
Setelah pulang dari rumah Cakrawala, Valerie langsung mampir ke rumah tahanan, untuk menjenguk Riki, eh salah ... nama aslinya Galih. Saat Valerie sedang dalam keadaan tidak baik, ia absen dari janjinya untuk menjenguk Galih setiap hari. Jadi, hari ini ia berniat menebus hari-hari yang telah dilewatinya.
Gadis itu tersenyum manis saat pria yang dicarinya datang.
"Eri," lirih Galih, wajah pria itu terlihat khawatir. "Elo udah gak apa-apa?"
"Gue?" tanya Valerie, ia menunjuk dirinya sendiri. "Emang ada apa sama gue?"
"Waktu elo gak jenguk gue selama beberapa hari, Ero yang gantiin. Dia bilang kalau elo--" Galih tidak melanjutkan perkataannya, merasa tidak enak dengan Valerie.
"Gue udah gak apa-apa, Gal," jawab Valerie sambil tersenyum tulus.
"Gue gak nyangka kalau Elang bakal setega itu sama elo."
Valerie kembali tersenyum. "Itu semua udah jadi keputusan Elang, gue gak bisa apa-apa lagi. Gue sempat merasa gak terima, dan itu malah berakibat buruk bagi diri gue sendiri. Yang bisa gue lakuin cuma satu ... ikhlas."
Galih tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Elo hebat, jika gue ada di posisi elo, belum tentu gue bisa setegar elo saat ini," puji Galih.
"Jangan menilai gue terlalu tinggi. Gue hanya manusia biasa yang penuh dengan rasa ego."
"Tapi elo bisa nguasain ego lo, elo bisa ubah ego lo itu menjadi sesuatu yang bermanfaat buat orang lain. Sedangkan gue? Gue udah tau jika jalan yang diajarkan Ayah Ryan adalah jalan yang salah, tapi tetep aja gue lakuin. Gue punya banyak kesempatan buat kabur, tapi gue sudah terlanjur menikmati sisi kelam gue, hingga tak terasa jika gue kehilangan jati diri gue. Gue rasa, gue gak pantas diberi kesempatan, gue gak pantas diberi maaf ... kesalahan gue terlalu fatal."
"Elo ngerasa kalau elo lebih berkuasa dari Sang pemilik hidup? Allah aja maha pemaaf, terus kenapa elo berani nentuin bahwa diri lo gak pantas mendapat ampun dan kesempatan kedua? Selalu ada kesempatan jika elo mau berubah, beda cerita kalau elo emang niat bawa sifat kelam lo itu sampai ke akhirat. Jangan egois, elo masih punya ayah, ibu, dan adik yang harus elo jaga. Mereka butuh elo, sedari elo bayi ... elo direnggut paksa dari mereka. Tahun demi tahun mereka lewati dengan rasa rindu. Mereka tidak pernah berhenti berharap untuk bisa bertemu denga elo lagi. Namun, saat mereka menemukan elo, lagi-lagi mereka dihadapkan dengan kenyataan jika kalian belum bisa hidup bersama. Jika elo sudah keluar, pergunakan waktu sebaik-baiknya. Tebus waktu yang telah hilang."
__ADS_1
Galih mengangguk, matanya menerawang pada kejadian beberapa hari yang lalu, saat keluarganya datang menjenguk.
"Gue udah ketemu sama adik dan mamah gue," ucap Galih sambil tersenyum. "Elo tahu Er ... mereka meluk gue berkali-kali, pelukan mereka terasa hangat. Seketika gue yakin kalau mereka memang keluarga kandung gue. Bahkan, si Fra gelendot terus di lengan gue, gak mau lepas." Galih terkekeh mengingat kejadian itu, saat adiknya bermanja-manja dengannya. "Dia gadis yang ceria dan banyak omong, banyak hal yang ia ceritakan sama gue. Akhir-akhir ini dia dekat sama cowok, gue minta dia buat hati-hati. Gue gak mau jika Fra mendapat karma dari kesalahan-kesalahan gue di masa lalu."
"Gue akan bantu jaga dia, elo tenang aja," ucap Valerie, hal itu membuat Galih kembali tersenyum. "Besok gue akan main ke rumah OM Yudhistira, ada yang mau elo sampaiin?"
Galih menggelengkan kepala. "Gak usah, Er. Setiap hari mereka juga jenguk gue, tadi mereka juga kesini."
