Arakata

Arakata
Kembalinya Panglima Perang Arakata


__ADS_3

Markas Arakata terlihat sangat berantakan. Barang-barang berserakan, bahkan figura foto Teguh pecah berantakan. Hal itu membuat emosi Laksmono dan Arakata angkatan pertama tersulut.


Semenjak kematian ibunda Teguh lima tahun lalu, markas Arakata dijaga bergantian oleh anggota-anggotanya.


"Siapa yang lancang melakukan ini?" tanya Laksmono sambil mengambil figura foto Teguh yang terjatuh ke lantai.


"The Drugs, Om," jawab Edo, anggota Arakata angkatan delapan. Wajah Edo babak belur karena dikeroyok anak-anak The Drugs.


"The Drugs?" tanya Laksmono, pria itu mengernyitkan dahinya. Selama berpuluh-puluh tahun berkecimpung dengan Arakata, baru kali ini dia mendengar ada geng bernama The Drugs.


"Geng baru, Om," jawab Gema, "masih belajar merajai jalan, udah tiga geng yang mereka bantai."


"Bodoh," sahut Afghi, "cari mati mereka nantang Arakata. Geng baru, banyak tingkah!"


"Nunggu apa lagi, kita balas kunjungan mereka!" seru Garindra.


"Ayah sama om-om nunggu di sini aja, biar kami yang ke sana," ujar Valerie, "udah lama kami tidak berolahraga, biarkan kami sersenang-senang."


"Tapi kita yang tua juga butuh bersenang-senang, Er," jawab Alif yang masih mengenakan seragam biru tua khas petugas pemadam kebakaran.


Baru selesai Alif berucap, di luar terdengar deru mesin motor bersahut-sahutan. Tidak lama setelah itu munculah Roxy, choky, Braga, Tyan, Andi yang terlihat masih mengenakan baju kerja mereka masing-masing.


"Lima puluh dari Gester,empat puluh dari Rajawali, empat puluh dari Blue Eagle. Kalau kurang, gue hubungin sekutu yang lain," ujar Choky.


"Tuh lihat, Om. Udah banyak yang mau ikut berkunjung, kan? Kasihan The Drugs kalau ayah sama om-om yang senior ini ikut. Kasihan mereka nanti, kuwalahan harus menjamu tamu yang melebihi kapasitas undangan." Valerie memakai jaketnya dan menyalami tangan ayahnya. "Doain kita ya, Yah." Valerie tersenyum miring. "Biar gak kelepasan memberi salam perkenalannya."


Laksmono mengangguk sambil mengusap kepala putrinya.


"Selamat bersenang-senang. Selagi kalian berkunjung, kami yang di sini akan memesankan makanan. Setelah selesai urusannya, kalian kembali lagi ke sini. Kita makan malam sama-sama."


"Siap, Om." Elang mengacungkan jempolnya.


"Jangan lama-lama bermainnya," ujar Garindra, "kalian pasti capek karena baru pulang kerja dan sekolah."


"Siap, Om," jawab mereka bersamaan.


Begitu Valerie membuka pintu, di luar sudah menunggu lebih dari seratus pemuda. Mereka terlihat seperti sedang mengantri sembako. Valerie tersenyum melihatnya, sudah lama dia tidak melakukan peregangan otot.


"Senyam-senyum.." Elang menyenggol lengan Valerie. "Seneng kan lo bisa nampol muka orang lagi?"


"Elo kan yang lebih seneng?" Valerie tersenyum miring. "Tangan lo udah gatel kan mau bikin bonyok muka orang?!"


"Elo emang paling paham gue," ucap Elang sambil mengusap rambut Valerie yang tergerai.


"Kamu ikut aku bersenang-senang, Ja," ucap Valerie dalam hati, sambil memegang sepasang cincin dari Rajawali yang ia jadikan bandul kalungnya.

__ADS_1


"Sepuluh tahun kita bergerak tanpa adanya panglima perang," ujar Gema pada semua pasukan, entah itu dari Arakata, Gester, Rajawali, ataupun Blue Eagle. "Karena memang tidak ada yang bisa menggantikan sosok panglima kita, Kak Eri."Gema menengok pada Valerie. "Sekarang, Kak Eri sudah berada bersama kita. Jadi, tempat panglima perang tidak akan kosong lagi."


"Sebenarnya terlalu berlebihan, kalau kita bertamu dengan jumlah yang hampir dua ratus orang ini," ucap Valerie, "tapi, tidak masalah ... mereka yang sudah mengundang kita. Akan sangat mengecewakan kalau kita tidak merespon undangan mereka. Bermainlah sepuas kalian, tapi ingat jangan keterlaluan. Kasihan papa Indra, kalau harus berurusan dengan pihak yang berwajib. Cukup beri peringatan kepada mereka, kalau tidak seharusnya bertindak semena-mena. Ngerti?"


