Arakata

Arakata
Dua Sahabat


__ADS_3

"Tempat ini, lagi-lagi aku berada di tempat ini," gumam Valerie.


Gadis itu memperhatikan sekelilingnya, lagi-lagi dia berada di tempat yang menakjubkan ini. Tempat di mana ia pernah bertemu dengan sang bunda.


"Wah, kupu-kupu ...," Valerie menengadahkan sebelah tangan, membuat kupu-kupu itu hinggap. "Cantik." serunya sambil tertawa.


"Sama seperti kamu."


Gadis itu merasakan ada yang memeluknya dari belakang. Valerie memutar tubuhnya, matanya terbelalak. Satu tetes bening berhasil lolos dari netra indahnya.


"Raja."


"Assalamu'alaikum, Livia."


***


"Eri, " ratap Elang, tubuhnya luruh ke lantai. Panampilan pria itu sungguh kacau. Rambut acak-acakan, mata bengkak, dan baju yang penuh darah.


"Sabar, kamu harus kuat. Gimana Eri bisa berjuang, kalau kamu aja lemah seperti ini," ujar Garindra sambil memeluk tubuh rapuh putranya.


Dari arah pintu masuk, Laksmono berjalan tergesa bersama ke empat putranya.


"Gimana keadaan anak ku, Ndra?" tanya Laksmono dengan penuh khawatir.


"Lagi ditangani dokter, Laks," jawab Garindra.


"Kenapa harus Eri yang mengalami hal ini, lagi?" ratap Laksmono yang tidak sanggup menahan kesedihannya lagi.


"Ma-mafin Elang, Om." lirih Elang, "seharusnya Elang yang terkena tembakan itu. Tapi, Eri melindungi Elang, sehingga ia yang tertembak. Elang gak berguna, Om." Elang mengusap wajahnya kasar. Ia merasa frustasi karena gagal menjaga kekasihnya.


"Elang, dengarin om," ujar Laksmono sambil memegang pundak anak sahabatnya itu. "Ini sudah suratan dari Allah, kita hanya manusia, tidak bisa merubah apa yang sudah digariskan. Yang harus kita lakukan adalah tetap kuat dan berdoa untuk kesembuhannya. Jangan bikin malu Arakata dengan sikap cengeng kamu."


Elang terkekeh sambil mengangguk.


"Gaya lo, Laks," ujar Garindra sambil memukul lengan Laksmono. "Nyeramahin anak gue aja jago. Sendirinya juga cengeng, air apa itu yang ada di pinggiran mata elo? Gak mungkin air cucian kaos kakinya Afghi, kan?" Garindra


mengedip-ngedipkan matanya, menggoda Laskmono.


"Mulut, Lo!" Laksmono menepuk pelan mulut Garindra. "Pakai acara nyebut-nyebut nama tuh bocah, kalau orangnya kesini, ribut lagi lo berdua rebutin anak gue."


"Weitssss, kali ini fix ... tuh bocah gak bisa ngrebut calon mantu gue. Eri kan udah pacaran sama Elang."


"Baru pacaran, Ndra. Belum nikah, masih bisa ditikung."


"Gak bisa gitu, dong," ujar Garindra tidak terima.


"Tentu bisa, gue bokapnya Eri. Restu di tangan gue."


"Ckk, elo gak asik, Laks ...," decak Garindra sebal.


Interaksi kedua sahabat itu mampu mengurangi ketegangan akan kondisi Valerie.


Tidak lama kemudian, pintu IGD terbuka. Dari sana keluar dokter muda yang juga merupakan anggota Arakata dan sahabat Bayu.


"Gimana kondisi adek gue, Ga?" tanya Bayu begitu Yoga berada di hadapannya.


"Eri harus segera dioperasi. Peluru masuk terlalu dalam, kami takut jika peluru itu melukai organ dalamnya," jawab Yoga, wajahnya terlihat khawatir.


"Lakukan apa yang terbaik buat Eri, Ga," jawab Laksmono.


"Pasti, Om," jawab Yoga sambil mengangguk mantap. "Kami sudah menghubungi dokter bedah, Om. Sus, tolong kamu bantu bapak ini mengurus surat-surat yang harus ditanda tangani."


"Iya, Dokter Yoga. Mari, Pak ... ikut saya."


Laksmono mengikuti kemana suster itu pergi.


"Eri bisa selamat kan, Bang?" tanya Elang dengan tatapan penuh harap.


