
Tujuh jam perjalanan telah berlalu, mereka telah sampai di bandara Gimhae, kota Busan, Korea Selatan.
"Eri ... bangun, Sayang. Kita sudah sampai," ujar Elang sambil membelai rambut Valerie untuk membangunkan gadis itu.
Sepanjang perjalanan, Valerie tertidur di lengan Elang. Gadis itu enggan membuka mata untuk melihat pemandangan di luar jendela. Elang memakluminya.
Bahkan ia tidak tahu kemana tujuan perjalanan mereka. Mungkin gadis itu akan terkejut setelah membuka mata sepenuhnya.
"Eghhh," erang Valerie sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Kita sudah sampai di bandara, Sayang. Ayo." Elang menuntun Valerie turun dari pesawat.
Seperti yang diduga, gadis itu langsung membelalakkan mata begitu tahu berada di mana ia sekarang.
"Ini kan," gumam Valerie sambil memperhatikan sekeliling.
"Iya, Sayang," sahut Elang, " welcome to Ginhae International Airport, Sayang."
"Kita di Busan?" tanya Valerie masih tidak percaya dengan pandangannya.
"Betul ... ayo. Yang lain sudah nunggu di bus," ujar Elang sambil menuntun gadisnya keluar dari bandara.
"Mau kemana?"
"Jinhae, ini awal April, saatnya festival cherry blossom."
"Kamu juga tahu begituan, Lang," tanya Valerie.
"Tanya mbah google, Er. Hehe ...," jawab Elang cengengesan sambil menggaruk tengkuknya.
Valerie tersenyum mendengar jawaban jujur kekasihnya.
"Kita kayak bulan madu ya," celetuk Valerie sambil naik ke bus.
"Mana ada bulan madu yang ikut sekampung gitu," Elang menunjuk seisi bus dengan dagunya.
"Elo berdua lama, ngapain aja sih. Pusing kepala gue," dumel Bagus yang wajahnya terlihat pucat. Pria itu mutah-mutah sepanjang perjalanan, ternyata ia mabuk udara.
"Gaya lo koar-koar paling kenceng sebelum pesawat lepas landas, ternyata keok juga. Mending gue, gak pakai acara hueekk segala," ujar Valerie sambil memperagakan Bagus ketika mutah tadi.
Bagus hanya berdecak, tidak mau menanggapi lebih lanjut perkataan Valerie. Kepalanya masih terasa pusing.
"Sini sama tante aja, Leo. Papi kamu lagi butuh dipijit mami," ujar Valerie sambil mengambil alih anak Bagus dari gendongan istrinya.
"Teman yang peka elo, Er," ujar Bagus sambil mengacungkan empat jempolnya, termasuk jempol kakinya.
"Heleh," dumel Valerie sambil mencari kursi yang masih kosong.
Satu jam sudah berlalu, mereka sudah sampai di Jinhae, provinsi Gyeongsangnam-do.
Elang sudah memesan beberapa kamar hotel di sana.
"Untuk hari ini, kita istirahat saja di kamar masing-masing. Besok, baru kita jalan-jalan. Kebetulan ini bulan April, akan ada banyak festival dan acara di sini," ujar Elang begitu mereka sampai di loby hotel.
"Satu kamar sama gue, Er," ujar Roxy sambil menempel pada Valerie.
"Enak aja, Lo!" sahut Elang cepat, "Eri satu kamar sama Virsa, Nita dan Eli."
"Lha gue satu kamar sama siapa, dong?" tanya Roxy sok memelas.
"Elo satu kamar sama temen-temen jomblo lo, ada Andi, Choky, satu lagi noh. Ketua Arakata baru," tunjuk Elang pada Gema.
"Yang lamarannya diterima Eri sombong, padahal lamarannya hasil maksa," gumam Roxy.
"Itu strategi, otak gue pinter ...," sahut Elang tidak mau kalah.
"Itu licik, akal bulus lo ...," sewot Roxy, Elang hanya terkekeh mendengarnya. "Elo sekamar sama siapa?"
"Robert, Gaung, sama Gandi ...," jawab Elang enteng.
"Anjir, otak kancil bener lo," ujar Roxy heboh, "elo milih satu kamar sama pria-pria normal. Lha gue, yang satu bentukannya kayak gembong narkoba," ujar Roxy sambil melirik Choky. "Yang dua modelan terong-terongan minta dicabein gitu!" Roxy menunjuk Gema yang duduk di koper dan Andi mendorongnya kesana-kemari.
__ADS_1
"Elo ngatain gue gembong narkoba?" tanya Choky sambil menatap tajam pada Roxy. "Posisi gue sebagai ketua di Rajawali memang sudah diganti. Tapi, gue masih inget gimana caranya bikin muka mantan wakil gue jadi babak belur."
"Lari!" teriak Roxy sambil berlari dengan Choky yang mengejarnya sambil ngedumel.
"Udah tua kelakuan masih bocah," celetuk Gandi.
"Elo juga sama," jawab Elang, Robert, dan Gaung bersamaan.
