
Kamu harus memiliki keberanian saat memutuskan untuk mencintai. Karena begitu kamu berani mengambil rasa bahagia saat jatuh cinta, kamu juga harus berani menerima lara oleh karena patah hati.
***
"Pah, mah ... Eri pamit pulang duluan, ya," pamit Valerie, gadis itu telah selesai berbicara dengan Elang.
"Eri, maafkan papah yang gak bisa mendidik Elang dengan baik. Hingga berulang kali dia selalu menyakiti hati kamu," ucap Garindra, pria paruh baya itu menangkupkan kedua tangannya..
"Pah, Papah Indra gak boleh begini." Valerie memegang tangan Garindra dan mengurai tangkupannya. "Semua ini bukan salah papah, bukan juga salah Elang. Gak ada yang bisa disalahkan jika menyangkut perasaan, Pah. Semua ini sudah menjadi keputusan Elang, kita harus bisa menerimanya."
"Kamu gak marah sama Elang, Nak?" Kini giliran Jelita yang bertanya.
"Kenapa harus marah, Mah? Mau semarah apapun Eri, gak akan merubah apapun. Malah hal itu akan membuat Elang semakin terluka."
"Saat Elang melukai perasaan kamu, kamu masih memikirkan perasaannya? Elang pasti menyesal karena telah melepas wanita hebat seperti kamu." Garindra mengusap rambut panjang Valerie.
"Pah, mah ... Eri boleh minta sesuatu?"
"Apapun itu, silahkan Sayang," sahut Garindra, Jelita ikut mengangguk.
"Tolong jangan salahkan Elang lagi, tolong hormati keputusannya. Elang bukanlah orang yang melakukan hal sembarangan tanpa memikirkan akibatnya, mungkin dibalik keputusannya ini, ia memiliki alasan yang belum bisa ia ungkapkan."
Garindra meraih tubuh Valerie dalam pelukannya, pria itu menitikkan air mata, begitu pula dengan Jelita.
"Semoga kamu selalu diberi kebahagiaan, Sayang. Kamu anak yang baik, kamu perempuan yang tulus. Raih kebahagiaanmu, kamu pantas untuk berbahagia."
Di balik tembok ruang tamu, ada pria yang beridiri sambil mendengarkan percakapan mereka bertiga. Bahu pria itu bergetar, ia menangis. Mungkin, sampai kapanpun ia akan menyesali keputusannya itu. Tapi benar apa yang dikatakan gadis yang dicintainya itu, ia memiliki alasan. Alasan yang hanya dia sendiri yang tahu.
***
Setelah pulang dari rumah Elang, Valerie menemui jika para sahabatnya sudah tidak ada di rumah. Mereka memang sahabat yang pengertian, mereka memberikan waktu kepada Valerie untuk sendiri terlebih dahulu. Gadis itu membutuhkan waktu sendiri, bukan untuk meratapi nasibnya, tapi untuk menenangkan pikirannya.
Abang-abangnya juga sudah pulang ke rumah mereka masing-masing. Ayahnya sedang ada urusan bisnis di luar kota, yang tentu saja ditemani oleh Diandra. Terkadang, kesunyian seperti ini yang ia butuhkan.
Gadis itu melangkahkan kaki menuju dapur, setelah acara tangisan yang menguras emosinya. Ia merasakan jika perutnya keroncongan. Ia berniat membuat sesuatu untuk dimakan.
Dahi gadis itu berkerut saat mendengar suara di dapurnya. Bukankah rumahnya sepi? Terus siapa yang menyebabkan suara-suara di dapurnya. Gadis itu meningkatkan kewaspadaannya, ia mengambil tongkat kasti yang ada didekatnya.
Valerie mengendap-endap masuk ke dalam dapur saat sebuah suara bariton mengagetkannya.
"Mau main kasti larut malam begini?" tanya suara itu.
Hal itu membuat refleknya bekerja, ia mengayunkan tongkat kasti itu ke arah suara seseorang yang berada di belakangnya. Namun, dengan mudah pria itu menangkap tongkat kasti yang diayunkan Valerie hanya dengan satu tangan.
