Arakata

Arakata
Awal Arakata 3


__ADS_3

Jika pergi adalah jalan yang terbaik untukmu, aku ikhlas melepaskan. Namun, namamu akan selalu mendapat tempat di hatiku.


***


"Kok dari tadi perasaan gue gak enak ya, kayak ada yang ganjil," ujar Laksmono pada sahabat-sahabatnya.


Malam ini Garindra, Alif dan Afghi menginap di rumah Laksmono. Teguh tidak ikut menginap, karena khawatir jika meninggalkan ibunya di rumah. Pria itu takut jika ibunya dilukai Ayah dan saudara tirinya.


"Gue juga ngerasain hal yang sama Laks." Garindra yang sedang bermain game tetris di ponselnya pun ikut menimpali.


"Pemikiran lo semua sama kayak gue gak? Kalau perasaan gak tenang ini tentang keadaan Teguh. Gue


kayak gelisah gitu keinget tuh bocah." Alif meletakkan buku yang sedari tadi dibacanya. Cowok itu tidak bisa fokus mencerna isi buku yang dibacanya. Pikirannya melayang pada salah satu sahabatnya.


"Mending sekarang kita samperin Teguh ke rumahnya." Perkataan Afghi dijawab anggukkan kepala oleh ketiga temannya yang lain.


Mereka langsung bersiap-siap untuk pergi kerumah Teguh. Baru saja mereka akan membuka pintu, telepon rumah Laksmono berdering.


"Bentar bro, gue angkat dulu." Ketiga temannya mengangguk, mereka menunggu Laksmono di muka pintu.


"Assalammualaikum," sapanya di telepon.


"...."


"Iya ini dengan Laksmono, ini siapa ya?"


"...."


"Iya tante. Kita langsung ke rumah sakit sekarang. Kebetulan teman yang lain juga ada disini. Waalaikumsallam."


"Kita ke rumah sakit sekarang," ucap Laksmono setelah meletakkan gagang teleponnya.


"Kenapa Laks?" tanya Garindra yang heran melihat wajah tegang Laksmono setelah cowok itu menerima telepon.


"Teguh masuk rumah sakit, dia gak sadarkan diri ...."


***


Lorong Rumah Sakit yang lengang itu menjadi sedikit gaduh karena suara langkah kaki yang berlari tergesa-gesa. Rasa panik kentara di wajah keempat lelaki tampan itu.


Langkah kaki mereka terhenti di depan ruangan yang bertuliskan IGD.


"Tante, gimana keadaan Teguh?" tanya Laksmono sambil mencium punggung tangan perempuan paruh baya yang duduk diruang IGD dengan wajah yang pucat.

__ADS_1


Beliau adalah ibunda dari Teguh Panggalih. Ketiga temannya yang lain juga ikut menyalami ibunya Teguh.


"Dokter masih menangani Teguh Laks," jawab baliau dengan suara yang lemah dan serak. Jejak air mata masih kentara terlihat di sudut mata yang mulai berkeriput itu.


"Apa yang terjadi tante? Kenapa Teguh bisa sampai kayak gini?" lanjut Laksmono sambil memegang tangan Mala, ibunya Teguh. Berharap dengan begitu dia bisa memberi kekuatan untuk ibunda sahabatnya itu agar lebih kuat.


Laksmono memperhatikan seksama wajah Mala, perempuan yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri. Wajah wanita itu penuh lebam, sama seperti yang dialami Teguh.


Wajah Laksmono mengeras, dalam hati ia mengutuk kelakuan kejam Ryan dan ayahnya itu.


"Broto ... " Mala menyebut nama suaminya itu dengan nada gemetar, antara takut dan benci. Mata perempuan itu menerawang, mengingat kejadian memilukan yang menyebabkan anak semata wayangnya berjuang melawan maut di dalam sana.