***
Tepat pukul sembilan pagi, mereka berkumpul di loby hotel. Mereka akan mulai berpetualang di negara Korea Selatan ini.
Mereka berjalan kaki menuju Stasiun Gyeonghwa. Stasiun ini hanya beroperasi saat festival berlangsung.
Kereta berjalan melalui terowongan cherry blossom sepanjang delapan ratus meter. Dengan pemandangan pohon sakura di sekitarnya.
"Gue janji, kalau sampai gue dapat cewek. Bakalan gue ajak dia liburan ke sini," ujar Choky penuh semangat.
"Makanya banyak senyum, biar ada cewek yang mau nempel sama lo!" ujar Roxy, "jangan pasang muka lempeng terus kayak tombak perang. Lihat muka lo, udah kayak mau uji nyali tahu gak! Cewek yang betah dekat sama lo itu cuma Eri doang."
"Situ udah punya cewek?" tanya Choky.
"Belum," jawab Roxy.
"Kalau gitu diem! Jangan sok ceramahin gue, itu sama aja maling teriak maling!" ujar Choky santai, membuat Roxy langsung terdiam.
"Untung gue dulu gak gabung sama Rajawali," ujar Bagus, "kalau ikut, nasib gue bisa kayak ketua dan wakilnya yang sampai sekarang masih jadi jomblo ngenes."
Perkataan Bagus itu sukses mendapat tatapan tajam dari Roxy dan Choky.
Setelah puas berkeliling dengan kereta, mereka melanjutkan acara jalan-jalan dengan melihat berbagai parade dan atraksi di sana.
"Lihat, bagus banget," ujar Virsa sambil menunjukkan jarinya ke langit.
Semua mata tertuju ke langit, ketika delapan pesawat melakukan manuver dan formasi yang luar biasa secara bersamaan. Pertunjukan udara Black Eagles dilakukan oleh tim penerbangan Angkatan Udara Republik Korea.
Pawai ini ditujukan untuk menghidupkan kembali pawai kemenangan yang dilakukan oleh Laksamana Yi Sun-Sin dan pasukannya, setelah memenangkan pertempuran di perang Imjin pada tahun 1592-1598.
Parade ini juga ditujukan agar para pengunjung dapat melihat sekilas sejarah negara Korea.
Setelah puas melihat pertunjukan dan parade, mereka berburu kuliner di stand-stand yang telah disediakan.
Mereka yang muda-muda berpencar berburu kuliner, setelah itu mereka kumpulkan menjadi satu. Persis seperti acara piknik keluarga, tepatnya piknik keluarga besar. Mereka berburu berbagai macam kuliner khas Negara Korea.
Yang pertama adalah bingsu. Bingsu adalah es serut khas Korea Selatan yang terkenal dengan porsinya yang besar, serta toppingnya yang beragam.
Yang kedua adalah Pajeon atau pancake daun bawang. Bahan utama makanan ini adalah tepung, potongan daun bawang, dan telur. Biasanya diberikan pelengkap seperti udang atau cumi-cumi.
Berikutnya adalah Tteokpokki, kalau jajanan kaki lima ini sudah biasa ditemukan di negara Indonesia. Namun,
tentu saja cita rasa original dan otentik akan bisa didapatkan ketika kita menikmatinya di negara Korea.
Selanjutnya gyeran-ppang, adalah roti telur yang sangat disukai oleh banyak turis yang berkunjung ke Korea Selatan. Sesuai dengan namanya, Gyeran-ppang tentunya dibuat dari bahan-bahan yang halal, yakni telur dan roti.
Yang terakhir adalah bungeoppang, roti yang berbentuk ikan dan memiliki isi pasta kacang merah yang legit. Memiliki sensasi garing di luar, namun lembut di dalam.
"Kenyang," ucap Valerie sambil menepuk-nepuk perutnya. Elang membersihkan ujung mulut Valerie yang belepot dengan tisu.
"Jelas kenyang, Dek. Semua makanan masuk di perut elo," celetuk Gerry.
"Udah lama gak makan yang beginian, Bang. Hehehe," jawab gadis itu sambil cengengesan.
"Dulu waktu di Korea, kamu sering makan jajanan gini, Dek?" tanya Bayu yang ikut penasaran.
"Gak sering sih, Bang. Sekali waktu aja kalau lagi jalan bareng Raja sama Hans."
"Ehem, langsung ada yang panas ...," celetuk Andi yang langsung dihadiahi tatapan tajam dari Elang.
"Panas luar dalam ini, mah ...," tambah Reyhan. Kalau yang ini Elang tidak berani melotot, takut tidak jadi direstui menjadi adik ipar.
__ADS_1
"Sini, Bang, Adek bantu tiup, biar agak adem," celetuk Bagus, yang terdengar menjijikkan di telinga yang mendengarkan. Untung saja sang istri sudah paham dengan sifatnya.
"Gue tabok ya mulut, Lo!" jawab Elang cepat, sambil mengangkat kamera yang dipegangnya.
"Kenapa mulut gue terus sih yang jadi sasaran. Perasaan dari tadi yang ngomong bukan cuma gue!" protes Bagus tidak terima.