"Ngerti," jawab mereka bersamaan.


"Gema, tolong setelah ini urus geng-geng yang menjadi korban The Drugs, ya. Kalau ada di antara mereka yang kesulitan dana untuk berobat, kasih tau kakak. Kita bantu mereka. Tanya juga apakah ada markas mereka yang rusak gara-gara insiden ini."


"Siap, Kak!" jawab Gema sambil memberi hormat.


"Kalau gitu, ayo kita berangkat. Kasihan tuan rumah kalau tamunya terlambat. Ingat, jangan rusuh di jalan. Patuhi rambu-rambu lalu-lintas. Melanggar berarti siap menerima konsekuensinya!"


"Siap ...."


***


"Assalamu'alaikum," salam Valerie, begitu mereka sudah sampai di markas The Drugs. Valerie masuk ke dalam markas itu hanya seorang diri. Yang lainnya menunggu di luar. Valerie takut, jika sang tuan rumah akan langsung pingsan jika mereka masuk bersamaan. Tadinya Elang dan yang lainnya tidak setuju jika Valerie masuk seorang diri, tapi siapa yang berani menolak jika sang panglima perang mereka sudah memberi perintah.


"Wah, ada cewek cakep brow," kasak-kusuk semua orang yang ada di sana.


"Siapa ketua kalian?" tanya Valerie, sambil bersandar di daun pintu.


"Wah, gue suka cewek nyolot," ucap seorang pria seusia Gema. Pria itu mengenakan jaket yang lengannya bertuliskan leader, pasti dia ketuanya.


"Leader?" Valerie membaca tulisan di jaket pria itu. "Elo ketua mereka?"


"Gue gak minat sama cowok bau kencur," ucap Valerie sambil tersenyum miring. "Gue ke sini karena dapat undangan dari elo!"


"Undangan? Sebegitu gak sabarnya elo nikah sama gue, sampai ngomongin masalah undangan segala?" Pria itu hendak memegang rambutnya, tapi langsung di tangkisnya.


"Gue emang sudah gak sabar." Valerie mengedipkan matanya sambil tersenyum. Terlihat imut dan menakutkan secara bersamaan. "Gue sudah gak sabar memberi belaian sayang buat orang yang sudah berani acak-acak markas gue, Arakata."


"Oh, jadi elo anak Arakata, yang katanya geng paling dihormati di Jakarta. Setahu gue anggota Arakata gak ada yang cewek, kecuali panglima perangnya yang sudah gak kelihatan lagi selama sepuluh tahun."


"Elo tahu banyak tentang gue rupanya?"


"Gak mungkin!" Pemuda itu tersenyum remeh. "Gak mungkin cewek seperti elo yang terlihat feminim ini adalah panglima Arakata yang terkenal kejam dengan musuhnya."


"Waduh, isu dari mana itu? Gue gak kejam, kok. Gue cuma agak sedikit senang melihat orang tersiksa karena belaian gue," jawab Valerie dengan nada tenang, tidak ada ketakutan dalam setiap kata-katanya.


"Banyak omong, Bos. Paling minta dicipok tuh cewek!" teriak salah satu anak buah pria itu. "Kalau udah puas, bagiin ke kita bos. Hahaha ...."


"Elo cari masalah dengan masuk kandang singa, Sayang. " Pria itu hendak mengusap pipi Valerie, tapi Valerie lebih cepat menangkis dan memelintir tangan pria itu. Dipojokkan tubuh pria itu di tembok, dan dicekiknya leher pria itu.


"Singa? Boleh lah elo anggap diri lo itu singa. Tapi elo lupa, kalau singa itu takut sama pemburu. Dan pemburu itu sudah mengepung kandang singa. Tadinya gue cuma mau kesini sendiri. Tapi, pemburu-pemburu yang lain juga pengen habisin singa baru yang belagu." Valerie tersenyum iblis. Teman-teman sang pria langsung berdiri, hendak menolong ketua mereka. Namun naas, pasukan Valerie keburu ikut masuk ke markas.

__ADS_1


"Wah, kita lumutan nunggu di luar. Elo malah asik bermain sendiri," ujar Bagus yang diikuti ratusan pemuda lain di belakangnya. Bagus berjalan seraya mengendurkan ikatan dasinya. Hal itu membuat sang tuan rumah menjadi pucat.


