Arakata

Arakata
Mendadak Akur


__ADS_3

"Waw, selain jago beladiri, elo jago sulap juga, Er," ucap Andi, salah satu anak Gester. Takjub melihat begitu banyak makanan yang tersaji di meja. "Masak segini banyaknya cuma elo buat dalam satu malam? Udah cocok deh buka warteg."


"Ogah!" Valerie menggelengkan kepalanya. "Entar elo utangin mulu, bangkrut warteg gue."


"Hehehe, tau aja lo, Er." Pemuda itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ini makanan beneran udah cukup buat nyuguhin tamu undangan sama anak-anak panti, kan?"


"Lebih dari cukup, Er." Sinta menganggukkan kepalanya. "Udah jam tujuh pagi Er, mending elo mandi dulu. Ini baju yang dibawain Elang." Sinta menyerahkan plastik yang berisi baju Valerie.


"Makasih," ucap Valerie, "sahabat gesrek gue pada kemana?"


"Elang sama yang lain lagi di luar. Ngecek semuanya biar perfect," jawab Sinta.


"Ya udah, gue mandi dulu," pamit Valerie, gadis itu masuk ke dalam kamar mandi.


"Ngapain elo ikut masuk!" bentak Valerie yang melihat Andi mengikutinya masuk ke dalam kamar mandi.


"Mau nemenin elo, siapa tahu elo takut kalau sendirian di dalam, kan?" jawab Andi enteng.


"Mau gue timpuk pake panci warteg!" ancam Valerie.


"Haha, damai aja dah, Er. Entar wajah gue yang ganteng paripurna ini bisa gosong kena pantat panci warteg."


Brakkkk


Andi mengelus dadanya, terkejut setengah hidup karena Valerie membanting pintu tepat di depan matanya. Hampir saja hidungnya yang bangir itu kejepit pintu.


"Cari mati sih lo! Punya nyawa berapa lo godain panglima perang Arakata, hehe," kekeh Sinta.


"Ya udah, gue godain elo aja ya, Sin."


"Gue aduin Tyan, kelar hidup lo," sahut Sinta, gadis itu ngacir keluar meninggalkan sahabat pacarnya yang haus belaian karena kelamaan jomblo.


"Gadis jaman sekarang galak-galak. Masa gue harus mencong demi gak jomblo lagi. Hiiiii ...." Andi bergidik ngeri sambil mengusap-usap lengannya.


***


"Elang!" teriak Valerie murka. Hiruk pikuk kesibukan semua orang berhenti seketika, memandang sumber suara yang memanggil nama Elang. "Baju apaan yang elo kasih ke gue! Sejak kapan gue punya baju kurang bahan beginian."


Semua mata tertuju pada gadis itu. Valerie mengenakan gaun lengan panjang, berpotongan sabrina, yang panjang gaunnya selutut. Gadis manis yang biasanya berpenampilan tomboy, sekarang terlihat feminim dan lebih manis. Membuat semua mata terpesona.


"Itu mamah yang nyiapin, Er, bukan gue. Semua baju lo yang ada di lemari udah disingkirin mamah, terus diganti begituan semua." Elang menunjuk baju yang dikenakan Valerie.


"Mamah Jelita," geram Valerie frustasi. Mau marah, tapi dia sangat menyayangi mamahnya Elang itu. Kemarin Jelita memang bilang kalau beliau membelikan baju untuk Valerie. Tapi, Valerie tidak menyangka jika bajunya sangat manis semua.


"Elo cocok kok pakai baju itu, Er," puji Sinta, "selera fashion mamahnya Elang bagus juga."


Walau mendapat pujian, tidak urung menghilangkan rasa sebalnya. Karena ini bukan style Valerie sama sekali. Tapi biarlah, daripada dia tidak ganti baju.

__ADS_1


"Valerie," panggil Robert. Begitu melihat penampilan Valerie, pria itu langsung melepas kacamata hitam yang dikenakannya. "Wahhhh, cantik banget elo, Er." Puji Robert.


"Papah lo?" tanya Valerie. Gadis itu tidak menanggapi pujian Robert.


