Arakata

Arakata
Tak Terganti


__ADS_3

Tidak terasa hari sudah menjelang sore. Setelah mengantar Rajawali ke tempat peristirahatan terakhirnya, Valerie mengurung diri di kamar. Padahal di luar, teman-temannya sedang menunggu dirinya.


Jangan tanya berapa banyak orang yang ikut melayat. Bayangkan saja berapa banyak pemuda yang menonton acara konser musik, sebanyak itulah teman Valerie yang melayat.


Gadis itu membuka kotak yang dititipkan Rajawali kepada oma Valerie sebelum pria itu meninggal.


Kotak berwarna pastel itu berisi figura foto, buku tabungan, sepasang cincin, dan sepucuk surat. Valerie mengambil figura yang terpasang fotonya bersama Rajawali.


"Baru saja aku mengantar kepergianmu, aku sudah merasa rindu." Valerie mengusap foto Rajawali. "Apa ini hukuman darimu, karena aku tidak menjawab pertanyaan mu kemarin di telepon? Jika iya, hukuman darimu sungguh kejam." Valerie mengusap air matanya yang lagi-lagi menetes.


Diambilnya sebuah kotak kecil dan dibukanya. Kotak itu berisi sepasang cincin.


Valerie mengambil sepasang cincin itu. Gadis itu tersenyum, sepasang cincin itu seharusnya menjadi cincin pernikahan mereka. Rajawali yang mendesain sendiri cincin itu.


"Wanita istimewa harus mendapatkan cincin yang istimewa." Jawaban itu yang dikatakan Rajawali saat Valerie menanyakan kenapa harusĀ  Rajawali sendiri yang mendesain cincin pernikahan mereka.


Terakhir, ia membuka sepucuk surat yang di tulis Rajawali untuknya.


Assalamua'laikum, Sayang,


Jika kamu telah menerima dan membaca surat ini, berarti aku sudah tidak bisa lagi menjaga mu. Maafkan aku untuk itu ....


Sayank,


Apakah kamu masih ingat ceritaku tentang mimpi yang menggangguku beberapa minggu ini? Mimpi yang membuat aku ketakutan. Akhirnya aku paham arti mimpi itu.


Aku ikhlas jika takdir ku untuk mendampingi mu hanya sampai di sini. Tapi, cinta ku akan selalu bersama mu.


Aku menulis surat ini bukan untuk mendahului takdir Tuhan. Aku hanya takut jika tidak bisa meninggalkan pesan, jika aku benar-benar pergi.


Setelah kepergian nenek, hanya kamu yang aku miliki. Aku sudah menjual semua aset yang kumiliki. Hasil penjualannya, aku masukkan dalam rekening tabungan. Aku serahkan semuanya ke kamu, aku percaya kamu pasti bisa menggunakannya dengan bijak.


Jaga diri kamu, Sayang. Jangan telat makan, nanti magh kamu kambuh. Jangan lupa pakai jaket jika di tempat yang dingin, kulit kamu ruam jika kedinginan.


Berbahagilah, Sayang.


Jemput cinta sejati mu. Jika ia berani menyakiti hati mu. Bilang padanya kalau seumur hidup aku akan menggentayanginya.


Sayang, bolehkah aku meminta sesuatu yang agak egois?


Jika kamu sudah bersanding dengan orang yang kamu cintai, bolehkah sepasang cincin yang aku desain ini yang akan menjadi pengikat kalian?


Dengan begitu, aku bisa selalu mendampingi kebahagiaan kalian.


Selamat tinggal cinta sejatiku. Aku sudah menepati janji, dengan selalu menjagamu sampai akhir hayatku. Jadi, tepatilah janjimu untuk selalu bahagia.


Love you, Valerie Livia Laksmono.


Valerie terisak sambil memeluk surat dari Rajawali. Betapa beruntungnya ia bisa mengenal dan dicintai pria sebaik Rajawali.


Valerie mengambil buku tabungan yang dimaksut Rajawali dalam suratnya. Buku tabungan itu ternyata di buat atas nama Valerie. Valerie membuka buku tabungan itu dan melihat nominalnya, nominal yang tertera jumlah nya lebih dari dua puluh milyar rupiah.


"Aku pasti akan menggunakannya untuk hal yang bermanfaat. Terimakasih Rajawali, terimakasih untuk empat tahun yang berarti. Aku sayang kamu," ucap Valerie sambil memeluk fotonya bersama Rajawali.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Valerie sedang berkumpul bersama keluarga dan teman-temannya setelah mengadakan tahlilan untuk Rajawali.


"Ehm, teman-teman semua, boleh gue meminta waktunya sebentar?" tanya Valerie pada keluarga dan teman-temannya yang berjumlah kurang lebih empat puluh orang itu. "Gue mendapat amanah dari Raja berupa tabungannya. Gue berniat ingin menggunakan uang ini untuk membangun panti asuhan. Raja adalah seorang


anak yatim piatu. Jadi, gue rasa dia bakalan setuju jika anak-anak yang bernasib sama dengannya bisa mendapat tempat tinggal dan pendidikan yang layak. Gue gak mungkin bisa mewujudkan hal ini jika sendirian. Jadi, gue mau minta bantuan dari kalian semua. Bantu dampingi gue sampai keinginan Raja ini bisa terwujud."


