Arakata

Arakata
Lamaran Ekstrim


__ADS_3

Walauaturan dari ayah dan abang-abangmu seketat sempaknya superman. Aku akan terus berjuang, demi mendapatkanmu, calon bidadari surgaku.


Elang R.G


***


"Ogah!" teriak Valerie.


"Ayolah, Sayang, gak papa," jawab Elang.


"Enggak, Elang. Aku takut," mohon Valerie, pakaian gadis itu acak-acakan, rambutnya pun berantakan.


Elang memegang kedua pundak gadisnya.


"Percaya sama aku, semuanya akan baik-baik aja," ucap Elang sambil memandang wajah manis sang kekasih.


"Takut," lirih gadis itu sambil memanyunkan bibirnya, membuat Elang gemas.


"Gak usah takut, ada aku," jawab Elang sambil tersenyum.


"Ya karena ada kamu, aku malah jadi takut. Kamu itu orangnya jahil..."


Elang terkekeh sambil merapikan rambut Valerie yang berantakan. Gadis itu mengacak-acak rambutnya karena geram Elang terus memaksanya.


Padahal Elang hanya mengajak Valerie untuk naik pesawat pribadi yang diterbangkannya. Namun, reaksi Valerie seperti mau diapa-apakan.


"Percaya sama aku, Sayang," ucap Elang lembut sambil membelai rambut panjang valerie.


"Gimana kalau kepalaku pusing?" tanya Valerie. Padahal dianya yang sering buat orang di sekelilingnya pusing karena sikapnya yang di luar nalar. Hahahaa.


"Aku bakal pijit kepala kamu agar gak pusing lagi," jawab Elang mantap.


Setelah berfikir dengan seksama, akhirnya gadis itu membuat keputusan.


"Oke ... aku mau," jawab Valerie sambil mengangguk, membuat Elang tersenyum puas.


"Kapan kita berangkatnya?"


"Sekarang."


"Hah!" Valerie menganga mendengarnya.


***


"Emang kita mau terbang kemana?" tanya Valerie begitu sampai di bandara.


"Nanti kamu juga tahu sayang," jawab Elang, sejak dari dalam mobil tadi, Valerie tidak berhenti bertanya.


Elang menggandeng tangan Valerie menuju pesawat mereka berada. Begitu masuk ke pesawat, betapa terkejutnya ia melihat keluarga dan sahabat-sahabatnya juga berada di sana.


"Hay, Eri ...," sapa mereka bersamaan.


"Kok kalian ada di sini? Ada ayah, bunda, papa, mama, Om Afghi, Om Alif, abang-abang kampret, teman-teman gak ada akhlak. Komplit bener," ujar Valerie sambil melongo.


"Kita dapat liburan gratis dari Elang, Er," jawab Bagus sambil memangku anaknya.


"Kalian semua libur kerja?"

__ADS_1


"Bolos," jawab mereka bersamaan.


"Setelah ini, alamat jadi pengangguran kalian," ujar Valerie sambil menepuk dahinya.


"Gak usah khawatir, mereka udah ijin, kok. Lagian kebanyakan dari mereka kan pemilik perusahaan tempat mereka bekerja. Kamu duduk aja di sini," ujar Elang sambil mempersilahkan duduk di kursi paling depan.


"Huh, memanfaatkan jabatan," gumam Valerie sambil cemberut.


Elang tersenyum gemas melihatnya.


"Kamu duduknya mau ditemani siapa?"


Valerie menengok ke belakang, memperhatikan wajah-wajah di sana.


"Duduk sendiri aja. Wajah mereka gak ada yang bisa dipercaya, wajah jahil penuh siasat semua!" jawab Valerie lantang, membuat semua yang ada di sana terkekeh.


"Ehm, ayah juga gak bisa dipercaya, Er?" tanya Laksmono sambil berdeham.


"Ayah satu-satunya pria yang bisa dipercaya di sini," jawab Valerie cepat, takut ayahnya ngambek. "Tapi, ayah kan duduk sama bunda. Masa adek nyempil di tengah-tengah?"


"Elo kan biasanya emang suka nyempil kaya upil, Er," ujar Gandi yang duduk di sebelah Virsa, tunangannya.


Valerie berdiri, hendak menerjang Gandi. Namun, Elang lebih dulu mencegahnya.


"Duduk ya, Sayang. Kita sudah mau berangkat," rayu Elang, Valerie mengangguk sebagai jawaban.


Lima belas menit berlalu setelah pesawat lepas landas. Valerie berusaha memejamkan mata, enggan menatap ke jendela. Berharap dengan menutup mata, pesawat akan cepat mendarat. Mata gadis itu terbuka ketika mendengar suara deheman dari pria yang sangat ia kenal. Tapi kan pria itu sedang ....


