Arakata

Arakata
Pura-pura Terperangkap


__ADS_3


( Hasil dari Cipta Quotes GC Arakata. Roleplayer Reyhan Aji Laksmono, anak ketiga dari Laksmono. IG @ryhnnnn04 )


Mencintai adalah rasa ingin melindungi walau tak bisa memiliki, dan rela melepaskannya dengan yang lain asal ia bahagia. Namun, jika kamu bersikeras memilikinya dan bahkan rela menyakitinya hanya demi tidak dimiliki yang lain ... itu bukan cinta, melainkan obsesi.


***


"Kayaknya besok kita udah bisa eksekusi rencana kita," ucap Valerie.


Mereka sekarang berada di gazebo rumah Laksmono. Setelah selesai makan malam bersama, mereka kembali menghabiskan waktu dengan membicarakan rencana mereka terhadap Dito.


"Betul tuh, lebih cepat kita laksanakan rencana kita, maka akan lebih cepat juga kejahatan Dito terungkap,:" ucap Elang, "walau bagaimanapun, gue udah anggap Feli kayak saudara sendiri. Dan gue ingin dia mendapatkan keadilan."


"Sorry, Lang. Selama ini gue salah paham sama elo, gue berprasangka buruk ke elo. Gue lebih percaya sama omongannya Dito, padahal, malah dia yang jadi dalang dari balik semua ini."


"Gue gak terlalu mempermasalahkan itu, Kra. Gue paham, Feli kan sahabat elo, bahkan udah kayak adik lo sendiri. Yang gue permasalahin, gara-gara kelakuan gak masuk akal lo itu, gue batal nikah ... padahal ninggal nunggu beberapa hari lagi gue resmi jadi suaminya Eri. Kampret elo emang." Elang memukul pelan lengan Cakrawala.


"Itu sih derita lo, masalah itu gue gak menyesal. Karena elo sendiri yang ambil keputusan, Lang," sahut Cakrawala sambil terkekeh. "Bisa aja elo milih bertahan dan menjaga Valerie dari gue, daripada mengakhiri hubungan. Banyak orang bilang kalau kepemimpinan Arakata angkatan tujuh itu adalah yang paling tangguh. Tapi apa?" Cakrawala tersenyum miring, membuat Elang memberinya tatapan tajam.


"Mending sama gue aja, Er," ucap Cakrawala lagi. "Gue gak akan lepasin elo, gue bakal jaga elo." Cakrawala mengedipkan sebelah matanya.


"Elang ngelakuin itu karena pengen ngelindungi gue. Dia gak mau gue kenapa-kenapa jika kami masih menjalin hubungan. Dia menaruh keselamatan gue di atas segalanya, bahkan walau itu harus dengan cara mengorbankan perasaan cintanya." Jawaban dari Valerie membuat Elang tersenyum. Tak ia sadari air mata menetes dari netranya, ia terharu. Ia tidak menyangka jika Valerie berpikiran seluas itu. Bukannya ikut mempersalahkannya, gadis yang sangat dicintainya itu malah masih membelanya. "Urusan perasaan itu gak bisa ditentukan benar dan salahnya. Semuanya tergantung dari sudut pandang yang menjalani."


"Terus, elo mau nerima Elang lagi?" tanya Cakrawala, Elang juga ikut deg-deg'an, menunggu jawaban dari Valerie. Gema dan inti Arakata angkatan delapan lainnya hanya diam sambil menyimak drama dadakan itu.


"Kenapa malah jadi bahas gue sama Elang?" bukannya menjawab, Valerie malah bertanya balik pada Cakrawala. Mencoba lari dari pertanyaan Cakrawala yang ia sendiri belum tahu jawabannya. "Ini urusan Dito gimana? Dia udah ngajak gue pergi ke danau tempat Feli meninggal."


"Beneran?" tanya Elang.


"He'em, tapi gue belum jawab bisa pergi kapan," sahut Valerie, "menurut kalian gimana? Gue juga belum tahu apa maksut Dito ngajak gue pergi ke tempat di mana ia menghabisi nyawa Feli. Gak mungkin kalau dia hanya sekedar iseng atau rindu pada tempat itu. Dia pasti sudah merencanakan sesuatu, dan pasti itu bukan merupakan hal yang baik."


"Jabanin aja, Kak," celetuk Asel, "ini bisa jadi kesempatan kita. Dia mengira jika Kak Eri udah masuk dalam perangkapnya. Mari kita tunjukkan ke dia, bagaimana perangkap yang sesungguhnya.


Valerie menganggukkan kepala. "Oh, iya. Gue lupa," ucap Valerie sembari memberikan sebuah flash disk pada Asel. Asel langsung menghubungkan flash disk yang diberikan Valerie ke layar laptopnya.