"Kita doakan yang terbaik untuk Eri, Lang. Jangan lupa kalau cewek lo itu gadis yang kuat." Yoga menepuk-nepuk pundak Elang, memberi semangat pada pria yang terlihat putus asa itu.


"Iya, Bang." Elang menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


***


"Assalamu'alaikum, Livia."


"Wa'alaikumsalam, Raja." Eri langsung memeluk pria yang pernah menjadi kekasihnya itu.


"Kangen ...."


Rajawali terkekeh, gemas melihat wajah manja Valerie yang terlihat imut dan menggemaskan.


"Aku jauh lebih kangen, Sayang. Eh, aku sudah tidak boleh memanggilmu dengan panggilan sayang. Elang bisa


murka nanti," ujar Raja terkekeh geli. "Cowok kamu itu posesifnya tingkat dewa."


Valerie ikut tertawa mendengar penuturan Rajawali tentang Elang.


"Gimana keadaan kamu setelah kepergianku?"


"Buruk," lirih Valerie, "tapi aku berusaha untuk hidup bahagia, demi janjiku padamu."


"Aku lega mendengarnya, paling tidak aku bukan pria yang buruk karena meninggalkan gadis yang kucintai menderita."


"Raja," panggil Valerie, pria itu menengok, memandang gadis di sebelahnya. "Aku mencintai kamu."


Rajawali tersenyum, wajahnya terlihat bahagia.


"Aku tahu, pesonaku sebagai pria memang tidak bisa dipungkiri," jawab Rajawali dengan wajah pongahnya.


"Nyebelin." Valerie menepuk lengan Rajawali. Valerie memandang pria yang ia rindukan.


"Jangan pandang aku seperti itu," ujar Rajawali sambil menutup kedua mata Valerie. "Nanti kamu gagal move on dariku, kasihan si pak pilot. Dia bisa gila kalau kehilangan kamu."


Valerie tertawa lepas, bisa dibayangkannya bagaimana wajah kekasihnya itu jika ia tahu bahwa sekarang Valerie berduaan bersama mantan tunangannya.


"Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu," ucap Rajawali sambil mengusap puncak kepala Valerie.


"Siapa?"


Rajawali menuntun Valerie menuju sebuah padang rumput yang luas. Di sana ada sebuah pohon besar. Di bawah pohon itu ada sesosok pria yang duduk membelakanginya.


"Hay, Brother. Livia kita datang," ujar Rajawali sambil menepuk pundak sang pria.


Mata Valerie terbelalak melihat wajah pria itu. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan, tidak menyangka dengan apa yang ia lihat sekarang.


"Hans?"


***


Setelah beberapa jam berlalu, operasi Valerie telah selesai. Pintu ruang operasi terbuka, muncul seorang dokter wanita seusia Laksmono.


"Bagaimana keadaan putri saya, Dok?"


"Operasi putri bapak berhasil," jawab dokter itu dengan tersenyum.


"Alhamdulillah," ucap semua yang ada di sana.


"Namun, putri bapak harus dirawat di ICU dahulu. Peluru itu melukai organ dalamnya. Jadi, kami harus memantau terus keadaan putri bapak. Bisa dibilang kalau kondisi putri bapak sekarang koma. Kami akan berusaha sekuat kami, bapak dan keluarga juga bantu doa, ya. Permisi ...."


"Koma,," lirih Pratama, "adek koma, Yah." Runtuh sudah pertahanan pria itu, air matanya menetes memikirkan kondisi adik perempuan satu-satunya. "Tama gak berguna sebagai abang, gak bisa jagain adek, sudah dua kali adek masuk rumah sakit. Dan sekarang ... adek kritis."


"Yang sabar, Tam, adik kamu itu perempuan yang kuat. Kamu juga harus kuat demi jagain adik kamu." Laksmono menepuk-nepuk punggung Pratama. Memberikan kekuatan untuk anaknya.


Padahal, kalau boleh jujur hatinya juga hancur melihat kondisi sang putri. Namun, dia berusaha kenyembunyikan kesedihannya, demi putra-putranya yang lain.


Laksmono adalah ujung tombak dalam keluarganya, apa jadinya jika sang ujung tombak juga ikut patah. Ia percaya terhadap putrinya, ia percaya kalau Valerie adalah gadis yang kuat. Putrinya pasti bisa bertahan.


Setelah Valerie dipindah ke ruang ICU. Teman-temannya yang lain mulai berdatangan menjenguk. Mereka datang setelah mendapat kabar dari Elang lewat grup.