Elang muncul dari kabin pilot sambil membawa sebuket bunga, dan tentunya pria itu sudah berganti pakaian.


"Lho? Kok kamu ke sini, Lang? Terus yang nerbangin pesawatnya siapa?" tanya Valerie mulai panik.


"Aku digantiin pilot lain, Sayang. Jangan khawatir,"


Valerie menghembuskan nafas lega mendengar jawaban dari Elang.


"Tenang aja, Er. Pesawatnya dikontrol Elang pakai remot kok. Kayak yang biasa elo mainin di kebun singkongnya abah Mencong," celetuk Bagus, yang langsung mendapat lirikan tajam dari Valerie.


"Berisik lagi, hidung elo yang gue bikin mencong!" ancam Valerie.


"Beib, aku diancam Eri noh," adu Bagus pada istrinya, sang istri hanya terkekeh mendengar aduan dari Bagus.


"Buat apaan, tuh?" tanya Valerie sambil menunjuk bunga dalam genggaman Elang. "Aku emang lapar, tapi aku gak hobi makan kembang. Kasih Gandi aja noh yang hoby ngunyah kembang!"


"Eh jambul tweety. Elo kira gue mbak kunti, nyemilin kembang!" protes Gandi tidak terima.


"Asstagfirullah, mau romantis aja susahnya minta ampun. Nasib punya cewek berjiwa cowok gini. Untung sayang," dumel Elang dalam hati.


"Sayang," Elang meletakkan bunga yang dibawanya ke kursi di sebelah Valerie. Digenggamnya kedua tangan sang kekasih. "Kita sudah melewati waktu bersama semenjak kita masih kecil, bahkan semenjak dalam kandungan mama kita masing-masing. Kita juga selalu bersama semenjak masih mengenakan popok, mengenal bangku sekolah, mengenal berkelahi, hingga mengenal arti cinta.


Valerie Livia Laksmono, kamu adalah sosok gadis yang bisa membuat perasaanku jungkir balik. Kamu adalah sosok gadis yang bisa membuatku menjadi pria yang berpikir jauh ke depan. Kamu satu-satunya gadis yang bisa meredam emosiku. Kamu juga satu-satunya gadis yang bisa membuat darahku mendidih karena rasa cemburu.


Aku tahu, aku pernah melakukan kesalahan yang menyakiti hatimu dan membuatmu pergi selama sepuluh tahun. Namun, takdir berkehendak lain. Kamu kembali, walau dengan status tunangan pria lain. Kamu tahu betapa hancurnya aku saat itu?" Elang menatap sendu wajah kekasihnya.


"Namun, setelah berpikir lagi, mungkin itu adalah karmaku karena pernah menyakitimu sepuluh tahun yang lalu. Aku sudah berusaha ikhlas untuk menerimanya, walau sakit itu masih tetap ada.


Namun, takdir berkata lain. Kamu kembali sendiri, dan aku berhasil mengisi hatimu kembali. Dan aku melakukan kesalahan lagi. Aku mencoba menguji perasaanmu padaku. Tanpa aku berpikir bahwa cintamu begitu besar padaku, dan kau begitu mempercayakan hatimu padaku."

__ADS_1


Elang berlutut dihadapan Valerie, sambil memegang sebelah tangan gadisnya itu.


Valerie Livia Laksmono, maukah kamu menghabiskan sisa umur bersamaku? Maukah kamu hidup bersamaku dan menerima segala kekuranganku? Aku tidak berani menjajikan hal yang muluk-muluk padamu. Tapi, aku tidak akan pernah berhenti berusaha melakukan apapun untuk kebahagiaanmu dan keluarga kecil kita kelak.


Valerie Livia Laksmono, maukah kau menikah denganku?" tanya Elang sambil tersenyum, mendongak menatap wajah sang kekasih yang menitikkan air mata. Bukan karena sedih, tapi karena kebahagiaan yang teramat sangat.


"Aku tidak akan memaksamu, Sayang. Jika kamu mau menikah denganku, terimalah bunga ini," ujar Elang sambil menyodorkan bunga mawar yang sedari tadi dipegangnya."Jika kamu menolak, turun dari pesawat saat ini juga," ujar Elang sambil tersenyum miring.


Valerie dan semua yang ada di pesawat itu melongo seketika mendengar perkataan Elang.


"Kamprettttt!" teriak Reyhan, "itu sama aja elo maksa adek gue buat mau nikah sama elo, jambul superman!"


"Cara elo maksa ngalus banget, Lang, hahaha!" teriak Bagus sambil terbahak.


"Lamaran macam apa ini?" gerutu Afghi, "persis si Indra dulu waktu ngelamar Jelita, tukang maksa."


