
Melupakan rasa dengan cara menjauhi mu. Memang terdengar pengecut, tapi itulah cara ku. Cara ku merelakan mu.
***
"Aduh!" teriak Elang merasakan kaget dan perih di sekitar kakinya.
Cowok itu mengerjapkan matanya, kesadarannya yang berkeliaran di alam mimpi belum kembali seutuhnya dalam raga sang empunya.
"Aww," teriaknya lagi. Cowok itu menghempaskan kakinya. Dilihatnya sang sahabat sekaligus wakilnya di Arakata itu sedang asyik mencabuti bulu kakinya dengan wajah datar.
"Kampret lo, Ga!" Elang melemparkan bantal kearah sahabatnya itu. "Ganggu mimpi indah gue aja lo!"
"Salah sendiri tidur kayak kebo!" Gaung berdiri dan berjalan menuju balkon kamar Elang. "Gue udah panggil-panggil elo dari tadi, tapi gerak aja enggak elonya!"
"Ngapain sih jam segini bertamu? Ganggu aja lo!" umpat Elang sambil melihat jam di atas nakasnya yang menunjukkan pukul satu dini hari. " Elo lewat mana?" tanya Elang, karena tidak mungkin jam segini sahabat tengilnya itu bertamu lewat pintu utama.
"Tuh," Gaung menggerakkan dagunya kearah pintu balkon kamar Elang.
"Ckkk, berbakat jadi spiderman elo emang," decak Elang melihat kelakuan wakilnya itu. "Ngapain lo kesini tengah malam? Mau bolos sekolah elo besok?"
"Gak bisa tidur gue, Lang," jawab Gaung lirih, wajahnya terlihat murung seketika.
"Elah, muka lo kayak orang patah hati, Ga," cibir Elang, tanpa menyadari ekspresi serius cowok yang sekarang duduk di pagar pembatas balkon kamarnya.
"Emang," sahut Gaung lemah.
"Woah, cewek pemberani mana yang sanggup matahin hati seorang Gaung Armando? Sang wakil Arakata yang terkenal dingin sama cewek manapun." Elang bangkit dari ranjangnya, berjalan menghampiri sahabatnya itu.
"Tetangga lo," Gaung mengarahkan pandangannya pada sebuah rumah yang berada di seberang rumah Elang.
Badan Elang menegang seketika, otaknya seakan membeku. Ternyata tebakannya selama ini benar, sang wakil menyimpan perasaan pada panglima perangnya. Entah kenapa ada rasa sakit di relung hatinya, seperti perasaan tidak rela.
"Tadi gue nyatain perasaan gue ke Eri, Lang," lanjut Gaung, terlihat jelas ada gurat kecewa
dalam bola matanya. "Dan dia nolak gue."
"Elo suka sama Eri, Ga?"
Gaung menganggukkan kepalanya. Matanya menerawang melihat balkon kamar di seberangnya, dimana gadis pujaannya berada.
__ADS_1
"Eri gadis yang kuat, pemberani, lucu, beda sama cewek-cewek yang gue kenal selama ini. Awalnya gue berpikir kalau perasaan gue ini hanya sekedar rasa kagum," ucap Gaung, kedua sudut bibirnya tertarik mengingat gadis manis itu. "Tapi, semakin kesini, gue ngerasa semakin tergantung dengan keberadaannya. Sehari saja gak ketemu sama tuh bocah, bisa bikin gue uring-uringan sendiri. Hanya melihat senyumnya aja udah bisa buat gue semangat. Tapi, setiap melihat dia dideketin cowok lain, bikin gue gerah. Lo tau sendiri, fans-nya Valerie bejibun gitu. Rasanya pengen gue jitak satu-satu."
Deggggg
Elang diam seketika, sebab semua perasaan yang dijabarkan Gaung tersebut juga tengah ia rasakan. Apa memang selama ini ia juga menyimpan rasa pada sahabatnya itu?
Tapi jika benar, apa ia harus bersaing dengan sahabat yang berada di sebelahnya ini?
Tidak.....
Ia tidak mau merusak persahabatannya. Ikatan persahabatannya lebih penting dari perasaannya.
Jika benar ia mencintai Valerie, ia harus menghapus perasaan itu secepatnya. Mengubur rasa itu sedalam-dalamnya.
"Eri suka sama orang lain," lanjut Gaung, "tapi yang bikin gue tambah kesel, tuh cowok gak peka. Dia gak pernah sadar sama perasaannya sendiri. Kalau Eri udah diambil orang lain, baru tau rasa tuh cowok." Gaung melirik Elang,
tersenyum miring penuh arti.
