Arakata

Arakata
Elang Siaga Satu


__ADS_3

Seperti apa yang dijanjikan Valerie pada Gema. Gadis itu membawakan mie ayam pangsit dan ice cream pisang ke sekolah tempat Gema dan teman-temannya menimba ilmu, ya tentu saja SMA Garindra. Valerie tidak hanya membawa satu porsi mie ayam, melainkan lima puluh porsi untuk teman-teman Gema yang lain.


Tidak hanya mie ayam pangsit dan ice cream. Valerie juga membawa kue dari tokonya untuk satu sekolahan, termasuk para guru. Tidak usah tanya apakah dia akan rugi, pasti jawabannya tidak. Karena dengan berbagi tidak akan membuatmu bangkrut, malah akan membuat kekayaan yang kau punya akan mendapat berkah. So, jangan takut untuk membagikan rejekimu.


"Assalamu'alaikum, ketua baru," salam Valerie di teleponnya. Gadis itu menghubungi Gema, memberitahukan kedatangannya di SMA Garindra. "Gue udah sampai, bawa yang gue janjikan kemarin. Bantuin gue buat bawa ini makanan, sekalian ajak bala bantuan lo."


"Wa'alaikumsallam, wah ... emang Kak Eri bawa berapa banyak, sampai butuh bala bantuan. Biasanya ngangkut karung beras aja dijabanin sendiri," jawab Gema.


"Ck, gak buruan turun, gue langsung balik kanan," ancam Valerie, gadis itu langsung mematikan sambungan teleponnya. "Bener-bener penerus Bagus."


Valerie berdiri bersandar pada mobil milik Riki. Mobilnya hangus terbakar waktu kecelakaan, jadi dia menggunakan mobil milik Riki dulu untuk sementara. Ia memijit-mijit pundaknya, tidak munafik ... ia merasa lelah karena dari malam setelah pulang dari kondangan ia membuat ice cream, paginya ia membuat mie ayam pangsit. Badannya terasa lelah tapi ia tetap merasa senang, karena batinnya merasa puas sudah bisa berbagi dengan sesamanya.


Valerie memandang sekeliling, ia teringat kejadian saat ia dan teman-temannya menghabiskan waktu bersama untuk menimba ilmu dan membagi kebahagiaan. Masa-masa yang menjadi sebuah titik awal hingga ia menjadi wanita yang sukses seperti sekarang. Gadis itu memejamkan matanya, merasakan sejenak semilir angin yang menerpa wajah ayunya. Gadis itu terbuai dengan suara daun yang diterpa angin, sampai sebuah suara bariton membuatnya kembali membuka mata.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya sebuah suara yang berasal dari seorang pria yang mengenakan baju training olahraga, mungkin dia adalah guru olahraga di sini.


"Oh, tidak ... terimakasih. Saya menunggu seseorang," jawab Valerie sambil tersenyum manis, membuat sang lelaki terpesona.


"Kak Eri," panggil Gema sambil berlari dari arah dalam sekolah. Di belakangnya ada beberapa pemuda, yang juga anggota Arakata. Seperti yang diminta oleh Valerie, pemuda itu membawa bala bantuan. Tidak tanggung-tanggung, ia membawa lebih dari dua puluh pemuda."


"Kenapa kalian ramai-ramai ke gerbang sekolah, mau bolos, hm?" tanya pria itu, tangannya terlipat di depan dada.


"Pak Ardi mah suudzon mulu sama kita-kita," sahut Hasan.


"Iya, nih." Abdul ikut-ikutan protes. "Kami ke sini karena mau nemuin Kak Eri, eh malah ketemu bapak di sini."


"Ngemen-ngemeng, kenapa bapak bisa ada di sini, bapak ngegodain Kak Eri, ya?" tanya Asel, pemuda itu menaik-turunkan alisnya, menggoda sang guru.


"Oh, namanya Eri," ucap Ardi dalam hatinya. Pria itu tersenyum, sambil masih memandang wajah Valerie.


"Senyam-senyum, jangan-jangan bapak lagi mikir yang jorok, ya?" celetuk Gema, membuatnya mendapat jeweran maut dari Ardi.


"Otak kamu yang jorok,": sahut Ardi, pria itu kembali menatap Valerie. "Kamu kenal sama yang beginian?"


"Beginian dia bilang," gerutu Gema dan yang lainnya.


"Hahaha, mereka itu adik-adikku," jawab Valerie, gadis itu tersenyum.


"Semua?" tanya Ardi, wajahnya terlihat tidak percaya.

__ADS_1


"Iya," jawab Valerie sambil mengangguk.


"Makanya gabung sama Arakata, Pak. Biar tahu siapa Kak Eri," celetuk Asel.


"Dia juga anggota Arakata?" tanya Ardi takjub.


"Bukan hanya anggota," jawab Gema, "Kak Eri ini panglima perang Arakata yang terkuat."


Mata Ardi membola, ia menjetikkan jarinya, teringat akan sesuatu.


"Ah, jadi kamu yang sering dibicarakan sama Robert?"


