
"Ini makam siapa?" tanya Valerie pada Dito.
Sekarang, mereka berada di sebuah pemakaman yang letaknya cukup jauh dari rumah Valerie. Dito mengatakan pada Valerie kalau ia ingin mengenalkannya pada seseorang. Dan berada di sinilah mereka, di sebuah gundukan tanah dengan batu nisan bertuliskan nama Felicia Arumi.
Valerie yang sudah jelas tahu itu makam siapa, tetap bertanya pada Dito. Ia ingin dengar sendiri dari mulut Dito, siapa wanita itu dan apa arti wanita itu di hidup Dito. Dan kenapa pria itu tega menghabisi nyawa Felicia, dan melemparkan kesalahan pada Elang dan dirinya.
"Makam perempuan yang sangat berarti buat gue," jawab Dito, pria itu meletakkan sebuket bunga di atas makam Felicia.
"Kekasih elo?"
"Mungkin," sahut Dito sambil terkekeh.
"Hah, mungkin?"
"Kenapa elo pengen tahu?" tanya Dito balik, ia mengerutkan dahinya.
"Kalau gue gak boleh tahu, kenapa elo ngajak gue ke sini? Katanya elo mau ngenalin gue sama seseorang tapi elo ngajak gue ke sini. Berarti yang mau elo kenalin ke gue Felicia ini, kan? Kalau elo gak mau gue tahu, ya udah gue nunggu di mobil aja."
Valerie hendak melangkahkan kaki pergi dari sana, tapi Dito lebih dulu menggenggam pergelangan tangannya ... mencegah gadis itu melanjutkan langkahnya.
"Pinter bener lo ngebalikin omongan gue," ucap Dito sambil terkekeh geli. Ia menarik Valerie agar berada di sebelahnya kembali.
"Pinter lah, orang gue disekolahin," sahut Valerie asal.
"Ternyata elo cerewet juga, ya. Sama kayak dia," ucao Dito sembari mengusap batu nisan Felicia.
"Kalau gue dibilang cerewet, apa kabar Bagus, ya? Bisa keluar air dari kupingnya Dito, kalau ngedenger bacot Bagus yang gak ada rem-nya," ucap Valerie dalam hati, gadis itu kembali tersenyum teringat pada sahabat gesreknya.
"Kenapa senyum-senyum?" tanya Dito dengan dahi yang berkerut, heran melihat Valerie yang tersenyum sendiri.
"Inget seseorang," jawab Valerie singkat, Dito mengangguk-anggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Fel, dia Eri," ucap Dito, seakan memperkenalkan Valerie pada Felicia. "Senyuman dan sikapnya hampir mirip sama elo. Kalau berada di dekatnya, gue ngerasa lagi ada di samping elo."
"Enak aja nyama-nyamain gue sama orang lain, belum pernah gue tampol nih orang," dumel Valerie dalam hati, jelas tidak ia ucapkan secara langsung. Bisa ambyar rencananya nanti.
"Gue harap elo bahagia di sana, gue juga akan bahagia di sini bersama seseorang yang udah narik perhatian gue," ucap Dito sambil melirik pada Valerie. Setelahnya ia kembali menggandeng pergelangan tangan Valerie, berjalan menuju mobilnya.
"Gimana bisa bahagia? Orang meninggalnya elo bunuh." Masih dumel'an Valerie dalam hati. "Udah mending gak digentayangin lo. Ini juga, dari tadi ngegandeng tang gue mulu. Dikiranya mau nyeberang kali, kalau gue jengkel ... gue pelintir nih lama-lama tangannya." Valerie menarik napas dalam-dalam, berusaha bersabar menghadapi pria yang ada di sampingnya itu.
"Felicia meninggalnya karena apa?" tanya Valerie begitu mereka sudah masuk ke dalam mbil Dito.
"Sakit," jawab Dito sambil tersenyum.
Valerie terkekeh sesaat, kemudian ia kembali bertanya. "Sakit apa?"
Dito menggelengkan kepalanya. "Gue gak mau ingat-ingat itu lagi."
"Tunggu aja, sebentar lagi gue akan bikin elo mengingat kejadian itu lagi. Dengan cara halus maupun kasar," batin Valerie sambil tersenyum miring.
