Arakata

Arakata
Rahasia Restu


__ADS_3

Bagaimana kamu bisa berpikir kalau aku akan merampas milikmu. Sedangkan aku rela memberikan segala yang kupunya hanya agar kau bahagia.


***


Rahmad membelalakkan mata melihat beberapa petinggi Arakata ada di hadapannya sekarang. Pemuda yang tengah membantu ayahnya memperbaiki sepeda motor itu langsung menghentikan kegiatan. Sofian memiliki bengkel motor di samping rumahnya.


"Assalamu'alaikum," salam  Valerie dan yang lainnya.


"Wa'alaikumsallam," jawab Sofian dan Rahmad secara bersamaan pula.


Valerie menghampiri Sofian dan mencium telapak tangan pria paruh baya itu, hal itu juga diikuti teman-temannya yang lain.


"Bapak sama ibu gimana keadaannya?" tanya Valerie kemudian, ketika mereka sudah duduk di pelataran bengkel dengan dialasi tikar. Tuan rumah sudah mempersilahkan mereka masuk ke rumah. Namun, mereka malah meminta duduk lesehan di pelataran bengkel.


"Alhamdulillah, kami sehat, Nak. Nak Eri sendiri bagaimana kabarnya?"


"Alhamdulillah sehat, Pak. Sehat banget malah." Bukan Valerie yang menjawab, Valerie sudah membuka mulutnya, tapi diserobot dulu oleh Bagus. "Valerie mah kayak kucing, Pak. Cadangan nyawanya banyak, jadi gak usah khawatir."


"Sini, gue cakar-cakar muka lo!" ucap Valerie dengan tatapan tajamnya.


"Nah kan, Pak ...," seru Bagus heboh.


"Hahahaha, kalian ini selalu penuh tawa, ya," ucap Sofian.


"Iyalah, Pak. Apapun yang dihadapi kalau diselingi tawa, pasti gak bakal jadi beban," ucap Gema.


"Kalau elo banyak tawa tanpa sebab bisa jadi beban keluarga," sahut Bagus menimpali perkataan Gema.


"Berisik lo, Bang. Keluarga gue aja santai, elo nyinyir," jawab Gema tidak mau kalah.


"Noh, lihat wajah abang lo!" bagus menunjuk  Gaung yang duduk di pojokan, yang ditunjuk hanya mengangkat bahunya cuek. "Abang lo tekanan batin, punya adek modelan petasan rawit kayak elo! Iya kan, Ga."


"Hm." Hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Gaung.


"Elo tahan satu rumah sama orang yang cuma bisa ngomong dua huruf doang?" tanya Bagus sambil berbisik di dekat telinga Gema.


"Mau gimana lagi, Bang. Yang ada di rumah cuma itu doang," sahut Gema ikut berbisik. "mau tukar tambah, tapi pasti gak ada yang mau. Dikasih gratis aja pasti pada nolak mentah-mentah."


"Elo berdua masih gue liatin, ya. Belum gue suntik mati," ancam Gaung, membuat kedua pemuda itu menjadi kicep.


"Udah minim kosakata, emosian lagi," gerutu Bagus kembali. "Mending lo tuker ama kerupuk aja tuh abang lo, lumayan masih ada suaranya. Lebih renyah gak alot kayak abang lo!"


"Sus, tolong siapin kamar mayat untuk dua jenazah. Ada teman dan adek saya yang bentar lagi bakalan nempatin." Gaung meletakkan ponselnya di telinga, seperti menghubungi seseorang.


"Wuahhh, candaan lo bawa-bawa maut segala!" seru Bagus heboh. "Gue lagi program mau bikinin Leo adek, Gema aja nih yang lo masukin kamar mayat duluan."


"Enak aja lo, Bang! Gue masih muda, masa depan gue masih panjang. Bang Bagus dulu aja yang udah uzur."


"Gitu ae terus elo berdua, biar kita gak kelar-kelar," ucap Valerie yang langsung membawa aura tegang, terutama bagi Gema dan Bagus. "Kita ke sini kan emang buat dengerin adu bacot elu berdua!"


"Bang Bagus yang mulai, Kak," ucap Gema membela diri.


"Enak aja lo bocil, elo sama abang lo duluan ya yang mulai!"


