Arakata

Arakata
Pernikahan Si Garang Choky


__ADS_3

Choky memandang kagum pada wanita berhijab yang beberapa menit yang lalu sudah syah menjadi istrinya. Tidak berhenti ia bersyukur atas anugerah yang diberikan Tuhan padanya. Dulu, sebelum bertemu dengan Arakata, dia adalah pribadi yang keras, bahkan bisa dibilang kejam.


Tidak ada belas kasih dalam kepemimpinannya di Rajawali. Jika berani membangkangnya, siap-siap saja menyiapkan biaya untuk berobat ke rumah sakit. Namun, setelah ia dikalahkan oleh panglima perang yang berparas menawan, dan mendapat petuah dari gadis itu. Dia jadi mengerti tentang arti sebuah kepedulian.


Kehidupannya yang keras, tanpa kehadiran sosok seorang ayah. Membuat ia menjadi pribadi yang keras, perceraian orang tuanya pun tanpa disadari telah membentuk sikapnya yang tidak kenal belas kasih. Menurutnya, rasa kasih sayang dan kepedulian hanya akan membuat seseorang menjadi lemah.


Satu pukulan dikepalanya yang dilakukan oleh Valerie saat itu, mungkin telah menggeser letak otaknya pada tempat yang tepat. Jadi, secara perlahan ia menjadi pribadi yang lebih baik.


Seiring berjalannya waktu yang ia lewati bersama dengan Arakata, semakin membuka pandangannya tentang dunia. Bahwa hanya karena kesalahan ayahnya di masa lalu, tidak lantas harus mengubah sikapnya menjadi buruk. Malah seharusnya ia bisa menjadi sosok pria yang bertanggung jawab, agar bisa melindungi ibundanya. Hal itu juga ia dapatkan dari anak-anak Arakata.


Mempunyai sebuah geng atau perkumpulan, bukanlah sesuatu hal yang buruk. Asal, kita tahu arah yang benar untuk mengemudikan sebuah geng tersebut. Jika kamu masih buta arah tentang kehidupan, dalam arti masih belum bisa membedakan yang baik dan buruk, dan masih belum bisa meredam emosi. Maka, urungkanlah dulu niatmu untuk membentuk atau memimpin sebuah perkumpulan. Jika kamu masih memaksa, maka perkumpulan yang kamu bentuk itu hanya akan menjadi beban bagi negara.


Namun, jika kamu membentuk perkumpulan atas dasar kasih dan untuk saling melindungi. Maka, ribuan saudara yang akan kau dapatkan. Memang klise jika didengar, tapi itulah kenyataannya. Jika kau menanamkan kebaikan dalam setiap tindakanmu, maka hal baik pula yang akan kau dapatkan. Namun, jika kau sudah memberi kebaikan pada seseorang, tapi seseorang itu malah memanfaatkanmu ... tetaplah berbuat baik, jika ada orang yang memanfaatkan kebaikanmu, itu urusan mereka dengan sang pemilik hidup. Jangan pernah bosan dan berhenti menjadi orang baik. Berikanlah kebaikanmu di dunia, maka kau akan mendapat kebaikan di akhirat kelak.


"Cie, Bos gue udah punya bini," celetuk Roxy, menggoda Choky. "Nanti malam kalau bos gue main kasar, jambak aja rambut gondrongnya." Roxy berbisik pada Azizah tapi dengan suara yang keras, jadi Choky masih bisa mendengarnya.


"Gak usah ngeracunin otak istri gue!" omel Choky sambil menggeplak pundak Roxy dengan blangkon yang dipegangnya.


"Cie, yang ditinggal kawin sama pasangan homonya," celetuk Gema, yang langsung mendapat tatapan tajam dari Roxy. "Napa natap gue gitu, Bang? Sorry ya, Bang. Dengan nikahnya Bang Choky, bukan berarti elo bisa pindah belok ke gue. Gue masih lurus, gue udah punya Neng Zulfa. Sama Bang Elang aja noh."


