
Pukulan terhebat, itulah yang sedang dirasakan semua anggota Arakata dan sekutunya, begitu tahu tentang kabar kepergian panglima terkuat mereka itu.
Semua masih tidak percaya, jika hal buruk itu menimpa penglima perang kesayangan mereka.
"Bilang ke gue, kalau ini semua bohong, Lang," ucap Bagus sambil mengguncang pundak sahabatnya itu. Mereka sedang berada di rumah sakit, untuk mengurus jenazah Valerie. "Eri belum meninggal, Kan? Itu bocah kan nyawanya banyak, dia gak mungkin pergi secepat ini, kan ...."
Bagus terus-menerus mengguncang pundak Elang, tapi pria itu hanya terdiam, pandangannya kosong.
"Jawab gue, Lang. Napa elo malah jadi bisu!"
Bentakan Bagus tidak mempengaruhi Elang, pria itu masih terdiam dengan pandangan kosong.
"Udah, Gus." Choky menarik tubuh tegap, "Elang juga lagi terpukul."
"Selama ini, gue selalu bsa ngerasain jika ada hal buruk yang akan terjadi sama orang-orang di sekitar gue." Bagus mengusap wajahnya kasar. "Tapi kenapa gue gak ngerasa apapun saat hal buruk ini terjadi sama Eri! Gue yakin kalau jenazah itu bukan Eri, Eri masih hidup! Sahabat gue masih hidup, kalian gak boleh seenaknya menganggap dia udah mati!"
"Bagus, jangan seperti ini." Laksmono meraih tubuh tegap Bagus dalam pelukannya. "Kamu harus bisa nerima kenyataan, kasihan Eri. Om juga ingin menganggap semua ini kebohongan, om juga ingin menganggap ini hanya candaan dari Eri. Tapi ini nyata, Gus ...," Air bening terus menetes dari mata Laksmono yang mengeriput. "Ini benar-benar terjadi, putri kebanggaan om sudah gak ada di tengah-tengah kita lagi. Berat, Gus ... tapi kita harus ikhlas, agar jalan Eri juga gak berat."
Runtuh sudah pertahanan Bagus, air mata yang sedari tadi berusaha ia tahan, kini mengalir deras dari netra tajamnya. Pria itu memeluk erat tubuh ayah sahabatnya itu.
"Saya sayang sama Eri, Om. Dia sudah seperti saudara perempuan saya sendiri, saya gak mau dia pergi, saya mau Eri tetap ada di samping saya."
"Om paham, Gus. Om dan yang lainnya juga merasakan hal itu. Tapi kehendak Tuhan lain,."
"Ini hanya mimpi kan, Ga." Bagus melepaskan pelukan Laksmono, pria itu menghampiri Gaung. "Tolong bilang ini hanya mimpi, tolong bangunin gue dari mimpi terburuk gue ini, Ga!" Gaung hanya bisa menunduk sambil menangis, pria yang biasanya terlihat tanpa ekspresi itu, kini terlihat rapuh.
__ADS_1
Bagus kembali mengusap wajahnya kasar, saat Gaung juga tidak menimpali perkataannya. Ia mengedarkan pandangannya, ia memperhatikan sekelilingnya yang juga sedang merasakan kesedihan yang sama. Semua orang yang ada di sana, tertunduk sambil menangis. Bahkan, Firsa menangis histeris dalam pelukan Gandi.
Tubuh Bagus luruh ke lantai, ia sandarkan punggungnya ke tembok depan kamar jenazah. Ia menengok pada Elang yang masih terdiam di sebelahnya.
"Lang," panggil Bagus.
"Sepuluh tahun, gue ditinggal Eri tanpa kabar ... gu-gue hampir gila saat itu. Sekarang, sekarang dia pergi lagi. Pergi dan gak akan kembali lagi. Gu-gue, gue ...," Elang memukul-mukul kepalanya. "Ba-bagaimana gue bisa ngelanjutin hidup gue. Gimana gue bisa hidup jika alasan gue buat tetap bertahan udah pergi dari hidup gue!" Elang menangis histeris, ia pukulkan tangannya ke tembok, hingga tangannya terluka.
Jelita menangis sesenggukkan melihat putranya dalam keadaan kacau. Garindra memeluk tubuh istrinya itu, ayah dari Elang itu juga tidak bisa menahan kesedihannya. Bagaimana bisa gadis yang sangat ia harapkan untuk menjadi putrinya itu meninggalkannya dengan keadaan yang tragis.
