
Tanpamu, kami masih bisa bahagia. Namun, dengan bahagia yang berbeda, bahagia yang terasa semu.
***
“Ga,” panggil Bagus pada Gaung.
“Hm,”
“Gue pernah denger, Santaclaus suka ngasih hadiah buat anak-anak yang baik, kan?”
“Kenapa lo tiba-tiba nanya begituan?” tanya Gaung sambil memandang bingung sahabatnya itu.
Sore ini, inti Arakata dan anggota lainnya berkumpul di markas, minus Valerie tentunya. Belum ada sehari ditinggal panglima perangnya, mereka sudah seperti anak ayam yang kehilangan induknya.
“Gue kan anak baik, Ga. Tolong mintain Eri ke Santaclaus buat gue, Ga.” Bagus menundukkan kepalanya, bahunya terlihat bergetar. “Gu-gue, gue bener-bener gak tahu harus berbuat apa, Ga. Belum genap sehari gak ada Eri, gue kayak gak ada arah.” Bagus menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Tangisannya pecah sudah, persetan jika ada yang mengatainya cengeng atau sejenisnya. Ia tidak peduli, yang ia pedulikan adalah hatinya yang terasa kosong karena kepergian Valerie, sahabat yang sudah ia anggap seperti saudara sendiri.
Gaung meraih Bagus dalam pelukannya. “Gue juga ngerasa kehilangan Eri, Ga. Tapi, apa kita harus terus-terusan seperti ini? Eri pasti juga gak mau elo terpuruk begini. Gue yakin kalau Eri pasti akan kembali, kembali untuk kita dan Arakata. Jadi, jangan cengeng, malu sama perut lo yang kayak roti sobek itu.”
“Elah, gaya lo. Sok ngatain gue cengeng,” sahut Bagus, “terus ini yang netes di bahu gue apa? Air cucian kaos kakinya Gandi?” Bagus terkekeh sambil memukul lengan Gaung.
“Napa kaos kaki gue elo bawa-bawa,” protes Gandi sambil memukul tengkuk Bagus. Setelah itu, ia ikut berpelukan
bersama Bagus dan Gaung.
“Maaf, ini salah gue,” ucap Elang, “kalau bukan karena kesalahan gue, Eri gak akan pergi.” Elang menundukkan kepalanya, rasa sesal benar-benar menggerogotinya.
Bagus, Gandi, dan Gaung saling berpandangan ... setelahnya mereka tersenyum penuh arti. Jari Bagus terangkat dan melakukan gerakan menghitung. Begitu hitungan ketiga, mereka langsung menerjang Elang tanpa ampun, hingga pemuda itu terjengkang ke belakang.
Mereka terjatuh dengan posisi badan yang saling menindih. Anggota Arakata yang lainnya terbahak melihat hal itu. Bagaimana tidak? Petinggi mereka yang biasanya terlihat tegas dan garang berulah konyol seperti itu.
“Gue juga kangen Kak Eri,” ucap Sanusi, anggota Arakata yang termuda di sana. “Kak Eri itu kayak oase yang jadi penyegar di sarang pria-pria penyamun ini.”
Sanusi terus mengoceh tanpa menyadari resiko ocehannya. Ocehannya berhenti ketika bulu kuduknya berdiri seketika.
__ADS_1
“Kok gue jadi merinding, ya,” ucap Sanusi sambil mengusap-usap lengan dan tengkuknya. Wajahnya pucat seketika, saat melihat wajah-wajah sangar di sekelilingnya yang tersenyum miring.
“Si Usi bilang apa tadi?” tanya Elang sambil melangkah ke arah juniornya di Arakata itu.
“Dia bilang kalau kita ini penyamun, Lang ...,” jawab Bagus, pria itu mengepal-ngepalkan tangannya di depan dada.
“Ng-nggak, Bang. Gue gak ngomong gitu tadi, pasti Bang Bagus salah denger,” jawab Sanusi dengan gemetaran. Pemuda itu terus-terusan menepuk mulutnya yang sering kelepasan.
“Gak hanya Bagus yang denger lho,” tambah Gaung yang memasang muka tak kalah garang. “Kita semua juga denger kalau elo ngatain kita penyamun. Dengan kata lain elo juga ngatain markas Arakata ini sebagai sarang penyamun dong. Gimana ya kalau sampai Om Laks denger tentang markasnya dikatain sebagai sarang peyamun.” Perkataan Gaung semakin membuat wajah Sanusi menjadi tambah pucat.
“Eng-enggak, Bang. Kalian semua salah denger,” jawab Sanusi masih berusaha membela diri.