"Enak aja lo! Gue normal ya, gue punya Eri," sahut Elang sambil menepuk dada bidangnya, merasa bangga.


"Heleh, gue yakin kalau Bang Elang pacaran sama Kak Eri cuma alibi buat nutupin hubungan terlarangnya sama Bang Roxy. Nyatanya, sampai sekarang Bang Elang belum nikahin Kak Eri, cuma ngelamar doang."


"Benar begitu, Lang?" tanya Valerie, gadis itu mengikuti alur yang dibuat Gema, ia memasang muka pura-pura kecewa. "Kalian jahat, tanpa gue tahu, kalian bermain di belakang gue." Valerie menggetarkan badannya, seperti menahan tangisan. Hal itu membuat Elang dan Roxy kalang kabut, yang lain setengah mati menahan tawanya.


"Eng-enggak, Er," ucap Roxy terbata. "Gue beneran masih lurus, deh. Kalau elo gak percaya ... ayo, ikut gue. Gue buktiin kalau gue masih lurus." Roxy menarik pergelangan tangan Valerie, hendak mengajak gadis itu ke suatu tempat.


"Enak aja, Lo!" omel Elang. Pria itu menyingkirkan tangan Roxy dari pergelangan tangan calon istrinya itu.


"Nah, kan!" seru Valerie, sengaja dibuat heboh. "Kamu gak rela kalau aku jalan sama sama Roxy kan, Lang. Kamu gak rela kalau Roxy berpaling dari kamu, kan?"


Elang diam sejenak, mulutnya mengangga. Wajahnya terlihat sangat konyol, membuat siapa saja yang ada di sana setengah mati menahan tawanya.


"Anjir, gue malah jadi pusing, nih. Berasa kalau gue ketahuan homo benberan, nih," celetuk Elang, pria itu mengacak rambutnya, merasa frustasi.

__ADS_1


"Kamu ngatain aku anjir, Lang?" Mata Valerie berkaca-kaca, membuat Elang tambah frustasi.


"Eh ... bukan, Sayang. Gak mungkin aku ngatain kamu," sahut Elang, membela diri. Ia mengusap rambut lebat Valerie yang digerai.


"Tapi tadi-" Valerie menunduk,


"Bukan, Sayang. Kampret ... gara-gara Gema, nih," ucap Elang lagi.


"Wua, sekarang malah dikatain kampret!" teriak Valerie, gadis itu berlari menuju sang ayah, ia memeluk Laksmono. Tubuh gadis itu bergetar, bukn karena menangis, tapi karena mati-matian menahan tawa sedari tadi.


"Jahil kamu, Dek," ucap Laksmono sambil terkekeh.


"Gema! Sini, Lo! Gue geprek mulut lemes, Lo!" teriak Elang.


"Kabur!" seru Gema, pemuda itu berlari di gedung tempat resepsi pernikahan Choky dan Azizah. Elang terus mengejarnya, membuat ia menjerit histeris. "Abang, tolong gue."


"Ogah," jawab Gaung cuek. Pria itu menangkap tubuh kekar adiknya, ia terus memegangnya agar Gema tidak kabur lagi. "Nih, Lang. Eksekusi sepuas lo!" Gaung menyerahkan Gema pada Elang yang sudah berada di hadapan mereka yang diikuti Roxy, hal itu membuat wajah Gema memucat.


"Wah, tega sama adek sendiri lo, Bang!" ratap Gema.


"Biar gue yang patahin kaki sama tangannya, Lang," ucap Roxy sambil menyeringai, membuat Gema meringis ngeri.


"Silahkan," jawab Elang. Pria itu melangkahkan kaki lebih mendekat pada Gema. "Wajah songong dan bibir lemesnya biar jadi urusan gue."