Tanpa banyak berpikir, sudah pasti semua yang ada di sana mengangguk setuju.


"Tenang aja, Er. Kita bakalan bantu elo, kok," jawab Bagus, "apalagi yang akan lo lakuin ini merupakan hal mulia. Bakal kita dukung sampai akhir, ya gak brow?" tanya Bagus pada teman-temannya.


"So pasti," jawab mereka serempak.

__ADS_1


"Gue siap bantu konstruksinya, Er," ujar Roxy yang seorang arsitek.


"Kalau masalah perijinan dan ***** bengek yang berhubungan dengan itu, biar papa yang urus," ujar Garindra.


Valerie mengangguk sambil tersenyum. Dia senang karena banyak yang bersedia membantu.


Elang merasa lega melihat Valerie yang mulai bisa tersenyum. Karena seharian ini gadis itu terlihat sangat kacau.


Ia akan menepati janjinya pada Rajawali untuk selalu menjaga Valerie. Sebenarnya walau tanpa diminta Rajawali pun, Elang pasti akan menjaga Valerie. Karena Valerie adalah gadis yang sangat dicintainya.


***


"Sa, seandainya acara resepsi gue dengan Raja yang gagal, diganti acara lain bisa, gak?" tanya Valerie pada Virsa yang merupakan tunangan Gandi. Gadis itu mempunyai bisnis WO, WO-nya yang mengurusi acara Valerie dan Rajawali.


"Nanti bakal gue usahain, Er, Lagian undangan kalian kan belum dibagi. Emang elo mau ganti acara apa?" Sekarang mereka berada di kamar Valerie.


"Gue mau ngadain acara buat anak-anak yatim dan anak jalanan di gedung itu, sekalian kita buat pengajian untuk Raja. Konsep dekor yang awalnya buat resepsi pernikahan,tolong diubah lebih ceria agar anak-anak suka. Maaf kalau permintaan gue bikin elo repot."


"Gak apa-apa, Er. Gue seneng bisa bantu elo. Ehm, untuk tanggal acaranya tetap tanggal acara elo atau?" tanya Virsa dengan ragu-ragu. Takut jika pertanyaannya membuat Valerie bersedih lagi.


"Tanggalnya sesuai tanggal pernikahan gue sama Raja aja. 3 februari, gue gak bakal lupa tanggal itu."


"Sip, berarti dua belas hari lagi, ya? Bakal gue urus sebaik-baiknya. Gue pamit dulu ya Er, Gandi udah jemput."


"Iya, Sa. Gue juga ada urusan di luar." Valerie mengantar Virsa ke luar rumah. "Jangan ngebut-ngebut, Gan. Kasihan tunangan lo."


"Sip Er." Gandi mengacungkan jempolnya. "Gue sama Virsa pamit dulu."


Setelah mobil Gandi hilang dari pandangannya, Valerie masuk ke dalam rumah dan bersiap untukmenemui seseorang. Gadis itu akan berkunjung ke rumah sakit di mana Gaung bekerja, Rumah sakit khusus penyakit jantung. Valerie membawa banyak kue yang dibuatnya sendiri, kue itu akan ia bagikan untuk pasien anak-anak di sana. Begitu selesai bersiap Valerie mengendarai mobilnya menuju rumah sakit.


Betapa kagetnya Gaung melihat gadis cantik yang berdiri di hadapannya itu. Memang tadi Valerie menghubungi Gaung dan menanyakan keberadaan pria itu. Namun, Valerie tidak mengatakan kalau ia akan berkunjung ke sana.


"Eri?" Gaung melongo tidak percaya dengan kehadiran sahabat yang dicintainya itu.


"Ehm, gue mau jenguk pasien lo yang anak-anak boleh? Gue mau bagiin kue."


Gaung membawa Valerie menuju ruangan yang dikhususkan untuk tempat bermain pasien anak-anak di sana.


Valerie melihat kepolosan anak-anak itu ketika bermain. Kebahagiaan tetap menemani senyum mereka, walau dengan wajah yang terlihat pucat.


Jarum infus yang menembus kulit, tidak menyurutkan semangat mereka untuk bermain.


"Hallo, anak-anak," sapa Gaung pada anak-anak yang ada di sana.


"Hallo pak dokter," jawab mereka serempak.


"Ini ada kakak cantik yang mau bertemu dengan kalian. Namanya Kak Eri,,"


"Hallo Kak Eri," sapa anak-anak itu bersamaan.


"Hallo adik-adik," jawab Valerie sambil melambaikan tangan. "Kak Eri bawa kue buat kalian, kalian suka kue?"


"Suka ...."


"Hehehe, kak Eri bagi kuenya, ya."


