
Robert langsung menghampiri Valerie dan duduk di sampingnya. Begitu tahu gadis yang dimaksut mamanya adalah Valerie.
Robert menarik sarung tangan Valerie, ia meringis melihat luka Valerie yang cukup dalam dan panjang. Walau dari dulu mereka memang sering mendapat luka, jika menghadapi musuh. Namun, rasa khawatir tetap menyelimuti pria itu ketika melihat gadis di hadapannya terluka.
"Maaf," lirih pria itu.
"Untuk?" tanya Valerie bingung.
"Untuk luka ini," jawab Robert sambil memegang tangan Valerie yang terluka. "Seharusnya gue yang menjaga Mama dan Risa, dan seharusnya gue yang terluka. Bukan elo."
"Apaan sih lo! Awhhh." Valerie mendorong bahu Robert. Namun, setelah itu ia merintih kesakitan,karena ia mendorong sahabatnya itu dengan tangannya yang terluka. "Keluarga elo, berarti keluarga gue juga. Kayak baru kenal gue aja."
"Lho kalian sudah saling kenal?" tanya Ruwina, mama sambungnya Robert.
"Lho, Ini Valerie, kan? Temannya Robert, anak Arakata, kan?" tanya Edgar yang berdiri di samping istrinya.
"Iya, Om," jawab Valerie sambil tersenyum. Ia tidak menyangka kalau Edgar masih mengenalnya. Padahal mereka bertemu hanya sekali waktu acara Gester, sepuluh tahun yang lalu.
"Oh, ini Valerie, gadis yang sering diceritain abang ke mama, to?" Ruwina tersenyum penuh arti, sambil melirik pada putranya. Membuat wajah Robert memerah, malu karena ketahuan sering gibahin Valerie.
"Biar abang aja yang ngobatin luka Eri, Ma." Robert mengambil alih kotak obat dari tangan ibunya.
Setelah membersihkan luka Valerie, Robert membalutkan perban ke luka gadis itu dengan telaten.
Ruwina dan Edgar yang melihatnya, saling berpandangan dan tersenyum penuh arti. Jelas sekali terlihat kalau putra mereka menyimpan perasaan lebih untuk sahabatnya itu.
Selama ini putra mereka tidak pernah mengajak seorang perempuan main ke rumahnya, walau hanya berstatus teman. Namun, dengan Valerie, perlakuan Robert berbeda.
Pria itu terlihat begitu khawatir, saat mengetahui Valerie terluka. Dan terkesan seakan ingin mengambil alih rasa sakit yang dialami gadis itu.
"Diminum dulu tehnya, Sayang," ujar Ruwina sambil meletakkan segelas teh hangat di meja.
"Iya, Tante. Terimakasih."
"Tante yang seharusnya berterimakasih sama kamu. Kalau gak ada kamu, tante pasti udah dibegal."
"Gak apa-apa, Tante. Semua orang kalau berada di posisi Eri pasti akan melakukan hal yang sama."
Ruwina tersenyum sambil mengusap lembut rambut Valerie yang digerai.
"Kamu persis seperti apa yang diceritain putra tante," ujar Ruwina yang membuat mata Robert membola seketika.
"Ikut gue yuk, ada yang mau gue tunjukin." Robert menarik tangan Valerie. Khawatir jika terlalu lama di sana, sang mama akan membeberkan rahasia hatinya.
Robert mengajak Valerie berjalan melewati belakang rumahnya. Di sana ada pagar besi penghubung antara rumahnya dan sebuah tanah luas seperti lapangan. Dan di tanah luas itu ada satu rumah yang terbuat dari kayu. Rumah itu di cat warna-warni, persis seperti Taman Kanak-kanak.
Robert membuka pintu rumah itu. Valerie mengangga melihat pemandangan di hadapannya. Di sana terdapat banyak ayam yang berkerumun. Dan pandangannya terpaku oleh beberapa anak ayam yang menggemaskan.
"Gemes," ujar Valeri dengan pandangannya yang berbinar-binar. "Elo ternak ayam sekarang?"
Robert terkekeh mendengar pertanyaan Valerie. "Iya, berkat permintaan unik lo sepuluh tahun yang lalu."
"Wah, jadi mereka ini keturunan encrit, encret sama yang lain?" tanya Valerie antusias.
Robert mengangguk. "He'em. Berkat elo, mama gue sekarang jadi ternak anak dibantu bibik," jawab Robert sambil tertawa.
