Arakata

Arakata
Psikopat


__ADS_3

"Astagfirrullah." Elang terkaget karena sebuah kotak tiba-tiba jatuh dari nakasnya.


Elang meraih kotak itu, ia mengerutkan dahinya.


"Bagaimana kotak ini bisa jatuh? Bukankah sebelumnya kotak ini aku masukkan ke laci?" gumam Elang bingung.


Elang memperhatikan kotak itu. Sebelum Rajawali kembali ke Korea, pria itu memberikan sebuah kotak kecil kepada Elang.


"Kotak ini berisi smart phone, smart phone ini terhubung dengan GPS yang ada di jam tangan Livia. Aku yakin suatu saat kamu pasti membutuhkannya," ucap Rajawali seraya memberikan sebuah kotak pada Elang waktu itu.


"Kenapa gak elo aja yang bawa tuh smart phone?"


"Suatu saat kamu pasti tahu alasan kenapa aku memberikannya padamu."


Elang mengaktifkan smart phone itu, ia membuka aplikasi yang menghubungkan dengan GPS pada jam tangan Valerie.


Matanya membelalak begitu ia melihat sebuah titik yang berada jauh di pinggiran kota itu. Elang langsung mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi sang kekasih.


Namun nihil, ponsel Valerie tidak aktif. Elang mengusap wajahnya kasar.


"Kamu kemana, Sayang?"


Pria itu langsung menyambar kunci mobilnya dan bergegas pergi menuju dimana titik itu berada.


"Mau kemana, Lang?" tanya Garindra yang melihat anaknya panik dan tergesa-gesa.


"Eri dalam bahaya, Yah. Tolong kirim bantuan. Nanti Elang share lokasi," ujar Elang sembari berlalu menuju garasi.


"Aku mohon untuk tetap aman, Sayang ...," harap Elang sambil melajukan mobilnya.


***


"Enghhhh," erang Valerie yang mulai tersadar. Ia merasakan badannya yang susah digerakkan. Ia mendongak, melihat kedua tangannya yang ditali dengan kepala ranjang.


Gadis itu melihat sekeliling ruangan tempat ia disekap. Matanya membelalak begitu melihat tembok kamar yang dipenuhi oleh foto-fotonya. Foto yang jelas-jelas diambil secara diam-diam.


Ada banyak foto sewaktu ia masih berada di Korea dan Jakarta. Foto sewaktu Valerie sedang di toko kuenya, swalayan, juga ada foto sewaktu ia berkunjung ke makam Rajawali.


Segila inikah seorang Hans? Bukankah pria itu bilang bahwa baru kemarin sampai ke Indonesia, kenapa ia bisa mengambil banyak foto Valerie ketika ia pulang ke Jakarta. Apa pria itu sudah lama membuntutinya?


"Sudah bangun,Princess?" tanya Hans sambil bersandar pada pintu kamar itu.


"Hans," lirih Valerie sambil berusaha melepaskan tangannya dari tali yang mengikatnya.


"Jangan sakiti dirimu sendiri, Sayang," Hans menutup pintu dan menguncinya. Ia berjalan mendekati Valerie dan mengusap pergelangan tangannya. "Kalau aku tidak mengikatmu, kamu pasti akan melawan. Menurutlah padaku, aku tidak akan menyakitimu."


"Lepasin aku, Hans." Valerie menatap Hans tajam "Apa maksut kamu ngelakuin ini ke aku?"


Hans terkekeh melihat ekspresi Valerie yang seperti menantangnya.


"Kamu belum berubah, masih gadis pemberani yang membuat aku jatuh cinta," ujar Hans sambil mengusap lembut pipi Valerie.


"Jangan sentuh aku!" Valerie menggeleng-gelengkan kepalanya, agar tangan Hans tidak menyentuhnya lagi.


"Semakin kau melarangku untuk tidak menyentuhmu, malah semakin membuatku ingin menyentuh seluruh tubuhmu. Karena kamu adalah milikku Livia." Hans mendekatkan wajahnya, hendak mencium bibir Valerie, namun gadis itu memalingkan mukanya. Sehingga hanya pipi yang bisa pria itu kecup.


"Kumohon jangan bersikap seperti ini, Hans ...," lirih Valerie, tatapan gadis itu mulai melembut. "Kita teman, kenapa kamu memperlakukan aku seperti ini?" Tetesan bening lolos dari mata indahnya. Ada rasa kecewa dan sedih dalam tatapan gadis manis itu.


Hans duduk di hadapan Valerie, pria itu memandang Valerie.


"Jangan menangis," ucap Hans sambil mengusap air mata Valerie. "Kamu tahu kan kalau aku tidak bisa melihatmu bersedih?"


"Kamu yang membuatku bersedih, Hans. Kenapa kamu berubah jadi seperti ini?"