"Dia sedang ada masalah dengan bisnisnya. Dia melampiaskan amarahnya dengan memukul dan memaki saya," ujar Mala, terlihat jelas ada rasa takut dalam nada suara Mala yang gemetar. "Teguh melihat semua, dia melindungi saya. Kesabaran Teguh dalam menghadapi ayah dan saudara tirinya itu telah habis. Selama ini dia berusaha menahan amarahnya agar tidak menyakiti hati saya. Dia tidak ingin membuat saya harus memilih antara dia dan suami saya." Mala mengusap air matanya dengan tisu yang diberikan Alif.


"Tapi, tadi kesabarannya benar-benar telah habis. Dia balas memukul Broto untuk melindungi saya.Ryan tidak terima, dia mengambil pisau dan menusuk perut Teguh," tangisan Mala semakin menjadi, tangisan itu terdengar pilu di telinga Laksmono dan teman-temannya. Laksmono memeluk Mala, mencoba menenangkan.Padahal pria itu juga sedang shock. Bagaimana bisa hal sekejam itu menimpa sahabatnya.


"Biadab!" umpat Afghi, tangannya memukul tembok di depannya.


"Sekarang mereka kemana tante?"


"Mereka kabur Laks, mereka pergi membawa surat-surat berharga dan uang peninggalan almarhum papanya Teguh."


Wajah keempat pria itu terlihat menegang. Sampai setega itu Ryan dan ayahnya memperlakukan Teguh dengan keji.


Garindra mengambil ponsel dari saku celananya, dia menghubungi seseorang, "Assalammualaikum, Pah ... Indra mau meminta tolong sama Papah." Cowok itu menjauh dari sana. Ada sesuatu hal penting yang harus dia bicarakan dengan orang yang dia panggil papah itu.


"Bagaimana keadaan anak saya dok?" tanya Mala dengan pandangan penuh harap, berharap anaknya dalam keadaan baik-baik saja.


"Maafkan saya bu, luka tusukannya terlalu dalam, dan mengenai organ vitalnya. Anak ibu tidak bisa kami selamatkan."


Perkataan dokter itu membuat Mala menangis histeris. Laksmono memeluk ibu sahabatnya itu dengan erat. Air matanya menetes, dia kehilangan salah satu sahabatnya, sahabat yang disayanginya. Dia merasa bersalah karena gagal menjaga sahabatnya itu. Seharusnya dia lebih peka dengan keadaan Teguh yang setahun terakhir ini menjadi murung dan pendiam.


"Sial, kenapa lo ninggalin kita secepat ini Guh," ratap Afghi, badan pria itu luruh kelantai. Diarahkan tinjunya ke lantai bertubi-tubi, tidak peduli dengan tangannya yang akan terluka. Hatinya lebih terasa sakit sekarang. "Lo


bilang ke gue, kalau elo pengen jadi arsiteķ dan bakal buatin gue sama teman-teman yang lain rumah yang lo rancang sendiri. Tapi, kenapa elo malah ninggalin kita Guh .... "


"Kenapa ini?" tanya Garindra bingung melihat semua temannya menangis di depan pintu IGD. Lelaki itu baru saja kembali dari kegiatannya menelepon.


Alif yang melihat Garindra datang, langsung merangkul sahabatnya itu, "Teguh Ndra,Teguh ... Teguh udah gak ada, Ndra. Teguh ninggalin kita." Alif menangis sesegukan, tidak peduli dengan image dingin yang selama ini disematkan untuknya.


Seketika tubuh Garindra membeku. Pikirannya mendadak kosong. Tak sadar jika ponsel yang di genggamnya jatuh ke lantai dengan keras.


"Teguh ...."

__ADS_1


***


Sore ini Laksmono sedang berada di teras rumah bersama ketiga temannya. Mereka baru saja kembali dari pemakaman Teguh.


"Gimana perkembangan kasusnya Teguh Ndra?"


"Bokap gue udah urus Laks. Ryan dan bokapnya sudah tertangkap. Awalnya, mereka hendak kabur ke luar negeri. Tapi, polisi lebih dulu menangkap mereka. Soal aset-asetnya Teguh, pengacara bokap gue lagi ngurus. Apa yang menjadi hak Teguh dan ibunya, akan gue usahain kembali sama yang berhak."


