Arakata

Arakata
Tentang Sebuah Rasa


__ADS_3

Cinta memang tak harus memiliki, tapi jika aku boleh meminta ... aku ingin memilikinya, memiliki cinta dan hatinya., ingin membahagiankannya dalam ridho yang Kuasa.


***


Malam semakin larut, udara pun semakin dingin. Namun, hal tersebut tidak berpengaruh bagi seorang pria tampan yang sedang duduk di gazebo rumah Laksmono. Pria tersebut adalah Valero Arbianto, seorang pria tampan yang sedang belajar bisnis pada keluarga Laksmono.


Sebenarnya, bukan hanya itu yang menjadi alasan kenapa ia betah berada di kediaman pendiri Arakata tersebut. Ada seseorang yang telah membuat hatinya terjatuh ... jatuh terlalu dalam. Ia sadar bahwa hati seseorang yang ia harapkan itu sudah menjadi milik orang lain. Namun, tidak munafik ... jika ia juga ingin menjadi bagian dari hidup sang gadis pujaan.


Berharap ... hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini. Berharap akan adanya keajaiban yang membalikkan perasaan seseorang yang ia sayang.


"Baik-baik, Lo. Banyakan ngelamun bisa ditaksir mbak kunti, lho," celetuk Valerie, gadis itu duduk di sebelah Valero. Ia membawa segelas kopi dan sepiring kue buatannya. "Diminum, buat hangatin perut lo."


Valero menegok pada gadis yang ada di sampingnya, pria itu tersenyum.


"Bukan hanya perut gue yang butuh diangetin, Er," ucap Valero.


"Lantas?"


"Tubuh gue juga butuh kehangatan, elo mau kasih gue kehangatan?" tanya Valero dengan tersenyum jahil. Pria itu merentangkan kedua tangannya, meminta pelukan.


"Gue bakar sini tubuh lo, biar anget, gue kasih bonus angus sekalian," jawab Valerie sambil melotot galak, membuat Valero terbahak.


"Galak bener jadi cewek,"


"Bodo!" jawab Valerie cuek.


"Er,"


"Hem,"

__ADS_1


"Kenapa elo bisa suka sama Elang?" tanya pria yang mempunyai tindik di telinganya itu.


Valerie memandang Valero sambil tersenyum, membuat tubuh Valero tegang seketika. Seperti ada aliran listrik yang menjalar di tubuhnya, sewaktu melihat senyum Valerie yang menawan.


"Gak ada alasan yang logis untuk menjabarkan sebuah perasaan, Ro," jawab Valerie. Gadis itu menatap ke langit yang sedang penuh dengan bintang, pandangannya menerawang.


"Kalau elo gak ada alasan buat suka sama Elang, berarti perasaan elo ke dia gak sungguh-sungguh, dong."


"Apakah sebuah alasan itu bisa menjadi tolak ukur akan perasaan seseorang?" Valerie kembali menatap pada pria di sebelahnya tersebut sambil tersenyum. "Jawabannya tidak, Ro. Perasaan itu adalah sesuatu yang hadir secara naluriah pada seseorang. Jika ia merasa suka ya suka, jika ia merasa benci ya ia membenci. Sebuah alasan itu hanya hal lain yang kita jadikan alibi jika suatu saat ingin pergi."


Valero tersenyum mendengar penuturan dari Valerie. Baru kali ini ia bertemu dengan seorang wanita yang memiliki pandangan luas dan jauh ke depan. Sebuah pandangan yang gak neko-neko, tapi jelas mempunnyai tujuan.


"Seandainya elo ditakdirkan tidak untuk bersanding dengan Elang, apa yang bakal lo lakuin?" tanya Valero kembali.


"Berdoa," jawab Valerie cepat.


"Berdoa, meminta pada Allah, agar tetap menyandingkan gue dengan Elang," jawab gadis itu sambil mengedipkan sebelah matanya.


Valero terkekeh mendengar jawaban Valerie.


"Jika cara itu gagal," lanjut Valerie, "gue akan lakuin berbagai cara untuk membuktikan bahwa gue pantas untuk mendampingi hidup Elang. Namun, jika cara itu masih gagal." Valerie menghembuskan napasnya agak kasar. "Kembalikan saja semuanya pada sang pemilik hidup, karena rencananya itu pasti akan lebih indah untuk kita. Semuanya sudah ada takdirnya masing-masing, Ro. Kita sebagai manusia, hanya bisa menjalani hal yang sudah menjadi ketentuan-Nya. Boleh berusaha, tapi jangan memaksa."


