
Aku memang ingin menjauhinya. Namun, ketika dia menjauh, aku kehilangan.
***
"Jelasin!"
"Apaan?" jawab Elang, berpura-pura tidak mengerti maksut pertanyaan Bagus.
"Gak usah belagak bego! Jelas elo ngerti apa maksut kita," ucap Gandi ikut menimpali, geram dengan sikap Elang yang sok polos minta ditampol.
"Kayaknya gue tahu alasan perubahan sikap lo." Sekarang giliran Gaung yang angkat bicara. "Mau gue yang jabarin atau elo sendiri yang jelasin!"
Elang menundukkan kepalanya, enggan menatap ketiga pasang mata sahabatnya. Ketiga sahabatnya itu sekarang terlihat seperti cenayang. Bahaya, bocor sudah rahasia hatinya.
"Elo sama kayak gue," lanjut Gaung, "tapi gue gak munafik kayak elo, gue masih punya nyali buat ngakuin perasaan gue. Sedangkan elo? Elo malah nyakitin buat nutupin perasaan elo. Heran gue, seorang Elang ketua Arakata yang gak gentar melawan puluhan orang. Tiba-tiba kicep ngadepin perasaannya sendiri."
Skak mat ....
Perkataan Gaung membuat Elang sudah tidak bisa mengelak lagi. Percuma dia pura-pura tidak tahu atau menyiapkan berbagai alasan.
Mungkin memang malam ini saatnya untuk ia jujur tentang perasaannya.
"Gue ...."
Baru saja Elang berucap satu kata, ponsel milik Gaung berdering. Gaung meletakkan jari telunjuknya ke mulut, menyuruh Elang untuk jangan berbicara dulu.
Elang mencebik kesal, tadi aja mereka memaksanya untuk membuka mulut. Sekarang, baru dia ingin mengucapkan satu patah kata, malah disuruh tutup mulut lagi.
"Hal ... kenapa, Er?"
Elang langsung mengalihkan pandangannya ke arah Gaung, begitu pemuda itu mengucapkan nama seorang gadis yang selalu berputar di pikirannya.
"Elo sama yang lain ada di rumah Elang?"
"Iya, Er. Kita sekarang lagi ngumpul di kamar Elang. Kenapa?"
"Gue bawa makanan, buruan turun. Kita makan di gazebo rumah gue."
"Kenapa gak elo aja yang ke sini, Er?"
"Udah malam, gak enak main ke kamar cowok malam-malam."
Semuanya terdiam dengan berbagai pikiran di kepala mereka mendengar jawaban Valerie. Mereka sudah sering berkumpul di kamar Elang, bahkan lebih larut dari malam ini. Tidak pernah sekalipun Valerie berpikir begitu, tapi kenapa malam ini gadis itu ....
"Ya udah kita kesana, tunggu ya."
__ADS_1
Gaung mematikan sambungan teleponnya. Dan bergegas menghampiri Valerie bersama yang lainnya.
"Elo gak ikut?" tanya Bagus yang melihat Elang masih anteng duduk di sofa kamarnya.
"Gue lagi males kemana-mana."
"Elah, Lang. Rumah Eri kan cuma beberapa meter dari sini, tinggal nyeberang doang pake acara males segala."
"Udahlah, Gan," ujar Gaung, "mungkin Elang butuh waktu buat berpikir."
Elang tersenyum. Ia tahu, pasti Gaung paham apa yang tengah ia rasakan saat ini.
"Bilang ke Eri, jangan tidur larut malam. Besok dia ada turnamen sama anak karate. Bisa bahaya kalaustaminanya gak fit."
"Oh iya, ya." Bagus memukul pelan dahinya, mengingat sesuatu, "besok kan Eri ikut turnamen sama Tama dan anak karate yang lain, kenapa gue bisa lupa?"
"Iya, gue juga lupa," Gandi ikut menimpali. "Masalahnya akhir-akhir ini Eri jarang nyinggung masalah turnamen itu lagi."
"Ya udah, yuk buruan nyamperin Eri. Sebelum dia murka nunggu kita kelamaan." Gaung bergegas keluar kamar Elang diikuti Gandi dan Bagus.
Setelah kepergian ketiga sahabatnya, Elang beranjak dari sofa menuju balkon kamarnya. Dia melihat dari atas, ketiga sahabatnya masuk ke rumah Valerie.
Baru kali ini mereka berkumpul tanpa kehadiran salah satu di antara mereka. Dan ini disebabkan oleh dia sendiri. Oleh keegoisan perasaannya sendiri.
***
Kegiatan belajar mengajar diliburkan, mereka akan memberi semangat kepada murid-murid yang ikut dalam turnamen ini.
Mereka semua sudah heboh berkumpul di tengah lapangan basket. Kenapa lapangan basket?
Bagus yang mengumpulkan mereka di sana, guna melatih yel-yel untuk menyemangati Valerie, Tama dan yang lainnya.
