Arakata

Arakata
Kangen


__ADS_3

Percayalah, ragaku memang tidak bisa bersamamu saat ini. Namun, setiap doaku akan selalu menyertaimu. Aku akan selalu melindungimu, atas ridho dari sang pemilik hidup.


***


"Makan yang banyak, biar tambah montok," ucap Valerie pada amok. Amok adalah nama ayam milik Valerie, ayam yang diberi oleh Robert saat ia menyelamatkan ibudan adik pria itu dari begal.


Ayam pemberian Robert ada sepasang, yang satu namanya amok yang berarti ayam semok. Amok dipelihara oleh Valerie, sedangkan yang jantan bernama ambul. Ambul yang berarti ayam gembul dipelihara oleh Elang.


Gadis itu tersenyum melihat ayam semoknya yang makan dengan lahap.


"Pelan-pelan makannya, entar keselek kamu," ucap Valerie sambil menoel-noel pantat amok. Tidak sengaja pandangan matanya tertuju pada Elang yang ada di seberang sana. Pria itu berdiri di depan gerbang rumahnya sambil memegang sebuah kertas, semacam surat.


Wajah pria itu seperti menahan emosi saat membaca kertas yang ada di tangannya tersebut, telapak tangannya pun terkepal. Hal itu membuat Valerie penasaran, apa yang terjadi dengan pria yang dicintainya itu. Ia melangkahkan kaki ke seberang rumahnya dengan menggendong ambul.


Valerie sudah berada di belakang Elang, tapi pria itu sama sekali tidak menyadarinya. Pria itu masih sibuk dengan kertas yang berada di tangannya itu.


"Tak akan kubiarkan kau menyakitinya walau seujung kuku," ucap Elang perlahan yang masih terdengar oleh Valerie.


"Kamu kenapa?" tanya Valerie, gadis itu menepuk pundak Elang membuat pria itu terkejut.


Elang membalikkan badan menghadap sang sumber suara. Begitu mengetahui jika yang memanggilnya adalah Valerie, ia menyembunyikan kertas itu.


"Kamu kenapa? Kok kelihatan tegang gitu?" tanya Valerie kembali.


"Aku gak kenapa-napa," jawab Elang, pria itu terlihat gugup. "Amok, udah lama gak ketemu." Elang membelai kepala amok, membuat ayam itu memejamkan mata, dasar ayam genit ,,, hahahaha.


"Kamu sih, sombong bener," sahut Valerie, "gak pernah main lagi ke rumahku.


"Hehehe, aku sedang sibuk-sibuknya, Er," jawab Elang sambil terkekeh.


"Kamu gak jadi ke luar kota?"


"Belum," jawab Elang sambil menggelengkan kepala. "Kalau urusan di sini udah kelar, baru aku ke luar kota."


"Oh." Valerie membulatkan bibirnya, ada rasa kecewa di nada suaranya, wajah gadis itu berubah muram. Hal itu tidak lepas dari pandangan Elang. Ia tahu persis apa yang ada di hati gadis itu, karena ia pun juga merasakan hal yang sama.


"Mau ketemu sama ambul?"


Wajah Valerie langsung berseri mendengar pertanyaan Elang. Gadis itu langsung menganggukkan kepala tanpa banyak berpikir lagi.


Elang berjalan masuk ke dalam gerbang rumahnya dengan Valerie dan amok yang mengekor di belakang pria itu. Langkah mereka terhenti di kebun belakang rumah Elang. Di sana ada sebuah kandang ayam kecil berwarna biru, di dalamnya ada seekor ayam kecil yang hampir mirip dengan amok. Ya iyalah hampir mirip, bukannya di mana-mana anak ayam bentukannya sama? Hahahaha.


"Wah, ambul," panggil Valerie, gadis itu menurunkan amok dari gendongannya. Elang membuka pintu kandang ambul, sehingga ambul keluar kandang dan bermain dengan amok, entah bermain apa mereka.


Valerie berlarian mengejar dua anak ayam itu sambil merentangkan kedua tangannya seperti gerakan menggiring. Gadis itu terbahak melihat sepasang anak ayam yang dikejarnya berlarian kesana-kemari. Ia mulai berteriak heboh saat sepasang anak ayam itu gantian mengejarnya.


"Wua, kenapa pada balik ngejar aku!" teriak Valerie, ia berlari ke arah Elang yang ikut tertawa melihat Valerie yang dikejar-kejar anak ayam. "Tolongin aku, Lang. Aku gak mau digigit ambul sama amok." Valerie berdiri di belakang tubuh kekar Elang.


