
Selama beberapa hari ini, Valerie melakukan pekerjaannya tanpa henti. Setelah pulang dari toko kuenya pun, ia kembali melakukan hal lain agar tetap sibuk. Hal itu membuat orang-orang terdekatnya menjadi khawatir. Gadis itu masih berada di rumah keluarga Valero, karena Laksmono belum kembali dari tugasnya di luar kota.
Gadis itu seolah mengalihkan pikiran dari beban perasaannya dengan cara melakukan banyak kegiatan, hingga fisiknya benar-benar lelah. Seakan-akan ia sengaja membuat dirinya sendiri terluka.
"Assalamu'alaikum, Mah," salam Valero pada ibunya, pria itu baru saja pulang dari kantor.
"Wa'alaikumsallam, Nak," jawab Atika.
"Eri ada di kamarnya, Mah?" tanya Valero.
"Eri belum pulang dari pagi tadi," jawab Atika, "Mamah khawatir sama dia, Nak. Takut terjadi apa-apa."
Baru saja Valero hendak membuka suara lagi, ponselnya berdering, tertulis nama Bagus. Dengan segera ia mengangkat sambungan telepon tersebut, mungkin temannya itu tahu di mana Valerie berada.
"Assalamu'alaikum," salam Valero pada Bagus.
"Wa'alaikumsallam," jawab Bagus, "elo ke markas Blue Eagle sekarang."
"Kenapa?"
"Ada hubungannya dengan Eri, buruan gak usah banyak tanya kayak Dora, Lo!"
Dengan tergesa, Valero berpamitan dengan ibunya dan bergegas mengendarai motornya menuju markas Blue Eagle.
Begitu sampai di markas Blue Eagle, Valero melihat beberapa anak Arakata juga ada di sana, termasuk Gema dan yang lainnya.
"Ada apa ini, Ma?" tanya Valero pada Gema.
"Bang Ero langsung masuk aja. Di sana juga ada Bang Gaung, Bang Elang sama yang lain," jawab Gema.
Valero menganggukkan kepalanya, kemudian pria itu masuk ke dalam markas Blue Eagle. Baru pertama kali ini, ia masuk ke dalam markas Blue Eagle. Kenal dengan Valerie dan Arakata, membuatnya juga mengenal geng-geng besar di kota itu.
Begitu masuk ke dalam, ia disambut dengan pemandangan yang membuatnya terheran. Di ruangan itu ada beberapa inti Arakata angkatan tujuh, Robert, Roxy, dan Braga. Pandangan mereka tertuju pada satu titik, yaitu seorang gadis yang terlihat sedikit mengenaskan. Wajah gadis itu penuh dengan lebam, bajunya seperti sobek dibeberapa bagian, ia mengenakan jaket milik Braga yang bergambar Elang biru, logo milik Blue Eagle ... beberapa luka juga ada di bagian tubuhnya. Dan yang membuatnya membulatkan mata adalah rambut panjang gadis itu yang menjadi pendek tak teratur, seperti habis dipotong dengan asal-asalan.
Gadis yang biasanya hampir tidak pernah terluka jika melawan musuh, sekarang terlihat babak belur. Entah apa yang barusan terjadi dengannya.
"Eri," lirih Ero, memanggil nama gadis yang sekarang seperti sedang disidang itu.
Seluruh pandangan teralih kepada Valero, ia berjalan mendekati mereka. Ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Eri, elo kenapa?" tanya Valero begitu ia sudah berada di hadapan gadis itu. Begitu melihat Valero, gadis itu menundukkan kepalanya, enggan memandang pria yang beberapa waktu ini selalu ada untuknya.
"Eri ngelawan puluhan preman sendiri," sahut Bagus, "dan lo tahu apa yang dia lakukan? Dia sama sekali gak melakukan perlawanan yang berarti. Seolah ia sengaja mengalah, biar babak belur. Untung saat itu Braga dan anggota Blue Eagle lainnya lewat di daerah itu, kalau enggak ... gue udah gak tahu lagi. Brengsek!" Bagus mengusap wajahnya frustasi, tak mengerti dengan tindakan yang dilakukan oleh sahabat yang sangat disayanginya itu.
"Dari tadi kita nanya, Eri hanya diam aja." Kini giliran Gaung yang berbicara. "Lo tahu, Eri hampir aja dilecehin sama mereka. Dan Eri .. Eri hanya diam aja gak ngelawan." Wajah Gaung memerah, menahan emosi dan sedih secara bersamaan.
Tubuh Valero membeku, bagaimana bisa Valerie hanya berdiam diri diperlakukan seperti itu.
