
Tiga bulan sudah berlalu sejak kepergian Rajawali dari kehidupan Valerie. Panti asuhan yang dibangun atas nama Rajawali pun sedang dalam proses pembangunan.
Valerie berhenti dari pekerjaannya sebagai wartawan. Gadis itu lebih memilih mengelola toko kue miliknya sendiri.
Hubungannya dengan Elang pun semakin dekat. Walau mereka masih bersembunyi di balik ikatan persahabatan.
Hari ini adalah hari pernikahan Bagus. Jangan ditanya siapa yang membuat kue pernikahannya, tentu saja Valerie.
"Untung tadi Eri berhasil merayu mamanya Bagus," ucap Gandi, "ngeri gue kalau datang ke pernikahannya Bagus harus pakai kostum, hiiiiii...," Gandi mengusap lengannya yang merinding.
"Gue udah dapat bocoran dari Bagus, kalau emaknya udah nyiapin kostum Disney buat kita. Mampus lo kalau dapat kostum princess sama mermaid lagi," ujar Braga yang mendapat tatapan maut dari Elang dan Gaung.
"Masih aja nyokapnya Bagus demen makein kita kostum-kostum nyleneh," gerutu Elang.
"Udah gak usah pada ngedumel, cowok-cowok hobinya gibah," ucap Valerie sambil berlalu pergi meninggalkan kerumunan pria-pria tampan itu.
"Kemana, Er?" tanya Robert.
"Cuci mata, siapa tahu ketemu jodoh di sini," jawab Valerie tanpa menengok ke arah teman-temannya.
Elang reflek mengikuti gadis itu dan merangkul bahunya.
"Gue temenin," ucap Elang, ia menarik tubuh Valerie agar lebih dekat dengannya. Seakan memberi tahu pada semua pasang mata di sana bahwa wanita yang ada dalam dekapannya adalah wanitanya, miliknya.
"Ngintilin gue mulu, Lo!" protes Valerie sambil memberengut sebal. "Kalau elo nempel gue mulu, yang ada gue bakalan gagal dapat calon suami."
"Emang itu niat gue," jawab Elang tegas, "hanya gue yang boleh jadi ayah dari anak-anak kita nanti." Elang mengerlingkan sebelah matanya, menggoda Valerie.
"Cacingan lo kedip-kedip! Jijik gue!"
"Jijik kok mukanya merah, seneng kan neng, dirayu abang pilot?"
Awhhh
Elang mengusap-usap perutnya yang di cubit Valerie.
"Di belai dong, jangan dicubit."
"Perut lo keras banget sih, susah dicubit!" protes Valerie, sambil menepuk-nepuk perut kotak-kotaknya Elang.
Elang terbahak mendengar penuturan Valerie.
"Jangan ditepuk, entar yang lain ikut keras," ujar Elang sambil menyingkirkan tangan Valerie dari perutnya dan digandeng dalam genggamannya.
"Mesum!" teriak Valerie, membuat Elang semakin terbahak.
"Copot entar mata lo, lihatinnya gitu amat," ujar Gandi sambil menjetikkan jarinya di depan wajah Gaung. Gaung hanya tersenyum sambil masih memperhatikan interaksi Valerie dan Elang.
"Gue turut bahagia melihat mereka berdua bahagia. Tapi, di sini ada yang terasa sakit."
Gaung menunjuk dadanya. "Bertahun-tahun gue bertahan dengan harapan
__ADS_1
suatu saat Eri bakal buka hatinya buat gue. Tapi,," Gaung tersenyum
getir.
"Bukan lo aja yang ngerasa seperti itu," sahut Robert, ikut tersenyum getir. "Yang penting Eri bahagia, buat gue itu cukup."
"Lo semua kira sampai saat ini gue belum nikah karena apa?" Roxy ikut menimpali. "Gue masih berharap ada kemungkinan kecil Eri bisa ngelihat gue."
"Playboy cap biawak macam lo gak bisa naklukin hati cewek, cabut aja gelar lo itu," ejek Gandi sambil tersenyum miring.
