Arakata

Arakata
Menyerahkan Diri


__ADS_3

Malam ini Riki merasa gabut, beberapa hari ini ia sudah terbiasa mengganggu gadis yang diculiknya itu. Pria itu melangkahkan kakinya menuju kamar yang ditempati Valerie. Dengan perlahan ia membuka pintu kamar yang tidak dikunci oleh gadis itu.


"Nih orang kebiasaan gak ngunci pintu, apa gak takut kalau gue apa-apain, ya?" tanya Riki pada dirinya sendiri dengan suara yang hanya bisa didengarnya sendiri.


Pria itu menlongokkan kepalanya, ia tidak menemukan Valerie di ranjangnya, kemudian ia membuka pintu kamar mandi yang lagi-lagi tidak ada orang. Satu-satunya kemungkinan terakhir adalah balkon kamar, jika tetap tidak ada di sana, berarti gadis itu telah melarikan diri.


Riki membuka pintu yang menghubungkan dengan balkon, benar saja ... ia mendapati Valerie berada di sana. Posisi gadis itu membelakanginya, yang terlihat hanya rambutnya yang panjang terurai. Valerie berdiri berpegangan pada pagar balkon, matanya menatap ke langit, memandang ribuan bintang yang malam ini menerangi gelapnya atap bumi.


Pundak gadis itu bergetar, tidak lama kemudian terdengar sebuah suara isakan. Hal itu membuat tubuh Riki membeku, baru kali ini ia melihat Valerie menangis. Apa gadis tangguh itu sudah benar-benar merasa lelah bersikap kuat.


Ia tahu, apa yang dialami gadis itu sekarang tidaklah mudah. Jika yang mengalaminya adalah gadis lain bukan Valerie, pasti gadis itu sudah menangis dan memohon untuk dilepaskan sedari awal. Namun, Valerie berbeda, dengan berani gadis itu malah menantangnya. Bahkan dia sama sekali tidak terintimidasi oleh sikap dan perkataannya. Gadis itu pun merawatnya saat ia sakit, padahal bisa saja ia mengambil kesampatan itu untuk melarikan diri atau membunuhnya. Ia tahu, kemampuan beladiri Valerie bukan kaleng-kaleng, kalau gadis itu mau, ia bisa menghabisi Riki dengan mudah. Namun, hal itu tidak dilakukan oleh Valerie, ia malah memilih untuk tetap tinggal, memberi semangat kepada orang yang telah menculik dan memalsukan kematiannya itu.


Dengan perlahan, Riki melangkahkan kaki hingga ia sudah berada di belakang Valerie. Ia memegang pundak Valerie, membuat gadis itu terkaget. Dengan segera ia mengusap air matanya, agar Riki tidak tahu bahwa ia sedang menangis. tapi percuma, pria itu sudah tahu jika Valerie sedang menangis dan berusaha menyembunyikan hal itu darinya.


"Ke-kenapa gak ketok pintu?" tanya Valerie dengan terbata.


"Kenapa gue harus mengetuk pintu untuk masuk ke kamar gue sendiri?" tanya Riki balik, membuat Valerie berdecak. "Lagian kenapa elo gak kunci pintu kamar?"


"Seperti kata lo tadi, ini kamar lo. Gue gak punya hak buat kunci-kunci,"


"Gimana kalau gue punya niat jahat buat ngapa-ngapin lo?" tanya Riki sambil menyeringai.


"lakuin aja, kalau lo mau gue potong peranakan lo," jawab Valerie sambil berkacak pinggang.


"Frontal sekali, hahaha," ujar Riki sambil terbahak.


"Bodo," sahut Valerie cuek, gadis itu kembali membalik badan dan menatap langit malam. Riki melangkah, berdiri di sebelah gadis itu.


Suasana hening untuk beberapa saat, mereka sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing.


"Kenapa lo nangis?" tanya Riki, akhirnya membuka suara.


"Gue gak nangis," sahut Valerie dengan pandangan yang masih fokus menatap langit.


"Terus itu tadi yang keluar dari mata lo apa? Iler, gitu?"


Valerie mencebikkan bibir, ia melihat pada Riki sesaat yang juga sedang memandangnya.


"Gue kangen keluarga gue," ucap Valerie, ia tersenyum tapi air matanya kembali menetes. "Gue kangen ayah, abang-abang gue, sahabat-sahabat gue. Gue kangen mereka, gue takut kalau ayah sampai sakit karena mengira gue sudah meninggal. Ayah pasti terpuruk karena kehilangan kedua anaknya dalam waktu yang bersamaan. Calon suami gue pasti hampir gila karena ngira kalau gue udah pergi untuk selama-lamanya."


"Elo mau pulang?" tanya Riki sambil mengusap air mata Valeri dengan jari-jarinya.


Valerie mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Riki.