"Ganas bener, Er," ucap Valero. Pria itu tersenyum, terlihat sangat tampan.
"Ero," lirih Valerie, gadis itu melangkah mundur. Tapi naas, kakinya tersandung meja dapur, membuatnya hampir terjatuh jika Valero tidak menangkap tubuhnya.
Pandangan mereka bertemu, posisi mereka seperti berpelukan dengan tangan Valero yang masih melingkar di pinggang Valerie.
"Elang," ucap Valerie, matanya bertemu pandang dengan netra tajam Elang. Pria itu sedang berdiri terpaku di depan pintu dapur sambil menyaksikan interaksi kedua insan yang berada di hadapannya itu.
Valero memalingkan wajahnya, ikut melihat ke arah pandang Valerie, dengan tangan yang masih memeluk pinggang Valerie.
"Tadi papah bilang kalau kamu sendirian di rumah. Jadi, papah minta kamu buat nginep sementara di rumah kami sampai Om Laks sama Tante Diandra pulang dari luar kota."
"Gak perlu," sahut Ero, pria itu sengaja mempererat pelukannya pada Valerie. "Gue diminta Om Laks buat nemenin Eri di sini."
"Cuma berdua?" tanya Elang lagi.
"He'em, kenapa? Ada masalah?" Valero menaik turunkan alisnya, seperti sengaja menuyulut emosi Elang.
__ADS_1
"Gak baik jika seorang wanita dan pria hanya tinggal berdua di rumah," ucap Elang.
"Elo tenang aja, gue diminta langsung sama Om Laks buat jagain Eri. Lagian gue gak akan nyakitin dia, seperti yang dilakukan oleh pria pengecut yang gak bernyali."
"Ero, udah," lirih Valerie. Gadis itu mengusap lengan Valero, meminta pria itu untuk bersabar. Ia tak mau jika kedua pria itu bersitegang.
Hal itu membuat wajah Elang merah padam, tangannya mengepal. Jujur, ia sangat tidak suka dengan interaksi Valerie dan Valero. Jika mereka masih ada hubungan, pasti Elang sudah membawa Valerie jauh-jauh dari pria yang terlihat tengil di matanya itu. Tapi apa daya, ia sendirilah yang sudah memutuskan hubungan itu.
Setelah beberapa saat menatap tajam pada Valero, Elang balik badan. Melangkahkan kaki keluar dari rumah Valerie tanpa mengucapkan salam.
"Udah kayak jaelangkung tuh kunyuk. Datang gak permisi, pulang diem-diem baek," cerocos Valero.
"Mulutnya," ucap Valerie sambil menepuk pelan mulut Valero.
"Nepuk mulut gue jangan pakai tangan, pakainya mulut lo juga, dong," ucap Valero genit, yang tentu saja langsung mendapat hadiah cubitan maut dari Valerie.
"Auk ah, gue laper," ucap Valerie, ia menggeser badan tegap Valero yang berada di hadapannya.
"Gue udah masak buat elo," ujar Valero sambil membawa sepiring nasi goreng buatannya untuk Valerie. Pria itu menggandeng tangan Valerie, dan menuntunnya menuju meja makan. "Elo makan dulu, setelah itu kemasi pakaian lo, elo bakal nginap di rumah gue untuk beberapa hari."
"Bukannya tadi elo bilang kalau elo yang bakal nginep di sini buat nemenin gue?" tanya Valerie. Gadis itu mulai menyuapkan nasi goreng ke mulutnya, rasa nasi goreng buatan Valero terasa cocok di lidahnya. Sudah sering pria itu memasak untuk Valerie, dan rasanya selalu enak.
Valero terkekeh mendengar perkataan Valerie, ia mengusap rambut panjang Valerie yang terasa lembut di tangannya.
"Gue tadi cuma manas-manasin Elang. Lagian gue gak mungkin di sini cuma berdua sama lo, gue takut kalau khilaf, Er. Tapi kalau elo mau gue khilaf'in gak apa-apa, sih." Valero mengedipkan sebelah matanya, menggoda gadis yang berada di sebelahnya itu.
