
Sekarang, sosok mu tak terlihat lagi dari pandangan kami. Namun, kebaikan mu akan kami kenang, sampai kita bertemu lagi dalam alam yang kekal.
***
Acara amal dan perayaan ulang tahun Arakata ke tiga puluh dua berlangsung meriah. Walau tadi sempat terjadi insiden vocallis yang terganti. Namun, setelah Valerie naik ke atas panggung, keadaan kembali menjadi kondusif.
Malam semakin larut, dan acara semakin menuju puncaknya. Sekarang saatnya sang pendiri Arakata memotong kue dan memberikan wejangannya untuk Arakata generasi muda.
"Sebelum saya memotong kue ini." Laksmono menaruh kue yang diberikan oleh Virsa ke meja kecil sebelahnya. "Saya ingin mengucapkan terimakasih kepada sahabat saya yang menjadi alasan didirikannya Arakata. Mungkin sebagian dari kalian tahu siapa yang saya maksut." Laksmono menatap semua hadirin sambil tersenyum.
"Beliau adalah Teguh Panggalih, seorang sahabat yang sudah kami anggap sebagai saudara. Beliau adalah korban bullying dari ayah dan saudara tirinya sendiri. Hal itu berlangsung selama satu tahun, dan kami sebagai sahabat tidak tahu mengenai hal itu. Kami merasa gagal sebagai sahabat, karena tidak tahu penderitaan sahabat kami sendiri selama satu tahun.
Teguh adalah sosok lelaki yang kuat, tak pernah mengeluh. Sampai suatu saat, kami tahu tentang penderitaannya. Namun, semuanya telah terlambat," ucap Laksmono lirih. Kembali ia mengingat akan penderitaan sahabatnya itu.
"Tubuhnya sudah tidak lagi kuat menahan siksaan-siksaan itu lagi. Dan perjuangannya telah berhenti sampai di situ. Teguh meninggal sesaat setelah dibawa ke rumah sakit. Kami belum siap kehilangan Teguh saat itu. Tapi akhirnya kami ikhlas, Teguh tidak perlu lagi merasakan sakit akibat perlakuan ayah dan saudara tirinya. Dan itu pasti yang terbaik untuk sahabat kami."
"Karena kejadian tersebut, kami mendirikan Arakata. Kami ingin menjadi wadah bagi siapapun orang yang butuh perlindungan. Agar tidak ada lagi yang merasa terancam jika mendapat perundungan. Bukannya kami tidak percaya dengan cara tindak aparat hukum. Kami hanya ingin membantu, kami juga sudah meminta ijin dari aparat yang berwenang. Jadi, tidak ada yang perlu khawatir jika ingin bergabung dengan Arakata. Asal ...." Laksmono menaikkan jari telunjuknya di depan pandangannya seperti memperingatkan.
"Jangan sampai ada yang melakukan tindakan melawan hukum mengatas namakan Arakata. Jika sampai terjadi, tidak akan ada ampun buat kalian. Kami hanya ingin tidak ada korban lagi karena ketidakadilan."
"Anggap Arakata sebagai keluarga. Keluarga yang ada disaat kita susah maupun senang. Jadi, jangan sampai ada kesenjangan dalam keluarga Arakata. Karena kita semua sama, dan mempunyai tujuan yang sama. Yaitu menjadi Arakata, yang berarti pelindung." Laksmono tersenyum dan memandang sekitar, yang ditanggapi dengan riuh sorakan bangga dan tepuk tangan.
"Love you Laks," teriak Garindra heboh sambil bersiul. "Calon besan gue tuh."
__ADS_1
Afghi melirik Garindra dengan tatapan sengit. Dia tidak terima jika gadis manis, penurut, dan pintar seperti Valerie harus menjadi menantu lelaki tengil seperti Garindra.
"Nyokap elo tahu kelakuan bokap lo yang begituan, Lang?" tanya Gandi sambil terkekeh geli melihat pribadi Garindra yang berbeda dari biasanya. Biasanya, Garindra selalu bersikap tegas dan berwibawa. Tapi sekarang ....