Valero menatap dalam-dalam gadis yang ada di sampingnya itu. Betapa beruntungnya ia, bisa bertemu dengan gadis seperti Valerie. Gadis itu telah mengajarinya banyak hal, termasuk jatuh cinta. Sebelumya, ia adalah pria kaku yang menganggap cinta sebagai hal yang tidak penting.


Kekerasan yang dialami ibunya selama ini, membuatnya memiliki pandangan bahwa hidup hanya tentang cara bertahan dan menyerang. Tak ada hal selain dua hal tersebut. Kata cinta adalah hal yang tidak pernah ditunjukkan oleh Rahwana padanya. Ia dididik untuk menjadi pria menghalalkan segala hal demi mendapatkan apa yang diinginkannya.


Namun, perkataan Valerie barusan telah membuka pikirannya. Bahwa ada hal lain yang lebih pentng dari ambisi, yaitu sebuah keikhlasan.


"Sekarang gantian gue yang nanya elo, ya?"

__ADS_1


"Silahkan," sahut Valero memeprsilahkan.


"Apa yang menjadi alasan lo bertahan ngelakuin semua yang Om Rahwana perintahkan, padahal jelas-jelas elo tahu bahwa hal itu salah?"


"Karena gue ngelindungi Azizah dan mamah. Jika gue nolak apa yang dia perintahkan, keselamatan mamah dan Azizah yang jadi taruhannya."


Valerie tersenyum mendengar jawaban dari Valero.


"Itulah yang salah dari sebuah alasan, Ro," tutur Valerie


Valero mengerutkan dahinya, masih belum paham dengan yang dimaksut gadis itu.


"Terkadang sebuah alasan hanya menjadi pembelok ketidak berdayaan kita. Elo bertahan melakukan kejahatan yang diperintahkan Om Rahwana dengan alasan keselamatan Azizah dan mamah lo? Padahal seharusnya elo bisa melindungi dan membawa mereka jauh dari jangkauan Om Rahwana. Itu gak lo lakuin, karena apa? Karena keberanian lo udah tertutup dengan berbagai hal yang berkedok sebuah alasan. Karena itu, gue gak perlu sebuah atau banyak alasan untuk mencintai seseorang. Gue hanya perlu keyakinan, keyakinan bahwa gue mampu membuat orang yang gue cinta bisa bahagia."


Kagum, satu hal yang sedang dirasakan Valero untuk gadis yang ada di sampingnya itu.


"Dari mana elo bisa nemu kata-kata begitu?"


"Entah," jawab Valerie sambil menggelengkan kepala. "Kayak ngalir aja di otak gue."


"Tukeran otak, yuk. Gue juga mau punya pemikiran kayak elo, biar hidup gue gak terbeban. Cara berpikir elo itu simpel, kalau suka ya dilakuin, kalau gak suka ya dihindari. Gak perlu memikirkan alasan-alasan dari tindakan lo."


"Alasan itu hanya ngebuat kita bimbang dalam melangkah. Kalau baru ngelangkah aja kita udah sering bimbang, terus mau sampai ke tujuannya kapan? Nunggu ada alasan-alasan lainnya lagi? Keburu nyawa lo kepisah dari raga kalau caranya gitu."


Lagi-lagi Valero terbahak, bersama dengan Valerie ... ia seperti memiliki tujuan hidup. Bersama Valerie, ia memiliki banyak kebahagiaan. Gadis itu selalu berhasil menghadirkan tawa dan rasa nyaman secara bersamaan.


Sekarang ia mengerti, kenapa psikis ibunya bisa pulih dengan cepat. Hal itu tidak lepas dari campur tangan Valerie. Cara Valerie memberi rasa sayang dan kepedulian terhadap sekitarnya memang unik. Ia melakukannya dengan caranya sendiri, cara yang terlintas dipikirannya sendiri. Cara yang ebrasal dari ketulusan hatinya.


Valero menghembuskan napasnya, ia malah semakin menyukai gadis itu. Semakin bertambah alasannya untuk menaruh hati pada Valerie. Alasan, lagi-lagi alasan.

__ADS_1


__ADS_2