"Mulut lo gue tabok, ye," ancam Valerie, ia mengangkat sendok ke arah Valero, membuat pria itu kembali terkekeh. "Lagian percuma elo bikin Elang panas, gue bukan siapa-siapa dia lagi, dia gak mungkin panas." Valerie tersenyum getir.
"Gak panas kok mukanya udah angker gitu, kayak mau nelen gue aja," batin Valero.
"Alhamdulillah, makasih Ero," ucap Valero, gadis itu meletakkan piringnya yang sudah tandas tak bersisa ke wastafel dan mencucinya.
"Sama-sama Eri, entar waktu di rumah gue ... bakal gue masakin terus tiap hari."
"Kata Om Laks sih agak lama. Karena kerjaan yang harusnya di handle Bang Bayu, belum ada gantinya. Untuk urusan perusahaan di sini, gue sama Bagus yang bakal bantu handle."
"Maaf, ya ... gue gak bisa bantu kalian. Gue gak paham bisnis perusahaan," ucap Valerie, wajah gadis itu terlihat lesu.
"Gak apa-apa, Er. Elo gak perlu paham soal perusahaan. Cukup pahami hati gue aja," ucap Valero, ia mengedipkan sebelah matanya.
"Genit," sahut Valerie, ia memercikkan air ke wajah Valero, setelahnya ia berlari karena Valero yang mengejarnya.
***
"Astaghfirullah, elo mau bikin gue gendut?" Valerie memandang berbagai macam makanan yang ada di hadapannya.
"Udah, tinggal makan aja banyak protes lo, Er," celetuk Choky.
Valerie sudah berada di rumah Valero, untuk malam ini Choky dan Azizah menginap di sana.
"Masalahnya, tadi gue udah makan nasi goreng buatan Ero. Perut gue gak mungkin bisa nampung makanan lagi, apalagi banyak gini." Valerie memandang berbagai macam makanan yang dibuat sendiri oleh Azizah.
"Kak Eri gak mau makan masakannya Zizah?" Mata Azizah berkaca-kaca, satu tetes bening membasahi pipinya, membuat Valerie membulatkan matanya. Tidak menyangka jika Azizah akan bereaksi seperti itu.
"Nah lho, Er. Elo bikin bini gue nangis," ucap Choky, ia menepuk-nepuk punggung istrinya, berusaha menenangkan.
"Zizah, anu ... bukan itu maksut Kak Eri. Kak Eri mau kok makan masakan Zizah, tapi kalau banyak begini, Kak Eri gak mungkin bisa habisin." Valerie menggaruk pelipisnya, bingung mau berbuat apa.
"Wua, itu sama aja Kak Eri gak mau makan masakan Zizah," seru Azizah, tangisannya semakin menjadi.
"Udah, tinggal makan aja, Er. Daripada adek gue nangis semakin kenceng," bisik Valero di dekat telinga Valerie.
__ADS_1
"Enak banget mulut lo ngucap. Makan sih tinggal makan, tapi ini banyak banget, Ro. Mana bisa abis, elo mau kalau perut gue jadi sakit gara-gara kekenyangan?"
"Enggak, gue gak mau elo sakit," sahut Valero mantap. "Ah, gue punya ide." Pria itu menjentikkan jarinya.
"Dek, yang penting makanan kamu ini di makan Eri dan habis, kan?"
Azizah mengangguk, Valero tersenyum. Pria itu mengambil ponsel dari saku celananya untuk menghubungi seseorang.
Beberapa saat kemudian, tamu-tamu yang dihubungi Valero datang ke rumah. Mereka adalah beberapa anak buahnya di kantor.
"Tumben elo nyuruh kita datang ke rumah lo, malam-malam pula," ucap Albari, sahabat sekaligus wakilnya di perusahaan.
"Pak Bos lagi seneng mungkin," celetuk Annissa, tunangan Albari sekaligus anak buah Albari pada bagian accounting.
