Arakata

Arakata
Kehilangan


__ADS_3

Siang ini, waktu Elang beristirahat setelah penerbangan dari Jakarta ke Bali. Ada panggilan masuk di ponselnya. Yang membuat pria itu sedikit terkejut adalah nama yang tertera di layar ponselnya.


Nama Rajawali tertera di sana, mereka memang sempat bertukar nomor ponsel, sebelum Raja kembali ke Korea.


"Assalamu'alaikum," salam Elang.


"Wa'alaikumsalam," jawab pria di seberang sana, "Lagi sibuk apa free?"


"Free, gue terbang lagi nanti malam. Kenapa? Mau ajak gue kencan?"


"Sorry, aku masih berada di jalan yang lurus. Kalau aku mau kencan, tinggal ngajak calon istriku, sahabat kamu."


"Hem, elo hubungin gue cuman buat pamer?"


"Santai, Brow." Terdengar kekehan dari seberang sana. "Aku mau minta tolong ke kamu."


"Apa?"


"Kamu masih cinta sama Livia, kan?"


"Perasaan gue ke Eri, bukan urusan elo!"


"Masih cinta, gak?"


"He'em, gue cinta banget sama Eri. Lho tenang aja, Eri gak bakal selingkuh sama gue. Dia perempuan setia."


"Aku tahu."


"Kalau elo nyuruh gue buat menghapus perasaan gue sama Eri. Maaf, untuk saat ini gue belum bisa. Gue juga sudah berusaha lupain dia. Tapi perasaan ini sangat kuat."


"Jangan hapus perasaan mu, jangan lupain dia. Tetap cintai dia." Suara Rajawali terdengar lirih.


"Maksut lo, apa?"


"Aku mau kasih tahu satu rahasia ke kamu. Livia, sampai sekarang dia masih cinta sama kamu. Hanya ada kamu di hatinya. Dia memang sayang sama aku, tapi hanya sebagai saudara dan teman. Aku tahu itu, aku mau kamu jaga dia, sayangi dia, cintai dia. Jangan pernah membentaknya, di luar dia memang terlihat kuat. Tapi, sebenarnya dia memiliki hati yang rapuh. Dia akan sangat terluka jika orang yang sangat di cintainya membentak atau berbuat kasar. Perlakukan dia dengan lembut."


"Maksut omongan lo, apa? Elo mau ninggalin Eri? Jangan gila, Ja! Bentar lagi kalian nikah, jangan buat dia malu! Elo punya perempuan lain? Elo selingkuh?"


Terdengar suara kekehan Rajawali. "Hanya ada nama Livia di hatiku, bagaimana mungkin aku bisa selingkuh dari perempuan yang paling aku cintai?"

__ADS_1


"Kalau elo gak selingkuh,kenapa elo ngomong kayak gitu ke gue? Seakan elo mau pergi dari hidup Eri!"


"Aku gak berdaya, Lang. Kalau kamu tanya keinginan ku, aku jawab dengan tegas kalau aku mau hidup selamanya bersama Livia. Menikah, mempunyai anak, mempunyai cucu, menua bersama. Tapi kelihatannya itu tidak bisa terjadi. Akhir-akhir ini, setiap hari aku selalu memimpikan hal yang sama.


Dalam mimpiku, ada banyak orang yang berusaha memisahkan Valerie dariku. Sekarang aku sadar apa maksut dari mimpi-mimpiku."


"Jaman udah modern, elo masih percaya sama mimpi!"


"Aku juga gak bakal memikirkan mimpiku, kalau semua itu tidak terjadi setiap saat, Lang. Setiap saat, semua itu seperti nyata. Sebelum bertemu dengan Livia, aku adalah pribadi yang kaku dan tertutup. Bisa dibilang aku anti


bersosialisasi. Namun, semenjak bertemu Livia semua berubah. Aku yang lebih suka menyendiri di rumah, jadi sering mengikuti kemanapun dia pergi. Sikapku yang dingin, berubah menjadi hangat hanya dengan melihat


senyumnya. Semenjak saat itu, aku berniat untuk selalu menjaga agar senyum itu tidak pernah luntur dari bibirnya.


Namun, aku rasa aku sudah tidak bisa melakukannya lagi. Aku mohon gantikan aku untuk selalu berada di sampingnya. Menjaganya, membahagiakannya dan menjaga hatinya. Aku tahu, hanya kamu yang bisa melakukannya, Lang. Bersediakah kamu melakukannya?"


"Omongan lo gak masuk akal!"


"Bersediakah kamu, Lang? Agar aku bisa lebih tenang."


"Aku bersedia," jawab Elang akhirnya.


Prtama dan kelima sahabat Valerie sudah sampai di kediaman Laksmono. Begitu masuk rumah, abang-abang Valerie sudah berada di sana, dengan muka yang tidak kalah kacau dari Pratama.


"Adek mana, Bang?" tanya Pratama pada Bayu.


"Di dalam kamar, lagi di tenangin ayah." Setelah mengatakan itu, Bayu menarik Pratama dalam pelukannya. "Gue gak tega melihat adek kayak gitu, Tam."


Begitu melihat keadaan yang tidak baik-baik saja. Bagus dan yang lainnya langsung bergegas menuju kamar Valerie yang berada di lantai dua. Setelah mereka sampai di sana, betapa kagetnya mereka melihat keadaan Valerie yang sangat kacau.