Valero berlutut di lantai, mensejajarkan tingginya dengan Valerie. Dengan perlahan, ia mengusap pipi gadis itu, hingga Valerie mendongak dan menatap wajahnya. Valero melihat bahwa Valerie memang menatapnya, tapi tatapan gadis itu kosong.
"Udah hampir dua jam berlalu, Eri hanya diam aja. Tatapannya matanya kosong, seperti bukan dia," lirih Robert. Atlet tinju itu sudah menitikkan air mata, melihat sahabat baiknya seperti sedang terguncang mentalnya.
"Beberapa hari ini, ia selalu memforsir tenaganya, ia melakukan pekerjaan dan kegiatan tanpa henti. Bahkan saat gue cek di kamar, sampai larut malam pun dia belum tidur, dia hanya berdiam diri di balkon kamar," aku Valero.
Semua yang ada di sana memejamkan matanya sejenak, hati mereka sakit melihat Valerie yang biasanya tangguh menjadi tak berdaya seperti itu.
"Eri, elo kenapa?" tanya Valero untuk kesekian kalinya.
"Gue, gue gak mau jadi kuat lagi," jawab Valerie. Gadis itu sudah mau menjawab, tapi tatapannya masih kosong. "Menjadi kuat, hanya akan membuat gue ditinggalkan."
"Eri, elo gak boleh berpikir begitu," ucap Bagus. Ia meraih tubuh Valerie dalam pelukannya. "Balik jadi Eri yang kami kenal. Balik jadi Eri yang kuat untuk melindungi diri lo sendiri dan orang lain. Elo pernah bilang kan kalau elo mau ngelindungi orang-orang yang elo sayang?"
__ADS_1
"Beberapa hari ini gue paksa otak gue buat nyari jawabannya. Apa... apa yang salah dari diri gue, hingga satu-persatu orang-orang yang gue sayangi pergi dari hidup gue." Tubuh Valerie bergetar, satu tetes bening berhasil lolos dari netra indahnya yang kini terlihat sayu. "Bunda, Raja, Hans, Bang Bayu, Elang ... semuanya pergi ninggalin gue. Semua itu karena ada yang salah dengan gue, kan? Paling sebentar lagi kalian juga akan ninggalin gue, kan? Hingga hanya tersisa gue sendiri--" Setelah mengatakan hal itu, Valerie kehilangan kesadarannya. Dengan sigap, Bagus menangkap tubuh sahabatnya itu. Pria itu membopong Valerie, diikuti oleh Valero di belakangnya. Mereka segera menuju rumah sakit.
Saat berada di hadapan Elang, Bagus menghentikan langkahnya sejenak. Ia menatap tajam pria di hadapannya itu.
"Puas? Sudah puas dengan hasil ulah lo? Kalau sampai terjadi sesuatu sama Eri, elo bakalan gue kejar!"
Robert dan yang lainnya pun mengekori Bagus, hingga hanya ada Elang di tempat itu. Badan pria itu luruh ke lantai. Hatinya terasa sangat sakit, melihat Valerie yang seperti itu. Gadis itu sangat terguncang, fisik dan mentalnya. Dan semua itu karena ulahnya, karena kesalahannya.
Lagi, lagi-lagi ia menyakiti gadis yang sangat dicintainya. Hingga kali ini, hati gadis itu terluka parah. Dan apa yang ia lakukan? Ia hanya bisa berdiam diri dan menyesali perbuatannya. Nasi telah menjadi bubur, semuanya sudah terlanjur. Berantakan, semuanya telah berantakan.
***
"Bagaimana keadaan adik saya, Dok?" tanya Pratama, begitu mendengar kabar adiknya masuk rumah sakit, ia dan kedua adiknya yang lain, langsung bergegas menuju rumah sakit. Laksmono dan Diandra sedang perjalanan pulang.
"Kondisinya sangat lemah, kurang istirahat dan kurangnya asupan makanan serta minum membuat pasien mengalami dehidrasi akut. Secara fisik, keadaannya sehat, apa pasien sedang mengalami stres atau banyak pikiran?"
"Iya, Dok. Akhir-akhir ini adik saya sedang ada masalah," jawab Reyhan.
Dokter paruh baya itu menganggukkan kepalanya. "Setelah pasien tersadar, akan kami konsultasikan dengan psikiater. Kami takut jika kondisinya bisa semakin memburuk. Saya permisi dulu."
Iya, Dok. Terimakasih," ucap ketiga pria itu.
