Arakata

Arakata
Semuanya Menjadi Jelas


__ADS_3

Kini aku sadar, sebesar apapun aku menyimpan dendam. Jika ada rasa cinta, sekecil apapun itu ... dendamku akan bisa luntur ... dan rasa benci itu berubah menjadi benih cinta. Cinta memang ajaib.


***


Upin,


Entah mengapa akhir-akhir ini aku merasa ada yang aneh dengan sikap Dito padaku. Semenjak tahu jika aku menyukai Elang, sikap dia jadi berbeda. Bahkan, dia terkesan menjelek-jelekkan Elang di depanku. Sikapnya pun berubah menjadi kasar, entah dia berubah atau memang itu sifat aslinya.


"Dito," lirih Cakrawala, pria itu mengerutkan dahinya masih bingung dengan cerita Felicia lewat tulisannya itu. Cakrawala kembali membuka lembar berikutnya, dan membacanya.


Upin,


Tadi Dito ngajak aku jalan-jalan di taman. Yang bikin aku terkejut, dia menyatakan perasaannya padaku. Dia bilang bahwa selama ini dia mencintaiku. Dan tentu saja aku menolaknya, karena aku hanya menganggapnya sebagai seorang sahabat, sama seperti Cakra. Kau tahu ... dia marah, dia memakiku, dan dia brusaha menciumku paksa. Dan lebih teganya, dia meninggalkanku di taman. Hingga aku harus menghubungi Cakra untuk menjemputku. Cakra yang melihatku menangis, menanyakan apa yang terjadi denganku. Aku hanya terdiam, tidak menjawabnya. Karena aku takut jika Cakra akan marah pada Dito jika ia tahu apa yang Dito lakukan padaku.


"Jadi ini alasannya kenapa Felia terlihat kacau hari itu. Gue kira Feli masih bersedih karena Elang lebih memilih perempuan lain. Kenapa elo gak cerita ke gue Feli, kalau elo cerita ... gue pasti bisa bantu lo!" Cakrawala mengacak rambutnya, merasa jengkel sendiri.


Setelah merasa lebih tenang, Cakrawala kembali membuka lembar dari buku Felicia. Lembar terakhir, sebelum gadis itu meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.


Upin,


Dito ngajak aku ketemuan di danau, dia bilang ada yang mau dia sampaikan. Tadinya aku menolak, karena terakhir kami bertemu, dia berbuat kasar padaku. Tapi dia bilang kalau yang mau dia bicarakan itu hal penting, menyangkut Elang. Aku menyetujuinya dengan syarat aku mengajak Cakra, tapi Dito melarangnya. Dia bilang kalau ini merupakan hal rahasia, dan Cakra akan marah ke Elang jika tahu hal itu. Akhirnya aku menyetujuinya, besok kami janjian di danau pukul delapan malam. Besok akan aku ceritakan lagi apa yang dibicarakan Dito padaku.


Itu akhir dari cerita Felicia di bukunya, setelahnya ia tidak bisa lagi mencurahkan perasaannya ... karena gadis itu telah pergi untuk selama-lamanya.


Tangan Cakrawala mengepal, ada amarah di bola matanya.


"Jadi sebelum meninggal, Feli bertemu dengan Dito. Tapi Dito bilang padaku kalau saat itu dia juga sedang mencari keberadaan Feli yang menghilang setelah menghubunginya. Dito bilang kalau malam itu Feli menghubunginya, dan bilang kalau dia akan mengakhiri hidupnya karena Elang. Kenapa yang diceritakan Dito berbeda dengan apa yang ditulis oleh Feli? Atau jangan-jangan Dito berbohong padaku saat itu, agar tidak ketahuan jika sebenarnya dia yang ...."

__ADS_1


***


"Udah gue bilang gue gak tahu," sahut Dito saat Cakrawala menanyakan perihal keberadaannya saat malam dimana Felicia meninggal tenggelam di danau. "Saat itu gue lagi ngumpul sama anak-anak, dan Feli telepon gue. Katanya dia mau mengakhiri hidupnya karena ulah Elang."


"Yakin gak ada yang elo sembunyiin dari gue?" tanya Cakrawala dengan pandangan menelisik.


"Gue heran kenapa elo jadi nanya hal begini, elo mulai ngeraguin gue? Atau elo mulai dipengaruhi sama cewek brengsek yang sudah jadi penyebab Feli mengakhiri hidupnya, hah!"


