
Jaman sekarang banyak orang melakukan eksploitasi dengan mengatasnamakan emansipasi. Kaum wanita bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan, sedangkan sang adam berleha-leha sambil menunggu hasil dari keringat istrinya. Emansipasi itu kesetaraan, bukan pemaksaan.
***
"Kamu harus pulang dulu, kondisi kamu sudah lemah," bujuk seorang wanita paruh baya pada seorang wanita muda yang sedang hamil besar.
"Gak bisa, Bu. Ini belum waktunya saya pulang kerja," jawab sang wanita muda itu.
"Kamu pulang lebih awal gak apa-apa. Kasihan kandungan kamu, Siti," ucap sang wanita paruh baya, masih mencoba membujuk Siti.
Valerie yang melihat kejadian itu langsung menghampiri kerumunan orang yang ada di sebuah warung makan. Pagi ini, Cakrawala mengajak jalan-jalan, pulangnya mereka mampir ke sebuah pasar tradisional.
"Ini ada apa, Bu?" tanya Valerie begitu sudah sampai di dekat kedua wanita itu.
"Ini, si Siti tadi hampir jatuh, kelihatannya kecapekan," jawab sang wanita paruh baya. "Sudah saya suruh pulang, tapi gak mau."
"Saya gak apa-apa kok, Bu. Saya masih kuat," ucap Siti masih bersikeras untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Mbak lebih baik pulang dulu aja, istirahat. Mbak jangan egois, pikirin anak yang ada dalam kandungan mbak, mbak mau anak mbak itu kenapa-kenapa?"
Siti menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu mbak pulang dulu aja," ucap Valerie lagi. "Biar saya antar pulang, Cakra ... elo gak apa-apa antar mbak ini ke rumahnya dulu. Setelah itu baru kita balik belanja." Valerie memalingkan wajahnya menghadap Cakrawala. Pria itu mengangguk sambil tersenyum, satu lagi hal yang ia tahu dari gadis yang baru beberapa hari ia temui itu. Bahwa gadis itu memiliki hati yang lembut dan penuh kasih.
"Bu, Siti pamit pulang dulu ya. Maaf Ibu jadi kerepotan karena Siti tiba-tiba pulang," pamit Siti pada ibu pemilik warung tempat Siti bekerja.
"Gak apa-apa, Siti. Kamu istirahat dulu, ijin beberapa hari juga gak masalah. Yang penting kamu sehat dulu."
Setelah berpamitan, Valerie menggandeng tangan Siti menuju mobil milik Cakrawala.
"Saya takut pulang," ucap Siti, wanita itu menunduk ... jarinya memilin ujung baju yang ia kenakan
Valerie mengerutkan dahinya, tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Siti.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Valerie, ia duduk si samping Siti, Cakrawala sendirian di depan, udah kayak supir ... hahaha.
"Suami saya pasti marah, karena saya gak bawa uang," jawab Siti, badannya bergetar, mungkin karena ketakutan.
Dahi Valerie semakin berkerut, sesaat kemudian ia mengangguk paham.
"Suami kamu kerja apa?" tanya Valerie.
"Enggak bekerja," sahut Siti sambil menggelengkan kepalanya.
"Terus selama ini dari mana kalian memenuhi kebutuhan sehari-hari?"
"Dari gaji saya yang bekerja di warung makan Bu Sumi."
"Setiap kali kamu pulang gak bawa uang, dia marah?"
Siti menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Valerie.
"Biarkan saya berbicara dengan suami kamu," ucap Valerie.
"Tenang, saya punya cara agar dia merubah sikapnya, jika tetap tidak mau berubah ... saya punya cara lainnya." Valerie menyeringai, hal itu tidak lepas dari pandangan Cakrawala, pria itu tersenyum ... seakan mengerti dengan jalan pikiran Valerie.
Begitu sampai di rumah Siti, Valerie menggandeng pergelangan tangan Siti, agar wanita itu tidak terjatuh karena kondisinya yang lemah. Cakrawala setia mengekor di belakang kedua wanita itu.
Begitu membuka pintu, mereka disuguhkan oleh pemandangan sepasang insan yang sedang memadu kasih. Hal itu membuat tubuh lemah Siti semakin lemah, ia hampir saja terjatuh jika Valerie tidak menangkapnya.
"Mas," lirih Siti, air matanya sudah luruh, tidak bisa terbendung lagi.