"Tapi ini spesial, dan elo harus lakuin ... gue maksa," ucap Valerie. Gadis itu mengeluarkan selembar kertas dan pulpen dari dalam tasnya, hal itu membuat dahi Galih berkerut, merasa bingung.
"Ini buat apaan?" tanya Galih sambil memandang selembar kertas dan pulpen yang sudah ada di hadapannya.
"Elo tulis surat cinta buat keluarga lo," jawab Valerie.
Valerie menganggukkan kepala. "Iya,, elo ungkapin semua rasa rindu lo dalam selembar kertas itu. Mau lebay juga gak apa-apa, yang penting elo sampaikan perasaan lo selama ini ke mereka."
"Gue gak biasa ungkapin perasaan gue secara gamblang, Er."
"Justru itu, elo ungkapin lewat media surat. Kalau menurut gue, kita bisa lebih mudah mengungkapkan sesuatu lewat tulisan daripada omongan. Dan elo tahu, itu terlihat lebih tulus dan romantis. Sesuatu yang tidak bisa kita ungkapkan lewat lisan, bisa secara gamblang tertuang dalam tulisan. Ungkapin rasa rindu lo ke Fra dan orang tua lo lewat tulisan, coba deh. Gue yakin bakal sampai berlembar-lembar, dan tenang ... gue bawa kertas banyak." Valerie memperlihatkan setumpuk kertas yang baru ia ambil dari dalam tasnya. Hal itu membuat Galih terkekeh.
Galih mulai menuangkan semua semua perasaannya lewat tulisan. Ia berhenti sejenak ketika melihat Valerie asik membaca sebuah surat di tangannya.
"Elo baca apaan?" tanya Galih.
"Ini, gue baca surat dari anak-anak yang baru aja gue kenal. Mereka sekumpulan anak-anak yang diasuh oleh pemuda yang juga seumuran kita."
__ADS_1
Dahi Galih berkerut mendengar penuturan Valerie. "Dari mana elo kenal mereka?"
"Tadi pagi, gue gak sengaja ketemu bocah yang kesusahan membawa barang belanjaan yang banyak banget. Makanya gue tolong, terus gue anter ke rumahnya, ternyata dia tinggal bersama sembilan anak yang juga usianya hampir sama. Dan mereka diasuh seorang pemuda, namanya Cakrawala."
"Cakrawala?" Galih menutup matanya sejenak, seperti berusaha mengingat sesuatu. Ia membuka matanya seketika, begitu mengingat sesuatu. "Dia punya tatto di leher?"
Valerie menganggukkan kepalanya. "Kok elo bisa tahu?"
"Brengsek!" umpat Galih, ia mengusap wajahnya kasar. "Gue mohon elo jangan terlalu dekat dengan pria itu."
"Emang kenapa?"
"Dia bukan orang yang baik. Gue gak kenal dia, tapi gue tahu dia. Dia juga dari dunia hitam sama kayak gue, Er. Tapi beberapa tahun ini, gue gak pernah dengar namanya lagi."
"Bisa aja kan dia udah tobat, sama kayak elo," sahut Valerie, "gue yakin kalau dia itu orang yang baik. Dari cara dia natap anak-anak, gue tahu dia orang yang tulus. Dan semua orang pasti punya masa lalu, entah itu yang baik atau buruk. Yang terpenting adalah masa sekarang, masa di mana kita sedang berpijak."
Galih terdiam sejenak, ia tahu cara berpikir Valerie yang terlalu positif. Jadi, percuma jika dia terus menetang.
"Apapun itu, gue mohon elo jaga diri baik-baik," ucap Galih, pria itu menggengam tangan Valerie. "Jangan terlalu mudah percaya dengan orang-orang yang abru elo kenal. Jika kemana-mana, usahakan jangan sendirian ... ajak Ero atau teman lo yang lain."
"Gue bukan ank kecil, Galih," protes Valerie.
"Untuk kali ini aja, gue mohon elo ikutin kata-kata gue. Gue lagi ada di penjara, gue gak bisa lindungin elo. Gue gak mau elo kenapa-enapa, Eri."
Akhirnya, Galih bisa bernapas lega begitu melihat gadis manis di hadapannya itu menganggukkan kepala. Entah mengapa ia merasa ada sesuatu dengan sosok pria yang bernama Cakrawala itu.
__ADS_1