Semuanya terjadi dengan begitu cepat, baru saja mereka kehilangan Bayu, sekarang mereka harus menerima kenyataan jika gadis tangguh Arakata itu juga ikut meninggalkan mereka.
***
Anak-anak yatim yang pernah disantuninya juga terlihat datang. Bocah-bocah itu tidak bisa menahan kesedihannya. Mereka langsung menangis begitu melihat jazad Valerie ada di hadapan mereka.
"Mamah, itu bukan Kak Eri, kan?" tanya bocah kecil yang tidak lain adalah Rajawali. "Kak Eri gak mungkin pergi, Kak Eri orang baik. Ali mau ngasih jantung Ali ke Kak Eri aja, kalau Kak Eri dikasih jantung, Kak Eri bakalan bisa hidup lagi, kan?" Rajawali menangis sesenggukkan. "Kak Eri yang selalu memberi semangat ke Ali buat gak kalah dari penyakit. Mamah dulu berdoa ke Tuhan agar Ali bisa tetap bertahan hidup, kan? Ali mohon mamah juga doain Kak Eri, biar Tuhan ngembaliin Kak Eri lagi."
Sang ibunda tidak bisa menjawab permintaan anaknya itu. Ia hanya bisa memeluk Rajawali.
Hujan gerimis mengantarkan kepergian Valerie, seakan sang langit pun ikut bersedih akan kepergian anak bungsu dari keluarga Laksmono tersebut. Segala doa yang terbaik dipanjatkan ratusan atau bahkan ribuan orang untuk Valerie Livia Laksmono, sosok perempuan kuat yang peduli dengan sesama.
***
Setelah kembali dari tempat pemakaman, mereka berkumpul di kediaman Laksmono. Tidak ada yang berusaha membuka suara, mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing. Pemikiran tentang perempuan yang baru saja meninggalkan mereka.
__ADS_1
Valerie adalah sosok yang sulit untuk dilupakan atau bahkan diabaikan. Gadis itu seperti medan maghnet bagi orang-orang yang ada di sekitarnya. Gadis yang memiliki kepribadian yang unik. Gadis yang memiliki rasa kepedulian yang tinggi. Gadis yang menjadi otak penyerangan setiap pergerakan Arakata.
"Udah ketemu siapa orang yang mejadi dalang kematian Eri?" tanya Laksmono pada Pratama.
Pratama menggeleng. "Belum, mereka main rapi. Sama sekali gak ada jejak, bahkan mobil yang mengejar Valerie dan Lana pun tidak bisa kami lacak. CCTV di jalan pun sudah kami periksa, tapi tetap saja belum ada perkembangan. CCTV pun sengaja mereka matikan agar pergerakan mereka bisa normal.
"Ini bukan ulah orang sembarangan, kemungkinan pelakunya memiliki status sosisal yang tinggi. Sehingga ia bisa bebas melakukan apapun."
"Setinggi apapun status sosialnya, mereka harus membayar mahal atas kematian Eri," ucap Roxy.
"Sehebat apapun mereka berkuasa, kebenaran harus tetap ditegakkan," ucap Robert.
"Entah kenapa saya curiga dengan Riki. Saya merasa jika kematian Valerie ini ada hubungannya dengan Riki Rahwana."
"Om setuju dengan cara berpikir kamu," ucap Garindra, "tolong awasi terus setiap pergerakan dari Riki, sekecil apapun itu."
Valero mengangguk. "Saya akan melakukan apapun demi mengungkap semua ini." Tangan Valero terkepal, ia merasa marah dengan siapapun yang telah menyebabkan Valerie pergi untuk selama-lamanya.
***
"Gimana keadaannya?" tanya seorang pria muda di dalam sebuah kamar yang luas dan bernuansa putih.
"Lukanya cukup serius, tapi tubuh wanita ini kuat. Ia mampu bertahan dengan kondisi yang bisa dibilang sangat lemah. Jika hal ini terjadi dengan orang lain, belum tentu orang itu juga akan bertahan seperti perempuan ini."
Pria muda itu mengangguk. "Sekarang, kita punya senjata pamungkas yang akan menghancurkan Arakata dan sekutu-sekutunya. Mari kita buktikan apakah mereka benar-benar mengedepankan kesolidaritasan atau hanya isapan jempol semata.
__ADS_1