
Hari ini, Valerie menepati janjinya pada Rajawali kecil alias Ali. Valerie membuat kue ulang tahun berbentuk robot Poli kesukaan Ali.
"Aku ambil tabungan kamu buat beliin Ali dan teman-temannya hadiah," ucap Valerie pada foto Rajawali. "Aku tahu pasti kamu gak keberatan." Valerie membungkus puluhan kado sambil tersenyum bahagia.
"Lo mau jadi santaclaus, Er?" tanya Elang yang melihat Valerie masih asik dengan kado-kadonya. Pria itu tengah duduk di tangga kamar Valerie sambil terus memperhatikan kegiatan gadis yang disayanginya itu.
"Gue cuma mau bikin Rajawali dan teman-temannya bahagia," jawab Valerie sambil tesenyum.
"Rajawali?" tanya Elang bingung.
"Rajawali, Ali ... pasiennya Gaung. Hari ini Ali ulang tahun yang ke lima. Dia minta gue buatin kue ulang tahun. Sekalian gue bungkusin mainan buat Ali sama anak-anak lainnya di sana. Ini hadiah untuk keberanian mereka dalam menghadapi penyakit yang selama ini mereka derita. Kamu bisa bayangin gak, Lang, gimana kuatnya mereka menahan sakit dengan tubuh yang sekecil itu? Pasti ada saatnya mereka ingin menangis sekencang-kencangnya sebagai pelampiasan rasa sakitnya. Tapi yang gue lihat, mereka berusahategar. Untuk apa? Agar keluarga dan orang tuanya tidak merasa sedih atas kondisi mereka."
Elang tersenyum mendengar semua penuturan Valerie. Gadis itu memang menakjubkan, dia selalu bisa melihat semua hal dari berbagai sisi.
"Elo udah cocok jadi seorang ibu," ucap Elang sambil mengerlingkan matanya jahil.
"Sayangnya gue batal nikah, Lang,," lirih Valerie, wajahnya terlihat sedih.
"Jangan sedih mulu." Elang mendekat ke arah Valerie dan mengusap rambutnya. "Pak polisi Korea gak bakal suka kalau elo galauin dia mulu. Dia pengen elo bahagia, Er."
Valerie menganggukkan kepalanya. "Kelihatannya gue butuh bantuan biro jodoh buat nyariin gue calon suami, nih."
"Ckk," decak Elang, "tanpa elo ke biro jodoh pun, yang mau daftar jadi suami lo banyak. Kalau dikumpulin bisa menuhin markasbArakata," ucap Elang sewot.
"Kok elo jadi sewot?"
"Gimana gak sewot kalau saingan gue segitu banyaknya."
"Saingan?"
"Iya, saingan buat menangin hati lo." Elang mendekatkan wajahnya pada Valerie, sehingga dahi mereka bersentuhan. "Gue cinta elo Er, dan selamanya akan tetap begitu." Valerie menegang, pipinya bersemu merah. "Jangan lupa nafas, Sayang." Elang menyentil dahi Eri, dan menjauhkan wajahnya dari wajahgadis itu. Dia takut khilaf jika terus-terusan berada di posisi seperti itu.
"Gue ikut lo ke rumah sakit, gue gak mau tuh dokter bucin mepet-mepet elo terus," ucap Elang, gak ngaca kalau dirinya juga bucin, bucin level parah. "Pakai mobil gue aja." Lanjut Elang.
***
__ADS_1
"Gue rasa cuma elo pilot yang nyantai," cibir Gaung yang melihat Elang mengikuti Valerie. "Kerjaan lo cuma ngintilin kemanapun Eri pergi."
"Gue menjaga Eri, biar gak diterkam buaya buntung macam lo!"
"Asal elo tahu kalau buaya itu binatang setia," jawab Gaung tidak mau kalah.
"Setia tapi hidup di dua alam. Saat di air ia setia dengan satu pasangan, saat di darat dia juga setia dengan satu pasangan lainnya. Setia macam apa itu!" cibir Elang.
Kedua pria itu masih memperebutkan perhatian Valerie. Padahal gadis yang mereka perebutkan sedang asik dengan Ali dan teman-temannya.
"Terimakasih, sudah mau repot-repot mewujudkan keinginan anak kami," ucap ibunda Ali yang usianya agak terpaut jauh dari Valerie.
"Sama-sama, Bu. Apa yang saya lakukan tidak sebanding dengan perjuangan mereka melawan penyakitnya."
"Lima tahun yang lalu, kelahiran Ali adalah anugerah terindah buat keluarga kami. Akhirnya kami mendapatkan seorang anak setelah menunggu selama enam tahun lamanya. Namun, kebahagiaan kami sirna seketika setelah tahu bahwa buah hati kami mengalami gangguan pada jantungnya. Lima tahun sudah hidup Ali bergantung pada obat yang harus dikonsumsinya setiap hari. Kini, kondisi Ali semakin memburuk, ia harus menjalani transplantasi jantung. Namun, sampai sekarang kami belum mendapatkan donor jantung itu. Semoga kondisi Ali masih bisa kuat sampai menemukan donor jantung itu." Ibunda Ali mengusap air mata yang menetes dari netranya.