"Kalian emang gak sabaran. Tapi, ya sudahlah. Selamat bersenang-senang. Gue ingetin ya, gak boleh keroyokan! Yang gak dapat jatah mainan, nyantai aja di depan. Nih, Lang ... gue serahin si ketua singa sama elo. Gue mau di depan sama yang lain. Di depan ada pohon mangganya, lumayan buat rujakan entar." Valerie mendorong sang ketua The Drugs ke arah Elang. "Gue sama temen-temen minta buah mangganya, ya. Lain kali kalau mau bertamu itu yang sopan, biar kita juga bisa sopan nyambutnya." Valerie menepuk-nepuk pundak pemuda yang sudah mulai susah bernafas akibat cekikannya itu. "Yang gak dapat mainan, ikut gue metik mangga. Dua orang ikut gue naik, yang lain nangkepin di bawah. Yang gak becus nagkapnya bakal dapat hukuman. Hukumannya nyanyi balon ku sambil goyang ngebor pas nyampai di markas Arakata."


"Ambil yang banyak, Er. Biar gue yang bayar!" seru Elang, Valerie mengacungkan jempolnya. "Ini buat bayar mangganya, kembaliannya ambil aja." Elang memasukkan uang dua juta ke kantong sang ketua The Drugs. "Ayo kita mulai bermain. Badan gue kaku, habis terbang langsung ke sini. Lumayan bisa buat peregangan otot."


***


Valerie dan yang lain sedang asik mengoleskan mangga di sambel rujak. Mereka membawa mangga tiga kantong kresek besar. Mereka makan bersama sambil duduk santai di pekarangan markas Arakata yang luas.


"Gema, udah elo urus korban-korbannya The Drugs yang butuh perawatan Rumah sakit?" tanya Valerie pada Gema.


"Udah, Kak. Yang butuh perawatan medis ada lima belas anak. Markas yang rusak ada satu, markasnya Pelita," jawab Gema sambil membuka buku catatannya.


"Cari tukang buat benerin markas Pelita. Buat temen-temen yang besok gak ada kegiatan, bisa bantu-bantu di markas Pelita."


"Siap," jawab mereka bersamaan.


"Rahmad tadi bilang ke gue, suruh nyampein maaf ke elo, Kak," ucap Gema.


"Rahmad?"


"Ketua The Drugs, Kak."


"Oh, si ketua singa?" Valerie mengangguk-anggukkan kepalanya. "Bilang ke dia, gue udah maafin. Elo udah urus biaya perawatan mainan kita yang tepar, kan?"


"Kenapa sih Kak Eri harus repot-repot biayain pengobatan anak-anak The Drugs? Mereka kan jahat." tanya salah satu anak buah Gema.


Valerie dan semua anggota lama tersenyum mendengar pertanyaan anggota baru di Arakata itu.


"Jawabannya cuma satu, yaitu karena kita Arakata. Kalian tahu kan arti Arakata?" Semuanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Valerie. "Arakata itu pelindung, bukan perusuh. Kita hanya memberi pelajaran, bukan memberi penderitaan. Jangan sampai ada yang membawa dendam dan kebencian dalam lingkup Arakata. Jika ada yang berpikiran begitu, silahkan keluar dengan hormat dari Arakata dan sekutu Arakata lainnya. Paham!"


"Paham, Kak Eri," jawab anggota-anggota baru itu secara bersamaan.


Laksmono mengusap lembut pucuk kepala putrinya. Ia bangga mempunyai putri sekuat dan sebaik Valerie.


"Anggap Arakata sebagai keluarga," lanjut Laksmono, sang pendiri Arakata. "Jangan sungkan berkeluh kesah, jika kalian sedang ada dalam masalah. Sebuah keluarga tidak akan membiarkan anggota keluarganya menderita. Anggap kami, Arakata angkatan pertama sebagai ayah kalian. Dan anggap senior kalian seperti kakak kandung. Ingat, kalian tidak akan merasa sendiri jika berada dalam keluarga Arakata."


Semuanya tersenyum bangga dan terharu mendengar ucapan Laksmono dan putrinya.


"Ayah!" teriak Bagus lebay sambil merentangkan tangannya hendak memeluk Laksmono.


"Semoga kalian semua tidak keberatan menganggap yang begini sebagai seorang kakak."


"Kok yang begini sih, Om," protes Bagus pada Laksmono dan membuatnya mendapat sorakan dan tertawaan dari teman-temannya.

__ADS_1


"Ayo yang tadi gak bisa nangkep buah mangga yang gue lempar, buruan maju. Nyanyi balon ku sambil goyang ngebor!" teriak Valerie.


Malam itu mereka menghabiskan waktu dengan seru-seruan. Mereka melepaskan sejenak beban hidup mereka. Itulah gunanya keluarga, sebagai tempat berbagi kebahagiaan.


__ADS_2