"Kamu juga kenal Obek?" Gantian Valerie yang bertanya, dunia memang sempit


"Kenal, lah. Aku teman satu sasana tinju sama dia. Selama ini, dia sering cerita soal temannya yang bernama Valerie. Tadinya aku menganggap kalau dia terlalu berlebihan dalam mendeskripsikan kamu. Tapi semua yang dikatakannya ternyata benar, tidak ada yang dilebih-lebihkan sama sekali." Pria itu tersenyum, membuat ia menjadi pusat perhatian anak muridnya yang ada di sana.


"Kak Eri, bolehkah ngobrolnya nanti saja," ucap Hasan, wajahnya dimelas-melaskan. "Kami sudah kelaparan, kalau kalian ngobrol terus, keburu bel masuk kelas berbunyi."


"Oh, iya," ucap Valerie menepuk dahinya. "Ambil di dalam mobil, mie ayam sama ice creamnya cuma ada lima puluh porsi, terus ada kue juga buat anak-anak satu sekolahan dan guru. Tolong kalian bagiin sekalian, ya."


"Siap, bu panglima," sahut mereka bersamaan seraya memberikan hormat.


"Asel belum sesakti Kak Eri," sahut Gema sambil mengambil bungkusan-bungkusan yang ada di mobil Valerie.


"Lo kira gue dukun."


Ucapan Valerie dijawab kekehan oleh Gema.


"Kak Eri mau ikut makan sekalian?" tanya Rama.


"Enggak, gue langsung pergi aja. Setelah ini mau ke lapas, mau jenguk Riki."


"Wah, pasti sekarang ada yang lagi kepanasan, nih," bisik Abdul pada teman-temannya.


"Gak usah bisik-bisik," ucap Valerie, "Pak Ardi, saya pamit dulu."


"Oh, iya ... silahkan," sahut Ardi, mempersilahkan Valerie.


"Tanda-tanda ada yang jatuh cinta pada pandangan pertama, nih," celetuk Gema, "bener gak, Sob!"

__ADS_1


"Bener bingit," sahut Asel dan yang lainnya.


"Awas ya kalian!" Ardi mengejar anak-anak didiknya yang lari kocar-kacir sambl membawa paper bag.


"Hati-hati, nanti makanannya tumpah," seru Valerie, kemudian gadis itu mengendarai mobilnya keluar dari pekarangan SMA Garindra.


***


"Elo gak bosen tiap hari jenguk gue di sini?" tanya Riki, Pria itu terlihat senang karena kembali melihat wajah cantik Valerie. "Gue gak masalah kok kalau elo gak sering jenguk gue, gue gak mau elo jadi ngerasa terpaksa." Riki tersenyum, jenis senyum yang jelas-jelas dipaksakan.


"Emang wajah gue terlihat kepaksa?" tanya Valerie, gadis itu lebih mendekatkan wajahnya pada Riki, biar pria itu bisa melihat bahwa ia tidak tertekan sama sekali. Namun, hal itu malah membuat wajah Riki memerah, detak jantungnya pun berdetak lebih kencang. "Gue ikhlas jengukin elo, gue ngerasa seneng."


"Seneng kenapa?"


"Entah," jawab Valerie, gadis itu mengangkat kedua bahunya pertanda tiak mengerti.


"Wah, itu tanda-tanda elo mulai ngerasa nyaman sama gue, Er.  Awalnya kenalan, nyaman, terus jadian. Hahaha."


"Jadian kepala lo, gue udah mau nikah," omel Valerie.


"Kan baru mau nikah, bukan udah nikah, kan? Itu tandanya elo masih free."


"Terserah, lah. Bisa panjang urusannya kalau gue ladenin."


"Tuh, tahu, Emang pinter calon masa depan gue," goda Riki, akhir-akhir ini kebiasaan barunya adalah menggoda Valerie. Apaplagi jika Valerie sampai jengkel dan cemberut, dia paling menyukai hal itu.


***


"Valerie kemana?" tanya Gaung pada Elang yang datang sendirian ke markas, biasanya dia selalu menempel pada calon istrinya itu.


"Habis dari lapas, dia langsung mampir ke rumah Bang Bayu," sahut Elang.


"Oh, iya. Gue mau cerita soal Eri," ucap Robert, "tadi waktu di sasana tinju, ada temen gue yang nanya-nanya tentang calon bini lo itu."


"Nanya tentang Valerie?" beo Elang.


"He'em." Robert mengangguk. "Dia guru olahraga di SMA Garindra, tadi waktu Valerie ke sana, tanpa sengaja ia bertemu dengan temen gue itu. Kayaknya dia mulai tertarik sama Eri. Dia nanya makanan kesukaan Eri, jenis bunga yang Eri suka, tempat yang Eri suka. Semua tentang apa yang Eri suka."


"Wah, siaga satu lo, Lang," celetuk Choky, "Pesaing-pesaing mulai berdatangan. Kalau elo gak buruan nikahin Eri, bisa digondol kucing ganteng entar."

__ADS_1


Elang hanya memanyunkan bibirnya, tanpa bisa menjawab apa yang disampaikan oleh teman-temannya. Hal itu membuat semua yang ada di sana tertawa. Jarang-jarang mendekati mustahil, mereka bisa melihat wajah merajuk Elang.


__ADS_2