Arakata

Arakata
Reuni Absurd


__ADS_3

Minggu pagi ini kediaman Laksmono dipenuhi pria-pria dewasa tapi berpakaian-- seragam SMA.


"Siapa sih yang punya ide ginian," dumel Gandi yang dari tadi tidak berhenti mengomel. "Acara reuni kok pakai seragam SMA. Emang seragam SMA masih gue simpan, tapi kalau dipakai ya badan gue beleber kemana-mana lah. Badan gue kan lebih kekar sekarang." Gandi menarik-narik seragamnya yang terlihat agak sesak di badan.


"Ini ulah tunangan lo!" ujar Elang, seragam SMA pria itu pun terlihat agak sempit di badannya. Untung badan mereka kekar, jadi terlihat keren. "Virsa kan panitia."


"Jiwa muda gue bergelora lagi nih pakai seragam SMA. Berasa pengen tawuran." Bagus menggulung lengan seragamnya.


"Sejak kapan Arakata ngajak tawuran!" ujar Elang sambil melempar Bagus dengan kulit kacang.


"Kan gue cuman bilang pengen, Lang. Belum dihamilin Eri aja udah sensian lo!" cibir Bagus sebal.


"Berisik lo pada!" seru Gaung, "mending elo pada bantuin gue, baju gue robek nih." Gaung memperlihatkan bagian kerung lengannya yang robek.


"Sini gue jahitin sebentar," ujar Valerie yang baru keluar dari kamarnya.


Semua mata menatapnya tak berkedip. Baju gadis itu masih muat di tubuh langsingnya. Namun, tubuh Valerie yang dewasa terlihat lebih berlekuk menggunakan seragam SMA-nya. Membuat semua mata enggan berkedip dengan mulut yang menganga.


"Jauhin tatapan mesum kalian dari cewek gue, atau bakalan gue congkel keluar bola mata kalian!" teriak Elang sambil melempari teman-temannya dengan bantal sofa.


"Niat gue buat nikung elo jadi bangkit lagi, Lang," ujar Gaung dengan mata yang masih memandang Valerie.


"Gue aduin Dokter Nita lo, Ga, biar gagal nikah sekalian!"


"Elo mainnya aduan, Lang. Cih, gak seru!" Gaung mencebikkan mulutnya.


"Er, hati gue juga perlu elo jahit deh." Bagus mendekati Valerie, membuat Elang semakin menggila.


"Bagus! Gue jepitin pintu ya anu lo!" teriak Elang, pria itu langsung menarik tubuh Valerie agar berdiri di belakangnya. Menutupi kekasihnya yang terlihat imut dari mata-mata liar sahabatnya.


"Kamu pakai seragam ku aja, Er. Aku gak rela kalau nanti pada genit sama kamu."


"Boleh sih, tapi gantian kamu yang pakai seragam sekolah ku, ya," jawab Valerie sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Boleh tuh, Er. Biar Elang pakai seragam kamu, sekalian mangkal dia!" ucap Gandi sambil terpingkal.


"Ya gak muat dong, Sayang. Badan kamu kan kecil gitu," jawab Elang memelas.


"Ya udah, makanya jangan protes terus, Sayang," ucap Valerie sambil mengecup singkat pipi Elang. Membuat jantung pria itu kebat-kebit tidak karuan. Elang memegang pipinya yang memerah.


"Ka-kamu. Pang-pangil aku sayang?" tanya Elang sambil terbata-bata saking kagetnya. Baru kali ini Valerie memanggilnya sayang dan memberikannya kecupan di pipi. Hatinya menjadi berbunga-bunga.


"Parah lo, Er. Bikin anak Om Indra jadi gagu gitu, hahaha!" Bagus dan yang lain terbahak melihat muka Elang yang masih melongo dan memerah.


"I love you, Sayang ...," bisik Valerie di dekat telinga Elang. Membuat detak jantung Elang semakin menggila.


"Fix, ini Eri niat buat bunuh gue," ujar Elang sambil mengusap-usap dadanya. Membuat Valerie dan yang lain tambah semangat menertawakannya.


***


Tepat pukul setengah delapan mereka sampai di SMA GARINDRA. Semua peserta reuni sudah berkumpul di lapangan. Mereka berbaris sesuai kelas mereka sewaktu kelas dua belas.


Valerie langsung berlari menuju barisan kelas 12 IPS 1. Di sana teman-temannya sudah melambaikan tangan. Bahkan Lukman yang notabenenya tinggal di Bali, menyempatkan diri untuk menghadiri acara reuni.


Lukman sekarang adalah seorang pengusaha resort di Bali. Karena kerja kerasnya, pria itu berhasil mendirikan resort yang bekerja sama dengan Pratama.