Kedua insan itu melihat ke arah pintu dengan wajah terkejut. Bagaimana tidak terkejut jika kegiatan terlarang mereka diketahui orang lain, terlebih di sana ada istri sah sang pria. Mereka berdua langsung mengenakan pakaian yang mereka tanggalkan secara sembarangan.
"Siti, jam segini kok lo udah pulang?" tanya sang wanita, umurnya terlihat lebih tua dari Siti ataupun pria yang tadi bergumul dengannya.
"Siti pulang lebih awal, Bu. Badan Siti gak enak," sahut Siti sambil menundukkan kepala.
__ADS_1
"Ibu?" lirih Valerie dan Cakrawala secara bersamaan.
"Halah, kamunya aja yang males, pake alasan gak enak badan segala!" seru sang pria, yang tidak lain adalah suami Siti. "Sini kamu!" Pria itu menarik tangan Siti dengan kasar, membuat Siti terhuyung dan hampir terjatuh jika tangannya tidak berpegangan pada gagang pintu.
"Kalian siapa? Pergi, kami lagi gak terima tamu!" usir wanita paruh baya itu dengan sikap sombongnya. Wanita itu hendak menutup pintu, tapi tangan Valerie lebih dulu menahannya. Ia mendorong pintu itu sedikit, tapi efeknya besar, wanita itu malah jatuh tersungkur.
"Maaf, saya tidak sengaja. Saya tidak mengira jika tenaga saya masih sebesar ini." Valerie mengulurkan tangannya, namun ditampik kasar oleh wanita itu.
"Kalian siapa, seenaknya masuk ke rumah saya tanpa ijin! Saya bisa laporin kalian ke polisi!" bentak wanita itu.
"Silahkan, saya juga bisa laporin kalian ke polisi. Zinah, tindakan tidak menyenangkan. kekerasan dalam rumah tangga. Semua hal itu sudah bisa membuat kalian mendekam dalam penjara." Valerie melangkahkan kakinya mendekat pada Siti. Dengan cekatan, ia menarik tangan Siti lagi tanpa melukainya. "Kamu mundur dulu, ada yang mau saya bicarakan dengan suami dan siapa satu lagi?"
"Itu ibu saya," sahut Siti.
"Ibu tiri?"
"Bukan, ibu kandung," sahut Siti lagi.
Valerie kembali mengerutkan dahinya. "Ibu kandung mana yang tega berselingkuh dengan suami anaknya sendiri? Dan suami yang tega menduakan hati istrinya dengan ibu mertuanya sendiri? Ini dunia yang sudah menggila, atau kalian berdua yang kurang waras?"
"Bukan urusan kamu!" bentak suami Siti. Pria itu melempar Valerie dengan gelas yang ada di meja sebelahnya. Valerie bisa menghindarinya, tapi gelas itu pecah di tembok sebelah Valerie hingga mengenai pipi Valerie dan menggoresnya.
Cakrawala yang melihat itu menjadi murka, ia hendak menerjang pria itu. Namun, Valerie mengangkat tangannya, meminta Cakrawala untuk diam di tempatnya. Ia mengacungkan jempolnya, menandakan bahwa ia baik-baik saja.
"Jelas menjadi urusan saya, jika hal itu terjadi di depan mata saya." Valerie mengusap darah yang mengalir dari pipinya yang tergores. "Anda, seorang kepala keluarga yang seharusnya bisa melindungi istri malah anda sendiri yang melukainya. Anda sebagai kepala keluarga yang seharusnya mencari nafkah, kenapa malah istri anda yang bekerja keras, sedangkan anda? Malah selingkuh dengan mertua sendiri."
"Bukankah ini jaman emansipasi wanita, jadi bebas dong kalau istri saya yang mencari nafkah?" ucap pria itu membela diri.
"Emansipasi wanita? Jaman sekarang banyak orang melakukan eksploitasi dengan mengatasnamakan emansipasi. Kaum wanita bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan, sedangkan sang adam berleha-leha sambil menunggu hasil dari keringat istrinya. Emansipasi itu kesetaraan, bukan pemaksaan. Kalian menjadikan seorang wanita sebagai istri seharusnya untuk dilindungi, bukan untuk disakiti."
"Banyak omong!" pria itu hendak melempar Valerie lagi dengan vas bunga, tapi kalian pasti sudah tahu bagaimana akhirnya. Valerie sang panglima perang Arakata yang tangguh melawan pria sombong yang sama sekali tidak punya kemampuan. Yang terjadi? Babak belur lah, hehehehe.
__ADS_1