"Aku tidak pernah berubah, Vi. Inilah aku dan caraku untuk melindungi orang yang aku cintai."

__ADS_1


"Cinta? Kamu mencintai aku?" Valerie terbelalak kaget mendengar penuturan Hans.


"Iya." Hans mengangguk. "Aku mencintaimu sejak pertama kali Raja memperkenalkanmu padaku."


"Aku tunangan sahabat kamu Hans."


Hans tertawa mendengar penuturan Valerie. Tawa itu terdengar mengerikan di telinga Valerie.


"Karena itulah si bodoh itu harus pergi dari dunia ini."


"Mak-maksut kamu apa?" tanya Valerie terbata-bata, ada sedikit rasa takut di sana.


"Kamu pikir seorang komandan polisi yang terkenal karena kehebatannya bisa begitu saja kalah sama musuh?" Hans menyeringai. "Aku yang membocorkan strategi team Raja malam itu pada musuh."


Valerie menggigit bibirnya, menahan isak tangisnya.


"Aku melihatnya tertembus peluru, aku bisa saja menolongnya. Tapi aku sengaja membiarkannya."


"Kamu gila, Hans."


Lagi-lagi pria itu tertawa. "Aku memang gila, Vi. Aku tergila-gila sama kamu."


"Raja sahabat kamu sedari kecil, Hans. Dia juga menyayangi kamu seperti saudaranya sendiri. Kenapa kamu tega melakukan itu!" bentak Valerie histeris.


"Dia memang sahabatku, Vi. Kami sama-sama sebatang kara sewaktu kecil. Namun, Raja beruntung karena ia diasuh oleh orang yang memperlakukannya dengan baik dan penuh kasih sayang. Sedangkan aku? Aku diasuh oleh seorang psikopat, yang memperlakukanku seperti binatang! Kesalahan sekecil apapun yang aku perbuat, dia selalu menghukumku dengan kejam. Sampai suatu saat aku bertemu lagi dengan Raja, kami sama-sama masuk kepolisian. Aku bahagia bisa bertemu lagi dengan sahabat yang juga aku sayangi.


Sampai suatu saat, dia memperkenalkanmu padaku, saat itu juga aku mulai tertarik. Dan semakin lama rasa tertarik itu berubah menjadi cinta. Dan betapa hancurnya aku, begitu tahu kalau kalian tunangan dan akan segera menikah. Akal sehatku hilang, Vi. Yang aku tahu, aku harus mendapatkanmu, bagaimanapun caranya. Walau aku harus menghabisi nyawa sahabat yang aku sayangi."


Air mata Valerie semakin deras mengalir di pipinya. Sudah tidak bisa lagi ia tahan isakannya.


"Aku kira dengan meninggalnya Raja, kamu akan jatuh dalam pelukanku. Ternyata aku salah." Hans tersenyum miring. "Aku selalu mengikuti kemanapun kamu pergi."


"Kamu bilang, kamu baru sampai di Indonesia kemarin?"


Hans tertawa keras mendengar pertanyaan Valerie.


Aku juga tahu kalau kamu sudah menjadi kekasih cinta pertamamu yang pernah kamu ceritakan padaku dan Raja. Kesempatanku untuk mendapatkanmu semakin jauh, Vi. Jadi, harus dengan cara seperti ini untuk aku bisa memilikimu."


Hans semakin mendekati Valerie, dibukanya kancing kemeja Valerie satu persatu.


"Ap-apa yang kamu lakukan, Hans. Jangan Hans, kumohon ...," Valerie meronta-ronta, tapi percuma. Kekuatan Hans lebih besar,apalagi dengan keadaan tangan Valerie yang diikat.


"Hans, jangan ... kumohon." Satu isakan lolos dari bibir merah gadis itu.


"Maaf, Sayang. Sebenarnya aku tidak ingin memaksamu. Tapi hanya dengan cara ini, aku bisa memilikimu seutuhnya."


Hans menyusupkan kepalanya ke leher Valerie, dan menciumnya dengan lembut. Membuat Valerie semakin histeris.


"Aku akan melakukannya dengan lembut, Sayang. Aku tidak akan tega menyakitimu." Hans menatap lembut wajah Valerie. "Percayalah padaku, aku akan selalu membahagiakanmu."


"Ja-jangan, Hans. Jangan, Elang!" teriak Valerie sekuat tenaganya.


***


Elang menghentikan


mobilnya begitu ia sampai dititik yang ia tuju. Ia bergegas keluar mobil


dan menggedor-gedor pintu di hadapannya.


Karena tidak ada respon, Elang mendobraknya sekuat tenaga.


Berhasil....


Elang langsung masuk ke dalam rumah. Ia melihat jam tangan Valerie tergeletak di meja. Namun, tidak ada siapa-siapa di sana.