"Astaghfirullah, Dek. Kenapa elo jadi begini?" Gerry mengusap dahi Valerie, wajah gadis itu terlihat pucat. Tulang pipinya juga jadi terlihat lebih menonjol, karena akhir-akhir ini jarang makan.
"Ini salah kita," lirih Pratama, "kita mengira jika Eri bisa mengatasi masalahnya ini seorang diri. Kita lupa jika di balik sikap kuatnya, dia gadis yang rapuh. Bahkan dulu saat bunda meninggal, Eri sampai beberapa bulan tidak mau keluar rumah, hanya Elang yang bisa membujuknya. Dan sekarang, Elang juga meninggalkannya. Dia pasti sangat hancur." Pratama meenggenggam tangan adiknya yang tidak diinfus.
"Cepatlah pulih, Dek," pinta Reyhan, "abang janji, setelah ini abang akan pindah ke rumah ayah, biar kamu tidak merasa sendirian lagi. Abang akan selalu ada buat kamu, abang gak mau kehilangan kamu. Cukup kami kehilangan Bang Bayu, kami gak mau kehilangan kamu, Dek." Satu tetes bening jatuh di tangan Valerie yang diinfus, pria itu sudah tidak bisa lagi menahan air matanya. Hatinya sakit, melihat adik yang sangat disayanginya terluka.
Pandangan mereka teralih saat terdengar suara pintu dibuka. Seorang pria yang akhir-akhir ini selalu menjaga adiknya terlihat di sana.
"Bagaimana keadaan Eri, Bang?" tanya Valero. Pria itu membawa tas berisi pakaian Valerie dan makanan buatannya sendiri.
"Psikiater," lirih Valero, pria itu memejamkam matanya sekejap. Ia tidak mengira jika gadis yang sangat dicintainya itu akan mengalami hal seperti ini. "Bang Tama, Bang Rey, sama Bang Gerry pulang aja dulu, biar gue yang jaga Eri di sini."
"Enggak," sahut Gerry, pria itu menggelengkan kepalanya, begitupun dengan abang-abang Valerie yang lainnya. "Gue mau jaga Eri."
"Kalian pulang aja duluan, Bang. Kasihan keluarga kalian, biar gue yang jaga Eri."
Pratama menganggukkan kepalanya. "Benar apa yang dikatakan Ero. Lebih baik kita pulang dulu ke rumah masing-masing. Kita siap-siap dulu, kita boyong keluarga kita untuk tinggal di rumah ayah. Nanti biar gue yang jemput Kak Ceril."
Reyhan dan Gerry mengangguk setuju.
"Kami titip Eri dulu, Ro." Reyhan menepuk bahu Valero, pria itu mengangguk sebagai jawaban.
Setelah kepergian abang-abang Valerie, Valero mendudukkan dirinya di kursi sebelah ranjang Valerie. ia membelai rambut gadis itu, dipandangnya wajah ayu yang pucat itu.
"Baru saja beberapa waktu yang lalu kita tertawa bersama. Gue gak nyangka jika keceriaan yang lo tunjukin beberapa hari ini hanya sebuah kedok yang sengaja elo buat untuk menutupi kesedihan lo. Elo wanita yang hebat, saking hebatnya ... elo ambil semua beban elo sendirian, elo gak mau membagi rasa sakit dengan kami. Padahal selama ini, elo selalu membantu kami agar keluar dari beban-beban kami. Cepat pulih, cepatlah kembali malaikat kami."
Beberapa saat kemudian, jari Valerie bergerak ... mata gadis itu mengerjap perlahan.
"Egh," erang Valerie.
"Eri, elo udah sadar," ucap Valoro, pria itu tersenyum, ia merasa lega. Pria itu memencet tombol yang berada di dekat ranjang Valerie. Beberapa saat kemudian datang dokter dan suster untuk memeriksa keadaan Valerie.
Dokter menyampaikan jika kondisi Valerie sudah mulai membaik. Gadis itu harus banyak istirahat agar kondisinya tidak lagi menurun.
Valero memberikan minum, Valerie hanya menyesapnya sedikit. Ia menyendokkan makanan dari rumah sakit, gadis itu hanya menggelengkan kepala.
"Makan, ya. Gue masak balado terong kesukaan lo." Valero memperlihatkan kotak makanan yang dibawanya tadi. Namun, lagi-lagi Valerie hanya menggelengkan kepala.
Valerie membalikkan badannya, hingga posisinya sekarang membelakangi Valero.
__ADS_1
"Eri, gimana elo mau sembuh. Kalau makan aja elo gak mau," bujuk Valero.