"Oh iya, kenalin papah gue, ini Valerie, Pah. Gadis yang abang ceritain semalem."


"Valerie, Om." Valerie mengulurkan tangannya.


"Saya Edgar, papahnya Robert. Terimakasih, karena kamu sudah mengembalikan sikap Robert yang seperti dulu lagi. " Edgar menyambut ramah uluran tangan Valerie. "Om pamit ngumpul sama teman-teman om yang di sana ya." Edgar menunjuk teman-temannya yang bergerombol.


"Iya, Om." Valerie mengangguk mantap. "Ada bau-bau baikan ini." Goda Valerie.


"Gue semalam ngomong empat mata sama papah," bisik Robert di telinga Valerie. "Gue sampein semua ganjalan yang membebani pikiran gue selama ini. Dan ternyata papah juga merasa kangen sama gue. Terimakasih, Er. Semua berkat bantuan elo."


Semua pasang mata menatap dua insan yang sedang berbisik-bisik itu. Mereka berdua seakan tidak sadar dengan tatapan kepo dari sekitar, dan tatapan tajam dari Elang dan Gaung.


"Alhamdulillah," Valerie menengadahkan tangannya, mengucap syukur. "Kita ke depan yuk, nyambut anak-anak panti. Bentar lagi mereka dateng, gue suka anak-anak." Valerie menggandeng tangan Robert. Mengajaknya ke gerbang depan. Tidak memedulikan tatapan semua orang yang masih memandang mereka penasaran.


"Sejak kapan mereka akur?" tanya Gandi dan hanya dijawab gelengan oleh semua yang ada di sana.


Acara Gester berjalan lancar dan aman. Total ada dua puluh panti asuhan yang diundang. Satu panti asuhan kurang lebih terdiri dari dua puluhan anak asuh. Jadi, acara itu bisa terhitung sangat ramai. Tapi tenang, semua berjalan


kondusif.


Dan di akhir acara, ada sebuah mobil box besar yang masuk ke pekarangan markas Gester. Semua langsung siaga, takut jika ada perusuh. Namun, dengan santainya Valerie mendatangi mobil box tersebut dan berbincang dengan sang sopir.


"Woy, teman-teman buruan bantuin gue!" seru Valerie, membuat semua anggota Arakata, Gester, Rajawali dan Blue Eagle langsung berlari mendekati Valerie. Takut jika gadis itu terancam.


"Buruan bantuin angkutin ke sana!" Valerie menunjuk tempat acara berlangsung. "Malah pada bengong!"


Seakan tersadar, mereka langsung melaksanakan apa yang diminta Valerie.


"Hallo, Adik-adik," sapa Valerie.


"Hallo juga, Kak," jawab serempak semua anak-anak.


"Ini ada bingkisan keperluan sekolah dan mainan buat kalian semua. Jadi, kalian harus rajin sekolah ya. Enggak boleh malas kalau menimba ilmu. Karena sampai kapanpun, ilmu pengetahuan diperlukan dalam kehidupan kita. Tanpa ilmu pengetahuan, kita akan menjadi orang yang menjalani hidup tanpa arah. Jadi, mulai sekarang tidak ada yang boleh malas belajar, ya. Raih mimpi kalian setinggi-tingginya. Karena tidak pernah ada batasan untuk sebuah


mimpi. Paham adik-adik semua ...."


"Paham, kakak cantik."


"Itu juga ada berbagai mainan. Bisa kalian mainkan bersama teman-teman. Tapi, kalau udah main jangan lupa belajar ya."


"Iya kak, asyikkkk," jawab mereka dengan gembira.


Valerie memberi kode pada teman-temannya untuk membagikan mainan-mainan itu. Anak-anak itu menerima alat-alat tulis dan mainannya dengan wajah yang bahagia, dan kebahagiaan itu juga menular pada semua yang ada di sana. Inilah kenikmatan dari berbagi.