"Elo akan ngerasa lebih jijik ngelihat kelakuan alay bokap gue jika hanya berduaan sama nyokap." Elang memijit pelipisnya, pening melihat tingkah ayahnya yang berasa masih ABG.
Laksmono memotong kue berbalut cokelat dan bertuliskan Arakata dengan sepasang sayap di
belakangnya. Laksmono meletakkan potongan kue itu ke piring kecil dan membawanya pada seorang wanita berusia tujuh puluh tahunan. Wanita itu duduk di kursi roda. Walau usianya sudah lanjut, senyum tidak pernah
luntur dari tubuh wanita tegar itu.
"Ibu, potongan kue pertama ini untuk ibu." Laksmono mensejajarkan badannya dihadapan ibu sahabatnya itu. Pria itu meletakkan kue di pangkuan Mala. "Ini sebagai ucapan terimakasih kami, karena ibu sudah melahirkan seorang anak sehebat Teguh. Seorang sahabat sekaligus saudara yang selalu ada disaat kami membutuhkan. Terimakasih, Bu."
"Kita juga mau dipeluk dong, Bu,," ucap Garindra sambil ikut berpelukan disusul oleh Afghi dan Alif.
"Terimakasih Teguh. Sudah memiliki sahabat-sahabat yang baik," lirih Mala yang masih bisa didengar Laksmono dan yang lainnya.
"Ikutan pelukan dong, Om!" teriak Bagus sambil berlari ke arah Laksmono dan yang lainnya berada.
"No!" cegah Afghi, "saya merinding kalau dipeluk kamu. Saya pantang di peluk yang kekar-kekar. Valerie sini sayang, om peluk." Afghi melambaikan tangannya ke arah Valerie, menyuruh gadis itu mendekat.
"Eh bangsul!!" Garindra menggeplak lengan Afghi cukup keras, membuat pria itu meringis nyeri. "Mau elo apain calon mantu gue."
__ADS_1
"Ngaku-ngaku lo, Valerie itu calon mantu gue," protes Afghi tak mau kalah.
"Ehm," dehem Laksmono yang membuat semua mata menatapnya. "Yang kalian rebutkan itu anak saya.
Kayak saya mau aja besanan sama dua pria absurd kayak kalian."
Skakmat
Perkataan Laksmono membuat Garindra dan Afghi diam seketika. Tapi berbanding terbalik dengan Alif dan yang lainnya. Mereka terbahak, puas melihat dua pria itu mati kutu.
"Kicep kan lo, kicep, huahaha ...." Alif mendapat tatapan tajam dari dua sahabatnya yang terobsesi menjadi mertua Valerie.
"Laku bener elo, Er," ujar Gandi, "milih Elang apa Bang Armando. Kalau saran gue sih mendingan elo milih Bang Armando yang udah punya bisnis sendiri. Daripada Elang yang belum jelas mau jadi apa kedepannya. Eh, Kok tiba-tiba gue merinding ya." Gandi mengusap-usap lengannya. Kemudian pria itu melihat ke belakang, dan melihat empat pasang mata yang menatapnya tajam. "Eh, ternyata masih ada calon lainnya yang harus elo pilih, Er." Gandi menelan salivanya melihat tatapan sengit dari Elang, Gaung, Tama dan Lukman.
Valerie hanya tersenyum menanggapinya. Walau dia tidak paham dengan apa yang terjadi.
"Wah, calon mantu lo bejibun, Laks. Pesona Valerie istimewa ini," ucap Alif sambil menepuk pundak Laksmono. "Kalau disuruh baris bisa ampe ber sap-sap Laks, hahaha. Kayaknya elo harus nentuin kriteria buat calon mantu elo, Laks."
"Kriteria gue sih gak muluk-muluk," jawab Laksmono, "yang bisa ngalahin gue, Bayu, dan Valerie bertarung, langsung gue kasih restu." Jawaban itu membuat semuanya melongo.
"Mamposss, mundur teratur kan lo semua, hahaha ...." Bagus bertepuk tangan bahagia. Membuat Elang, Gaung, Lukman, Armando, dan Tama menelan salivanya susah payah.
Perjuangan yang tidak main-main ini, kata-kata itu yang ada di pikiran kelima pemuda itu.
__ADS_1