Arakata

Arakata
Kesabaran Laksmono Diuji


__ADS_3

"Gue paling gak suka dengan kekalahan," ucap Dito, sembari masih mengemudikan mobilnya. "Jadi, kalau gue sampai kalah, gue gak mau kalah sendirian. Daripada gue harus mendekam di penjara, mending gue mengakhiri hidup. Dan elo ... harus ikut sama gue!"


Valerie tidak bereaksi, ia hanya terdiam sambil melihat jalan yang semakin menuju ke tepi jurang.


Beberapa saat kemudian, Dito merasakan laju mobilnya melambat dan perlahan berhenti tepat beberapa meter dari bibir jurang.


"Nyedot bensinnya kurang banyak, hampir aja kita tinggal kenangan," ucap Valerie pada seseorang.


Dito menatap bingung pada Valerie, pada siapa gadis itu berbicara ... yang jelas bukan padanya.


"Emang sengaja gue sisain segini, Kak. Gak seru kalau langsung mogok di tempat tadi, gini kan seru ... ada sensasi drama-dramanya gitu," ucap seorang pemuda yang tidak lain adalah Asel. Pemuda itu melongokkan kepala di sebelah Valerie. Ternyata, sedari tadi ia bersembunyi di jok belakan kursi pengemudi.


Waktu berada di hutan, saat Dito sedang beradu argumen dengan Cakrawala ... Valerie dan Asel saling bertukar pandang. Hanya dengan kode mata, Asel bisa tahu apa yang direncanakan Valerie. Memang dua panglima perang beda angkatan itu bisa saling memahami. Asel menyedot bensin di tanki mobil milik Dito, mungkin mereka berdua tahu jika Dito akan melakukan hal nekat ini.


"Drama muke, Lo! Kebanyakan nonton sinetron," sahut Valerie sambil menjitak kepala Asel dan hanya dijawab Asel dengan cengiran. "Buruan tumbangin, kalau banyak tingkah entar repot urusannya. Gue capek mau buru-buru sampai rumah."


"Siap, laksanakan!" seru Asel sambil memberi hormat pada Valerie. Setelahnya, ia memukul tengkuk Dito hingga pria itu pingsan. "Nah, kelar. Tinggal nunggu Bang burung dateng."


"Burung, burung ... orangnya denger, habis ditampol, Lo." Valerie menatap tajam pasa Asel.


"Cie, yang masih belain," goda Asel sambil menoel-noel dagu Valerie.


"Gue potong ya jari-jari lancang, Lo!" ancam Elang, pria itu sudah ada di sana, ia melongokkan kepala di jendela mobil yang terbuka. Dengan semangat empat puluh lima, ia menjitak kepala Asel.


"Udah kayak demit aja, Bang. Tiba-tiba nongol," gerutu Asel sambil mengusap kepalanya.


"Kalian berdua ini kebiasaan. Melakukan segala sesuatu selalu spontan tanpa konfirmasi yang lain dulu!" omel Pratama yang tadi sempat panik karena takut jika terjadi sesuatu dengan adiknya.


"Heran, demen bener mainan sama maut!" Sekarang giliran Restu yang ngomel, abang Asel itu juga khawatir dengan adiknya. Dari kecil, adiknya itu memang suka bermain dengan hal-hal yang nyerempet maut, sebelas dua belas dengan Valerie.


"Malaikat maut ogah urusan sama mereka," celetuk Gandi, "noh, Eri. Udah berapa kali aja koma di rumah sakit, tapi ya masih bisa cengengesan di sini."


Celetuk-celetukan dari sahabat-sahabat Valerie dan Asel masih saling bersahutan. Cakrawala terus memperhatikan Valerie, senyum tulus terbit dari wajah tegasnya.


"Elo suka sama Eri?" tanya Elang pada Cakrawala. Tanpa sengaja, netra matanya menangkap Cakrawala yang terus memandang Valerie penuh arti.


"Semua orang pasti suka sama Eri, dan gak ada alasan gue buat benci dia," sahut Cakrawala enteng.

__ADS_1


"Ish, elo tahu persis bukan itu maksut dari pertanyaan gue," sahut Elang jengkel karena Cakrawala sengaja membelokkan jawaban dari pertanyaannya.


Cakrawala terkekeh, kemudian ia kembali tersenyum. Netra tajamnya kembali menatap lembut pada Valerie.