Gadis itu duduk di lantai, badannya bersandar pada ujung ranjang. Air mata tidak berhenti mengalir dari netra indahnya. Bahkan matanya sudah terlihat sembab.


"Raja, Yah. Raja ... Raja sudah berjanji akan kembali untuk Eri," ucap Valerie sambil menangis sesenggukkan. "Raja gak mungkin ingkar janji, Yah. Dia bukan pria yang suka ingkar janji, dia ...."


"Kamu yang sabar, Nak. Ikhlaskan Raja," ujar Laksmono sambil mengusap rambut panjang Valerie.


"Gak, Yah. Ini gak nyata kan, Yah. Ini hanya prank buat ngerjain Eri, kan. Bilang sama Raja kalau prank-nya


berhasil, Yah. Bilang sama dia kalau Eri sudah tertipu, hahahaha, Eri sudah tertipu yah ...," Valerie terbahak dengan air mata yang masih mengalir, suaranya terdengar memilukan di telinga yang mendengarkannya. "Suruh dia buruan balik, Yah. Suruh dia pulang, suruh dia kembali ke sini!"  teriak Valerie histeris, membuat air mata Laksmono tidak tertahan lagi. Dari tadi pria itu berusaha bersikap tegar, agar putrinya tidak larut dalam kesedihan.

__ADS_1


Namun, ayah mana yang tahan melihat anak gadisnya dalam keadaan sefrustasi ini.


"Besok Raja akan kembali ke sini, Sayang. Permintaan terakhirnya, ia ingin disemayamkan di Jakarta, agar lebih dekat sama kamu."


"Gak mau yah! Eri mau Raja seutuhnya, bu-bukan hanya raganya, bukan hanya jasadnya." Valerie mengusap kasar air matanya. "Eri mau Raja yang bisa selalu menjaga Eri, Raja yang selalu ada untuk Eri! Bilang sama adek kalau semua ini gak nyata, Yah ... bilang, Yah!" Valerie mendongakkan wajahnya, menatap Laksmono dengan pandangan memohon.


"Ikhlasin Raja, Sayang. Kasihan Raja, kalau kamu terus meratapinya seperti ini." Laksmono meraih Valerie dalam dekapannya.


"Baru tadi pagi Raja telepon Eri, Yah. Dia bilang besok bakalan pulang ke sini. Dia menepati janji, besok dia memang akan pulang ke sini. Ta-tapi dia kembali dengan, dengan ...."


Badan Valerie gemetar, Laksmono semakin mempererat pelukannya. Mencoba memberi Valerie kekuatan.


"Tadi waktu Raja telepon, dia minta ke Eribuat ngucapin cinta ke dia. Tapi Eri tidak mengatakannya. Bilang sama Raja sekarang, Yah ... bilang kalau Eri mencintai dia. Pasti dia senang dan kembali sama Eri.


Raja selalu baik sama Eri, dia selalu menjaga Eri. Apapun ia lakukan agar Valerie tersenyum. Apapun dia lakukan untuk kebahagiaan Eri. Tapi, apa yang Eri lakukan ke Raja? Hanya sekedar kata cinta saja tidak bisa Eri kabulkan.


Eri gak tahu kalau itu permintaan terakhir Raja ke Eri. Er-Eri jahat sama Raja, Yah. Eri jahat ...."


"Sssttt, kamu gak jahat, Sayang." Laksmono mengusap-usap punggung Valerie.


"Eri sa-sayang sama Raja, Yah, Eri ...."


"Apa yang terjadi, Om?" tanya Gaung pada Garindra. Sejak mendapat kabar duka itu, Garindra setia menemani sang sahabat, Laksmono.


"Tadi omanya Eri telepon, beliau memberi kabar kalau Rajawali gugur dalam tugas. Raja meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit dengan enam peluru yang bersarang di tubuhnya. Waktu mendapat kabar itu, Eri sempat pingsan."


"Firasat gue," gumam Bagus.


"Begitu dia tersadar, dia tidak berhenti menangis dan menyalahkan diri sendiri. Kasihan Eri, sebentar lagi dia akan menikah dengan Raja. Tapi sekarang malah kabar duka yang didengarnya." Garindra ikut sedih melihat gadis yang sudah dianggapnya seperti anaknya sendiri terpuruk seperti itu. "Om sudah ngasih kabar ke Elang, besok dia pulang. Dia yang menerbangkan pesawat yang membawa jenasah Rajawali."


"Eri!" teriak Laksmono melihat Valerie yang kembali tidak sadarkan diri.


Gaung dan yang lain ikut masuk ke dalam kamar Valerie, membantu Laksmono mencarikan kotak P3K dan mengangkat tubuh Valerie ke atas ranjang.


Kelima pria itu memandang Valerie iba. Lagi-lagi gadis itu harus menelan pil pahit karena kehilangan orang yang paling di kasihinya.


Padahal anggota Arakata, Gester, Blue Eagle dan geng lainnya sudah sepakat memakai baju yang sama saat acara pernikahan Valerie dan Rajawali.


Namun, sekarang bukan acara pernikahan yang akan mereka hadiri, melainkan acara pemakaman.

__ADS_1


__ADS_2