Valerie menghentikan langkahnya, ia menengok ke belakang dengan sebal.

__ADS_1


"Kamu kenapa ngikutin aku sih, Lang. Barisan kelas kamu kan di sana," ujar Valerie sambil menunjuk barisan kelas Elang. Seisi lapangan menertawakan kekonyolan Elang.


"Aku mau ikut barisan kelas kamu aja," jawab Elang cuek.


"Mana bisa, Lang? Kamu kan anak IPA, kenapa nyasar ke IPS?" Valerie mulai gemas dengan tingkah sang kekasih.


"Bisa," jawab Elang cepat, "ini sekolah milik papah."


"Mulai manfaatin jabatan," ucap Valerie sambil merengut sebal. "Udah sana balik ke barisan kamu, kalau gak, aku bakalan marah sama kamu!" Ancam Valerie sambil berkacak pinggang.


Elang kembali ke barisan kelasnya dengan ngedumel gak jelas. Membuat ia mendapat sorakan dari teman-temannya.


"Bucin lo udah gak ketolong, Lang!! Huahahaha," ejek Laskar, teman sekelasnya. Pria itu khusus menjahit seragam SMA lagi karena bajunya yang dulu sudah tidak muat. Sekarang tubuh pria itu terlihat tambun.


"Berisik lo, gue kempesin tahu rasa lo!" omel Elang sewot.


"Alhamdulillah, kalau elo bisa ngempesin gue, Lang. Padahal gue udah minum jamu kayak saran kalian! Tapi tetep aja masih bulet badan gue!"


"Kok bisa?" tanya temannya yang lain.


"Ternyata yang gue minum itu jamu sari rapetnya Mbak Jumi, pembokat gue."


"Huahahaha, mampus lo, rapet, rapet lo! Hahahaha ...," ledek semua teman-temannya.


Setelah percakapan unfaedah itu usai. Kepala sekolah mempersilahkan peserta reuni untuk masuk ke dalam kelas masing-masing.


Mereka masuk ke dalam kelas masing-masing sambil memperhatikanĀ  sekeliling sekolah yang terlihat agak sedikit berbeda. Mereka benar-benar merindukan masa-masa putih abu-abu itu lagi.


Begitu masuk ke dalam kelas, di sana wali kelas mereka sudah menunggu. Tanpa basa-basi lagi, mereka bergiliran memeluk dan memberi salam kepada wali kelasnya dulu.


"Asalamu'allaikum, Pak," teriak Valerie sambil memeluk guru seni rupa sekaligus wali kelasnya itu. Teman temannya juga melakukan hal yang sama.


"Kami menjadi seperti ini juga berkat Pak Arman sama guru-guru yang lain, Pak. Terimakasih Pak Arman," seru Valerie yang disambut setuju oleh teman-temannya.


"Sama-sama, itu memang sudah kewajiban bapak sebagai seorang guru. Anak bapak paling suka sama roti buatan toko kamu lho, Er. Dia cerita kalau sering dikasih diskon. Gak nyangka, murid yang dulu pernah bapak jewer gara-gara bawa kecoa ke kelas IPA 1, sekarang jadi juragan roti." Pak Arman tersenyum mengenang kejadian kado untuk Bagus itu.


"Ish, bapak mah, pakai ngingetin kejadian itu. Itu saya kena tipu Maul sama Faris pak. Mereka bilang kalau itu jangkrik, gak tahunya malah kecoa," ucap Valerie sebal, sambil melirik Maul dan Faris yang duduk di belakangnya.


"Lagian elo cewek aneh, Er. Mana ada orang yang gak bisa bedain kecoa sama jangkrik," ujar Maul yang membela diri, Faris juga ikut mengangguk-angguk setuju oleh penuturan Maul.


"Emang gue emaknya, bisa bedain mereka!" jawab Valerie tidak mau disalahkan.


"Jadi emak dari anak-anak gue aja, Er," ucap Maul yang langsung mendapat sorakan dari seisi kelas.


"Mau ditabok sampai mampus sama Elang lo!" ujar Faris yang langsung mendapat gelengan dari Maul.


"Kita flash back aja, yuk," ajak Pak Arman, "kalian semua bapak tugaskan menggambar lingkungan sekolah. Ini bapak bagikan kertas," ujar pak Arman sambil membagikan kertas kepada seisi kelas.


"Emang enak punya wali kelas guru seni rupa, jadi kita gak perlu susah-susah mikir pelajaran kayak dulu lagi," ujar salah satu teman sekelas Valerie.


Di kelas 12 IPA 1, Bu Nuri sedang mendengarkan cerita satu persatu dari mantan muridnya. Bu Nuri meminta mereka bercerita tentang keadaan mereka selama sepuluh tahun ini.