"Gue yakin elo mau bertanya lagi, elo udah kayak Dora yang demen banget nanya-nanya," ucap Dito sambil tersenyum.
"Iya, gue Dora ... elo monyetnya," sahut Valerie sambil menyingkirkan jari telunjuk Dito dari mulutnya.
"Gak apa-apa monyet, yang penting bisa selalu ada di samping elo," ucap Dito sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Si monyet juga suka nemplok di bahunya si buta dari gua hantu, lho."
Ucapan Valerie membuat Dito terbahak, dia tidak menyangka ... berbincang dengan Valerie bisa semenyenangkan ini. Sepanjang perjalanan hingga sampai di rumah Valerie, gadis itu tidak berhenti berceloteh dan Dito juga tidak berhenti tertawa. Seumur hidupnya, ia tidak pernah selepas ini berkomunikasi dengan seorang wanita, termasuk dengan Felicia.
Valerie selalu bisa menghadirkan tawa, dia juga selalu ada bahan pembicaraan hingga tidak ada kecanggungan di antara mereka. Dito semakin terobsesi untuk mendapatkan Valerie, bagaimanapun caranya.
***
__ADS_1
"Itu anak ngapain?" tanya Cakrawala pada Elang dan Valerie.
Cakrawala menunjuk pada Gema dan kawan-kawannya yang sedang bermain adu siput. Kalian pasti paham lah siapa yang membawa siput-siput itu, tidak lain dan tidak bukan adalah panglima perang Arakata angkatan delapan. Entah dari mana si Asel mendapatkan banyak siput. Mungkin sekarang pemuda itu beternak siput, menyaingi Robert yang beternak ayam semok.
"Balap siput," sahut Valerie, pandangan gadis itu fokus memperhatikan para juniornya.
"Gue tahu apa yang ada di pikiran elo," ucap Elang sambil terkekeh. "Selamat datang di dunia Arakata, elo bakal sering nemuin hal yang tidak lazim di sini." Elang merentangkan kedua tangannya.
"Kalian yakin yang begituan bisa bantu kita ngalahin Dito sama anak buahnya?" tanya Cakrawala lagi.
"Yang begini ini malah yang kemampuan otak dan fisiknya di atas rata-rata," jawab Valerie, gadis itu terkekeh. "Terkesan kekanak-kanakan, tapi jika orang terdekatnya disakiti ... bisa langsung jadi gahar mereka. Butuh bukti?"
Belum sempat menjawab, Valerie sudah beringsut mendekat pada Cakrawala. Gadis itu mengarahkan tangan Cakrawala pada lehernya, kemudian ia berteriak.
"Ahh, sakit!" seru Valerie, membuat perhatian Gema dan yang lainnya teralih padanya. Mata mereka membola, begitu melihat seniornya seperti disakiti. Dengan gesit, mereka berlari ke arah Valerie dan Cakrawala.
Gema, Rama, dan Abdul menarik tubuh Cakrawala agar menjauh dari Valerie. Asel dan Hasan mengecek keadaan Valerie.
"Kak Eri gak apa-apa? Mana yang sakit?" tanya Asel, dia dan Hasan mengecek tangan dan kaki Valerie, siapa tahu ada yang terluka.
"Heh, tuyul milenial! Tangan gue tadi nemploknya di leher Eri, napa yang elo cek malah tangan sama kakinya?" tanya Cakrawala, ia memberontak hendak membebaskan diri. Tapi percuma, kekuatan ketiga pemuda itu gak bisa dianggap remeh. Jangankan membebaskan diri, bergerak aja tidak. "Lepasin gue napa, sih?"
"Enggak! Entar abang nyakitin Kak Eri lagi," sahut Gema yang mendapat anggukkan kepala dari teman-temannya.
"Bukan gue yang nyakitin Eri, ya ampun!" Cakrawala mengacak rambutnya frustasi.
"Kami tadi lihat Bang Cakra nyekek Kak Eri!" jawab Rama tidak mau kalah.
Cakrawala mengarahkan pandangannya pada Valerie yang tersenyum puas sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Untuk sayang, kalau enggak udah gue cekek beneran," ucap Cakrawala dalam hati.
__ADS_1