"Gue berharap, dua iblis itu membusuk di penjara." Afghi mengepalkan tinjunya. Berharap di depannya sekarang ada sosok Ryan dan ayahnya, sehingga dia bisa menghajar mereka.


"Gue merasa gagal sebagai sahabat. Gue seharusnya bisa melindungi Teguh. Seharusnya gue bisa tahu alasan kenapa setahun belakangan ini Teguh berubah. Dia menjadi lebih pendiam dan pemurung."


"Ini bukan salah elo Laks, ini sudah kehendak Allah. Kita tidak bisa menghindar dari takdirnya." Alif berusaha menenangkan Laksmono, agar pria itu tidak terus-terusan menyalahkan dirinya sendiri.


"Lo bener Lif. Kita gak boleh terpuruk seperti ini, kita harus bangkit. Teguh pasti kecewa kalau kita terpuruk dengan kematiannya." Senyum mulai tersungging di bibir cowok itu. "Gue mau kita buat perkumpulan, seperti geng."


"Geng?" tanya Garindra, Alif dan Afghi bersamaan. Bingung dengan perkataan Laksmono. Selama ini Laksmono tidak suka jika ada geng di sekolah atau kampusnya. Menurutnya geng itu hanya berisi para benalu meresahkan.


"Bukan geng brengsek yang sukanya menindas orang lemah, seperti gengnya Ryan itu. Tapi, gue mau bikin geng yang bisa melindungi orang-orang yang butuh bantuan. Gue gak mau insiden Teguh terjadi sama orang lain." Ketiga cowok itu mengangguk setuju dengan perkataan Laksmono.


"Kita kumpulin orang-orang yang punya prinsip sama kayak kita," lanjut Laksmono, "syukur-syukur kalau mereka punya tekhnik beladiri. Tapi, kalau gak bisa, bisa kita latih sama-sama. Kita habisin semua geng yang bisanya


cuma bikin resah."


"Gue setuju sama ide lo Laks. Jangan sampai ada Teguh-Teguh yang lain. Yang meregang nyawa karena tindakan keji orang yang semena-mena." Afghi mengacungkan jempolnya setuju dengan ide Laksmono.


"Gue juga setuju Laks," timpal Garindra, "entar gue bakal konsultasiin ini sama bokap gue. Agar geng kita nanti gak ada masalah sama pihak yang berwajib dan masyarakat sekitar."


"Kalo elo Lif?"


"Gue setuju Laks, selama itu gak ngerugiin orang lain, gue setuju."


"Secepetnya kita kumpulin orang-orang buat gabung. Gue juga bakal minta bantuan kampus dan sekolah lain, siapa tahu mereka mau gabung sama kita." Afghi menegakkan badan nya, dia melihat Laksmono dengan tatapan tegas. "Gue mau elo yang jadi ketuanya Laks. Otak elo encer, pintar bergaul, beladiri lo gak perlu diraguin lagi. Dan elo punya jiwa kepemimpinan Laks. Jadi gue harap elo yang memimpin kita-kita."


"Gue juga setuju," jawab Alif dan Garindra bersamaan.


"Oke," Laksmono menganggukkan kepalanya. "Elo semua harus bantu gue mengurus geng ini beserta anggota-anggotanya." Ketiganya mengangguk mantap. "Nanti gue minta ijin ke Tante Mala, untuk jadiin rumahnya sebagai basecamp. Sekalian nemenin Tante Mala agar gak kesepian setelah ditinggal Teguh."


"Ide bagus Laks." Garindra tersenyum bangga atas kepedulian sahabatnya itu. Sosok cuek tapi ada banyak kepedulian di baliknya.


"Terus mau kita namain apa geng ini?" tanya Alif kemudian.


"ARAKATA," jawab Laksmono tegas, "artinya PELINDUNG."

__ADS_1


 


 


__ADS_2