"Encritnya mana?" tanya Valerie sambil celingak-celinguk mencari keberadaan ayam yang bernama encrit.
Pertanyaan Valerie sukses membuatnya mendapatkan ketokan di kepala.
"Ya udah gak ada lah, Er. Ini juga udah sepuluh tahun berlalu." Habis mengetok kepala Valerie, Robert mengusapnya lembut, agar gadis itu tidak merasa kesakitan. Padahal memang tidak terasa sakit, karena Robert memukulnya pelan.
"Ohh," jawabnya sambil mengangguk-angguk.
__ADS_1
"Elo mau bawa anak ayamnya, gak?" tawar Robert.
"Boleh?"
"Jelas boleh."
"Aku minta dua, ya?"
"Iya. Yang satu buat Elang, kan?"
"Kok tai? Eh typo, kok tau?"
"Typo lo jorok." Robert menoel hidung Valerie. "Tahu lah, elo kan tergila-gila sama dia."
"Enak aja ngatain gue gila!" Valerie memukul lengan Robert.
"Apa namanya kalau masih bertahan setelah disakitin, kalau bukan gila?"
"Gue hanya berusaha untuk tidak posesif dan berusaha memahami pasangan gue. Gue ....."
"Iya, gue paham," potong Robert. "Berasa menang lotre Elang bisa menangin hati elo."
"Menang? Emang lomba? Ada-ada aja, Lo."
"Lo nya aja yang gak peka bahwa ada banyak pria di luar sana yang berlomba buat dapetin elo," gumam Robert yang tidak bisa terdengar oleh Valerie. "Gue antar pulang, yuk." Robert menggandeng tangan Valerie yang tidak terluka.
"Gue bawa motor, Bek."
"Motor lo biar di sini dulu, gak bakal hilang. Ini udah hampir jam dua belas malam, bahaya."
"Gue bisa-"
"Jangan banyak protes!" potong Robert, kemudian mengajaknya masuk ke dalam rumah dan berpamitan dengan orang tuanya. Kalau Risa, gadis sepuluh tahun itu sudah tidur nyenyak setelah kejadian mengerikan yang ia alami bersama mamanya tadi.
***
Hari ini gadis itu memasak ikan bandeng bumbu kuning. Hal itu membuatnya teringat kejadian sepuluh tahun lalu, waktu kejadian Pratama memasak sup pencabut nyawa.
Valerie tersenyum mengenang hal itu, membuat Laksmono mengernyit bingung melihat putrinya tersenyum sendiri.
"Kamu kenapa, Dek? Perasaan yang luka tangan kamu, gak sampai nyerang otak, lho." Laksmono semalam menunggu Valerie di teras rumah. Betapa khawatirnya ia, melihat putrinya pulang tengah malam dengan tangan yang dibalut perban.
Robert yang menjelaskan kepada Laksmono tentang apa yang terjadi pada Valerie, agar ayah Valerie itu tidak khawatir lagi.
"Ish, ayah kira adek udah miring?" protes Valerie tidak terima.
"Habis masih pagi begini, kamu udah senyam-senyum selebar itu. Bikin merinding, Dek."
"Ini lho, Yah. Adek masakikan bandeng bumbu kuning, jadi inget waktu Bang Tama masak sup. Yang kata Bang Gerry sup pencabut nyawa itu," jawab Valerie sambil terkekeh.
"Wah, musibah besar waktu itu, Dek," jawab Laksmono, "kamu gak ngerasain sih, Dek. Betapa gak jelasnya rasa itu sup." Jawaban Laksmono membuat Valerie terbahak.
Sedangkan di tempat lain, telinga Pratama tiba-tiba berdengung. Pria itu sedang membaca koran di teras rumahnya.
"Siapa nih yang gibahin gue?" ucap Pratama sambil mengusap-usap telinganya yang masih berdengung.
"Eri pamit jenguk Elang dulu ya, Yah. Sekalian bawain makanan buat sarapan Papa Indra sama Mama Jelita," pamit Valerie sambil menyalami tangan ayahnya.
"Iya, Dek. Kamu ke sana naik apa? Mau ayah anter?"
"Gak usah, Yah. Adek naik taksi online aja."
"Ya sudah, hati-hati di jalan, Dek."
"Iya, Yah. Assalamu'alaikum."
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam."
