
"Pada ngapain ke sini? Mau belajar kelompok elo pada? Masih pake seragam sekolah udah berkeliaran," gerutu Elang pada segerombolan pemuda yang masih mengenakan seragam SMA-nya.
Sembilan pemuda tampan yang tidak lain adalah inti Arakata angkatan delapan ditambah Restu, Rahmad, Samuel, dan Bondan tidak mendengar gerutuan Elang. Mereka malah asik berbicara dengan Valerie, tidak mempedulikan Elang sama sekali.
Bahkan secara terang-terangan, Samuel memuji kecantikan dan kehebatan Valerie. Hal itu membuat Elang dan Cakrawala menjadi gerah.
"Tuyu-tuyul siapa sih, Lang. Masih sore udah pada berkeliaran," ucap Cakrawala pada Elang.
"Tuyul kurang kerjaan" sahut Elang tidak santai. "Niat kalian datang kesini tuh apa? Malah pada nempelin Valerie."
Untuk kesekian kalinya, pemuda-pemuda itu tidak menggubris Elang sama sekali. Membuat pria itu menjadi hilang kesabaran. Elang bangkit dari duduknya, ia meraih dua bantal sofa yang ada di dekatnya. Pria itu melangkahkan kaki mendekati ranjang Valerie yang sudah dipenuhi dengan pemuda-pemuda tampan pentolan geng Arakata, The Drugs, dan Walfred.
Saat sudah berada tepat di depan ranjang Valerie, ia memukulkan bantal-bantal itu pada semua pemuda yang ada di sana.
"Masih muda telinganya udah pada gak berfungsi! Gue tanya gak ada yang nyahut, gini-gini gue pernah jadi ketua Arakata. Gue tampol satu-satu ya lo pada!" seru Elang sambil terus memukuli mereka dengan bantal yang dipegangnya.
Bukannya takut, pemuda-pemuda itu malah terbahak. Mereka beringsut sembunyi di belakang tubuh Valerie.
"Emang kita masih muda, kan Bang Elang yang udah tua, wlek!" sahut Gema sambil memeletkan lidahnya.
"Udah tua tapi gak punya temen malam mingguan. Kan ngenes tuh, ngenes gak? Ya ngeneslah, masa enggak," tambah Asel yang membuat Elang tambah gondok.
"Setahu gue ya, Bang ...," Sekarang Bondan sang wakil ketua Walfred yang berceloteh. "Seorang pria dewasa yang belum mempunya pasangan, padahal usianya udah matang. Kemungkinannya hanya dua, satu ... karena emang gak laku, dua ... karena dia belok. Abang termasuk yang mana, tuh?"
Pecah sudah tawa Valerie dan Cakrawala yang sedari tadi berusaha mereka tahan. Bahkan, Cakrawala sampai memukul-mukul lantai. Elang menatap tajam pada junior-juniornya itu, yang ditatap malah semakin menjadi.
"Kalau menurut gue sih emang karena Bang Elang nya gak laku," ucap Abdul sok menganalisis.
"Kalau kata otak gue yang cerdas ini, ya," ucap Restu sambil mengetuk-ngetuk kepalanya. "Bang Elang itu punya kecenderungan nyaman dengan sejenisnya. Nyatanya Bang Elang sering terlihat bersama Bang Bagus, daripada bersama cewek."
"Betul tuh." Rama menjentikkan jarinya, pemuda yang biasanya paling bener itu malah ikut-ikutan meledek Elang. "Dulu waktu masih sama Kak Eri, paling itu cuma kamuflase aja buat nutupin kalau sebenernya Bang Elang itu mencong."
"Betapa malangnya kakak cantik ini," ucap Samuel sambil bergelayut manja di lengan Valerie. "Hanya dijadikan alibi atas perbuatan gak senonohnya Bang Elang, ckk ... ckk." Samuel menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
Habis sudah kesabaran ketua Arakata angkatan tujuh itu. Kalau dibuat komik, sudah pasti ada gambar asap di atas kepalanya.
"Elo semua mau mati muda!" seru Elang sambil memiting Gema, hingga mereka berguling di atas ranjang Valerie. Asel dan lainnya pun ikut bergabung mengeroyok Elang.
"Ayo, Kak Eri ikut gue aja. Di sini bahaya, isinya laki-laki kasar semua. Nanti Kak Eri lecet kan sayang." Samuel menggandeng Valerie menjauh dari segerombolan pria-pria kekar itu.
"Eri mau elo bawa ke mana, kampret!" seru Elang, "Cakra, amanin Eri dari pemuda mesum itu."
"Gak usah dengerin omongannya Bang Elang, mending abang tatto ikut gue aja. Kak Eri kita bagi dua," ucap Samuel, mencoba merayu Cakrawala.
"Oke," sahut Cakrawala yang membuat Samuel tersenyum senang. Namun, perkataan setelahnya, membuat pemuda itu langsung pucat seketika. "Milih mati secara langsung apa tersiksa dulu meregang nyawa?"
"Mampus," umpat Elang, tersenyum menang.