"Gue cukup tahu diri untuk menaruh hati. Gue tahu kalau gue gak akan bisa membuat Eri bahagia, karena bukan gue tempat di mana sumber kebahagiaannya berada. Sebagai pria normal, sempat terlintas di pikiran gue untuk merebut paksa hatinya. Tapi sebagai orang yang mencintai, gue akan lebih bahagia jika melihat dia bahagia walau bukan dengan gue. Daripada dia bisa bersama gue tapi hatinya terluka. Masih bisa ada di sampingnya dengan lebel sahabat aja udah cukup buat gue." Cakrawala mengalihkan pandangannya dari Valerie, kemudian menatap tajam pada Elang yang ada di sampingnya. "Jika suatu saat nanti, ia kembali membuka hatinya buat elo. Gue mohon dengan sangat, jaga dia baik-baik. Fisiknya memang tangguh, tapi ia memiliki hati yang lembut dan rapuh. Jika elo kembali membuat air matanya tumpah, siap-siap buat gue tumpahin darah elo."


"Gak perlu nunggu elo ngehukum gue," sahut Elang mantap. "Jika gue kembali membuat Eri terluka, gue sendiri yang akan menghukum diri gue."


***


Beberapa waktu telah berlalu semenjak kejadian Dito. Hari-hari Valerie dan yang lainnya pun berjalan damai seperti biasanya. Cakrawala menitipkan anak-anak asuhnya pada panti asuhan milik Valerie, Cakrawala percaya jika anak-anak asuhnya itu akan lebih terurus jika bersama Valerie. Karena dia sendiri akan disibukkan dengan usahanya.


Asel dan Irene juga semakin dekat berkat campur tangan Valerie. Valerie selalu menceritakan hal baik tentang Asel di depan Irene, hingga membuat gadis muda itu mau membuka hatinya pada panglima Arakata angkatan delapan itu.


Elang pun semakin gencar mendekati Valerie, berbagai penolakan dari Valerie hingga perkataan ketus dari abang-abang gadis itu tidak menyurutkan perjuangannya. Garindra pun tidak pernah berhenti memberi semangat pada putranya itu, menurutnya ... gadis yang akan menjadi menantunya harus Valerie Livia Laksmono. Jadi, ia juga ikut bersemangat mendukung putra semata wayangnya itu untuk mendapatkan kembali pujaan hatinya.


Laksmono tidak menghalangi usaha Elang. Pendiri Arakata itu hanya memberi peringatan pada Elang, jika hati putrinya bukanlah tempat persinggahan yang bisa ia tempati dan tinggalkan seenaknya. Mungkin, usaha Elang kali ini untuk kembali pada Valerie tidak akan mudah. Namun, bukan Elang namanya jika mudah menyerah.


Hati pentolan Arakata itu sudah mentok pada Valerie, jadi ia tidak akan berhenti berjuang. Menurutnya, sumber kebahagiaannya hanya tentang senyuman Valerie. Jadi, jika tidak ada gadis itu di hidupnya, kebahagiaan tidak akan bisa ia dapatkan.


Valerie juga merasakan hal yang sama, jika hatinya tidak bisa berpaling dari teman sedari kecilnya itu. Dunianya juga hanya tentang Elang Rayan Garindra. Banyak pria yang mencoba mendekatinya, tapi tidak satupun bisa membuatnya nyaman seperti apa yang ia rasakan jika bersama Elang.


Seperti hari ini, Elang hendak mengajaknya makan siang, tapi Valerie menolaknya. Ia memilih untuk makan siang di rumah bersama Laksmono dan Diandra. Namun, Valerie merasa ada yang aneh dengan sikap ayahnya itu. Ayahnya itu terlihat lebih lelah dari biasanya. Setelah kepergian Bayu, segala urusan perusahaan sudah dibantu oleh Valero, Elang, dan Bagus. Jadi, jika bukan tentang perusahaan, apa yang membuat sang legenda Arakata itu menjadi lelah.


"Ayah kenapa?" tanya Valerie pada ayahnya itu.


"Huft, akhir-akhir ini banyak kejadian yang mengatasnamakan ayah dan Arakata. Kemarin, ada orang yang berbuat onar di markas geng sekutu Arakata, dan orang itu bilang kalau dia salah satu anggota dari Arakata. Bahkan, baru saja ayah mendapat telepon dari pihak yang berwajib bahwa ada orang yang berbuat rusuh di jalanan, dan ia mengaku bahwa ia tangan kanan ayah," jawab Laksmono.


"Ayah tahu siapa orang itu?" tanya Valerie lagi.


Laksmono menggelengkan kepala. "Setiap kali ayah hendak menemuinya, orang itu selalu lebih dulu pergi. Mungkin, dia sengaja menghindari ayah. Jika ini perbuatan iseng seseorang, orang itu sudah sangat keterlaluan. Secara tidak langsung, orang itu berniat mencemarkan nama baik ayah dan Arakata."


Valerie terdiam, gadis itu mengetuk dagunya, dahinya berkerut memikirkan sesuatu. Ia berpikir keras, tidak akan ia biarkan ada orang yang mengganggu kehidupan ayahnya. Apalagi ini sampai mengusik ketenangan ayahnya.


 


 

__ADS_1


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2