"Rahmad, gue pinjam kunci inggris lo."

__ADS_1


"Buat apa, Kak Er?"


"Buat nampol dua mulut yang dari tadi gak berhenti ngoceh!"


Ucapan Valerie tersebut sukses membuat Gema dan Bagus langsung terdiam tak berkutik. Mereka berdua langsung duduk manis, persis anak TK yang nunggu pelajaran dimulai.


"Elo pasti bingung, kan ... kenapa kami datang ke rumah lo malam-malam begini," ucap Valerie pada Rahmad. Pemuda itu menganggukkan kepala.


"Em, maaf Nak Eri, bapak pamit dulu ya. Mau jemput ibunya Rahmad di warung depan gang, mau bantu beberes."


"Iya, Pak Sofian, silahkan. Bapak jangan khawatir, Rahmad aman bersama kami."


Sofian mengangguk, setelahnya ia melangkahkan kaki meninggalkan rumahnya dengan mengendarai sepeda motor.


"Gue dan yang lain udah tahu masalah lo sama Restu," lanjut Valerie.


"Iya, Kak. Bapak juga udah bilang ke gue, kalau beliau menceritakan masalah The Drugs ke Arakata," sahut Rahmad.


"Kenapa elo gak cerita ke gue lebih awal, Mad? Waktu di rumah sakit kan gue udah bilang, kalau elo sama The Drugs ada masalah, jangan sungkan minta bantuan ke Arakata."


"Gue gak enak, Kak. The Drugs kan belum jadi sekutu Arakata."


"Mau sekutu atau bukan, kalau butuh bantuan ya bakal kami bantu, Rahmad."


"Iya, Kak ... maaf,"


"Kanapa malah lo jadi minta maaf, minta hati gue aja sini ... gue kasih," ucap Valerie sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Elang, cewek lo godain brondong!" seru Bagus.


"Woe, pandawa limanya Arakata, sini lo semua. Duduk tengah," panggil Valerie pada para punggawa Arakata angkatan delapan. Dengan patuh mereka duduk berkumpul. "Sekarang gimana keadaan The Drugs?"


"Banyak anggota yang terpengaruh hasutan Restu, Kak. Tiga puluh persen mau bantu gue, sisanya ikut Restu buat memberontak. Rencananya, besok malam mereka mau bikin rusuh di jalanan. Gue udah peringatin, tapi gak mempan."


"Wah, geng baru tapi udah berani ngerusuh di jalan. Boleh juga nyalinya," ucap Gaung sambil menyeringai.


"Menurut lo berlima, apa yang harus kita lakukan?" tanya Valerie pada junior-juniornya di Arakata itu. "Lo berlima udah harus mandiri dalam ambil sikap dan strategi, kami para senior hanya bisa bantu. Semua keputusan ada di tangan kalian, kami hanya bisa mengingatkan saat kalian salah jalan."


"Kalau mereka berniat ngerusuh di jalan, bakal banyak orang yang jadi korban kegabutan mereka," ucap Gema, "gimana kalau kita pancing mereka masuk ke jalan kita?" Seringaian muncul di wajah tampan Gema.


"Begitu mereka udah masuk ke jalan kita," sahut Hasan melanjutkan perkataan Gema. "kita ajari mereka bagaimana cara bersikap yang baik di jalanan umum."


"Dengan begitu orang yang tidak bersalah gak akan kena imbas dari sikap gak jelas mereka," ucap Rama.


"Iya, gak jelas kayak hubungan Gema sama Zulfa." Setelah mengatakan itu, Abdul menaikkan kedua jarinya sambil meringis sok imut. Membuatnya mendapatkan tatapan maut dari Gema.


"Biar gue aja yang jadi umpan buat narik perhatian mereka," ucap Asel, "Bang Restu pasti langsung terpancing kalau gue yang nongol."


Valerie menganggukkan kepala, tersenyum puas dengan penuturan Gema dan teman-temannya.


"Kalian bisa kan mengatasi ini sendiri, tanpa bantuan senior dan sekutu lainnya?" tanya Valerie.


"Bisa, Kak," jawab Gema yakin. "Nanti biar angkatan tujuh dan beberapa dari The Drugs yang urus,"


"Bagus, kami percaya sama kalian. Ingat apa yang selalu kami wanti-wanti ke kalian ...,"

__ADS_1


"Jangan sampai berbuat rusuh," jawab Gema.