"Mau seneng apa gak, yang penting banyak makanan, saya pasti datang." Kini giliran Lavia yang berkomentar. Lavia adalah sekretaris Valero. Gadis cantik yang agak ceroboh itu sangat menyukai sesuatu hal yang berbau gratisan.
"Nih anak." Annissa memukul lengan Lavia. "Maaf ya, Pak. Emang begini sahabat saya, urat malunya udah kesamber petir."
"Iya, Niss. Saya juga tahu, dia kan sekretaris saya. Sekretaris yang memesankan sepatu beda ukuran untuk saya. Bukan begitu, Lavia." Valero melirik pada Lavia yang malah nyengir tanpa dosa.
"Sepatu beda ukuran?" tanya Valerie, ikut dalam pembicaraan mereka.
"He'em," sahut Albari, "waktu itu sepatu Ero jebol, terus minta tolong sama Lavia buat beliin. Eh begitu sampai kantor, sepatunya beda ukuran. Yang sebelah kanan ukuran empat puluh dua, yang sebelah kiri ukuran tiga puluh delapan. Andai elo lihat wajah Ero waktu itu, pasti elo juga ngakak sambil glinding-glinding kayak gue. Hahahaha."
"Hahahahaha, kenapa elo gak pernah cerita sama gue, Ro." Valerie menaik-turunkan alisnya.
"Kalau gue cerita ke elo, gue yakin elo pasti bakal nyebarin ke semua anak Arakata," ucap Valero, pria itu menyentil hidung bangir Valerie. "Betul, kan?"
"Pasti, lah ... masa enggak," sahut Valerie cepat, gadis itu mengedipkan matanya. Membuat Valero menjadi gemas.
"Jaga tuh mata," bisik Albari di dekat telinga Valero. "Mupeng bener, Lo!"
Ucapan Albari langsung dibalas tatapan tajam oleh Valero.
"Ayo buruan masuk," ucap Valero, pria itu masuk ke dalam rumahnya diikuti oleh teman-temannya.
Valero meminta bala bantuannya itu untuk menghabiskan makanan yang dibuat oleh Azizah. Yang tentu saja mendapat respon baik oleh tamu-tamunya itu, terutama Lavia ... gadis cantik penyuka gratisan.
Azizah pun merasa senang karena masakannya habis tak bersisa. Tidak sia-sia ia membuatnya.
"Sebenarnya semua makanan itu aku masak sebagai ucapan syukur," ucap Azizah sambil tersenyum senang.
"Ucapan syukur atas apa, Dek?" tanya Valero,
"Ini!" Azizah menunjukkan selembar kertas yang didapatnya setelah periksa dari rumah sakit. Kertas itu menunjukkan jika dia sedang berbadan dua. "Aku hamil ...."
Semua yang ada di sana tersenyum bahagia, terutama Choky.
"Kamu hamil, Sayang?" tanya Choky, masih tidak percaya dengan berita baik yang barusan ia dengar.
"Iya, Bang. Sebentar lagi kita akan jadi orang tua," jawab Azizah.
Choky langsung membawa Azizah ke dalam pelukannya. Ia bersyukur, setelah hal buruk yang mereka alami, akhirnya Tuhan memberi mereka hadiah yang istimewa atas kesabaran mereka dalam menghadapai cobaan-cobaan itu.
"Tokcer juga, Lo," cibir Valero pada adik iparnya itu.
"Tokcer lah, gue kan pria sejati," ucap Choky sambil menepuk dadanya dengan bangga.
"Cih, sombong," cibir Valero lagi.
"Sombong lah, sini kan udah jadi pria sejati. Lha situ? jangankan hamilin istrinya, pacar aja belum punya. Yakin situ pria sejati?" Choky menaik-turunkan alisnya, menggoda kakak iparnya itu ... cari mati emang si Choky.
__ADS_1
"Kampret," umpat Valero sambil memonyongkan bibirnya, hal itu membuat semua yang ada di sana tertawa, termasuk Valerie. Lumayan, ia bisa sedikit melupakan masalah hatinya.