Semua anak Garindra dan anak sekolah lain yang datang mendukung sekolah mereka masing-masing, melihat ke arah lapangan basket dengan berbagai ekspresi. Ada yang terpukau, tertawa ngakak, bahkan ada yang meringis jijik.
Hal itu bukan tanpa sebab, itu dikarenakan Bagus dan komplotan penggembiranya menggunakan kostum yang tidak biasa.
Jika suatu kumpulan dipimpin Bagus, beginilah jadinya. Jangan tanyakan apakah Elang, Gaung dan Gandi ikut serta atau tidak.
Jawabannya pasti iya! Kenapa? Karena pemandu sorak dadakan ini dilatih khusus oleh mamanya Bagus. Jadi, siapa yang berani menolak jika mamanya Bagus yang memberi titah.
Bahkan wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu, sekarang sedang duduk di pinggir lapangan sambil berteriak menyemangati para pemandu sorak dadakannya ini. Yang anggotanya cowok-cowok ganteng nan macho yang berpakaian ... Imut.
Begitulah kostum mereka. Jadi bisa dibayangkan bagaimana penampakan wajah Elang dan yang lainnya?
__ADS_1
"Setelah turnamen ini, elo abis di tangan gue, Gus," gumam Gaung dengan nada yang sarat akan ancaman.
"Bukan hanya di tangan elo bang," ujar Saputro, anak kelas 11 yang juga anak Arakata itu ikut mendapat kehormatan menjadi anggota pemandu sorak dadakan ini. "Tapi, di tangan kita semua."
Bagus menelan ludahnya. Ngeri sendiri melihat sepuluh pasang mata cowok-cowok tangguh di Arakata yang sekarang terlihat imut itu menatapnya tajam. Habislah ia setelah ini.
"Gus, diantara semua kostum kenapa kostum gue yang paling ngeri?!" protes Elang.
Elang melihat mereka satu persatu. Bagus memakai kostum kucing dengan boneka ikan sebagai mangsanya, Gaung memakai kostum anjing dengan boneka kucing sebagai mangsanya, Gandi memakai kostum buaya dengan boneka kancil sebagai mangsanya.
Elang melihat kostum dan boneka yang dibawanya dengan tatapan ngeri,
"KENAPA KOSTUM AYAM DAN BONEKA CACING YANG ELO KASIH BUAT GUE, HILANG WIBAWA GUE, KAMPRET!"
***
Turnamen berlangsung aman, damai dan sportif. Tiga medali emas disabet SMA Garindra.
Dari kategori Putra, Setyama Yunanda alias Tama menyabet medali emas. Dari kategori putri tentu saja Valerie Livia Laksmono yang mendapat medali emasnya. Dan dalam kategori team pun mereka menyabet medali emas.
Sekolah mereka akan viral setelah ini. Bukan hanya karena sekolah mereka yang menyabet habis medali emas, tapi juga karena pemandu sorak mereka yang enerjik dan kocak dalam memberi semangat.
Para pemandu sorak itu menjadi artis dadakan yang mendapat permintaan foto dari para siswi, entah itu siswi SMA Garindra atau siswi sekolah lain.
"Luka lo gak papa, Er?" tanya Tama pada Valerie di ruang UKS. Gadis itu mendapat luka di wajahnya, sesaat tadi gadis itu hilang konsentrasi yang berakibat ia lengah.
"Gak papa, Tam. Cuma memar dikit."
"Kamu gak fokus, Er?" tanya Dokter Yoga yang melihat adik sahabatnya ini agak aneh di pertandingan tadi. Biasanya gadis itu selalu fokus.
"Cuma ada sedikit yang ganggu pikiran kok, Dok," jawab gadis itu sambil tersenyum.
"Valerie!" teriak kompak keempat sahabat somplaknya. Mereka meninggalkan fans-fansnya, begitu tahu Valerie masuk UKS.
"Elo gak papa?" tanya Gaung khawatir.
"Gue gak papa. Kalian gak usah lebay, kaya gak tahu gue aja. Luka sang juara ini," ujar Valerie bangga menunjuk memar di pinggir bibir dan pipinya.
Mereka tersenyum lega, tadi mereka sempat panik begitu melihat Valerie terkena pukulan dan terjatuh. Tapi gadis itu memang kuat, seperti arti namanya.
"Cacing elo mana, Lang?" tanya Bagus pada Elang yang tidak membawa apa-apa di tangannya.
"Gue lempar di lapangan! Geli gue megang-megang gituan," jawab Elang enteng.
"Mampus gue, Lang!" Bagus menepuk dahinya. "Itu cacing kesayangan nyokap gue. Bisa di sunat cacing gue, buat gantiin itu cacing." Bagus memegang area tengah celananya, membuat semua yang ada di UKS terbahak melihatnya. Melihat keapesan nasib Bagus.
__ADS_1