"Hey, sejak kapan ayam bisa gigit?" tanya Elang di sela-sela tawanya. "Kalau dipatuk iya."


"Ish, apapun itu lah, Lang. Sama-sama sakit, Kan!"  Valerie memukul pelan punggung Elang, merasa jengkel pada pria itu. Karena bukannya menolong malah menertawainya.


"Wah, lagi ngapain nih, seru amat," ucap Garindra yang baru keluar dari dalam rumah bersama sang istri, Jelita.


"Papah," seru Valerie, ia berlari ke arah Garindra, meminta perlindungan sahabat ayahnya itu. "Eri dikejar amok sama ambul, tuh. Hush, hush ... gak aku kasih makan sebulan entar kalau nakal." Valerie mengancam kedua anak ayamnya, hal itu malah membuat amok dan ambul kembali mengejarnya. "Wua, ngejar lagi!"


Elang menangkap kedua anak ayam itu dan menggendongnya.


"Salah sendiri tadi kamu kejar-kejar, ya gak salah lah kalau gantian dikejar," ucap Elang sambil terkekeh.


"Kelihatannya mereka ayam jadi-jadian deh, Lang. Mana ada ayam yang larinya kenceng kayak mereka," ucap Valerie yang masih ngos-ngos'an.


"Wah, malah ngejek. Mau dikejar lagi? Aku lepasin lagi, nih," usil Elang, membuat Valerie kembali panik.


"Wah ... jangan, Lang," sahut Valerie cepat, membuat Elang terkekeh. "Mending kamu masukin ke kandang aja. Kaki aku capek, Lang." Valerie duduk di rerumputan sambil memijit kakinya.


Elang memasukkan kedua ayam itu ke kandang ambul. Setelahnya, ia melangkah mendekati Valerie dan duduk di sebelah gadis itu.


Tanpa sepengetahuan mereka, Garindra dan Jelita kembali masuk ke dalam rumah. Mereka ingin memberikan waktu kepada kedua insan yang pernah menjalin kasih itu.


"Pegel?" tanya Elang, pria itu melepaskan sandal yang dipakai Valerie dan memijit telapak kaki gadis itu.


Valerie menganggukkan kepala. "Napasku ngos-ngos'an, Lang." Valerie mengusap dadanya, berusaha menetralkan napasnya.


"Mau aku pijit juga?" tanya Elang sambil mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


Mata Valerie langsung melihat pada arah tangannya yang mengusap dada, wajahnya merah seketika.


"Mesum," ucap Valerie sambil memukul lengan kekar Elang. Membuat pria itu kembali terbahak.


"Eri, jangan terlalu dekat denganku," ucap Elang, mata pria itu menerawang, memandang langit cerah pagi ini.


"Hah?" Gadis itu menoleh pada Elang, tidak mengerti dengan apa yang disampaikannya.


"Jangan berada terlalu dekat denganku," kata Elang lagi, ia menoleh pada Valerie, memandang gadis di sebelahnya itu.


Valerie menggeser duduknya menjauh dari Elang, membuat dahi pria itu mengerut.


"Sedang apa kamu?"


"Katanya aku disuruh jangan dekat-dekat sama kamu," jawab Valerie polos. "Aku emang belum mandi, sih. Bau ya?" Valerie mnegendus-endus badannya.


Hal itu membuat Elang menepuk dahinya, ia lupa jika jalan pikiran gadis di sebelahnya itu terlalu simple.


"Balik sini lagi kamu." Elang melambaikan tangannya, meminta Valerie untuk duduk di sebelahnya lagi dan gadis itu menurutinya. "Maksutku, keberadaanmu jangan terlalu dekat denganku. Kalau perlu kita bersikap seolah kita ini orang asing yang tidak saling mengenal."


"Kenapa?"


"Gak semua hal harus kamu tahu alasannya," sahut Elang sambil tersenyum. Ada sebuah kerinduan dalam tatapan mata pria itu, tapi ia tidak bisa mengungkapkannya.


"Hubungan kita memang sudah berakhir, tapi bukan berarti kita harus saling menjauh, kan?" Valerie mengubah posisi duduknya, hingga sekarang ia berhadapan dengan Elang.


"Tapi untuk kali ini, kita memang harus melakukannya. Kita sudah berakhir, dan seharusnya kita jangan terlalu dekat lagi. Kisah kita hanya sebuah masa lalu, dan sudah sepantasnya berlalu."