"Ikut gue," ucap Riki sambil masuk ke dalam kamar, kemudian ia menutup pintu yang menghubungkan ke balkon. "Udah malam, lo harus tidur." Riki mendudukkan Valerie di ranjangnya, setelah itu ia mendorong pelan tubuh Valerie hingga berbaring. Kemudian ia ikut berbaring di sebelah Valerie.


"Kenapa elo ikut tidur di sini!" protes Valerie, ia kembali pada posisi duduknya, tapi Riki menarik tangannya hingga berbaring kembali.

__ADS_1


"Gue gak bakal macam-macam, gue gak nafsu sama cewek papan gilesan kayak elo. Mana dada mana punggung gak bisa dibedain," ucap Riki yang langsung mendapat hadiah tampolan maut dari Valerie. "Gue cuma mau tidur sambil megang tangan lo. Sejak kecil gue selalu kesepian, gue melakukan apapun seorang diri. Tapi sekarang, semenjak kedatangan lo, gue merasa kalau gue gak sendiri, ada orang yang bakal ada buat gue."


"Kedatangan apaan? Gue gak datang ya, elo yang nyulik gue, terus bawa gue ke rumah lo ini!" protes Valerie, tidak terima, membuat Riki kembali terkekeh.


"Udah, jangan banyak protes. Heran gue, mulut kok kayak petasan, nyaring amat."


Ucapan Riki tersebut membuat Valerie memanyunkan bibirnya.


"Bibir lo kenapa? Minta gue sosor," ucap Riki lagi sambil mencubit gemas hidung bangir Valerie.


"Enak aja, Elang yang bentar lagi bakalan jadi suami gue aja kalau mau nyosor mesti gue tampol, apalagi elo!" Mata Valerie melotot, bukannya takut, Riki malah terbahak karenanya.


"Elang pasti beruntung banget karena bisa dapetin hati lo," ucap Riki, ia menatap ke dalam netra indah Valerie. Semakin dalam ia menyelam, semakin ia tenggelam dalam pesona Valerie. Bukan hanya visualnya saja yang menawan, kepribadiannya pun menarik. Membuat kaum hawa berlomab untuk memenangkan hatinya, dan pria yang beruntung tersebut adalah Elang Rayan Garindra.


"Riki," panggil Valerie dengan suara lirih, gadis itu sudah mulai mengantuk  karena sedari tadi Riki mengusap-usap keningnya.


"Hm," sahut Riki masih sambil mengusap-usap dahi Valerie, seperti akan menidurkan anak kecil.


"Boleh gue meminta sesuatu dari elo?"


"Apa?"


"Gue minta elo ninggalin dunia hitam, elo mulai semuanya dari awal. Gue bakalan bantu elo, gue bakalan ada buat lo, gak akan gue biarin elo merasa kesepian lagi. Elo punya Ero, Zizah, elo juga punya gue ...," Setelah mengatakan hal itu, Valerie masuk ke alam mimpinya, gadis itu tertidur.


"Eri, kenapa elo harus setulus ini? Kenapa elo harus sebaik ini? Kenapa elo harus semenawan ini? Hingga buat  gue punya perasaan lebih ke elo," ucap Riki sambil megusap puncak kepala Valerie. "Bertemu denganmu adalah sebuah anugerah buat gue, terimakasih Valerie Livia Laksmono."


Setelah mengatakan itu, Riki bangun dari posisi baringnya. Ia melangkah menuju balkon kamar. Ia mengambil ponsel dari saku celananya, ia menghubungi seseorang.


***


"Kebo, bangun" ucap Riki sambil menggoyang-goyang pundak Valerie untuk membangunkan gadis itu.


"Ayah, lima menit lagi. Masih ngantuk, sini bobok sama Eri aja," ucap gadis itu sambil masih memejamkan mata. Ia menarik tubuh Riki hingga berbaring di sebelahnya dan memeluknya erat, mengira ia adalah Laksmono.


"Mampus, godaan apa lagi ini ya Allah," ratap Riki sambil berusaha melonggarkan pelukan Valerie. Tapi percuma, gadis itu memeluknya erat. Ia hanya bisa pasrah dengan anugerah ini, hehehe. "Gadis bodoh, kalau sampai gue nerkam elo, bukan salah gue ya. Elo yang meluk gue duluan."


"Selamat pagi, ayah," ucap Valerie sambil mencium pipi Riki. Membuat wajah pria itu memerah, jangan tanyakan bagaimana dengan jantungnya, detakannya sangat kencang. Bahkan, hidung pria itu sampai mimisan.


"Aaaaa, gue udah gak tahan. Kalau gue terkam, gue bakal dibunuh gak ya? Jangan-jangan peranakan gue langsung ditebas, secara nih cewek sadis banget!" teriak Riki dalam hati.