"Kalau gak dipaksa, keburu digondol kucing garong. Bener, Lang ... terusin!" Garindra mengacungkan jempolnya, mendukung sang putra. Membuat Elang terkekeh, ternyata dulu ayahnya juga begitu.


"Apa jawabanmu, Sayang?" tanya Elang sekali lagi. "Kamu mau jatuh dari pesawat?" Valerie menggeleng dengan semangat, hingga pipinya yang chubby bergetar lucu. "Kalau gitu kamu harus terima lamaran aku."


Elang terkekeh melihat wajah Valerie yang cemberut, terlihat lucu. Ia tahu jika gadisnya belum siap untuk menikah, karena ia baru saja batal menikah dengan Rajawali.


Namun, jika tidak dipaksa, resikonya terlalu tinggi. Banyak pria yang sudah siap menikungnya, jika ia bergerak lamban.


"Aku mau," jawab Valerie sambil mengangguk, membuat Elang tersenyum girang. "Aku setuju menikah denganmu bukan karena takut jatuh dari pesawat." Valerie menjeda perkataannya, ia memandang sang kekasih sambil tersenyum tulus. "Tapi, karena aku memang ingin menghabiskan sisa umurku dengan orang yang aku cintai, yaitu kamu Elang Rayan Garindra." Valerie menerima bunga dari genggaman Elang.


Elang langsung menarik Valerie ke dalam dekapannya. Dikecupnya puncak kepala sang kekasih. Tak henti-hentinya ia mengucap syukur atas kebahagiaannya ini.


Tidak sia-sia semalam ia memberanikan diri untuk menerima wejangan dan petuah serta sedikit ancaman dari Laksmono dan putra-putranya, sewaktu meminta ijin untuk melamar Valerie.


Flash back on


Malam ini Elang sudah memantapkan hati dan keberaniannya untuk melamar gadis pujaannya. Sebelum melamar secara langsung ke Valerie, Elang lebih dulu meminta ijin pada Laksmono dan putra-putranya.


Sekarang, berada di sinilah dia. Duduk di sofa ruang kerja Laksmono. Dengan dikelilingi pria-pria berwajah tegas.


"Kamu yakin bisa membahagiakan putri saya, setelah apa yang kamu lakukan sepuluh tahun yang lalu padanya?"


Elang menelan ludahnya susah payah mendengar penuturan Laksmono yang terdengar tajam dan tegas.


"Putri saya memang terlihat kuat di luar. Tapi, tetap saja dia adalah seorang wanita yang hatinya lembut. Jangan coba-coba menyakiti hatinya lagi, jika kamu masih ingin mempunyai anggota tubuh yang utuh." Laksmono mengatakan itu sambil tersenyum, tapi dengan sorot mata yang terlihat serius.


"Jika kamu ingin menjadikan kesayangan kami sebagai milikmu," ujar Bayu, "perlakukan dia dengan baik. Jangan mencoba untuk menyakitinya. Ingat, satu tamparan saja kamu berikan padanya, akan kami balas dengan tinju yang akan merusak wajah dan meremukkan tulangmu."


"Jika kamu ingin adik manisku menjadi istrimu. Perlakukan ia dengan lembut, bersabarlah jika ia mulai merajuk," ucap Pratama sambil tersenyum.


"Jika kamu ingin menikah dengan adik kesayanganku. Pastikan bahwa hatimu tidak tersisa ruang untuk mendua. Karena jika suatu saat, kamu berani menduakannya-" Reyhan menjeda perkataannya, diletakkan jari telunjuk di lehernya. "Akan ku potong-potong tubuhmu, bukan hanya menjadi dua bagian. Tapi, menjadi ribuan, hingga tidak ada yang bisa mengenali dirimu."


"Jika kamu mau menikah dengan Eri kami-" Kini giliran Gerry yang berbicara, pria itu menatap Elang lekat. "Bhuahahahahahaha. Sudahlah, Bang, Yah, sudah abu-abu itu mukanya Elang. Jangan digoda terus. Bhuahahaha ...," Gerry terbahak sambil memukul-mukul meja saking gelinya melihat wajah Elang yang pucat karena kejahilan ayah dan kakak-kakaknya.


Elang hanya melongo, belum bisa mencerna apa yang terjadi. Mungkin pria itu terlalu shock. Membuat abang-abang Valerie semakin kencang tertawa.


"Kami hanya bercanda,,Lang," ucap Laksmono, Elang tersenyum lega. "Tapi, ancaman tadi benar-benar akan terjadi, kalau kamu berani menyakiti kesayangan kami."


"Saya tidak perlu banyak berjanji sama om dan abang-abang. Saya akan buktikan, kalau saya akan berusaha membahagiakan Valerie semampu saya," jawab Elang mantap. Membuat Laksmono dan putra-putranya tersenyum puas.


 

__ADS_1


 


__ADS_2