Ucapan Elang bagai sebuah pukulan telak yang menyakiti hati Valerie. Mereka memang bukan lagi sepasang kekasih, tapi bukankah itu tidak bisa dijadikan alasan untuk saling membenci? Walau bagaimanapun, mereka pernah mengalami hal bahagia berdua yang tidak bisa dilupakan begitu saja.


"Sebegitu inginnya kamu melupakan kenangan kita, Lang?" Valerie memandang wajah Elang, netra indah Valerie berkaca-kaca.


"Ini bukan masalah ingin atau tak ingin, mau atau tak mau. Tapi ini memang harus dilakukan. Kita hanya sepenggal masa lalu, dan jangan sampai masa lalu menghambat masa depan kita."


Ucapan Elang membuat Valerie tersenyum getir, kemudian ia mengangguk.


"Baiklah kalau itu yang menjadi keinginan kamu, akan aku lakukan. Tenang aja, sekarang aku sudah benar-benar ikhlas, aku tidak akan melakukan hal bodoh seperti waktu itu lagi. Dan seperti mau kamu, aku tidak akan mengganggumu lagi, apalagi sampai menghambat masa depanmu." Valerie bangkit berdiri, ia menepuk-nepuk belakang celananya yang kotor terkena tanah dan rumput.


"Boleh aku bawa ambul bersamaku? Mereka sepasang, kasihan jika harus dipisahkan."


Elang mengangguk, tanpa melihat ke arah Valerie. Gadis itu mengira jika Elang sudah enggan untuk melihatnya lagi. Ia membuka kandang, dan mengambil amok dan ambul.


"Iya, nanti gue bilang ke mamah sama papah."


Kata-kata Elang yang membahasakan gue elo membuat Valerie terdiam sejenak, kemudian ia tersenyum getir.


"Makasih, gue pulang." Valerie melangkahkan kaki keluar dari gerbang rumah Elang, tanpa menengok ke belakang sedikitpun.


Elang memandang kepergian Valerie, hingga bayangan gadis itu sudah tidak terlihat lagi. Setelahnya, ia mengusap wajahnya kasar.


"Siapapun elo yang udah ganggu ketenangan hidup gue dan orang-orang yang gue sayang ... gak akan pernah gue lepasin!" Elang merobek kertas yang ia dapatkan di luar gerbang rumahnya tadi.


***


"Enggak, Ero," tolak Valerie.


"Iya, Eri."


"Enggak mau."


"Harus mau."


"Ish, jangan maksa deh."


"Biarin, kamu memang harus dipaksa."


"Enggak mau."


"Harus mau. Kita pergi naik motor, pasti dingin."


"Sampai kapan kalian mau tawar-menawar begitu? Udah kayak di pasar." ucap Laksmono pada Valerie dan Valero.


Sekarang mereka berada di ruang tamu kediaman Laksmono. Sudah beberapa menit berlalu, tapi kedua insan itu masih meributkan masalah yang sama.


"Ero nih, Yah. Adek gak mau pakai jaket malah dipaksa mulu," adu Valerie pada sang ayah, berharap mendapat pembelaan.

__ADS_1


"Ini udah malam, Om. Angin malam gak baik buat Eri, nanti kulitnya ruam-ruam," sahut Valeroe, membela diri.


Laksmono menganggukkan kepala.


"Adek kalau gak mau pakai jaket, gak usah keluar ... di rumah aja," ucap Laksmono, membuat Valero tersenyum tapi membuat Valerie manyun.


"Tapi adek mau ke swalayan dulu, Yah. Ada yang harus adek beli." Valerie memeluk lengan sang ayah, mencoba merayu pria paruh baya yang masih terlihat tampan itu.


"Pakai jaket, kalau tetep gak mau ... jangan kasih ijin keluar, Yah," ucap Pratama.


Semenjak kejadian Valerie masuk rumah sakit, Pratama dan kedua adiknya yang lain masih tinggal di tempat Laksmono, tentunya bersama keluarga kecil mereka. Mereka tidak akan membiarkan Valerie merasa kesepian lagi. Begitu juga dengan Ceril, walau Bayu sudah meninggal tapi Laksmono tetap menganggap Ceril sebagai anak mantunya. Jadi, ia tetap tinggal di kediaman Laksmono walau tanpa Bayu.


"Tapi jaket adek di kamar, Bang. Adek males naik lagi," kilah Valerie.


Valero melepas jaket yang dikenakannya, dan memberikannya pada Valerie.