"Jaga omongan lo!" bentak Cakrawala, jangan pernah menghina Valerie.


Dito tersenyum sinis mendengar penuturan Cakrawala.


"Elo udah melenceng dari rencana kita, elo udah mulai lemah. Gue sendiri yang bakalan turun tangan buat habisin cewek itu. Akan gue pastiin kalau cewek itu mati di tangan gue."


Cakrawala mengusap wajahnya kasar, ia sudah mulai paham sekarang. Kematian Felicia bukan karena Felicia sendiri yang mengakhiri hidupnya. Namun, pasti ada campur tangan orang lain, dan Cakrawala yakin jika orang tersebut adalah Dito, sahabat Cakrawala dan Felicia.


Dia tidak boleh gegabah, ia harus hati-hati dalam bertindak. Jangan sampai apa yang dilakukannya malah menjadi boomerang bagi dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.


Setelah terdiam beberapa saat, Cakrawala tersenyum.


"Gue tahu kemana harus minta tolong," ucap Cakrawala, dengan segera ia mengenakan jaket dan menyambar kunci motor. Ia mulai mengendarai motornya menuju tempat seseorang yang ia harap bisa membantunya.


***


"Kenapa jadi rumit begini masalahnya," ucap Elang pada pria di hadapannya itu. Ia menutup buku yang diberikan Cakrawala padanya, tentu saja itu buku harian milik Felicia.


Cakrawala datang ke kantor Elang, pria itu memberikan buku harian milik Felicia sembari menceritakan apa yang terjadi.

__ADS_1


"Setelah sekian lama gue menyimpan rasa bersalah, karena gue kira gue lah penyebab Felicia mengakhiri hidupnya. Ternyata ada andil seorang pengecut dan licik di belakangnya," lanjut Elang, "dan dengan entengnya dia masih menyalahkan gue dan Eri. Bener-bener minta dikasih pelajaran."


"Maka dari itu gue nemuin elo, berharap elo bisa bantu gue buat ngungkap penyebab kematian Feli," pinta Cakrawala. Ia tidak menyangka jika akhirnya ia harus meminta pertolongan dari orang yang tadinya ingin ia celakai.


"Lo kira gue Detektif Conan yang bisa ngungkap kasus kayak begini," protes Elang, "kenapa gak lo laporin ke pihak yang berwajib aja?"


"Gue tahu siapa Dito, dia licik, Lang. Gue takut jika salah langkah malah Eri yang bakal celaka. Dia masih bersikeras buat nyelakain Eri."


"Brengsek! Gak bakal gue biarin dia nyentuh Eri," umpat Elang tertahan.


"Elo punya ide buat ungkap kejahatan Dito tanpa membuat dia curiga?"


"Enggak," jawab Elang santai.


"Ish, percuma gue kesini. Gue kira elo bakalan punya solusi."


"Gue emang gak punya solusi," sahut Elang sambil tersenyum penuh arti. "Tapi gue tahu siapa yang bisa bantu kita buat menghadapi otak licik Dito. Orang yang selalu bisa membuat hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Panglima perang paling kuat di Arakata, otaknya segala kemenangan yang diraih Arakata. Elo pasti paham siapa orang yang gue maksut." Elang tersenyum pada Cakrawala, dan senyum itu menular padanya.


"Tentu gue paham, bahkan gue sangat paham," sahut Cakrawala sambil terkekeh. Kembali ia mengingat kebersamaannya bersama Valerie selama ini.


"Senyum lo mesum, jangan mikir aneh-aneh tentang calon istri gue," ucap Elang, ia memukul lengan Cakrawala dengan buku yang ia pegang.


"Calon istri lo bilang?" tanya Cakrawala sambil tersenyum miring. "Elo lupa kalau elo udah batalin rencana pernikahan kalian. Elo bego karena ngelepas wanita spesial demi ketakutan elo sendiri."


"Kan elo penyebabnya, Malih." Elang kembali memukul Cakrawala.


"Kenapa jadi gue yang elo salahin? Seharusnya elo yang harus bisa bersikap. Seharusnya elo bisa melindungi Eri agar enggak gue sakiti, bukannya malah ninggalin dia. Gue gak nyangka seorang Elang Rayan Garindra sebegitu takutnya sama gue."

__ADS_1


"Auk ah." Hanya itu jawaban dari Elang yang membuat Cakrawala terbahak. Ia merasa senang karena bisa membuat Elang mati kutu.


__ADS_2