Valerie mulai membuka mata, ia mengerjap-ngerjapkan matanya. Matanya membola seketika, begitu melihat wajah tampan yang berada sangat dekat dengannya. Ia kembali menutup matanya, mengira semua hanya mimpi. Kemudian ia membuka mata kembali, ia masih melihat pria tampan itu meringis dengan bodohnya, dengan posisi yang sangat dekat dengan dengan wajahnya, hingga hembusan napas pria itu yang berbau mint bisa ia cium.


Setelah diam beberapa saat, gadis itu bereaksi.


"Wuaaaaa!" teriak Valerie, ia menendang tubuh Riki sekuat tenaga hingga terjengkang jatuh ke lantai.


"Aduh!" Riki mengusap pantanya yang mencium lantai dengan begitu kerasnya. beruntung, kepalanya tidak terantuk ujung nakas. Kalau sampai terantuk, bisa bocor kening kinclongnya.

__ADS_1


"Ngapain elo meluk-meluk gue, Hah! Bukannya semalam elo bilang cuma mau megang tangan gue!"


"Heh, uler gentong. Elo yang barusan narik tangan gue, terus meluk gue. Bahkan lo tadi nyium pipi gue sambil bilang selamat pagi, ayah. Emangnya gue bapak lo! Ogah gue punya anak modelan tarzan kayak elo!"


"Elo serius?" tanya Valerie.


"Dua rius gue," jawab Riki dengan mantap. "Itu namanya elo udah ngelecehin gue ya!"


"Hehehe, maklumin aja deh, ya. Namanya juga orang ngelindur," ucap Valerie sambil ngeloyor menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar itu.


"Hah? Cuma begitu doang reaksi lo? Dengan santainya elo ngeloyor, padalah elo udah nendang pantat seksi gue, dasar cewek bar-bar!" Riki masih terus berteriak, yang tentu saja tidak dihiraukan oleh Valerie. Gadis itu tetap melanjutkan aktifitasnya membersihkan diri.


***


Setelah mandi dan sarapan, untuk pertama kalinya Riki mengajak Valerie ke luar rumah.


"Kita mau kemana?"


"Cari angin," jawab Riki asal.


"Gaya lo cari angin, entar masuk angin baru tahu rasa, Lo! Mending kalau yang kemasukan angin cuma punggung, gue masih bisa ngerokin. Lha kalau pantat, ogah gue ngerokin," ucap Valerie sambil bergidik jijik.


"Jangan ngomong pantat lagi, pantat seksi gue masih sakit, nih! Gara-gara elo tendang sampai ngejengkang. Emang bener-bener cewek jadi-jadian, Lo!"


Valerie hanya nyengir sebagai jawaban atas keluhan Riki padanya.


Beberapa saat kemudian, mobil yang dikendarai Riki berhenti di tempat tujuan.


"Kenapa kita ke sini?" tanya Valerie, gadis itu terkejut karena sekarang mereka berada di parkiran sebuah kantor polisi.


"Sudah saatnya gue mempertanggung jawabkan semua perbuatan gue selama ini," jawab Riki, ia memandang wajah ayu Valerie. "Sudah terlalu lama gue tejebak sama dunia hitam, gue gak mau lebih lama lagi tenggelam dalam dunia itu. Gue mau berubah, seperti apa yang lo minta semalam."


Valerie tersenyum, ia memeluk pria yang ada di sampingnya.


"Gue bakalan jenguk elo tiap hari, gue bakalan masakin lo tiap hari. Gue bakalan jagain Bi Ratmi."


"Iya, gue percaya sama elo," sahut Riki sambil terkekeh, pria itu mengurai pelukan Valerie. "Er, gue minta maaf atas perbuatan gue sama dua pria yang lo sayangi. Gue bener-bener nyesel, gue terlalu patuh sama perintah ayah."


"Iya, gue maafin," jawab Valerie sambil mengangguk. "Gue juga yakin kalau Rajawali dan Bang Bayu juga udah maafin elo. Mereka orang baik, mereka pasti juga udah berada di tempat yang baik."


":Makasih, Eri. Makasih atas semua yang udah elo ajarin ke gue, terimakasih udah mau maafin gue. Terimakasih atas semuanya, Valerie Livia Laksmono."


"Kembali kasih, Riki Rahwana," jawab Valerie sambil tersenyum, senyum itu juga menular pada Riki.


"Maaf, gue gak bisa nganter lo pulang ke rumah. Tapi semalam gue udah telepon seseorang buat antar lo, tolong bawa mobil gue ke rumah, sekalian bilangin permintaan maaf gue ke Bi Ratmi."


Valerie mengangguk sebagai jawaban atas permintaan Riki.

__ADS_1


"Tuh, orang yang jemput lo udah dateng." Riki menujuk ke arah seorang pria yang memandang mereka sambil tersenyum.


"Ero," ucap Valerie sambil tersenyum senang. Melihat sahabat yang disayanginya itu.


__ADS_2