__ADS_1


Tidak lama kemudian terdengar suara teriakan yang memanggil namanya. Ia hafal suara itu, suara gadis yang sangat dicintainya.


Jantungnya berdebar kencang, takut jika terjadi sesuatu dengan kekasihnya.


Dengan cepat ia berlari ke arah sumber suara. Suara itu berasal dari sebuah kamar. Dan lagi-lagi pintu itu dikunci.


Dengan sekuat tenaga Elang menendang pintu itu. Begitu pintu terbuka, apa yang dilihatnya membuat emosinya langsung memuncak.


Hans menindih Valerie yang tangannya diikat. Kemeja gadis itu sudah terbuka. Hans ingin menodai kekasihnya.


Ditariknya tubuh Hans agar menjauh dari Valerie. Elang menghajar Hans membabi buta, tidak ia beri kesempatan Hans untuk melawan. Tidak akan ia biarkan orang yang berani menyentuh gadisnya, lepas begitu saja.


"Elang," panggil Valerie yang terdengar seperti bisikan.


Saking kalapnya menghajar Hans, ia sampai melupakan kondisi kekasihnya.


Elang menghampiri Valerie, dan melepaskan ikatan di tangannya. Elang melepaskan jaketnya dan memakaikan ke tubuh gadis itu.


Dipeluknya tubuh sang kekasih yang bergetar ketakutan.


"Maafkan aku yang terlambat datang, Sayang," sesal Elang.


"Aku yang seharusnya minta maaf. Aku gak bilang ke kamu kalau pergi ke sini menemui Hans. A-aku gak tahu ka-kalau dia berniat buruk ke aku, Lang. A-aku, aku takut." Tangis Valerie pecah dalam pelukan kekasihnya.


"Jangan takut lagi, ada aku di sini," ujar Elang sambil mengusap punggung Valerie, mencoba menenangkannya.


Mata Valerie membelalak ketika melihat Hans mengarahkan pistol ke tubuh Elang. Dengan cepat Valerie memutar tubuhnya, sehingga tubuhnya lah yang terkena tembakan.


Tubuh Elang menegang seketika mendengar suara tembakan. Diusapnya punggung Valerie yang basah, matanya terbelalak melihat darah di telapak tangannya. Ia melihat peluru yang menembus punggung Valerie. Dipeluknya tubuh sang kekasih yang mulai hilang kesadaran.


"Eri, Eri ... bertahan, Sayang. Tetap sadar." Elang menepuk-nepuk pipi Valerie.


"Lang." hanya kata itu yang terucap dari bibir Valerie sebelum gadis itu benar-benar tidak sadarkan diri.


"Eri!!!" teriak Elang, suaranya menggema di ruangan itu. Tidak bisa ia tahan lagi air matanya. Persetan jika ada yang mengatainya cengeng. Dunianya seakan hancur melihat sang pujaan hati tidak sadarkan diri. Ketakutan menguasai dirinya.


"Livia," lirih Hans, tangannya bergetar. "Aku, aku melukainya, aku membunuhnya--aku, bagaimana aku bisa hidup tanpa kamu, Vi.. Ba-bagaimana aku bisa hidup di dunia yang gak ada kamu, Vi. Hanya kamu yang aku mau. Tapi, dengan tanganku sendiri, ak-aku ... lagi-lagi aku menghabisi nyawa orang yang aku sayangi. Aku ...."


Ditatapnya pistol dalam genggamannya, ia arahkan pistol itu ke kepalanya. Ditariknya pelatuk pistol itu...


Dorrr


Tubuh Hans langsung tergeletak dengan darah yang mengalir dari kepalanya.


Beberapa saat kemudian Garindra beserta bala bantuannya datang, walaupun terlambat.


"Eri kenapa, Lang?" tanya Garindra yang melihat Valerie bersimpah darah.


Elang hanya terdiam, pandangannya kosong.


"Lang, sadar!" bentak Garindra, "kita harus membawa Eri ke rumah sakit secepatnya."


Elang masih terdiam sambil memeluk Valerie. Baju pria itu penuh dengan darah sang kekasih.


Plakk!!


Garindra menampar Elang, mencoba menyadarkan anaknya.


"Elang Rayan Garindra! Sadar, kalau kamu seperti itu terus, nyawa Eri dalam bahaya. Kita bawa Eri ke rumah sakit sekarang."


Pikiran Elang kembali ke alam sadarnya. Ia langsung membopong tubuh Valerie dan membawanya masuk ke mobil.


"Biar ayah yang nyetir," ucap Garindra yang dijawab anggukkan oleh Elang.


Garindra memasang ear phone dan menghubungi sang sahabat.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Laks, Eri tertembak. Sekarang sedang perjalanan ke rumah sakit. Iya, biar gue yang urus."


__ADS_2