"Jangan melanggar peraturan lalu lintas," jawab Hasan.


"Jangan bawa dendam pribadi," jawab Asel.


"Jangan sampai menghilangkan nyawa," sahut Rama.


"Jangan menyakiti orang yang tidak besalah," sahut Abdul.


"Yang terpenting," lanjut Valerie, "ajak bicara baik-baik dulu, kalau gak ada pilihan lain ... baru fisik yang bertindak."


"Siap!" sahut kelima inti Arakata angkatan delapan serempak.


"Sel," panggil Rahmad, "gue mau bicara sama lo."


Rahmad mengajak Asel duduk di sudut bengkel.


"Elo adiknya Restu, kan?"


Asel mengangguk sambil tersenyum.


"Abang suka cerita tentang gue ke elo?"


Rahmad mengangguk.


"Gue udah sahabatan sama Restu sejak duduk di bangku SMP. Setiap hari dia selalu cerita soal lo, sampai gue hafal apa makanan kesukaan lo, minuman kesukaan lo, sampai gambar boxer yang elo sukai pun gue tahu," ucap Rahmad, mengenang kebersamaannya dulu dengan Restu. "Dia sangat sayang sama lo, Sel."


"Gue tahu, Mad. Tapi setelah kejadian itu dia jadi benci sama gue," ucap Asel parau.


"Elo salah, Sel," sahut Rahmad yang membuat dahi Asel berkerut. "Restu gak pernah ambil pusing soal itu. Ia selalu tutup telinga kalau ada orang yang membanding-bandingkan kalian."


"Terus, kenapa sikap dia jadi berubah?"


"Sebenernya Restu udah mewanti-wanti gue biar gak cerita ke elo, tapi kelihatannya udah saatnya gue cerita. Kakek Seno yang bertanggung jawab atas perubahan sikap Restu."


"Kakek Seno?"


"Iya, Kakek Seno bilang ke Restu kalau beliau gak suka jika elo yang bakalan jadi penerus perusahaan ayah kalian. Jadi, beliau berusaha melakukan sesuatu agar yang menjadi penerus perusahaan itu Restu yang notabenenya cucu kandungnya, bukan elo. Mulai saat itu Restu jadi memberontak, ia sengaja memberontak dan bersikap bandel agar ia dianggap tidak layak untuk menjadi penerus perusahaan ayah kalian kelak."


Sebenarnya, Restu bukanlah saudara kandung Asel. Sewaktu melahirkan Restu, kondisi ibunya sangat lemah. Fani yang sadar jika waktunya tidak lama lagi, menitipkan Restu yang masih bayi pada sepasang suami istri yang juga merupakan sahabatnya. Mereka adalah Akbar dan Nia, mereka mengasuh Restu seperti anak kandung sendiri.


Selang setahun, lahirlah Asel. Walau Akbar dan Nia sudah memiliki putra kandung, rasa sayang mereka tidak berubah kepada Restu. Restu dan Asel pun tumbuh sebagai kakak adik yang saling menyayangi. Asel pun selalu menganggap Restu sebagai saudara kandungnya sendiri.


"Keserakahan Kakek Seno yang membuat Restu menjadi begini. Restu gak mau merebut hak lo sebagai pewaris, makanya dia berbuat seperti itu. Dia ngelindungi elo, Sel."


Asel meremas dadanya, ada rasa sakit di sana. Kenapa ia tidak tahu jika saudaranya itu sedang menanggung beban yang berat. Restu sangat menyayanginya, seharusnya ia tahu itu.


"Gue takut kalau Restu nekat buat akhirin hidupnya."


Ucapan Rahmad membuat rasa takut Asel bertambah.


"Dia sengaja nyari gara-gara sama geng-geng besar. Agar Apa? Agar mereka bisa menghabisi nyawanya. Bahkan dia sempat gak sengaja ngelukain bapak gue, gue tahu dia nyesel. Dia udah habis cara, Sel ... dia udah gak bisa nahan ambisi kakeknya. Cara satu-satunya yaitu ... ia harus menghilang."


 

__ADS_1


 


__ADS_2