"Elo gila, jangan samain Eri sama cewek-cewek lain. Kalau cewek lain gue modusin langsung meleleh. Lha ini? Gue modusin malah gue yang kena tampol," jawab Roxy sambil bergidik ngeri.
"Iyalah beda," sahut Braga, "kalau gak istimewa, gimana Elang bisa sampai bucin parah gitu. Elo semua tahu sendiri gimana Elang, cool, judes, kalau digoda cewek tatapan mautnya langsung keluar. Coba kalau sama Eri, tatapan matanya berbinar-binar mulu. Kayak anak kecil yang dapat balon."
"Kelihatannya mulai sekarang, kita harus belajar mengikhlaskan. Yang penting Eri bahagia. Kalau sampai Elang berani bikin Eri sedih, awas aja tuh pilot rese." Ucapan Choky membuat teman-temannya membelalakkan mata.
"Elo juga suka Eri, Bos?" tanya Roxy heboh.
"Dari pertama dia buat gue babak belur waktu dulu, saat itu juga hati gue ikut jatuh sama pesonanya," jawab Choky sambil mengingat kejadian dahulu. Waktu geng Rajawali mencari masalah dengan Arakata. Ia tidak menyangka jika panglima perang Arakata adalah seorang perempuan yang kuat dan cantik. Mulai saat itu ia mulai tertarik dengan Valerie, sampai sekarang perasaan itu masih ada.
"Gue kira muka seram kayak elo gak bisa falling in love, Chok?" ujar Gandi yang membuat Choky melotot jengkel.
"****** lo semua!" umpat Choky sambil memberengut sebal, membuat teman-temannya terbahak bahagia.
***
Valerie memangku bunga yang ia dapat saat acara pernikahannya Bagus. Waktu istri Bagus melempar bunga, Valerie yang berhasil mendapatkannya. Padahal gadis itu tidak berniat ikut dalam acara tangkap bunga itu. Tapi, bunga itu malah jatuh tepat di hadapannya, otomatis ia menangkapnya.
"Ciee, yang dapat bunga. Bentar lagi kawin nih," goda Elang sambil menyetir mobilnya.
"Kucing, kucing apa yang bisa bikin muka merah?" tanya Elang sambil sesekali memperhatikan gadis manis di sebelahnya.
"Cakar kucing," jawab Valerie asal.
"Bukan." Elang memberhentikan mobilnya di depan gerbang rumah Valerie. "Kucingtai mu sepanjang sisa umur ku." Elang tersenyum sambil memeperhatikan wajah Valerie yang merona malu, sungguh terlihat manis. "Tuh kan merah." Elang menoel-noel pipi Valerie.
"Sejak kapan elo jadi tukang gombal gini, Lang?" Valerie memukul lengan Elang.
"Sejak gue sadar bahwa hati gue telah terkunci, dan hanya elo yang bisa ngebukanya, karena elo kuncian gue."
"Gu-gue masuk rumah dulu, makasih," ujar Valerie gugup. Gadis itu mencoba membuka pintu mobil Elang, tapi nihil. Pintunya sengaja dikunci pria itu.
"Gue tahu elo bakal kabur, karena itu pintu mobil udah gue kunci." Elang menarik tangan Valerie dalam genggamannya. "Perasaan gue belum berubah, Er. Gue masih cinta elo. Dari jaman kita masih sekolah, hingga sekarang. Apa elo juga masih memiliki perasaan yang sama seperti yang gue rasain?"
"Gu-gue, Gue ...," Valerie memalingkan wajahnya ke sembarang arah, asal tidak memandang wajah Elang yang selalu bisa membuatnya berdebar.
"Tatap mata gue, Er." Elang mengusap pipi Valerie dan menengadahkan wajah itu untuk menatapnya. "Jawab sesuai apa yang hati elo rasain, jangan pernah mengingkari kata hati sendiri."
"Gimana dengan Amelia?"
Elang terkekeh mendengar pertanyaan Valerie.
__ADS_1
"Gue udah gak ketemu dia lagi. Setelah elo pergi ke Korea, kerjaan gue cuma bengong ngelihatin kamar elo. Gak ada waktu buat ngurusin cewek pembohong itu?"
"Pembohong?"