Valerie hanya terdiam tidak merespon apapun. Namun, sesaat kemudian tubuhnya bergetar, terdengar isakan ... gadis itu menangis.
Valero membalikkan badan Valerie hingga berhadapan dengannya lagi. Gadis itu menangis, tapi lagi-lagi dengan tatapan mata yang kosong.
"Er, gue mohon jangan kayak gini," ucap Valero, pria itu memeluk tubuh Valerie. "Elo harus kuat, jangan jadi lemah seperti."
"Menjadi kuat hanya membuat gue kehilangan semua orang!" bentak Valerie, gadis itu berteriak histeris. "Menjadi kuat hanya bisa membuat orang lain merasa tersakiti!" Ia membuang semua yang ada di dekatnya, bahkan ia mencabut selang infus yang terpasang di tangannya. Hal itu membuat darahnya mengalir. Dengan segera, Valero memencet tombol di sebelah ranjang Valerie. Ia memeluk gadis itu agar tidak melakukan hal yang nekat lagi.
Beberapa saat kemudian perawat datang, perawat itu memberikan obat lewat suntikan. Beberapa saat kemudian Valerie tertidur. Setelah tenang, sang perawat membersihkan darah Valerie, dan memasangkan infus lagi padanya.
Valero mengusap wajahnya kasar, ia merasa frustasi melihat Valerie yang seperti itu. Valerie yang tidak terkontrol, dan Valerie yang meragukan dirinya sendiri. Apa yang harus ia lakukan, agar Valerie kembali menjadi pribadi yang seperti dulu.
Valero menghubungi Pratama untuk menceritakan apa yang baru saja terjadi dengan Valerie. Tak berselang lama, Pratama dan Roxy datang ke rumah sakit. Reyhan dan dan Gerry tidak ikut karena mereka berdua menjaga keluarga kecil mereka yang sudah berada di kediaman Laksmono.
"Berulang kali Eri bilang kalau tidak mau menjadi kuat," ucap Valero pada Pratama dan Roxy. "Gue gak tega ngelihat Eri kayak gitu, Bang. Seolah-olah ia ingin menyakiti dirinya sendiri."
"Apa yang dikatakan Elang begitu membekas di otak Valerie. Yang bisa membuat Eri pulih adalah orang yang telah menorehkan luka itu," ujar Roxy.
"Maksut elo Elang?" tanya Valero pada Roxy.
Roxy mengangguk. "Tapi ada resikonya. Kemungkinannya ada dua ... pertama, Valerie menjadi pulih atau kemungkinan kedua ... keadaannya akan menjadi semakin parah. Valerie sedang berada dalam keadaan yang belum stabil, emosinya juga naik- turun. Kita tidak boleh memaksanya, kita lakukan semuanya pelan-pelan. Kita hadirkan sekiranya apa yang menjadi alasan kebahagiaannya selama ini."
Valero dan Pratama menganggukkan kepala.
"Apa yang menjadi alasan kebahagiaan Eri selama ini?" tanya Roxy lagi.
"Banyak," sahut Pratama, "hal kecil pun bisa membuat adek gue itu bahagia. Terutama waktu berkumpul dengan anak-anak."
"Nah, itu!" Roxy menjentikkan jarinya. "Pertemukan Eri dengan mereka."
Valero dan Pratama mengacungkan jempolnya, tanda setuju dengan ide Roxy.
"Elo arsitek atau psikiater?" tanya Valero dengan takjub.
"Arsitek yang punya orang tua psikiater," jawab Roxy sambil terkekeh.
"Dua-duanya?" tanya Valero lagi.
Roxy menganggukkan kepala sebagai jawabannya.
"Orang tua psikiater, imbasnya ke anak ... psikisnya jadi kena," celetuk Pratama yang membuat Roxy berdecak sebal.
"Ck, untung abangnya Eri, kalau enggak udah gue campur sama adonan semen," dumel Roxy.
"Apa lo bilang?" tanya Pratama sambil memelototkan mata.
"Gue gak ngomong, Bang. Elo salah denger, usia memang mempengaruhi ketajaman pendengaran seseorang."
"Maksut lo gue budek?"
"Nah, baguslah kalau abang sadar diri."
Pratama hendak melempar Roxy dengan sepatunya, tapi pria itu lebih dulu masuk ke kamar mandi.
"Pantes jomblo, kelakuannya kayak begitu," celetuk Valero.
"Sama kayak elo!"
"Iya juga, sih," sahut Valero sambil terkekeh. Dasar jomblo yang gak sadar jika dirinya masih jomblo. Hahahaha.
__ADS_1