang, ia kembali mencengkeram baju Cakrawala. "Jauhi Eri, atau gue bakal buat elo nyesel seumur hidup!"
"Yang bakal nyesel itu gue apa elo," ucap Cakrawala sambil terkekeh. Raut wajahnya terlihat santai, sama sekali tidak terintimidasi dengan perkataan Elang. "Sebentar lagi karma bakal datengin elo, Lang. Elo bakal ngerasain apa yang gue rasain saat itu."
"Memangnya apa yang salah dengan gue saat itu? Gue gak pernah memberi harapan sama Felicia. Felicia yang menyalah artikan perhatian gue, gue anggap dia sebagai sahabat ... sama seperti elo! Terus apa yang salah dengan itu semua!"
"Salah! Elo seharusnya balas perasaan Felicia saat itu, elo seharusnya nerima dia. Agar dia gak depresi dan melakukan perbuatan nekat itu, Lang!" seru Cakrawala, emosinya mulai tersulut karena kembali teringat pada Felicia.
"Cak, perasaan itu gak bisa dipaksakan. Bagaimana gue bisa nerima Felicia jika di hati gue ada Eri. Kalau gue paksain buat nerima Felicia, sedangkan gue mencintai gadis lain ... Felicia akan semakin tersiksa."
"Paling tidak jika elo nerima dia, sampai sekarang dia masih hidup, Lang. Ini semua karena Eri! Seandainya dia tidak ada di kehidupan elo, semuanya gak akan jadi begini!"
"Berhenti nyalahin Eri!" bentak Elang, "Eri lebih awal ada di hidup gue, Eri lebih dulu ada di hati gue. Kalaupun tidak ada Eri di hidup gue, belum tentu gue bisa mencintai Felicia."
"Persetan! Yang pasti gue bakalan bikin perhitungan atas apa yang terjadi pada Felicia." Setelah mengatakan itu, Cakrawala kembali melangkahkan kaki memasuki rumah Valerie. Meninggalkan Elang yang masih berdiri mematung.
"Sekeras apapun elo berusaha menyakiti Eri, sekeras itu pula gue bakal jaga dia," lirih Elang yang hanya bisa didengarnya sendiri.
__ADS_1