Anak-anak itu mengangguk antusias. Valerie membagikan kue itu dibantu Gaung dan suster-suster di sana.


"Kuenya enak, Kak," puji seorang anak yang berusia sekita lima tahun. "Kak Eri beli di mana?"


"Kak Eri buat sendiri kuenya, Sayang," jawab Valerie, gadis itu berlutut untuk menyamakan tingginya dengan si anak yang memakai kirsi roda.


"Wah ...," Mata anak itu berbinar kagum. "Besok aku ulang tahun, kak Eri bisa buatin aku kue ulang tahun?"


"Tentu bisa, Sayang." Valerie membelai pipi tembam anak itu. "Nama kamu siapa?"


"Rajawali, Kak. Panggil Ali aja, Kak," jawab anak itu.

__ADS_1


Deg!


Valerie membeku seketika, mendengar satu nama yang sama dengan pria yang baru saja meninggalkannya. Gaung mengusap pundak Valerie, pria itu tahu apa yang ada di pikiran gadis itu sehingga membuatnya melamun.


Valerie tersadar dari lamunannya, dan menghapus air mata yang menetes tanpa di duganya.


"Kakak kok nangis? Ali nakal, ya?" tanya anak itu, wajahnya terlihat ikut bersedih.


"Enggak kok, Sayang," jawab Valerie sambil menggelengkan kepalanya. "Besok kak Eri bakal buatin kamu kue ulang tahun, kita makan bersama teman-teman yang lainnya di sini. Setuju?"


"Setuju kak," jawab Rajawali dan semua anak yang ada di sana.


Setelah menjawab itu, mereka melanjutkan kegiatan memakan kuenya dan bermain bersama. Tanpa jenuh, Valerie meladeni satu persatu anak di sana yang ingin digendong dan bermain bersama. Valerie pun sabar menghadapi anak-anak itu yang berebut ingin mengajaknya bermain atau sekedar bercerita.


Sekarang anak-anak itu sedang duduk melingkari Valerie yang sedang membacakan cerita.


"Kalau sudah dewasa, cita-cita Ali mau jadi apa?" tanya Valerie begitu ia selesai membacakan cerita.


"Polisi," jawab Rajawali dengan cepat dan lantang.


Lagi-lagi Valerie dibuat membeku dengan jawaban anak itu.


"Kenapa Ali mau jadi polisi?"


"Biar Ali bisa nangkap penjahat, bisa melindungi orang-orang yang Ali sayang, termasuk Kak Eri." Rajawali mengedipkan sebelah matanya, membuatnya mendapatkan sorakan dari teman-temannya.


Valerie tertawa melihat kepolosan anak-anak di sana. Anak-anak itu sedang diberi cobaan yang berat melalui penyakit yang diderita mereka. Namun, mereka masih bisa bahagia. Jadi, kenapa Valerie harus larut dengan kesedihannya? Bukannya ia lebih beruntung dibanding anak-anak yang ada di sana.


***


"Maaf sudah buat kamu repot dengan keinginan anak-anak tadi, Er," ujar Gaung begitu mereka sudah sampai di ruangan pria itu.


"Enggak apa-apa, Ga. Gue senang melakukannya. Elo kan tahu, gue suka sama anak-anak."


"Foto kita tadi boleh gue upload ke IG, Er?" Valerie mengangguk sebagai jawaban pertanyaan Gaung. Gaung langsung mengupload foto mereka berdua dan men-tag IG Valerie.


GaungbukanGema Kerja di temani perempuan cantik, gimana gak semangat coba. @Livia_Laks


Likes by Bagus_Imoet and 567 others.


Bagus_Imoet kalau @Elang_Garindra lihat postingan ini, bisa langsung terjun dari pesawat dia.


Gandi.Seterong untuk sementara aman. Ketua kita lagi terbang, jadi ponselnya metong. Hahaha ....


Roxy_Boy @Livia_Laks Napa gak ikut gue kerja aja? Gue lagi ngawasin pembangunan gedung. Pemandangan dari lantai lima belas lebih bagus dari pemandangan rumah sakit, Er.


Choky_BukanChokychoky @Roxy_Boy eh cebong, gila lo! Lagi kerja manjat lantai lima belas pakai main IG. Salah-salah terjun bebas lo.


Roxy_Boy Wah, ketua gue perhatian banget. Tenang pak ketua, gue bukan spiderman yang demen manjat gedung. Gue naik elevator jadi aman.


GemabukanGaung Markas Arakata diserang The Drugs, Bang. Anak-anak yang jaga pada tepar.


Livia_Laks kumpulin anak-anak yang lain. Gue sama Gaung meluncur..


Bagus_Imoet Gue juga langsung otw markas.


Gandi.Seterong 2


Roxy_Boy 3


Braga_Raga 4


Choky_BukanChokychoky 5


Andi_Law 6


Elang_Garindra 7

__ADS_1


GemabukanGaung Ngitungnya entaran aja abang-abang yang tamvan. Buruan ke markas!!!


__ADS_2