Jangan tanya berapa banyak yang datang, pasti ... banyak. Mereka melihat kondisi Valerie bergantian. Bahkan, ada yang harus puas hanya dengan melihat Valerie dari kaca pintu.


"Siapa yang ngelakuin ini sama Eri, Lang?" tanya Robert, pria itu mengusap wajahnya kasar. Ia tidak tega melihat kondisi sahabat yang disayanginya.

__ADS_1


"Hans, teman Valerie dan Raja sewaktu di Korea. Gue juga gak ngerti ada masalah apa sebenarnya. Tapi, waktu gue sampai di sana, gue lihat tuh cowok berusaha menodai Eri."


"Bangsat!" umpat Robert dan yang lain.


"Terus mana tuh cowok brengsek?!" tanya Choky dengan tidak santai.


"Dia menghabisi nyawanya sendiri setelah tahu jika ia salah tembak. Ia mengira kalau Valerie meninggal karena tembakannya."


"Juara bener si Eri, pesonanya sampai buat orang jadi sebegitu gilanya," ujar Braga sambil bertepuk tangan.


"Jangan berisik bego!!" Bagus memukul punggung Braga. "Ini rumah sakit, bukan hutan ... rumah lo!"


"Lo pikir gue tarzan!"


"Bukan, tapi m-o-n-y-e-t," ujar Bagus sambil mengeja kata monyet.


Baru saja Braga ingin menyahuti lagi perkataan Bagus. Sudah ada suara bariton yang membuat mereka terdiam.


"Sekali lagi berisik, gue bikin loe berdua masuk ICU gantiin cewek gue!" ujar Elang tegas.


"Nah lo, nah lo ...," bisik Andi di dekat telinga Bagus dan Braga yang langsung membuatnya mendapat tatapan tajam dari kedua pria itu.


"Gue ke dalam dulu, jagain Eri," ujar Elang sambil melangkah masuk ke ruangan Valerie.


***


"Livia, ampuni aku ...," lirih Hans, pria itu terlihat sangat menyesal. "Gara-gara keegoisanku, kamu dan Raja jadi berada di sini."


Valerie memandang Rajawali yang juga sedang menatapnya. Pria itu mengangguk, Valerie tersenyum dan ikut mengangguk.


"Aku memaafkanmu, Hans," jawab Valerie sambil tersenyum. Senyum itu menular pada Rajawali dan Hans.


"Terimakasih, Livia," ujar Hans senang, pria itu meraih Valerie dalam pelukannya.


"Ikut peluk, ah ...," ujar Rajawali, pria itu langsung ikut bergabung dalam pelukan teletubies Hans dan Valerie.


Valerie tersenyum bahagia.


"Aku jadi ingat kedekatan kita bertiga waktu di Korea. Keseruan kita waktu lihat bunga sakura, aku suka saat-saat ini," ujar Valerie.


Hans dan Rajawali tersenyum.


"Lihat itu, Vi" Rajawali menunjuk pemandangan didepannya.


Valerie menganga melihat pemandang yang begitu indah. Danau yang dikelilingi pohon sakura yang bermekaran. Sungguh menakjubkan.


"Indah sekali," gumam Valerie dengan takjubnya.


"Sekarang, ini tempat tinggalku dan Hans," ujar Rajawali.


"Aku boleh tinggal bersama kalian?" tanya Valerie antusias.


Rajawali dan Hans saling pandang mendengar pertanyaan Valerie, setelahnya kedua pria itu tersenyum penuh arti.


"Emang kamu mau tinggal bersama kami di sini?" tanya Rajawali, ia memandang gadis di hadapannya penuh arti.


"Mau," jawab Valerie penuh semangat.


***


Tiiiiiittttt!!!!!


Elang menegang ketika mendengar bunyi alat detak jantung Valerie. Ia menekan tombol yang ada di dekat ranjang Valerie.


Tidak berselang lama, dokter dan beberapa perawat masuk ke ruangan itu.


"Bapak bisa keluar dulu, biar dokter yang menangani," ucap sang suster kepada Elang.


Elang keluar ruangan dengan wajah yang kusut. Mengundang tanya teman-temannya.


"Eri kenapa, Lang? Kenapa banyak dokter dan suster yang masuk ke dalam?" tanya Bagus dengan panik.

__ADS_1


"Eri, Eri ...."


__ADS_2