
Raganya memang sudah tak terlihat, tapi kenangannya akan selalu ada.
***
"Abang juga masih ingat ucapannya?" tanya Atika pada Laksmono.
"Tak ada sedikitpun dari dia yang bisa aku lupakan," jawab Laksmono, "jika Laks punya anak cewek, harus diberi nama Valerie. Jika Atika punya anak cowok, harus dikasih nama Valero." Laksmono mengulang apa yang pernah dikatakan Teguh saat mereka masih bersama di bangku kuliah.
"Semoga Valero dan Valerie bisa sedekat kita dengan almarhum Bang Teguh, ya."
"Amiin, semoga mereka bisa saling menjaga, selayaknya saudara,"
Atika mengangguk sambil tersenyum, mengingat kenangan tentang almarhum abang tersayangnya itu.
"Maaf, kalau kehadiranku dan anak-anak merepotkan Bang Laks."
"Kamu ngomong apa sih? Sejak dulu, kamu sudah aku anggap adik sendiri, jadi inilah hal yang pantas dilakukan seorang kakak untuk adiknya, yaitu melindunginya. Lagian, Ero kan juga bisa sekalian belajar bisnis sama Bayu."
"Iya, Bang. Terimakasih."
"Udah, kalian tunggu aja di luar! Bantuin cabutin rumput aja, malah lebih bermanfaat!" seru Valerie sambil mendorong tubuh dua lelaki kekar dari arah dapurnya.
"Tapi gue mau bantu kamu, Sayang," sahut Elang membela diri.
"Bantu apaan! Daritadi yang kalian berdua lakuin hanya adu mulut, bukannya bantu gue sama Mamah Diandra, yang ada kalian malah ngrecokin!"
"Eh, gak boleh bilang elo gue. Kalau ngelanggar bakal aku-"
"Bodo!" teriak Valerie, memotong perkataan Elang. "Gue lagi marah, nih!"
"Ero noh yang mulai," bela Elang
"Mana ada! Elo ya yang mulai, guwe lagi bantu Eri nimbangin tepung, malah elo tiup tepungnya ... ya belepot ke muka gue semua lah," elak Valero, wajah pria itu sudah seperti udang goreng tepung, belepot dengan tepung.
"Kan gue bantuin, gue tiup karena ada semutnya di tepung," jawab Elang, "elo juga balurin mentega ke muka gue, mending kalau yang lo kasih ke muka gue itu timun, bisa jadi masker. Lha ini malah mentega, berminyak muka gue!"
"Harusnya elo berterimakasih sama gue," sahut Valero, " dengan begitu wajah lo jadi licin kayak pantat bayi. Gak usah susah-susah perawatan di salon."
"Muka lo mau gue buat kayak pantat panci, hah!"
Elang dan Valero kembali melakukan kegiatannya kembali, yaitu saling jambak.
"Elang, Ero!" panggil Valerie dengan nada yang menyeramkan, membuat kedua pria tampan diam membeku seketika. "Mau gue bakar elo berdua? Hah? Gara-gara elo berdua, adonan kue gue jadi berantakan!"
Valerie menarik kerah baju Valero dan Elang, dengan sekuat tenaga, gadis itu menarik keduanya hingga berada di hadapan Laksmono dan Atika.
__ADS_1
"Udah, elo berdua nyabutin rumput di sini! Tante Atika dan Ayah yang bakalan awasin kalian. LIhat aja kalau kalian jambak-jambakan lagi!" Valerie meletakkan jarinya di leher, melakukan gerakan seperti memotong. Setelah itu, Valerie kembali masuk ke dapur.
"Kok bisa sih, badan kalian yang segede Gaban bisa dengan mudah di ewer-ewer Eri sampai sini?" tanya Laksmono sambil tersenyum miring.
"Tenaga anak om yang kayak monster," jawab Elang dan Valero bersamaan.
"Dek, kamu dikatain monster nih!" teriak Laksmono jahil.
"Ampun, Om," ucap Elang buru-buru.
"Bisa gawat kalau Eri balik lagi. Bisa-bisa kepala kami yang jadi taruhannya," ucap Valero ikut menimpali.
Hal itu membuat Laksmono dan Atika tertawa.
"Berada di sekitar kalian, bikin aku ketawa terus, Bang," ucap Atika .
"Obat awet muda, Tik," sahut Laksmono masih sambil tertawa.
"Wah, seru nih kayaknya," ucap Garindra, pria itu dan istrinya melangkah mendekat. "Lagi pada ngapain?"
"Noh," jawab Laksmono sambil menunjuk ke arah Valero dan Elang yang sedang mencabuti rumput.
"Ya ampun, Lang. Muka kamu kok licin begitu, pakai perawatan apa?"
Elang hanya memangdang ayahnya sebentar, terus kembali mencabuti rumput. Ia enggan menanggapi, karena ia tahu ayahnya akan semakin mengoloknya, bukan membelanya.
"Buat apa?" Jelita mengerutkan keningnya bingung.