Sungguh hati Valerie ikut sakit mendengar penderitaan yang dirasakan anak sekecil Ali. Seharusnya anak seusia Ali sedang bahagia-bahagianya berlari bersama teman sebayanya. Bukannya malah meringkuk di bangsal rumah sakit sambil menahan rasa sakit setiap saat.
"Kemarin Ali bercerita ketemu kakak cantik yang baik dan pintar buat kue. Ali bilang ingin cepat sekolah, biar pintar dan menjadi polisi. Keinginan terbesarnya adalah melindungi orang-orang yang disayanginya termasuk kamu, Valerie."
"Ayo anak-anak, kita mulai acaranya, ya. Sini Ali, kamu tiup lilinnya." Valerie melambaikan tangannya, meminta Ali untuk mendekat. "Ali berdoa dulu sebelum tiup lilin ya. Berdoa mulai." Pimpin Valerie.
"Ya Allah, berilah kesehatan dan umur panjang buat Ali dan teman-teman di sini. Amiin ...," ujar Ali dalam doanya.
"Amiin," sahut semuanya yang ada di sana.
"Sekarang Ali tiup lilin, ya."
Ali menganggukkan kepalanya dan meniup lilin itu. Semua bertepuk tangan dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun.
Acara berjalan lancar, sampai Ali mulai kesulitan bernafas dan kehilangan kesadarannya, Ali pingsan. Gaung dan para perawat dengan sigap langsung membawa tubuh kecil Ali ke ruang gawat darurat.
Valerie melihat ibunda Ali yang menangis dalam pelukan suaminya. Tanpa ia sadari, air matanya ikut menetes mengkhawatirkan keadaan Ali. Beberapa saat kemudian, Gaung keluar dari ruang IGD. Valerie langsung menghampiri sahabatnya itu.
"Gimana keadaan Ali, Ga?"
"Ali harus segera melakukan transplantasi, tapi--"
__ADS_1
"Elo harus bisa selametin Ali, Ga. Masa depannya masih panjang. Masih banyak impian yang ingin ia capai. Jangan biarkan perjuangannya selama lima tahun ini sia-sia Ga ...," Valerie menangis dalam pelukan Gaung. "Jangan biarkan gue kehilangan Rajawali lagi, Ga."
Elang mengusap-usap pundak Valerie, berusaha memberi kekuatan pada gadis itu.
Tiba-tiba ada yang membuka pintu IGD dari dalam. Terlihat seorang dokter muda yang cantik. Wajahnya sekilas terlihat mirip dengan Valerie.
"Dokter Gaung, donor jantung untuk Ali sudah ada. Ali bisa langsung dioperasi," ujar sang dokter yang membuat semua yang ada di sana bernafas lega.
"Tuhan selalu bersama orang-orang yang tidak pernah berhenti berjuang." Gaung mengusap pipi Valerie. "Siapkan ruangan operasi sekarang Dokter Nita." Perintah Gaung sambil masuk kembali ke ruang IGD.
"Siap, Dokter," jawab dokter yang bernama Nita itu sambil mengekori Gaung masuk ruang IGD.
"Ali pasti bisa melewati ini, Bu, dia anak yang kuat." Valerie memeluk ibunda Ali. "Rajawali adalah sosok yang kuat, saya percaya itu."
***
Setelah beberapa jam berlalu, pintu ruang operasi terbuka, Gaung keluar dari sana.
"Gimana keadaan anak saya, Dok?" tanya ayah Ali kepada Gaung.
"Ali anak yang kuat, operasinya berhasil. Setelah ini Ali akan di pindahkan ke ruangan intensive, agar kami lebih mudah memantaunya. Ali membutuhkan penyesuaian dengan jantung barunya. Jika kondisi Ali semakin stabil, dia bisa dipindahkan ke ruang rawat inap."
"Terimakasih, Dok ... terimakasih, " ucap ayah Ali sambil menggenggam tangan Gaung.
"Ini sudah kewajiban saya sebagai dokter, Pak," jawab Gaung, "Ali anak yang hebat, dia seorangpejuang yang tangguh." Gaung menepuk-nepuk punggung ayah Ali.
"Alhamdulillah, Lang ... Ini hadiah terindah untuk ulang tahunnya Ali." Valerie memeluk Elang. Elang meletakkan dagunya di kepala Valerie dan mengecup ujung kepalanya.
"Perasaan, gue yang ngoperasi Ali, kenapa jadi tuh pilot rese yang dapat pelukan?" gumam Gaung yang masih bisa didengar orang-orang yang ada di sana.
"Sini, sini ... peluk sama-sama." Valerie menarik Gaung, dan ikut memeluknya bersama Elang.
"Berasa lihat teletubies," ujar dokter Nita sambil bersedekap.
__ADS_1