Mata Asel membola seketika, saat deretan data-data terpampang di layar laptopnya.

__ADS_1


"Ini--,"ucap Asel terbata. Asel terus menscrool data itu hingga ke bawah. "Kak Eri bisa dapat data-data ini dari mana?" Asel menatap heran sekaligus takjub pada seniornya itu.


Elang, Rajawali, dan yang lain juga penasaran. Mereka ikut melihat pada layar laptop Asel. Mata mereka pun membola, tidak kalah terkejut dengan Asel.


Flash disk yang diberikan Valerie berisi data-data penting milik perusahaan Dito. Lebih tepatnya perusahaan fiktif yang hanya dipakai pria itu untuk menyamarkan usahanya di pasar gelap ... yaitu perdagangan senjata ilegal, obat-obatan terlarang, bahkan peredaran uang palsu. Dan semua data-data penting itu bisa begitu mudah ada di tangan Valerie.


"Waktu ngambil data-data di laptopnya Dito yang gue minta buat diperiksa Asel. Gue sekalian masukin virus di laptopnya Dito, dan gue hack data-data pentingnya, dan jadilah itu," ucap Valerie enteng sembari menunjuk laptop Asel.


"Gila lo, Kak. Kalau ngebuat yang beginian, belum mampu gue. Ajarin gue, kak," pinta Asel, mata pemuda itu berbinar-binar.


"Gue ajarin, tapi awas aja kalau lo gunain buat hal yang gak bener," jawab Valerie.


"Siap, laksanakan," sahut Asel sembari memberikan hormat pada Valerie.


"Mainannya panglima perang Arakata butuh kecerdasan tingkat tinggi. Gak mampu otak gue," celetuk Samuel yang juga mendapat anggukkan kepala dari wakilnya, yaitu Bondan.


"Ho'oh, yang begituan gak bisa bantu gue. Salah-salah malah otak gue pindah ke ketek, gue ikutnya pas adu jotos aja," ucap Bondan.


"Urusan yang meres otak, kita serahin ke mereka aja," ucap Elang ikut menimpali. "Kita bagian yang pakai otot aja."


"Otot aja gak pakai otak ... itu orang apa bakso, hm?" tanya Valerie sambil tersenyum miring, menatap Elang penuh arti.


"Gue masih bisa denger suara elo Elang Rayan Garindra. Jadi, gak usah ngedumel gitu, apa yang elo dengunging di pikiran aja gue bisa denger, apalagi cuma ngedumel," ucap Valerie sambil melempar Elang dengan bantal Among Us yang dipegangnya.


"Cie yang masih bisa denger suara hati gue," goda Elang sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Gue emang selalu bisa denger dan tahu apa yang elo mau. Elo-nya aja yang gak bisa memahami diri lo sendiri," balas Valerie, masih dengan smirk dan tatapan tajamnya.


Skak matt!


Elang langsung terdiam, tidak bisa menyahut lagi. Hal itu membuat Cakrawala terbahak, Gema dan yang lainnya hanya tersenyum. Mana berani mereka ikutan menertawakan Elang, bisa habis ditampol sama penguasa Arakata angkatan tujuh itu.


"Seneng banget elo kayaknya," ucap Elang sembari menatap tajam pada Cakrawala.


"Banget," sahut Cakrawala cepat. "Bukan hanya seneng, tapi bahagia." Cakrawala bertepuk tangan, membuat Elang tambah gondok.


Elang menghembuskan napas, sudahlah ... ia mengalah. Lihat saja, kalau ia sudah bisa merebut kembali hati Valerie, giliran ia yang akan tertawa puas di hadapan Cakrawala, plus bonus goyang gergaji, ngecor, goyang berton sekalian kalau perlu.

__ADS_1


"Bukti-bukti ini ditambah rekaman CCTV dari Asel tadi, udah bisa jadi barang bukti buat jeblosin Dito ke penjara," ucap Elang dengan wajah yang kembali serius.


"Betul, tapi ini Dito ... penjahat kelas kakap. Tak akan semudah itu menjebloskan dia ke penjara. Menurut kalian, selama ini kenapa kejahatannya gak terungkap, padahal di negara kita ini banyak orang-orang yang otaknya tingkat dewa. Gak ada alasan lain, selain memang ada orang berkuasa di baliknya," ucap Valerie, gadis itu tersenyum penuh arti. Semua yang ada di sana menganggukkan kepala, paham dengan apa yang dimaksut oleh Valerie. "Terkadang, berpura-pura menjadi lemah bisa sangat bermanfaat. Apalagi untuk menjerat orang-orang licik yang di otaknya hanya berisi kuasa dan tahta. Untuk hal ini, kita butuh bantuan Papa Indra dan Arakata angkatan pertama. Karena ini bukan hanya masalah kita dan Dito, tapi udah melebar ke tindak pidana. Yang berarti sudah bukan rana Arakata."