“Wah, dengan kata lain lo ngatain kita semua ini budek?” Sekarang Gandi yang angkat bicara.
“Gak gitu elah, Bang,” jawab Sanusi cepat, semakin panik dengan keadaan semua anggota yang berjalan mengerumuninya. “Sensian banget sih kalian, kayak cewek aja.”
“Wah, bukannya minta maaf malah ngatain kita kayak cewek,” sahut Elang yang sudah berada di hadapan Sanusi. “Kayaknya perlu kita buktikan ke Usi kalau kita ini cowok sejati.” Elang menggulung lengan bajunya, hingga mempertontonkan lengan kekarnya.
Semua pemuda yang berada di belakang Elang juga melakukan hal yang sama. Membuat wajah Sanusi tambah memucat, keringat dingin sudah menetes melewati dahinya yang lebar.
“Waaaaaa!” teriak Sanusi, saat semua anggota Arakata yang segitu banyaknya berjubel mengerumuninya.
“Ayo kita gelitikin si Usi!” teriak Elang yang membuat Sanusi semakin histeris.
***
“Titit, ngapain lo ikut ke sini?” tanya Bagus pada Tyan, sang ketua geng Gester.
Tyan hanya melirik tajam pada Bagus tanpa menjawabnya. Akhir-akhir ini ia mendapat panggilan kesayangan dari Bagus, yaitu *****.
“Nih juga, si muka seram napa ikut kemari?” lanjut Bagus sambil melirik pada Choky yang duduk di seberangnya. “Aduh ....” Bagus mengusap dahinya yang terkena lemparan botol air mineral dari Choky. “Gue kan cuma minta ayam semoknya Robert yang ke sini, kenapa kalian jadi ngintilin!”
“Lo kira nih anak-anak ayam bisa naik motor sendiri ke sini?” tanya Robert sambil menunjuk selusin anak ayam miliknya, tak lupa pemuda itu menoyor kepala Bagus hingga oleng ke arah kiri.
__ADS_1
“Kenapa juga mulut lo yang nyinyir, Elang sama anggota Arakata lainnya juga gak masalah kami di sini kok,” sambung Roxy sambil menoyor kepala Bagus hingga oleng ke arah kanan.
“Ini kenapa pada noyor kepala gue sih!” protes Bagus, “dikira kepala gue ada pernya kali. Gini-gini gue inti Arakata tahu, gak ada takut-takutnya kalian.” Bagus mengangkat kerah jaketnya, menyombongkan diri.
“Elo kenal sama nih orang, Lang?” tanya Braga pada Elang.
“Entah,” jawab Elang sambil mengangkat bahunya. “Lo kenal, Ga?”
Gaung mengangkat bahunya sebagai jawaban ia tidak tahu. “Lo?” tanya Gaung pada Gandi.
“Anak tetangga yang dibuang ke sini, karena orang tuanya udah gak sanggup sama kelakuannya.”
Jawaban dari Gandi itu membuat Bagus menjadi cemberut. Pemuda itu melangkah mendekati gerombolan anak ayam di hadapannya.
“Cuma Eri sama kalian yang sayang sama gue,” ucap Bagus mendramatisir sambil mengangkat salah satu anak ayam itu. “Aduh!” Bagus melempar anak ayam itu, karena jarinya dipatuk.
Untung dengan sigap Robert menangkap anak ayam yang dilempar Bagus.
“Bisa habis ditampol Eri lo kalau encrit sampai luka,” ucap Robert sambil mengusap-usap bulu si encrit. “Encrit itu cerdas, dia tahu mana orang yang waras sama yang kelainan. Ogah dia ama elo.”
“Lihat aja lo, besar dikit gue goreng,” sahut Bagus yang langsung mendapat tatapan tajam dari Gaung.
“Berani nyentuh ayam kesayangannya Eri, gue potong anu lo!” ancam Gaung, dan dengan bodohnya Bagus langsung melihat ke arah bawah dan menutupinya dengan telapak tangan.
“Napa pada hobi sih nyakitin gue! Gak ada yang sayang sama gue?”
“Enggak,” jawab mereka semua berjamaah.
“Ck, kompak bener kalau dzolimi gue,” dumel Bagus sambil duduk di pojokan.
“Nah, di situ tempat yang pantas buat elo, gabung sama sapu dan kain pel.”
Ucapan Roxy membuat Bagus menengok sebelahnya, dan memang ada sapu dan pel di sana.
__ADS_1
“Kenapa gue bisa nyampe sini sih?” tanya Bagus sambil mengusap tengkuknya. “Siapa yang mindahin gue ke sini?”
“Bego.” Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Elang dan yang lainnya.