Dan dengan polosnya, Elang menceritakan kebucinannya selama sepuluh tahun ini tanpa kehadiran Valerie. Membuatnya mendapat sorakan dari seisi kelas, Bu Nuri hanya tersenyum sambil geleng-geleng.


"Wah, ngapain tuh cewek lo guling-guling dirumput, Lang!" seru Gandi heboh, membuat seisi kelas melihat ke arah luar jendela.


Di sana memang terlihat Valerie sedang duduk-duduk di rumput bersama teman-temannya. Iya, hanya duduk, tidak guling-gulingan seperti yang Gandi bilang.

__ADS_1


"Kok gue ngerasa dejavu sama keadaan ini ya," ucap Bagus, "perasaan gue gak enak ini." Sambungnya lagi.


"Sttt, Er, sini lo," panggil Gandi sambil melongokkan kepala keluar jendela.


Valerie yang dipanggil langsung berjalan menghampiri, diikuti teman-temannya yang lain. Jadi, sekarang posisi mereka seperti menempel di jendela kelas 12 IPA 1.


"Ngapain lo guling-gulingan di rumput?"


"Guling-gulingan, matalo rabun!" jawab Valerie sambil mengetuk pundak Gandi dengan pensil yang dibawanya. "Emangnya gue main film India!"


"Terus ngapain lo di sana?" tanya Gandi lagi.


"Ahhhh, gue inget kajadian ini!" teriak Bagus tiba-tiba sambil berdiri dari kursinya. "Ini kejadian persis sama dengan kejadian waktu lo bikin geger kelas gue! Waktu lo nerbangin kecoa di kelas gue. Jangan bilang elo bawa kecoa lagi


ya!"


"Enak aja, Lo!" Valerie melemparkan pensilnya tepat mengenai dahi Bagus. "Sekarang gue udah bisa bedain kecoa sama jangkrik, ya." Jawab Valerie tidak terima.


Hal itu membuat seluruh teman-temannya tertawa, termasuk Bu Nuri.


"Ternyata insiden kecoa membekas di memori anak-anak IPA, Er," ujar Maul sambil menyenggol lengan Valerie.


"Itu karena elo penyebabnya!" Valerie melirik tajam pada Faris dan Maul. "Lho, Amelia gak datang Bu Nuri?" tanya Valerie begitu melihat kursi di depan Elang kosong.


"Iya Er, Lia menghubungi pihak panitia kalau dia gak bisa datang. Suaminya sedang dirawat di rumah sakit karena menderita kanker darah," jawab Bu Nuri.


"Sakit?" gumam Valerie.


"Kalian ngapain nempel di jendela kelas Bu Nuri!" teriak pak Arman. "Disuruh gambar malah pada nemplok di jendela, mau belajar jadi ikan sapu-sapu?"


"Anu, Ini pak, kita anu ...," jawab Maul terbata-bata.


"Anunya siapa?" tanya pak Arman lagi.


"Anunya Maul hilang, Pak, makanya kita bantu cari," jawab Valerie seadanya.


"Enak aja lo! Anu gue elo bawa-bawa!" Maul melotot tidak terima.


"Udah, udah, kalian kembali buat tugas menggambarnya. Gak usah ganggu kelas istri saya," ujar pak Arman sambil menggiring Valerie dan kawan-kawan menjauh dari kelas Elang.


"Bentar, Pak. Saya ambil pensil dulu, ambilin pensil gue, Gus ...," pinta Valerie pada Bagus.


"Ogah, salah sendiri elo lempar ke gue," jawab Bagus cuek, membuat Valerie berdecak sebal.


"Ini," Elang mengambilkan pensil Valerie dan mengembalikannya, membuat gadis itu tersenyum senang.


"Cie, yang akhirnya jadi juga nikah sama Bu Nuri, setelah jutaan kali ditolak," ujar Lukman.


"Jomblo dilarang komentar," ujar pak Arman, membuat Lukman langsung terdiam. "Eh, ngomong-ngomong, anu kamu beneran hilang, Ul?"


Pertanyaan pak Arman, membuat semua teman-temannya terbahak.


"Au ah pak, tanya aja Valerie! Mungkin dia yang ambil," jawab Maul sewot.


Reuni sehari itu benar-benar seperti flash back mereka dahulu. Mulai dari berkumpul di lapangan upacara, masuk kelas, istirahat di kantin, ngerumpi di taman, main basket. Semua kejadian waktu SMA, mereka ulang kembali seharian ini.


Walau reuni ini terkesan absurd. Namun, tak elak membuat rasa kangen mereka terhadap masa putih abu-abu

__ADS_1


bisa terobati. Memang, berkumpul bersama teman-teman itu tidak akan pernah membuat bosan.


__ADS_2