***


Tepat pukul sepuluh pagi, Dito menjemput Valerie di rumahnya. Valerie pun sudah bersiap, mempersiapkan semuanya ... termasuk pasukannya yang juga siap menunggu aba-aba darinya.


Rencana yang mereka susun semalam sudah matang, begitu juga dengan rencana mereka yang akan meminta bantuan pada Arakata angkatan pertama.


Tentu saja dengan senang hati para senior mereka mau membantu. Bahkan, Garindra sampai bersorak karena ikut dilibatkan. Saat itu juga dia langsung menghubungi rekannya yang seorang pengacara, ia memberikan bukti-bukti yang sudah ditemukan Asel dan Valerie.


Mereka berbagi tugas, Garindra, Laksmono, dan Arakata angkatan pertama bertugas melacak dan menemukan siapa dalang yang selalu menyembunyikan kejahatan Dito hingga tidak terdeteksi hukum. Sedangkan yang lainnya bertugas menjaga Valerie dari jauh. Jika Valerie sudah memberikan perintah, mereka akan langsung menyerang, dan tentu saja dipimpin oleh ketua Arakata angkatan tujuh yaitu Elang Rayan Garindra.


Rencana mereka berubah, tadinya mereka hendak memberi kesempatan kepada Arakata angkatan delapan untuk menyelesaikan masalah ini sendiri. Namun, fakta yang ditemukan Valerie membuat mereka merubah rencana. Bisa sangat berbahaya jika hanya angkatan delapan yang bertindak. Bukannya tidak percaya dengan kemampuan Gema dan kawan-kawan, tapi masalah ini bukan hanya melibatkan Arakata ... tapi juga hukum yang akan berbicara.


Kembali pada Dito dan Valerie yang sedang dalam perjalanan menuju tempat di mana Felicia meregang nyawa. Tidak ada yang membuka pembicaraan, hanya kesunyian yang mendominasi suasana mobil Dito saat ini.


Dua insan itu sama-sama tenggelam dengan pikiran masing-masing. Namun, ada yang aneh dari gelagat Dito. Sedari tadi, pria itu terus tersenyum penuh arti, seperti ada sesuatu yang ia rencanakan.


Valerie mengerutkan dahinya, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling jalan yang dilalui mobil Dito.


"Kita ke mana? Ini bukan jalan menuju danau, kenapa kita masuk hutan?" tanya Valerie, ia terus memperhatikan jalan yang semakin masuk ke dalam hutan.


"Kenapa elo bisa tahu kalau ini bukan jalan menuju danau? Bukannya gue belum ngasih tahu mau ke danau mana kita?" Dito memperhatikan Valerie dari ekor matanya. "Atau sebenarnya elo udah tahu, tapi pura-pura gak tahu, hm?"


Valerie terdiam, gadis itu tidak melepaskan pandangannya dari jendela.


Dito menghentikan laju mobilnya, ia melepas sabuk pengamannya. Pria itu menarik lengan Valerie dan memaksa gadis itu untuk menatapnya.


"Kenapa jadi diam?" tanya Dito, pria itu mengusap pipi lembut Valerie. "Hey, elo pikir gue gak tahu apa yang elo dan temen-temen sialan elo itu rencanakan. Gue gak bodoh, gue bukan orang goblok yang mudah ditipu. Gue tahu apa yang otak cantik elo ini pikirkan." Dito mengarahkan tangannya ke kepala Valerie, dan membelai rambut panjang gadis itu.


Valerie masih terdiam, wajahnya terlihat datar.


"Kenapa? Apa sekarang panglima perang terkuat di Arakata merasa takut sama gue? Apa elo ngerasa takut karena sendirian, temen-temen lo sekarang ada di danau, kan? Dengan mudahnya gue bisa nipu kalian, dan lihat sekarang ... elo sendirian. Gue yang punya kuasa, gue yang menang. Kita akan bersenang-senang, sebelum elo menemui ajal."


Dito semakin mendekatkan tubuhnya pada Valerie. Bukannya melawan, Valerie malah terdiam. Sama sekali bukan seperti Valerie yang biasanya. Sekarang, ia seperti terlihat pasrah dengan apa yang akan menimpanya. Dito terus mendekat, hingga wajah pria itu berada tepat di hadapannya.

__ADS_1


"Akan kunikmati wajah menawanmu ...."


__ADS_2