***
"Assalamu'alaikum," salam Valerie sambil membuka pintu kamar rawat inap Elang.
"Wa'alaikumsalam," jawab Elang dan orangtuanya bersamaan.
"Papa sama mama sarapan dulu, Valerie bawain makanan," ujar Valerie sambil menata makanan itu di meja.
Fokus pandangan ketiga orang itu bukan pada makanan yang ditata Valerie. Tapi, pada tangan Valerie yang dibalut perban.
"Tangan kamu kenapa, Er?" tanya Elang khawatir.
Valerie menceritakan kejadian semalam sambil makan pagi bersama. Valerie juga ikut sarapan lagi. Ingat,kalau gadis itu mempunyai lambung yang luas.
"Kan udah aku bilang kalau pulang malam itu berbahaya, Er. Kamu bandel sih," omel Elang. Kata-kata Elang terdengar tajam dan tegas, membuat nyali Valerie agak menciut. Gadis itu menunduk, tidak berani menatap mata Elang.
"Udah, kasihan Eri kalau kamu marahin terus," ujar Jelita, "lagi pula kalau semalam Valeriegak kebetulan lewat, kasihan ibunya teman kamu itu kan bisa dibegal."
"Sini." Elang melambaikan tangannya, meminta Valerie mendekat ke ranjangnya.
Valerie patuh, ia berdiri dan berjalan mendekat ke arah Elang. Elang menepuk-nepuk ranjangnya, agar Valerie duduk di sebelahnya.
"Aku bukannya marah sama kamu, aku khawatir," ujar Elang sambil mengusap puncak kepala Valerie.
"Iya, maaf," ucap Valerie sambil mendongakkan kepalanya memandang Elang, membuat pria itu gemas.
"Gak perlu minta maaf, kamu gak salah, Sayang. Aku hanya terlalu mengkhawatirkamu." Elang mengecup kening Valerie, membuat pipi gadis itu merona.
"Ehm, udaranya kok jadi panas ya, Mah," ujar Garindra sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
"Panas karena papa belum mandi," jawab Elang cepat. "Papa sama mama pulang duluan aja, istirahat. Di sini udah ada Eri yang jaga." Ucapan Elang membuat Garindra melotot tidak terima.
"Ngusir nih ceritanya, bilang aja kalau situ cuma mau berduaan sama Eri," Garindra menaik-turunkan alisnya.
"Nah itu tahu, terimakasih sudah peka, Yah," jawab Elang.
"Iya, iya. Pulang yuk, Mah, beri waktu sama yang muda." Garindra menggandeng tangan istrinya, tidak mau kalah mesra dengan putranya.
"Kalian berdua ditinggal gak apa-apa?" tanya Jelita, "tangan Elang yang sebelah kanan di perban, tangan Eri yang kiri diperban. Kalian beneran bisa ditinggal dengan kondisi kayak gitu?" tanya Jelita sambil memandangi tangan Elang dan Valerie.
"Gak apa-apa, Ma. Kita kan saling melengkapi," jawab Elang, sambil menyenderkan kepalanya di bahu Valerie.
"Udah, Ma. Gak apa-apa, kita pulang aja. Papa mau main halma sama Laks, sekalian gibahin Elang sama Eri," ujar Garindra sambil menggandeng istrinya keluar dari kamar Elang.
"Nasib punya papa tukang gibah," ujar Elang sambil memeluk pinggang Valerie.
"Kayak situ enggak, gak usah modus." Valerie melepaskan tangan Elang yang membelit pinggangnya, membuat Elang memberengut manja.
"Mau ke mana sih, Sayang?"
"Nyuci piring bekas sarapan tadi," jawab Valerie sambil membawa piring-piring itu ke wastafel.
"Gak usah, tangan kamu masih sakit."
"Tangan ku udah gak terlalu sakit, Lang. Semalam kan sudah diobatin Robert."
"Robert kan petinju, mana bisa obatin luka kamu?"
"Ini buktinya." Valerie menperlihatkan tangannya yang diperban.
"Iya deh iya," ucap Elang akhirnya, "kalau debat sama kamu mesti kalah."
"Udah, jangan banyak protes, kamu rebahan aja, istirahat biar cepat sembuh."
__ADS_1
"Kelonin, ya?" Elang mengedipkan sebelah matanya.
"Aku timpuk pakai piring lho ini," ujar Valerie sambil mengangkat piringnya. Membuat Elang menggeleng cepat.