"Pakai jaket gue, gak usah banyak alasan lagi," ucap Valero, membuat Valerie berdecak sebal.


"Tapi malah jadi elo yang gak pakai jaket, kan? Entar malah elo yang kedinginan."


"Gak apa-apa, Dek," sahut Ceril, ia mengedipkan sebelah matanya jahil. "Ero kan cowok, jadi dia kebal dingin."


"Bener tuh apa kata Kak Ceril," ucap Gerry ikut membela Valero.


"Memang bisa ya kayak gitu?" tanya Valerie sambil mengetuk-ngetuk dahinya.


"Bisa!" jawab semua yang ada di situ bersamaan, membuat Valerie kembali berdecak. Namun, ia tetap mengenakan jaket milik Valero itu.


"Hati-hati di jalan, Ro. Jangan ngebut, kalau sampai adek gue lecet, gue gebukin, Lo ...," ucap Reyhan santai namun sarat akan ancaman.


"Siap, Bang." Valero mengacungkan jempolnya. "Dijamin aman, gak bakal kurang apapun ... kalau perlu nanti waktu Eri pulang jadi berbadan dua."


"Gue mutilasi anu lo!"


"Gue cekek anu lo!"


"Gue geprek anu lo!"


Itu adalah ucapan Pratama, Reyhan, dan Gerry secara berjamaah, membuat Valero terkekeh.


"Lha, tadi katanya Eri gak boleh kurang, sekarang mau gue tambahin juga gak boleh. Kalian ini labil, Bang."


Baru saja ketiga abang Valerie hendak mengeluarkan sumpah serapah, tapi Valero langsung gerak cepat mencium punggung tangan Laksmono dan Diandra, kemudian berpamitan. Valerie hanya geleng-geleng kepala sambil mengekori langkah Valero dari belakang.


"Lha, kenapa motor elo, lo parkirin di luar pagar?" tanya Valerie yang merasa heran melihat motor milik Valero diparkir di depan gerbang bukannya di dalam.


"Tadi gue manjat pagar, Mang Ikin lagi ke toilet kayaknya waktu gue masuk, jadi gak ada yang bukain pagar."


"Ck, udah berasa maling aja elo, Ro," ledek Valerie.


"Hehehe... darurat, Er," ucap Valero sambil terkekeh.


Perhatian mereka beralih pada seorang pria yang juga mengendarai sepeda motor. Pria itu sedang menunggu dibukakan pintu gerbang oleh satpam rumahnya.


"Woe, Lang," panggil Valero pada Elang.


Elang melambaikan tangan sebagai jawabannya. "Mau kemana?"


"Nganter tuan putri ke mall, mau nyari lingerie katanya," sahut Valero asal, membuatnya mendapat tabokan maut dari Valerie.


"Lingerie muke Lo! Gue mau beli piyama tidur gambar Monokorobo sama Hamtaro," ucap Valerie membela diri.


"Sama aja baju buat tidur, kan? Mending lingerie deh, Er. Elo udah segede gaban gitu masih aja pakai yang motif Monokorobo sama Hamtaro."


"Terserah gue, dong. Mending elo aja sono yang pakai lingerie."


"Idih, entar gue jadi gini, dong!" Valero mengibaskan rambutnya kemayu, membuat Valerie terbahak.


"Udah, ayo berangkat. Keburu malam," ucap Valerie sambil nangkring di boncengan motor Valero.


"Iya, Sayang," sahut Valero sambil menstater motornya. "Gue berangkat dulu ya, Lang. Bebeb gue udah gak sabaran banget nih mau milih-milih lingerie."


Elang menganggukkan kepala sebagai jawabannya.


"Ngomong lingerie lagi gue gaplok beneran mulut, Lo!" ancam Valerie, tapi kemudian ia langsung memeluk pinggang Valero, karena pria itu mengegas motornya secara mendadak. "Ero ... gue bunuh, Lo!"

__ADS_1


Elang memperhatikan kepergian kedua insan itu dengan tatapan sayu. Jika boleh jujur, ia masih tidak rela jika Valerie dekat dengan pria lain ... apalagi dengan Valero. Karena Elang tahu betul jika pria itu juga menaruh hati pada Valerie. Tapi di sisi lain ia juga merasa lega, karena ia tahu jika Valero pasti bisa menjaga Valerie.


"Eri, aku kangen kamu," lirih pria itu, ia mecengkram erat stang motornya. Seakan dengan begitu, ia bisa meluapkan emosinya.


__ADS_2