***

__ADS_1


"Gue mewakili Gester, ngucapin berjuta terimakasih buat kalian semua yang udah membantu, sampai acara kami berjalan dengan sukses." ucap Tyan begitu semua tamu dan anak-anak panti sudah pulang. Mereka lesehan di depan panggung untuk beristirahat. "Terutama buat Eri." semua pasang mata melihat pada seorang gadis yang disebutkan Tyan.


"Gue?" Valerie menujuk wajahnya sendiri. Gadis itu duduk di pojokan berdua dengan Robert. Sejak tadi mereka terlihat selalu berdekatan.


"Iya, Er." Tyan menganggukkan kepalanya. "Elo dengan rela membantu kami buat masakin semua hidangan sejak semalam, tanpa istirahat, Er. Rencananya gue mau pesen cattering. Tapi elo dengan rela menawarkan diri untuk menyiapkan semua. Gester jadi merasa berhutang sama lo."


"Gak papa, Yan. Santai aja, gue ikhlas ngelakuin semuanya. Apalagi gue bisa mendapat hak istimewa menyiapkan makanan untuk anak yatim. Ada kepuasaan tersendiri melihat anak-anak itu bisa tertawa senang, Yan. Kalau kalian menganggap ini sebagai hutang, kalian cukup membayarnya dengan sering-sering ngadain acara amal seperti ini. Dan jangan lupa undang gue."


Semua tersenyum kagum mendengar penuturan Valerie. Betapa ikhlasnya gadis itu berbagi dengan sesamanya.


"Gue gak salah naruh hati," ucap Elang dalam hati.


"Terus buat bingkisan perlengkapan sekolah dan mainan itu, pasti nguras tabungan elo, kan?" lanjut Tyan.


"Tenang aja, kemarin, sebelum kesini, gue malakin abang-abang gue. Seorang gue palakin dua puluh juta, hehehe." Valerie terkekeh geli mengingat kejadian waktu ia meminta uang pada kakak-kakaknya. Betapa terkejutnya empat


lelaki tampan itu, ketika adik mereka yang tidak pernah neko-neko. Tiba-tiba meminta uang dengan jumlah yang tidak sedikit. Namun, setelah mereka tahu alasan Valerie, dengan senang hati mereka memberikan uang itu. Bahkan, Laksmono juga ikut membantu.


"Kelihatannya kita semua disini, terutama gue ... perlu belajar banyak sama elo soal berbagi." Perkataan Tyan mendapat anggukkan setuju dari yang lainnya.


"Gue aja masih butuh banyak belajar," jawab Valerie, "masih banyak waktu buat kita belajar bersama. Gue kan juga masih panglima perang Arakata. Tapi kok akhir-akhir ini gue ngerasa jabatan gue sebagai panglima perang gak ada


gunanya, ya?"


Pertanyaan Valerie membuat semuanya tertawa. Akhir-akhir ini memang keadaan aman dan terkendali. Tidak ada geng-geng yang cari masalah. Mungkin sang panglima perang Arakata merasa gabut.


"Eh, Er. Lihat deh." Robert memperlihatkan layar ponselnya.


"Wah, lucu-lucu banget, Bek."


Dalam layar ponsel Robert terlihat dua belas anak ayam yang memakai baju aneka warna yang lucu-lucu.


"Mamah gue yang ngirim fotonya."


"Mamah?"


"Iya, sekarang gue bisa nerima istri papah gue. Ternyata orangnya baik. Waktu gue cerita soal elo yang minta tuh selusin anak ayam pakai baju. Mamah gue langsung cari kain, dan buatin bajunya. Ini udah jadi, terus dipakein langsung ke Encret DKK."


"Alhamdulillah, kalau begitu," jawab Valerie sambil tersenyum. Ikut senang, jika temannya juga merasa senang.


"Sejak kapan sih mereka jadi dekat begitu?"


"Robert kok jadi ceria begitu ya?"


"Wah, Robert bisa tertawa juga ternyata."


"Gue lihat tadi dia juga akur sama bokapnya."


Kasak-kusuk itu terdengar karena perubahan sikap dua orang yang biasanya cakar-cakaran menjadi mendadak akur.

__ADS_1


 


 


__ADS_2