"Wah seru, nih! Ketua Arakata angkatan tujuh dan delapan duel, dibantu sama wakil Arakata angkatan tujuh sama wakil Rajawali," celetuk Bagus kegirangan, pria itu berteriak-teriak seperti suporter bola. Yulia hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan absurd suaminya itu.


"Hasan, Asel, Abdul, Rama ... tolongin gue!" seru Gema, meminta tolong pada temannya-temannya. Namun, reaksi dari teman-temannya itu malah membuatnya mengangga.


"Hah? Elo siapa? Gue gak kenal," jawab Hasan sambil mengangkat bahunya, pura-pura tidak mengenal ketuanya itu.


"Ogah, gue lagi turnamen, nih!" jawab Asel sambil main game di ponselnya.


"Mending nyari makanan, lebih bermanfaat," sahut Abdul. "Gue gak mau kualat dengan ngelawan senior gue."


Gema memandang Rama dengan tatapan yang memelas, cuma pemuda itu harapan satu-satunya.

__ADS_1


"Napa ngelihat gue kayak anak anjing minta tulang gitu? Gue lagi mager, badan gue pegel-pegel," ucap Rama dengan wajah datarnya.


"Temen macam apa kalian, hah!" seru Gema nelangsa.


"Macam-macam," sahut empat inti Arakata angkatan delapan itu dengan kompak.


Gema hanya bisa melongo melihat ulah usil sahabat-sahabatnya itu. Ia pasrah dengan apa yang mau dilakukan Elang dan Roxy, tubuhnya masih dipegang Gaung agar ia tidak melarikan diri. Benar-benar konspirasi yang terencanakan.


***


"Gema, ngambek nih, ye," ucap Valerie, menggoda juniornya itu.


Gema hanya melirik pada Valerie, enggan menjawab perkataan gadis itu. Badannya lelah karena siksaan dari Elang dan Roxy. Bagaimana tidak lelah, jika Roxy dan Elang terus-terusan menggelitiki badannya.


"Beneran ngambek, nih? Gak mau maafin Kak Eri, nih?" tanya Valerie lagi, gadis itu memasang tampang memelas. "Kak Eri nangis nih, ya."


"Jangan, Kak," ucap Gema cepat. "Kalau kakak nangis, dikira gue apa-apain ... bisa disiksa lagi gue. Kalau Kak Eri sampai nangis nih ya ... bukan Bang Elang doang yang bakal nyiksa gue, tapi semua anggota Arakata dari angkatan satu sampai delapan, belum lagi sama Rajawali, Gester, Blue Eagle, The Drugs ... bisa habis napas gue, Kak."


Valerie terbahak melihat wajah tampan Gema menjadi nelangsa, persis seperti anak kecil yang dimarahi oleh orang tuanya.


"Uluh-uluh, kasihan banget sih adek gue yang satu ini," ucap Valerie sambil mengusap rambut tebal Gema. "Besok gue bikinin mie ayam pangsit sama ice cream pisang, deh. Mau?"


"Mau banget, Kak," jawab Gema cepat, wajah nelangsanya langsung berubah ceria, membuat Valerie terkekeh. "Jangan bohong, ya."


"Iya, besok pas jam istirahat pertama, gue anterin ke sekolah lo."


"Wah, makasih banyak Kak Eri. Sayang ... Kak Eri." Gema memeluk tubuh Valerie.


"Em, lebih baik elo lepasin pelukannya, deh," ucap Valerie, "kalau enggak, elo bakalan dapat siksaan lagi."


Gema masih belum paham dengan apa yang dikatakan Valerie, sampai sebuah suara membuat adrenalinnya kembali teruji.


"Peluk aja terus," ucap Elang, pria itu berada di belakang Gema. "Ternyata siksaan gue tadi masih kurang buat seorang Gema Armando."


"Wua, tidak!" teriak Gema histeris, pemuda itu kembali berlari agar tidak mendapat siksaan yang sama dari Elang.

__ADS_1


__ADS_2