Elang hanya terdiam, sibuk dengan pikirannya sendiri. Pikiran yang ia terka-terka sendiri.
***
"Assallamu'alaikum," salam Valerie, begitu ia sampai di halaman rumah Elang.
"Eh, ada Gaung juga," ujar Valerie yang melihat sahabat yang telah ia patahkan hatinya itu.
Gaung tersenyum melihat gadis pujaannya itu. "Semalem gue nginep di rumah Elang, Er."
Valerie menganggukkan kepalanya mengerti.
"Elo berangkat bareng Gaung, Er ...," ucap Elang sambil menghidupkan mesin motornya. "Gue mau jemput Lia dulu, gue duluan." Elang melajukan motornya, membuat Valerie terdiam.
Bukannya semalam Elang bilang kalau berangkat dan pulang sekolah, Valerie harus bareng sama dia. Tapi sekarang, dengan entengnya cowok tampan itu bilang kalau Valerie berangkat dengan Gaung.
"Ayo Er, entar keburu telat," ucap Gaung, menyadarkan Valerie dari lamunannya.
"Gak telat kok, masih lancar datang bulan gue," sahut Valerie asal sambil duduk di boncengan motor Gaung.
"Ambigu," kekeh Gaung, cowok itu mengetok pelan helm yang dipakai gadis itu.
__ADS_1
***
"Stop! Konsentrasi dong, Er. Dari tadi salah mulu," bentak Elang pada Valerie.
Setelah pulang sekolah, mereka melakukan latihan di rumah Elang. Melodi Arakata akan menjadi salah satu penampil dalam acara amal dan ulang tahun Arakata minggu depan.
Dan dari tadi entah kenapa, Elang selalu tidak puas dengan apapun yang dilakukan Valerie. Padahal gadis itu sudah melakukan yang terbaik seperti biasanya. Tapi menurut Elang, yang dilakukan Valerie masih banyak kesalahan.
"Elo kenapa sih Lang? Perasaan dari tadi ngomel mulu sama Eri," protes Bagus yang merasa kasihan melihat Valerie dibentak terus oleh Elang. "Gue rasa gak ada yang salah sama Eri. Dari tadi dia pas nada terus kok, gak fals sama sekali.
"He'em, Lang. Heran gue sama elo," sahut Gandi ikut menimpali, "gak biasanya elo bentak-bentak Erie."
"Kalau dimanja terus, gak bakal bisa belajar dia," ujar Elang dengan nada yang tinggi.
"Maaf." Hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Valerie. Dia sendiri pun bingung, kenapa semenjak pagi tadi Elang bersikap ketus padanya. Padahal semalam sikap cowok itu masih lembut seperti biasanya.
"Udahlah, latihan hari ini sampai disini dulu. Besok kita lanjut lagi, gue mau keluar dulu," ujar Elang sambil keluar dari studio musik pribadi di rumahnya.
"Salah gue apa sih?" lirih Valerie, kepalanya tertunduk lesu.
Gaung mengusap kepala Valerie, tidak tega melihat raut sedih gadis itu. "Udah gak usah dipikirin, Er. Paling entar tuh makhluk gak jelas balik lagi sikapnya."
Gandi dan Bagus mengangguk, setuju dengan perkataan Gaung.
"Kita beli ice cream aja yuk, biar Gaung yang traktir. Dia ulang tahun," celetuk Gandi.
"Kemarin elo minta traktiran, juga bilangnya gue ulang tahun. Cepet tua gue, ulang tahun tiap hari. Anak sultan kok demennya gratisan," gerutu Gaung.
"Jangankan anak sultan, anak raja sekalipun pasti seneng sama yang namanya gratisan. Kan ada pepatah seenak-enaknya makanan, paling enak yang gratisan."
"Pepatahnya siapa itu, Gan?" tanya Bagus penasaran.
"Gue lah," jawab Gandi menepuk dada bidangnya.
"Gak jelas lo, Gan. Hahaha ..." tawa Valerie sambil memukul pelan lengan Gandi. Ketiga cowok itu merasa lega melihat Vaĺerie yang akhirnya bisa tersenyum. Walaupun harus dibayar dengan tingkah konyol mereka, tidak masalah. Yang terpenting, gadis kesayangan mereka tidak lagi bersedih.
Dan terkhusus untuk Elang. Jangan harap setelah ini cowok itu bisa lolos dari interogasi Gandi, Gaung, dan Bagus.
Karena tidak ada yang boleh menyakiti sang panglima perang, walaupun itu ketua mereka sendiri.
__ADS_1