"Tapi gue pengennya nabok elo, bukan yang lain," jawab Elang tajam sambil mendekat ke arah Bagus. Pria itu langsung bersembunyi di balik tubuh sang istri yang jauh lebih mungil darinya.
"Beraninya sembunyi di ketek istri lo!" ucap Elang sambil berusaha meraih badan Bagus.
"Sekarang elo bisa ngatain gue," jawab Bagus, "besok setelah elo nikah, elo bakal tahu betapa syahdunya ketek seorang istri."
"Ambigu," celetuk Elang sambil berlalu pergi sambil menggandeng tangan Valerie.
***
Hari semakin larut, waktupun sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Bagi para orang tua, mereka sudah kembali ke hotel. Berbeda dengan para jiwa-jiwa muda, mereka masih setia menjelajahi indahnya pemandangan malam di Jinhae.
Seperti apa yang dilakukan Valerie dan Elang. Saat ini mereka berada di Bukit Anmingogae. Mereka menikmati keindahan pemandangan malam yang disuguhkan negara Korea Selatan.
"Aku tidak menyangka bisa kembali kesini lagi. Setelah oma meninggal, aku tidak berpikir untuk menginjakkan kaki lagi di tempat ini," ujar Valerie. Gadis itu berdiri di pagar pembatas, dengan Elang yang memeluk tubuhnya dari
belakang.
"Aku hanya ingin tahu, bagaimana tempat yang telah menjadi penyembuh lukamu karena ulahku sepuluh tahun yang lalu." Elang mengecup puncak kepala Valerie.
"Negara ini mempunyai banyak kenangan bagiku, Lang," sahut Valerie, "di negara ini, aku belajar bagaimana hidup jauh dari ayah dan abang-abangku. Di negara ini, aku belajar melupakanmu, cinta pertamaku. Walau hal itu tidak pernah bisa aku lakukan. Di negara ini, aku belajar berbagi walau dengan bahasa dan tradisi yang berbeda. Di negara ini pun aku bertemu dengan Raja, pria baik yang selalu pasang badan jika aku ada dalam bahaya. Dan di negara ini pula aku kehilangan pria itu, teman sekaligus kekasihku." Air mata Valerie menetes, begitu mengenang sosok Rajawali.
"Aku sempat mencintainya, Lang," jujur Valerie sambil membalikkan badannya, memandang sang kekasih.
Elang tersenyum mendengar pengakuan Valerie.
"Aku tahu," jawab Elang, "itu sesuatu hal yang wajar, Sayang." Elang mengusap rambut Valerie.
"Kamu tahu?" tanya Valerie, Elang mengangguk sebagai jawabannya. "Dan tidak marah padaku karena telah menduakanmu?"
Elang terkekeh mendengar apa yang dikatakan kekasihnya itu.
"Bagaimana aku bisa marah? Saat itu kamu memang miliknya, Er. Kamu tunangannya, jadi wajar jika kamu mencintainya. Raja pria yang baik, bahkan setelah ia pergi ... ia masih memikirkan keselamatan dan kebahagiaanmu. Tanpa bantuannya, aku tidak bisa menyelamatkanmu dari Hans."
Air mata Valerie semakin deras mengalir, Rajawali memang selalu memikirkannya.
"Namun, yakinlah jika perasaanku juga tidak main-main padamu. Aku juga menginginkan kebahagianmu. Maaf, jika terkadang aku menyakitimu. Semua itu hanya karena ketidak tahuanku tentang cara membuatmu bahagia." Elang meraih tubuh Valerie dalam pelukannya.
"Jadi, tetaplah bersamaku, dalam bahagia maupun duka, dalam suka maupun marah. Tetaplah bersabar denganku, aku akan terus berusaha dan belajar untuk membahagiakanmu setiap waktu."
Valerie mengangguk dalam pelukan Elang. Gadis itu sangat bersyukur atas kebahagiaan berlimpah yang telah ia dapatkan.
Gubrakkk!
Valerie dan Elang menengok bersamaan ke belakang. Di sana terlihat empat orang pria yang terjatuh dari pohon sakura secara tidak elegant.
Roxi, Choky, Andi, dan Gema. Keempat pria jomblo itu meringis sambil saling menyalahkan satu dengan yang lainnya.
"Elo sih, Bang. Banyak gerak!" gerutu Gema menyalahkan Choky. "Badan gede gak nyadar."
"Mulut lo, ya," jawab Choky dengan tidak santai. "Gak nyadar kalau badan elo juga segede Gaban!"
"Padahal bentar lagi adegan sosor-menyosor ini," ujar Andi sok kecewa.
"Buruan minggir elo bertiga!" teriak Roxy, pria itu berada di bawah sendiri dengan ditindih tiga pria bertubuh kekar. Roxy mendorong ketiga pria itu hingga kejengkang.
"Ngapain elo berempat berceceran di tanah begitu?" tanya Elang dengan tatapan mautnya.
"Ngintip," jawab mereka bersamaan sambil cengengesan.
__ADS_1