"Tuh udah ada tepung sama mentega, tambahin telur udah jadi kue," jawab Garindra sambil terbahak. Membuat Elang dan Valero tambah cemberut.
"Gue boleh gaplok bapak lo, gak?" bisik Valero didekat telinga Elang.
"Boleh, gue kasih seratus juta kalau lo sampai bisa gaplok bokap gue sama Om Laks," sahut Elang.
"Tapi kalau gue yang digaplok duluan, gimana? Tahu sendiri, walau mereka dah berumur, tapi tenaga mereka masih kayak kuda."
"Kalau itu nasib lo, derita lo. Jangan bawa-bawa gue kalau sampai lo kena hajar ayah sama Om Laks."
"Kenapa tuh pada bisik-bisik?" tanya Garindra.
"Kayaknya tadi gue denger kalau mereka mau gaplok kita, Ndra," sahut Laksmono sambil tersenyum miring.
"Wah, udah berani ya kalian," ucap Garindra sembari melangkahkan kaki mendekati kedua pria muda yang sedang mencabuti rumput itu.
"Mampus kita," lirih Valero.
__ADS_1
"Elo dulu aja yang mampus, bentar lagi gue mau nikah sama Eri," sahut Elang tidak terima.
"Elo duluan aja, gue ikhlas kok gantiin elo buat nikahin Eri," sahut Valeroe, tidak mau kalah
"Ogah, ogah ... enak aja, Lo! Lo kira ngedapetin hati Eri itu gampang! Gue sampai hampir gila sepuluh tahun gara-gara dia pergi ninggalin gue!"
"Kenapa saat itu elo gak gila beneran aja," sahut Valero enteng. "Kan Eri bisa sama gue."
"Mulut lo!" Elang melempar Valero dengan rumput yang dipegangnya. Valero juga melakukan hal yang sama, membuat kedua pria itu saling melempar rumput sambil adu mulut.
"Kalian mau bersihin rumput apa mau berantakin kebun? hm," ucap Laksmono sambil menjewer telinga Elang, membuat pemuda itu mengaduh kesakitan.
"Pake mau gaplok gue sama Laks," sahut Garindra, sambil menjewer telinga Valero. "ayo lari keliling komplek aja."
"Jangan, Om. Muka saya belepotan tepung," sahut Valero.
"Muka Elang juga masih kayak udang goreng mentega, Om." Elang mengedip-ngedipkan mata, memelas pada Laksmono.
"Cuma lari keliling komplek, gak perlu ganteng-ganteng!" sahur Laksmono sambil menarik tangan anak sahabatnya itu.
"Sayank, aku sama Laks ngajak anak-anak lari pagi dulu, ya," pamit Garindra pada Jelita. "Pas pulang, pas masakannya Eri dan Diandra kelar, kan enak."
"Katanya sultan, kalau makanan paling suka yang gratisan," cibir Elang dengan suara pelan, tapi tetap saja Garindra masih bisa mendengarnya.
"Papah balikin kamu jadi embrio lagi, tau rasa!"
***
"Pulang, Elang! Ini udah malam!" perintah Garindra pada anaknya itu. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tapi Elang masih Enggan pulang ke rumahnya.
"Badan Elang capek, Pah. Gak kuat kalau harus pulang," jawab Elang.
"Heh, rumah lo cuma di seberang doang, ngelangkah bentar aja nyampe, alasan!" celetuk Valero, yang membuat Elang merasa gondok.
"Terus kenapa elo belum pulang?" tanya Elang pada Valero.
"Gue emang masih nginep di rumah Om Laks beberapa hari lagi," jawab Valero pongah, membuat Elang semakin panas hati.
"Elang juga mau nginep sini, Pah. Elang gak rela kalau si Palelo berduaan sama Eri."
"Astaghfirullah, Elang. Eri itu gak hanya berduaan sama Ero. Ada Laks, Diandra, Atika, Azizah." Garindra memijit pelipisnya, pusing dengan kelakuan putra semata wayangnya itu.
"Oke, Elang mau pulang." Perkataan Elang itu membuat Garindra bisa bernapas lega. Namun, perkataan Elang setelahmya, kembali membuatnya pusing tujuh keliling. "Elang mau pulang, asal Eri juga ikut."
"Papah kompres lama-lama ya mulut kamu!" omel Garindra, sambil menarik bagian leher bajunya. "Pulang, atau papah coret dari KK! Gue pamit dulu, Laks. Anak gue butuh di ruqiah." Laksmono mengangguk sambil tersenyum. Dalam hati, ia berpikir bahwa kelakuan Elang persis dengan kelakuan Garindra sewaktu muda dulu.
__ADS_1
"Gak papa di coret dari KK papah, kan bentar lagi Elang bakal bikin KK sama Eri." Elang masih ngedumel sepanjang jalan, hingga ia masuk ke dalam rumahnya. Hal tersebut mengundang tawa semua orang yang ada di sana.