"Ibunya meminta gue ngejagain Lia karena dia punya penyakit yang serius. Gue turutin permintaan mereka karena gue merasa kasihan. Dan mereka terus-terusan manfaatin gue, dan menjauhkan gue dari elo. Bagus yang ngebongkar kebohongannya, dia gak pernah sakit, itu hanya akal-akalannya. Dan yang meminta gue buat menjaga Lia, ternyata bukan ibunya. Melainkan asisten rumah tangganya. Orang tua Lia sudah lama bercerai, ibunya pergi dengan keluarga barunya."
Valerie mengangguk-angguk sambil tersenyum mendengar penjelasan Elang. Ternyata dulu dia salah paham, Elang tidak pernah menaruh hati pada Amelia.
"Kenapa senyum-senyum?" Elang membelai pipi Valerie yang terasa lembut di telapak tangannya. "Jangan-jangan dulu elo cemburu waktu gue deket sama Lia, ya?" Elang mengerlingkan sebelah matanya, menggoda Valerie.
"Apaan sih, Lang?" Valerie menyentil mulut Elang. "Mulut rese!"
"Er, gue gak pernah main-main dengan perasaan, gue beneran sayang lo, cinta elo, dan mau berada di samping elo sampai ajal memisahkan kita,"
"Jangan ngomong tentang ajal, Lang," ujar Valerie, gadis itu meletakkan jari telunjuknya pada bibir Elang. "Gue takut kehilangan lagi, apalagi jika sampai kehilangan pria yang gue cinta." Tanpa gadis itu sadari air matanya menetes, membasahi pipinya.
"Elo masih cinta sama gue?" tanya Elang sambil mengusap air mata Valerie.
Valerie mengangguk. "Masih, dan tidak pernah berubah," lirih Valerie.
Elang tersenyum bahagia, dikecupnya dahi gadis yang sangat dicintainya itu.
"Jadi gue pria kedua yang elo cinta selain Raja?"
Valerie menggelengkan kepala, membuat dahi Elang berkerut bingung. Apakah masih ada pria lainnya yang Valerie cintai?
"Gue sangat menyayangi Raja. Tapi gue belum bisa mencintainya. Gue menyayanginya sebagai sahabat dan kakak. Dia tahu hal itu, dia tidak masalah dengan hal itu. Dengan sabar dia menunggu sampai hati gue terbuka untuknya. Raja pria yang baik, tidak pernah memaksakan kehendaknya. Tapi tetap saja, cinta gue bukan untuk Raja, cinta gue sudah menjadi milik orang lain."
"Orang lain itu gue?" tanya Elang. Valerie mengangguk, membuat sebuah senyum terbit lagi dari bibir Elang.
Elang langsung meraih tubuh Valerie dalam pelukannya. Betapa bersyukurnya ia, penantiannya selama sepuluh tahun ini tidak sia-sia.
"Aku janji, akan selalu membuatmu bahagia. Tidak akan ku biarkan kamu menangis seperti dulu lagi."
"Raja bilang di suratnya kalau sampai ada pria yang berani membuat gue bersedih, siap-siap aja digentayangin seumur hidup."
Bukannya merasa takut, Elang malah terbahak mendengar penuturan Valerie. Sampai akhir hayatnya pun, Raja masih bersifat posesif pada Valerie.
"Sebelum kepergiannya, Raja menghubungi aku. Dia minta supaya aku menggantikannya untuk menjaga kamu."
"Raja hubungin elo?"
Elang mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Valerie.
"Jangan panggil gue elo lagi ya, Sayang." Elang mengecup lama kening Valerie.
Valerie mendorong tubuh Elang. "Nyosor mulu elo dari tadi!" protes Valerie.
"Sttt ...," Elang meletakkan jari telunjuknya pada bibir Valerie. "Manggil elo gue lagi, aku sosor bibir kamu." Elang menyeringai sambil mengerlingkan matanya.
"Elang!" teriak Valerie sambil memukul-mukul dada bidang Elang.
__ADS_1
Elang semakin terbahak melihat reaksi lugu Valerie. Diraihnya lagi tubuh Valerie dalam dekapannya.
"I love you, Sayang ...."