***
Setelah kejadian bertempur tak jelas yang membuat kamar Valerie berantakan. Kesembilan pemuda dan dua pria dewasa itu mendapatkan hukuman dari Valerie untuk membersihkan kamarnya. Begitu hukuman mereka selesai, mereka berkumpul di balkon kamar.
"Waktu kita terbuang satu jam secara sia-sia," gerutu Elang sambil menatap tajam pada junior-juniornya.
Hal itu membuat Gema dan komplotannya terkekeh.
"Kalian juga sama aja, udah enam belas tahun kelakuannya kayak anak TK," ucap Valerie sambil memandang tajam pada junior-juniornya. "Gue tadi dapat laporan dari Pak Ardi, kenapa kalian bisa masuk ruang BK?"
Perkataan Valerie membuat Gema, Asel, Hasan, Abdul, dan Rama terdiam. Mereka teringat kejadian tadi siang waktu di kantin sekolah.
"Kami cuma memberi pelajaran buat anak-anak belagu yang sukanya Ngebuli, Kak," sahut Gema, mewakili teman-temannya.
"Apa yang kalian lakukan pada anak itu?" tanya Valerie lagi.
"Kami nodai wajah songongnya, Kak," jawab Asel yang terdengar ambigu.
"Maksutnya?" Sekarang giliran Elang yang bertanya.
__ADS_1
"Gini, gue jelasin kronologinya, Bang," ucap Abdul, "tadi siang kami lihat Yori dan komplotannya lagi ngebuli Joko. Yori nginjak kaca mata Joko sampai pecah. Awalnya kami menegurnya pakai cara halus, tapi mereka malah nyolot. Ya udah kami langsung beli mendoan di Bu Miah."
"Lha, kok malah pada beli mendoan," celetuk Samuel yang juga mewakili pertanyaan Valerie dan yang lainnya.
"Eits santai dulu ... kan belum kelar ceritanya," ucap Rama menambahi. "Tuh mendoan kita kasih chaos sama sambal yang banyak, setelah itu diusap-usapin ke wajah mereka yang songong. Kelar ... hancur sudah wajah sok ganteng mereka." Rama dan keempat inti Arakata angkatan delapan menepuk dadanya bangga.
Penuturan kelima pemuda itu membuat Elang dan yang lain melongo.
"Begituan cara kalian gelud?" tanya Elang dengan wajah cengo-nya.
"Kami cerdas, kan?" ucap Gema bangga.
"Pake mendoan?" tanya Elang lagi.
"He'em, biar berminyak plus pedes tuh muka, salah sendiri dikasih tahu malah nyolot," ucap Asel, "Pak Ardi malah ngegiring kami ke ruang BP, padahal dia juga ikutan tadi ... malah pake kecap, muka temennya Yori ampe kayak dakocan."
"Huahahahaha. Mendoan bisa jadi senjata baru tuh," ucap Valerie, "gak kebayang giman ekspresi Yori sama temen-temennya. Tahu gitu gue ikutan tadi"
"Kenapa gak kalian bogem aja, sih," protes Cakrawala, "gak berkelas banget, berantem kok pake mendoan."
"Kalau kami pakai bogeman, kami gak jamin mereka masih bisa menyambut pagi, Bang," sahut Asel sambil tersenyum miring. "Gak semua hal harus diselesaikan pake otot. Cuma pake mendoan aja, gue udah bisa jamin kalau mereka kapok. Gimana enggak? Foto mereka luluran chaos sama kecap udah beredar di grup sekolah, mana berani mereka nyari masalah lagi."
"Gak mungkin mereka berani lah, orang udah elo ancam kalau bertingkah lagi bakal elo lulurin pake eek ayamnya Bang Robert, sadis gak tuh."
Valerie mengacungkan jempolnya sambil terkekeh.
"Itu baru adek-adek gue," ucap Valerie, "gak semua permasalahan harus diselesaikan pakai kekerasan. Cukup kita memberikan efek jera untuk mereka. Kita lihat dulu lawan kita, kalau sekiranya kita perlu menggunakan kekerasan, boleh kita lakukan. Ingat, hanya untuk memberi efek jera, bukan untuk menyiksa apalagi sampai membunuh. Seperti apa yang akan kita hadapi sekarang." Wajah Valerie berubah serius.
"Kak Eri manggil kalian semua kesini untuk meminta tolong. Senior-senior kalian banyak yang sibuk, jadi gue minta tolong ke kalian yang nganggur, daripada gabut kan?"
"Olahraga, Kak?" tanya Gema dengan mata berbinar.
"He'em, tapi olahraga kali ini beda. Kita pakai otak, kita harus bisa bikin orang ini ngakuin semua perbuatannya. Sel, gue punya tugas khusus buat elo. Kalau elo berhasil, reward-nya jalan-jalan sama Irene. Tapi kalau gagal, elo dapat hukuman setahun full gak boleh main game. Gimana? Berani?"
__ADS_1
"Siap, gue yakin kalau berhasil, Kak," sahut Asel penuh percaya diri. "Bebeb Irene ... i'm coming ...."